Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.
Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.
Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.
Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.
Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Simfoni Tiga Penjuru
KRETEK... BOOM!
Sialan. Gerbang besi utama di ujung lorong atas mendadak jebol hancur berkeping-keping. Puing-puing batunya jatuh berantakan ke dalam air parit yang becek. Tebakan gw meleset. Rombongan babi suci berpakaian zirah mengkilap itu ternyata bergerak jauh lebih cepat dari memori si mata-mata yang gw hisap tadi. Mereka gak nunggu subuh, mereka mau buru-buru ambil panggung malam ini juga biar kelihatan kayak pahlawan kesiangan yang dapet wahyu.
"Maju! Bersihkan semua hama bawah tanah ini atas nama cahaya!" Suara si Komandan Tambun terdengar menggema, sok berwibawa di balik helm emasnya. Di belakangnya, puluhan Ksatria Suci dengan pedang besar bersinar mulai merangsek masuk, bikin lorong remang-remang ini mendadak terang benderang.
Tapi mereka gak tahu, kalau di saat yang sama, lubang vertikal di belakang gw udah bergetar hebat.
ROAARRR!
Sesosok monster raksasa melompat keluar dari dalam kegelapan lubang. Ukurannya segede rumah tingkat. Plague Rat King. Kulitnya item legam, tebal, penuh lendir busuk yang menetes-netes, dan sepasang matanya menyala merah darah sebesar roda kereta. Bau amis darah si mata-mata yang kita potong tadi bener-bener bikin monster ini ngamuk kelaparan.
Kita bertiga kejebak persis di tengah-tengah. Di depan ada rombongan zirah suci yang kaget setengah mati liat ukuran si monster, di belakang ada raja tikus yang siap mengunyah apa aja.
"Tuan... kita dikepung," bisik Lyra, tangannya udah gemeteran megang biola, mananya sisa dikit.
Gw gak panik. Otak gw langsung muter. Gw lirik Carmelia.
"Bocah, pakai barang yang lu beli tadi. Sekarang!"
Carmelia langsung paham. Dia ngerogoh kantong baju biru barunya, lalu ngelempar sebuah bola sihir kecil berwarna abu-abu ke tanah.
PUFF!
Bola itu pecah, ngeluarin kabut asap ilusi tebal yang langsung mengisolasi hawa keberadaan, bau darah, dan detak jantung kita bertiga. Ini item kamuflase tingkat tinggi yang dia pilih di toko barang petualang kemarin.
Dalam sekejap, di mata monster dan para ksatria itu, kita bertiga mendadak "hilang" dari radar. Gw langsung narik Lyra dan Carmelia buat melompat, sembunyi di sela-sela pilar batu atas yang ketutup bayangan gelap langit-langit lorong.
Dari atas sini, kita cuma nonton sebuah panggung pembantaian gratisan.
CRUNCH! AHGGG!
Plague Rat King yang matanya udah ketutup amarah gak milih-milih makanan. Dia langsung menerjang barisan depan Ksatria Suci. Cakar raksasanya nembus zirah mengkilap mereka kayak nembus kertas. Jeritan-jeritan pahlawan palsu itu gema di seluruh lorong bawah tanah. Si Komandan Tambun yang tadinya sok suci langsung lari paling belakang, kencing di celana sambil teriak-teriak minta perlindungan sihir yang ujung-ujungnya tetep hancur dikunyah si King Rat.
Kurang dari sepuluh menit, puluhan ksatria itu udah rata tanah. Lorong ini penuh sama potongan daging dan zirah yang penyok. Si King Rat masih sibuk mengaum, muter-muter nyari sisa musuh yang hidup, ngebelakangin tumpukan mayat-mayat ksatria segar yang belum sempet dia makan.
Gw senyum iblis. Ini saatnya.
Gw meluncur turun tanpa suara dari atas pilar, merayap senyap di balik bayangan menuju tumpukan mayat Ksatria Suci yang bergelimpangan. Gw gak mau buang-buang tenaga ngelawan monster itu sendirian dari awal. Biar daging-daging sampah ini berguna buat status kekuatan gw dulu.
