Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Singkat ke Samudra Sunyi
Ketegangan di Manhattan setelah malam pembukaan pameran seni perlahan mulai mereda, namun Nicholas tahu bahwa kejenuhan mental yang dialami Elena sudah mencapai puncaknya. Gadis itu telah bekerja tanpa henti selama berminggu-minggu untuk membersihkan administrasi galeri, sekaligus beradaptasi dengan dunia sosial elit yang penuh dengan kepalsuan.
Sore itu, Elena baru saja menyelesaikan laporan keuangan mingguan di ruang kerja putihnya ketika Nicholas masuk tanpa suara. Pria itu sudah tidak mengenakan jas formalnya, hanya kemeja linen putih dengan lengan yang digulung asal hingga siku dan celana santai gelap.
"Kemasi barang-barangmu untuk perjalanan tiga hari, Elena," ucap Nicholas, bersandar pada tepi meja kerja istrinya sambil melipat tangan di depan dada.
Sepasang mata abu-abunya menatap Elena dengan binar lembut yang menenangkan.
Elena mendongak dari layar laptopnya, menaikkan sebelah alisnya yang indah.
"Perjalanan? Ke mana? Christian baru saja menjadwalkan pertemuan dengan kolektor seni dari Paris untuk hari Kamis ini."
"Christian bisa menangani pria Paris itu sendirian," potong Nicholas datar, sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terukir di sudut bibirnya.
"Kita akan pergi ke tempat di mana tidak ada sinyal ponsel, tidak ada laporan pengapalan pelabuhan, tidak ada musuh, dan tidak ada pameran seni. Hanya ada aku dan kau."
Nicholas melangkah maju, menutup layar laptop Elena dengan lembut menggunakan satu tangan, lalu menarik kedua tangan istrinya agar bangkit berdiri. Dia mengurung pinggang kecil Elena dalam dekapan lengan kirinya yang kekar, membawa tubuh gadis itu menempel sempurna pada dada bidangnya.
"Kau butuh istirahat, Elena. Dan aku butuh waktu bersamamu tanpa gangguan dari dunia luar," bisik Nicholas dengan suara serak yang seksi di dekat kening Elena, lalu memberikan kecupan lama di sana.
"Sebuah pulau pribadi di lepas pantai Georgia. Hanya ada benteng batu kecil di sana, laut, dan hutan cemara."
Elena merasakan debaran familiar yang hangat menjalar di dadanya. Dia menyandarkan kedua telapak tangannya di dada bidang Nicholas, menatap mata abu-abu suaminya dengan senyuman yang merekah indah.
"Sebuah pelarian? Penguasa kegelapan pantai timur mendadak ingin melarikan diri dari wilayah kekuasaannya?"
"Aku tidak melarikan diri, nyonya," balas Nicholas, ibu jarinya mengusap rahang tegas Elena dengan kelembutan yang memabukkan.
"Aku hanya sedang membawa ratuku ke tempat yang aman untuk mengisi kembali kekuatannya."
---
Dua jam kemudian, mereka sudah berada di dalam jet pribadi keluarga Barrett yang melesat menembus awan senja menuju selatan. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan speedboat mewah berkecepatan tinggi yang membelah ombak samudra Atlantik yang tenang di bawah taburan bintang malam.
Ketika kapal merapat di dermaga kayu tua pulau tersebut, Elena dibuat tertegun oleh keindahan visual di hadapannya. Berbeda dengan mansion yang terkesan mengintimidasi dan dingin, rumah di pulau ini adalah sebuah pondok batu bergaya kolonial Inggris kuno yang dikelilingi oleh jajaran pohon cemara laut yang tinggi.
Lampu-lampu taman berwarna kuning temaram memberikan bias cahaya yang romantis di atas pasir pantai yang putih bersih. Suara deburan ombak yang konstan menjadi satu-satunya melodi yang menggantikan kebisingan klakson kota Manhattan.
Thomas dan pelayan lainnya tidak ikut dalam perjalanan ini. Nicholas sengaja mengosongkan pulau ini dari siapa pun untuk menjaga privasi mutlak mereka.
Nicholas menuntun Elena masuk ke dalam rumah. Desain interior tempat ini luar biasa hangat, didominasi oleh perabotan kayu pinus, karpet rajut tebal berwarna krem, dan sebuah perapian batu besar di ruang tengah yang sudah menyala, menghalau hawa dingin angin laut malam.
"Ini luar biasa indah, Nicholas," bisik Elena, matanya berbinar penuh kekaguman saat dia berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke laut lepas.
Nicholas berjalan di belakangnya, menanggalkan kemeja linennya dan menyisakan tubuh atasnya yang tegap dan berotot, menampilkan perban tipis di bahu kanannya yang kini hampir sembuh total.
Dia melingkarkan kedua lengannya yang kekar di pinggang Elena dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya yang wangi buah-buahan segar.
"Aku membelinya lima tahun lalu setelah menyelesaikan perang wilayah pertama saya," kata Nicholas, suaranya terdengar sangat rendah dan rileks di dalam keheningan ruangan.
"Dulu, tempat ini adalah pelarianku saat aku merasa tanganku terlalu kotor oleh darah musuh-musuhku. Aku biasa datang ke sini sendirian, menatap laut sampai aku lupa pada semua kebencian di kepalaku."
Nicholas memutar tubuh Elena di dalam pelukannya hingga mereka saling berhadapan. "Tapi malam ini, tempat ini bukan lagi tempat pelarian yang kesepian. Tempat ini menjadi hidup karena kau ada di sini."
Elena menatap dalam-dalam ke mata abu-abu Nicholas. Dia bisa melihat ketulusan yang murni di balik manik mata suaminya, sebuah ruang rapuh yang hanya dibuka khusus untuk dirinya sendiri. Elena menaikkan kedua tangannya, melingkarkannya di leher kokoh Nicholas, membiarkan jemari lembutnya bermain di rambut hitam pendek pria itu.
"Aku senang bisa berada di sini bersamamu, Nicholas. Menjadi Elena-mu yang seutuhnya, tanpa ada bayang-bayang nama Barrett atau Vance yang membebani kita," ucap Elena dengan nada suara yang bergetar penuh emosi cinta yang mendalam.
Nicholas menunduk, mengikis sisa jarak di antara bibir mereka. "Kau adalah duniaku sekarang, Elena. Hanya kau."
Nicholas mengunci bibir Elena dalam sebuah ciuman yang sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Ciuman malam ini tidak menuntut, tidak posesif karena sandiwara, melainkan sebuah ciuman yang lambat, penuh dengan kelembutan yang memabukkan, dan sarat akan gairah cinta yang telah lama mereka pendam.
Nicholas melumat bibir bawah Elena dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah sedang memuja karya seni paling berharga dalam hidupnya.
Elena memejamkan mata, membiarkan seluruh pertahanan dirinya runtuh total di dalam dekapan suaminya. Dia meremas bahu kokoh Nicholas saat pria itu mengangkat tubuh kecilnya dengan mudah, membawanya melangkah perlahan menuju kamar tidur utama yang terletak di lantai atas, di mana sebuah ranjang kayu besar dengan kelambu putih tipis telah menunggu di bawah sinaran cahaya bulan pantai yang syahdu.
Di pulau sunyi ini, di ujung samudra yang luas, sang pengantin pengganti dan sang bos mafia akhirnya menyatu dalam ikatan cinta yang paling murni, melupakan sejenak bahwa di luar sana, dunia hitam masih terus berputar menunggu kepulangan mereka.