" Boleh kah aku bertanya satu pertanyaan?" Nymera Elvaretta Lennox "
" Katakan?" prince Rafael Benitez"wajahnya dingin, tatapan matanya tajam.
" Tolong katakan apa kurang nya aku kak? sampai kakak tak bisa melihatku sebagai seorang wanita" tatapan matanya sendu.
" karena kau hanyalah gadis manja" .
Perlahan,gadis bernama Nymera Elvaretta Lennox itu melangkah mundur, matanya menatap sendu pria di depan nya,pria yang sejak kecil ia kagumi dan ia tau telah di jodohkan dengan nya.
Dengan bibir tersenyum, bukan senyuman indah dan manis, melainkan senyuman menyakitkan, bahkan bibirnya terlihat sedikit bergetar saat dengan lirih ia berkata " Terimakasih telah menyadarkan ku, selamat tinggal, semoga kakak terus bahagia" masih sekuat tenaga ia mengucapkan kalimat perpisahan.
setelah sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai cara menunjukkan penghormatan kepada keluarga kerajaan,gadis cantik yang akrab disapa Mera itu berbalik dan melangkah meninggalkan pria yang masih menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Ujian telah selesai, liburan pun juga telah berakhir, bagi yang belum melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,semester baru tepat di depan mata, sedangkan bagi para pelajar yang telah lulus, suasana baru pasti akan mereka hadapi,baik itu sebagai seorang mahasiswa,pelajar sekolah menengah,atau mungkin mencari pekerjaan bagi yang memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan nya.
Sama seperti Meera, Cecilia dan teman-teman mereka yang lain nya,pagi ini, perdana mereka mengenakan seragam baru,putih abu-abu, menandakan bahwa kini mereka telah resmi menjadi siswa sekolah menengah atas.
Begitupun dengan Rafael dan yang lainnya,hanya dua bulan lagi, aktivitas perkuliahan mereka akan dimulai,segala prosedur telah di laksanakan dan mereka telah resmi terdaftar sebagai mahasiswa di universitas pilihan mereka.
" Pagi semuanya" sapa Meera ceria dengan seragam baru nya.
" Pagi cantik nya mama...Duh anak Mama,udah dewasa ternyata,udah pakai seragam putih abu-abu" mama Vanessa menyambut ceria kedatangan sang putri ke meja makan.
" Ia dong, gimana? cantik ga ma,pa?" Meera berputar-putar menunjukkan penampilan nya,rambut panjang indahnya ia cepit sedikit, sisanya ia biarkan tergerai indah,tak lupa sedikit poni menutupi dahinya,ia terlihat bak Barbie hidup, terlebih mata bulatnya di hiasi bulu mata yang lentik, parasnya selalu berhasil membuat mata sulit untuk berpaling dari menatap nya.
Dengan cepat tuan Amran mengangguk penuh semangat " pastinya cantik dong, princes papa" jawab sang papa semangat seraya menunjuk pada pipinya,tanda meminta ciuman selamat pagi dari putri kesayangannya.
Cup..
" Thanks papa, papa aku memang paling the best,papa juga semakin tampan dengan kemeja biru muda ini,dan mama harus hati-hati, sekarang itu katanya sedang marak pelakor di mana-mana" Meera memang selalu bisa membuat hangat suasana meja makan.
" Jadi cuma papa aja yang paling the best? Mama ngak?" pura-pura memasang wajah cemberut.
Bik Munah menggeleng melihat interaksi keluarga sang majikan, sayang nya mereka hanya di berikan satu orang keturunan saja, andai nona mudanya memiliki seorang adik atau kakak, mungkin keluarga kaya raya itu akan lebih bahagia.
" Dih..udah tua juga,masih suka ngambek,ia deh mama juga cantik dan the best women and mommy" ucap Meera merayu.
Mendengar rayuan manis sang putri, mama Vanessa tak langsung kegirangan,wanita paruh baya itu justru menatap sang putri dengan tatapan penuh selidik.
" thanks sayang mama,tapi sepertinya mama mencium bau-bau sesuatu yang merugikan" ucap nyonya Vanessa.
Meera tergelak mendengar kecurigaan mama nya" mama ga perlu khawatir,Meera ga akan minta kartu di dompet mama,cukup salah satu kartu di dompet papa aja,boleh kan pa? Boleh dong pastinya" Meera menjawab sendiri apa yang ia ucapkan.
" Mau belanja apa Hem? Bukannya baru Minggu lalu sudah belanja sama mama?" tuan Amran tak pernah bersuara keras pada sang putri,berbeda dengan sang istri yang selalu mengomeli Meera.
" itukan beda,itu kan karena mama ga bawa Meera liburan semester ini" jawab Meera cepat.
Kedua orang tuanya tertawa kecil, seperti biasa,pria paling berkuasa di rumah itu meraih dompet nya yang terletak di hadapannya,membuka dan mengambil salah satu kartu tanpa batas miliknya.
" Ambil,tapi jangan menggunakan nya tanpa manfaat " seraya menyodorkan kartu berwarna hitam itu pada sang putri,tuan Amran ikut menasehatinya agar tak berfoya-foya pada hal yang tidak berguna,itulah mengapa Meera tak seperti putri orang kaya lainnya,ia tak pernah terlihat berbelanja sesuatu yang tak ia butuhkan kecuali itu jika untuk ia sumbangkan.