Gw tempelin kedua tangan gw ke tumpukan mayat zirah emas itu.
Sistem, Plunder massal! Sedot semua sisa energi dan mana murni mereka!
[Fungsi Plunder Aktif: Mengekstraksi 24 Target Manusia (Ksatria Suci).]
[Proses Berhasil: +40 Kekuatan Fisik, +30 Kelincahan, +20 Kapasitas Mana secara Permanen!]
WUSH!
Energi hangat berkali-kali lipat diledakkan masuk ke dalam otot dan aliran darah gw. Zirah kulit naga hitam gw mendadak ngeluarin hawa hitam yang pekat. Tubuh gw rasanya kuat banget, kayak bisa ngebelah gunung pakai tangan kosong. Perasaan lapar di perut gw mendadak hilang, ganti jadi gairah membunuh yang meluap-luap.
"Lyra, Carmelia, maju! Kita habisin tikus raksasa ini!" perintah gw sambil melesat maju, megang hulu pedang besi padat gw yang sekarang kerasa seringan ranting pohon.
JENG!
Lyra yang masih lemes maksain diri nyanyi dari jauh sambil bersandar di tembok dengan berdiri. Nada frekuensi rendah namun dengan manipulasi campuran dengan mana keluar, langsung menghantam kulit berlendir si King Rat sampai lendir pelindungnya retak-retak. Di saat yang sama, Carmelia bergerak kayak bayangan biru, matanya yang melotot udah bisa ngeliat garis benang merah kematian melintang di sela-sela sendi kaki belakang si monster.
SLASSH! CRACK!
Belati baru Carmelia sukses memotong urat kaki monster itu, bikin badannya yang segede rumah limbung ke tanah.
Gw melompat ke udara, berniat nancepin pedang gw langsung ke batok kepalanya. Tapi bajingannya... gw meremehkan Phase 2 dari monster tingkat raja.
ROAAARRR!
Si King Rat mendadak ngeluarin gelombang kejut miasma racun berwarna hijau pekat dari mulutnya. Udara di sekitar kita mendadak korosif, terbakar. Zirah kulit naga hitam gw langsung meleleh di beberapa bagian, kulit gw perih kayak disiram air raksa. Lyra yang posisinya paling dekat langsung tumbang, muntah darah hitam karena gak kuat nahan tekanan miasma.
Gerakan Carmelia terkunci, dia terlempar menghantam dinding batu sampai belatinya lepas. Gw sendiri jatuh berlutut, megap-megap kehabisan oksigen di tengah kepungan asap racun yang pekat banget.
Si King Rat ngeliat gw lemes. Dia membuka mulut raksasanya yang penuh taring berlendir, melesat turun mau ngunyah kepala gw dalam sekali gigit. Sialan... gw bener-bener terpojok. Otak gw kosong.
sialan....apakah...gw...bakal mati ama tikus rendahan seperti ini???bajingan...kenapa gw harus mati konyol kaya gini...
Di detik-detik kematian gw yang udah di depan mata, sesuatu yang gak masuk akal terjadi.
Dunia bawah tanah mendadak beku. Gerakan mulut si King Rat berhenti tepat beberapa senti di depan muka gw. Bukan cuma gerakannya yang mandek, tapi seluruh aliran miasma racun di udara mendadak lenyap, seolah-olah waktu dipaksa berhenti sama entitas yang jauh lebih kuat.
Gw maksain dongakin kepala gw yang udah pusing parah.
Di sana, di dekat reruntuhan pilar, Carmelia berdiri tegak. Tapi dia bukan Carmelia yang gw kenal. Bocah kecil polos itu hilang. Kepribadiannya berubah total, beralih ke mode yang bikin bulu kuduk gw berdiri semua. Rambut birunya melayang-layang di udara, dan kedua matanya berubah jadi hitam pekat tanpa ujung—kosong, tua, dingin, dan memancarkan aura kegelapan yang bener-bener murni.
Di dalam kepala gw, suara sistem yang biasanya datar dan sombong mendadak langsung eror parah, suaranya gemeteran ketakutan.
[PERINGATAN! PERINGATAN!]
[DETEKSI KESADARAN UTAMA... INTI APOCALYPSE HUNGER SYSTEM TELAH BANGKIT SECARA OTOMATIS!]
[OTORITAS SISTEM DIAMBIL ALIH SEPENUHNYA OLEH INTI... PENGGUNA (YUDHA) DIPERINTAHKAN UNTUK SEGERA MENUNDUK!]
Mata hitam pekat Carmelia ngelirik dingin ke arah Plague Rat King. Cuma lewat satu tatapan mata kosong itu, monster raksasa yang tadinya brutal setengah mati itu mendadak gemeteran parah. Tubuh segede rumah itu langsung ambruk ke tanah, merengek ketakutan kayak anak anjing ketemu pemangsanya. Dia gak bisa gerak satu senti pun, dikunci total oleh aura kuno yang keluar dari tubuh Carmelia.
Gw melongo. Otak gw yang pinter manipulasi mendadak macet.
Monolog gw: "Sialan... jadi selama ini... sistem kiamat yang ada di jiwa gw... inti aslinya bukamesin di kepala gw? Tapi bocah ini?...Dia??...Dia Pemilik inti Apocalypse sistem itu sendiri?"
Carmelia gak ngomong apa-apa. Dia cuma natap gw datar, seolah ngasih isyarat lewat mata hitamnya kalau "mode darurat" ini gak bakal bertahan lama sebelum tubuh kecilnya pingsan.
Gw gak mau menyia-nyiakan celah gila ini. Gw gigit bibir gw sampai berdarah buat ngilangin rasa pusing dari racun, lalu gw kumpulin semua sisa energi dari mayat ksatria tadi ke ujung pedang besi gw.
"Mampus lu, bangsat!" teriakan gw menggema keras.
Gw melompat, lalu menghujamkan pedang panjang gw sekuat tenaga menembus mata si King Rat, lurus sampai nembus ke dalam otaknya.
Sistem, Gluttony SKALA PENUH! MAKAN RAJA INI SAMPAI HABIS!
[Proses GLUTTONY Kematian Tingkat Raja Berhasil!]
WUUUSH!
Seluruh daging, lendir, dan inti energi magis milik Plague Rat King langsung tersedot masuk ke dalam tubuh gw lewat hulu pedang. Tubuh monster raksasa itu menyusut cepat, mengering, lalu hancur total jadi abu hitam yang terbang ditiup angin lorong. Energi gila-gilaan merayap di saraf gw, nyembuhin semua luka bakar akibat miasma racun tadi dalam hitungan detik.
Status level gw melonjak drastis ke titik yang belum pernah gw capai sebelumnya.
BRUK.
Begitu monster itu abis, mata hitam pekat Carmelia langsung meredup. Tubuh kecilnya lemes dan langsung pingsan ambruk ke lantai parit yang basah. Kepribadian Apocalypse kembali tertidur rapat di dalam jiwanya.
Lorong bawah tanah mendadak sunyi total. Cuma ada suara napas gw yang memburu di tengah kegelapan yang kembali remang-remang. Gw berjalan pelan, nyamperin tubuh Carmelia yang lagi pingsan, lalu gw angkat tubuh kecil itu ke dalam gendongan gw.
Gw menatap wajah polos anak ini dengan pandangan yang bener-bener beda dari sebelumnya. Bukan lagi cuma sekadar pandangan sinis kepada "alat" yang berguna... tapi ada rasa ngeri yang mendalam merayap di tulang punggung gw. Gw sadar, gw lagi megang sumbu bom waktu yang bisa ngancurin seluruh dunia ini kapan aja dia mau.
Gw melirik Lyra yang mulai sadar sambil terbatuk-batuk di pojokan.
"Lyra, bangun. Kita naik ke atas sekarang. Pesta di bawah sini udah selesai."
Saatnya kembali ke permukaan, bersiap menghadapi badai yang jauh lebih besar di kota Aethelgard setelah hilangnya puluhan Ksatria Suci malam ini.