" Siap papa,dan terimakasih " jawab nya ceria,matanya melirik mengejek pada sang mama,membuat wanita paruh baya itu men cebikkan bibir nya.
Seperti hari-hari biasanya,Meera ke sekolah akan di antar supir atau bersama sang papa atau mama nya,gadis cantik itu belum terlalu pintar mengemudi,entah ia yang masih takut atau mungkin karena orang tuanya yang melarang keras.
" dah papa..." Meera melambaikan tangannya sebelum meninggalkan mobil berwarna hitam milik papa nya.
" Da sayang, belajar yang benar ya,jangan mengecewakan papa dan mama" tak lupa sang papa mengingatkan untuk tidak melakukan kesalahan yang melukai kedua orang tuanya.
" Akan Meera usahakan" jawab Meera pasti,ia melangkah ceria meninggalkan lobby sekolah baru,tak ada rasa canggung atau asing, yayasan sekolah nya masih sama, gedungnya juga masih di area yang sama,hanya terpisah oleh lapangan dan taman, begitupun dengan universitas milik yayasan tersebut.
Yayasan kerajaan memang mendirikan sekolah dengan tingkatan yang komplit, mulai dari taman kanak-kanak,sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan atas hingga perguruan tinggi dan pastinya dengan kualitas terbaik dan harga yang sesuai.
" Meera...sini" Cecilia ternyata sudah lebih dulu datang,ia sedikit berteriak memanggil Meera.
" Hai.." sapa Meera seraya berjalan cepat menuju sang sahabat, keduanya saling berpelukan ala mereka, hampir satu bulan mereka tidak bertemu, Cecilia liburan ke luar negeri dan berlanjut ke kampung Oma nya.
" Kangen banget deh" ucap Cecilia terdengar menggelikan di telinga Meera.
" Lebay banget sih" respon Meera membuat wajah sang sahabat cemberut.
" Oleh-oleh buat aku mana?" bukan menanyakan kabar sang sahabat,Meera justru lebih memikirkan oleh-oleh untuk nya, sungguh terdengar kejam,namun itu bukan hal baru bagi keduanya,mereka saling menyayangi tanpa harus mengucapkan.
" Ga ada,aku ga belanja" jawab Cecilia cepat,ia membalikkan badannya berjalan cepat meninggalkan Meera.
Yang di tinggal menggeleng seraya tersenyum tipis,ia berlari kecil menyamai langkah mereka,tangan nya cepat menarik tas bagian belakang milik Cecilia,candaan keduanya sedikit mencuri perhatian beberapa pasang mata.
Beberapa siswa baru melirik kagum pada keduanya, tentunya ada beberapa siswa baru yang datang dari sekolah luar, yang pasti belum pernah mengenal atau mungkin melihat mereka,berbeda dengan para siswa yang memang bersekolah di yayasan tersebut, kehadiran Meera dan Cecilia bukan lah hal baru bagi mereka, walaupun kebanyakan dari mereka masih tetap mengagumi dua wanita cantik itu.
Terlebih setelah beberapa berita mulai menunjukkan berita tentang pertunangan resmi Meera dan Rafael di musim liburan kemarin, walaupun istana sudah berusaha membuat acaranya se privasi mungkin,namun masih ada beberapa media yang entah mendapatkan berita dan gambar dari mana, sehingga mereka bisa mengeluarkan berita-berita tersebut dan itu semakin membuat Meera di perhatikan secara diam-diam.
" calon ratu memang beda ya, bersinar ngalahin berlian" ledek Cecilia dengan suara berbisik.
Meera meliriknya tajam, sahabatnya itu memang tidak hadir di acara pengesahan pertunangan nya dengan prince Rafael Benitez,namun ia sudah pasti menceritakan semuanya pada sang sahabat.
" Jangan terlalu suka bergosip ya" tegur Meera sok tegas, yang di balas senyum tipis sang sahabat.
" Siap ibu Ratu" jawab Cecilia dengan kepala sengaja ia tundukkan.
Meera memutar bola matanya jengah dengan keluan sang sahabat, sehingga tangan nya bergerak menarik pelan rambut sebahu sang sahabat, Cecilia tertawa kecil tanpa menghindar,ia merasa puas bisa menggoda sahabatnya pagi-pagi sekali.
eeh katanya tidak cintaa
tpi koq cemburuuu🤣🤣🤭🤭🤭
dia hanya rubah yang licik
apakah kamu penggemar rahasia
sebab Iya ingin anaknya masuk dalam kawasan keluarga istana
bukan sekedar pelayan, yang di anggap rendahan🤭😔
kira kira siapa si dia
bikin penasaran aja
ngelunjak ya
minta di geprek kau
dan ternyata Dai si penghianat kerajaan
ada disampingmu Rafael
ular kadut
apakah dia termasuk anak bangsawan
sampai dgn percaya dirinya
selalu mengincar pangeran
ternyata ada pria lain yang Akan melindungi meera
dan Rafael seolah menerima perjodohan itu
hanya karena ingin menutupi bhubungannya dgn camel🤭🤭
ish is tak patut
tak patut
Baru juga lihat Meera ketawa ketiwi sama kaka2 OSIS, udah kebakaran jenggot aja. Gimana kl Gio atau cwo lain bisa deketin Meera ?
ah elah EL EL...gemes pengen cubit ginjalmu EL 😂😂