Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gencatan Senjata dan dan Saus Krim
Kepergian Lady Eleanor dan Beatrice meninggalkan keheningan yang terasa aneh di mansion Thorne. Biasanya, sunyi di rumah ini terasa hampa dan dingin, namun kali ini ada sisa-sisa "badai" yang meninggalkan aroma disinfektan lemon yang menyengat dan ketegangan yang belum tuntas di udara.
Alistair Thorne berdiri di tengah ruang tamu, merapikan kemejanya yang sedikit berkerut akibat aksi mengangkat Sloane tadi. Wajahnya kembali ke setelan pabrik: dingin, datar, dan kaku. Namun, jika ada yang memperhatikan dengan teliti, ada sedikit gurat kelelahan di sudut matanya. Menghadapi faksi gangster Rusia jauh lebih mudah daripada menghadapi amarah ibunya sendiri.
Di sudut ruangan, Sloane Sterling masih berdiri memegang sapunya seperti seorang prajurit yang baru saja memenangkan pertempuran besar namun kehilangan benderanya. Ia menatap pintu besar yang tertutup rapat, lalu beralih menatap Alistair.
"Tuan Kaku," panggil Sloane. Suaranya tidak melengking seperti biasanya. Ada nada kecil yang terdengar seperti... rasa bersalah.
Alistair menoleh perlahan. "Ya, Nona Sterling? Apakah ada partikel debu lain yang perlu saya singkirkan secara administratif dari pandangan Anda?"
Sloane meletakkan sapunya di dinding—kali ini dengan hati-hati agar tidak menggores cat. Ia berjalan mendekat, sepatunya mencicit pelan di atas marmer Italia yang mengkilap. "Kau... kau tidak harus melakukan itu tadi. Maksudku, mengusir mereka. Mereka itu ibumu dan adikmu. Aku hanya... asisten rumah tangga yang kau temukan di gudang berkarat."
Alistair menatap Sloane. Ia bisa melihat sedikit keraguan di mata cokelat gadis itu. Harga diri Sloane yang setinggi langit seolah sedang berperang dengan kenyataan bahwa ia baru saja merusak hubungan keluarga majikannya.
"Secara strategis," Alistair memulai dengan gaya bicaranya yang kaku, "keberadaan mereka tadi mengganggu alur kerja domestik Anda. Dan secara personal... saya tidak mengizinkan siapa pun, termasuk keluarga saya, untuk merendahkan staf yang berada di bawah perlindungan The Obsidian Order. Itu adalah protokol harga diri organisasi."
"Tapi mereka menyebutku gadis kampung yang bar-bar," gumam Sloane, menunduk melihat ujung sepatunya. "Mungkin mereka benar. Aku memang tidak cocok di rumah mewah seperti ini."
Alistair melangkah mendekat. Ia berhenti tepat di depan Sloane, membuat gadis itu harus mendongak. Alistair mengulurkan tangannya, ragu sejenak di udara, lalu menepuk puncak kepala Sloane dengan gerakan yang sangat kaku—seperti sedang menepuk kepala patung yang rapuh namun berharga.
"Mereka salah," kata Alistair pendek. "Anda tidak bar-bar. Anda hanya... memiliki sistem pertahanan kebersihan yang sangat agresif. Dan itu yang saya butuhkan di rumah ini agar saya tetap sadar bahwa saya manusia, bukan sekadar pemimpin sindikat."
Sloane tertegun. Ia bisa merasakan kehangatan dari tangan Alistair yang besar. Wajahnya mulai memanas, dan ia segera menepis tangan Alistair dengan gerakan cepat untuk menutupi rasa malunya yang meledak.
"Cih! Bilang saja kau takut tidak ada yang memarahimu kalau aku pergi!" Sloane kembali ke mode galaknya. "Dan lihat ini! Gara-gara drama 'Topi Besar' tadi, jadwal makan siang kita hancur berantakan! Perutku sudah berdemo dan mereka meminta ganti rugi!"
Alistair menaikkan sebelah alisnya. "Ganti rugi seperti apa yang Anda maksud dalam parameter kontrak kita?"
"Masak!" perintah Sloane, mengacungkan kemocengnya ke arah dapur. "Aku ingin pasta saus krim jamur. Dan karena tanganku masih lelah habis mengejar ibumu, kau yang jadi koki utama. Aku akan jadi... asisten pengawas higienitas!"
Alistair menghela napas panjang, namun ia tidak menolak. "Baiklah. Mari kita lakukan... operasi nutrisi fase dua."
Di dapur, suasana kembali mencair—atau lebih tepatnya, kembali menjadi kacau yang terorganisir. Alistair sudah memakai celemek hitamnya, sementara Sloane duduk di meja dapur yang tinggi, memperhatikan setiap gerak-gerik sang bos mafia.
"Alistair, kenapa kau sangat ahli memotong jamur? Apa kau membayangkan jamur itu adalah musuhmu yang harus dieksekusi?" tanya Sloane sambil mengunyah biskuit yang ia temukan di lemari atas.
"Memotong adalah soal sudut dan tekanan," jawab Alistair tanpa menoleh, pisaunya bergerak dengan kecepatan yang menakutkan namun sangat rapi. "Sama seperti menembak jarak jauh. Jika meleset satu milimeter, hasilnya tidak akan sempurna secara estetika maupun fungsi."
Sloane turun dari meja, berjalan mendekati kompor. "Biar aku yang mengaduk sausnya! Aku ingin memastikan krimnya tidak menggumpal seperti otakmu yang kaku itu!"
"Harap berhati-hati, Nona Sterling. Suhu saus ini sedang meningkat dan viskositasnya—"
CESS!
Sloane terlalu semangat mengaduk hingga percikan saus krim putih melompat keluar dari panci dan mendarat tepat di kemeja putih Alistair yang sangat mahal, tepat di bagian dadanya.
Sloane membeku. Alistair menatap noda putih di dadanya dengan tatapan kosong selama tiga detik.
"Aduh... Alistair... aku... tanganku tadi terpeleset karena aku melihat ada bayangan debu terbang di depan mataku!" Sloane segera menyambar segenggam tisu dan mulai menggosok dada Alistair dengan panik.
"Nona Sterling, harap berhenti. Secara administratif, Anda hanya akan membuat nodanya semakin masuk ke dalam serat kemeja ini," kata Alistair, suaranya tetap datar meskipun jantungnya mulai berpacu karena tangan Sloane yang terus bergerak di dadanya.
"Tidak bisa! Aku asisten rumah tangga di sini! Noda adalah musuh nomor satuku!" Sloane terus menggosok, kepalanya menunduk fokus pada noda di kemeja Alistair, tanpa menyadari wajah Alistair yang kini memerah sampai ke telinga.
Alistair menangkap kedua pergelangan tangan Sloane dengan lembut namun kuat, menghentikan gerakannya. "Sloane. Cukup. Kemeja ini bisa diganti. Tapi konsentrasi saya... sedang mengalami gangguan teknis yang parah karena posisi Anda yang terlalu dekat."
Sloane mendongak, matanya bertemu dengan mata biru dingin Alistair yang kini tampak sedikit bergejolak. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Aroma saus krim yang gurih dan parfum maskulin Alistair yang elegan bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang mendadak sangat canggung namun manis.
"Kau... kau benar-benar kaku sekali, ya?" bisik Sloane, suaranya mendadak kehilangan keberaniannya.
Alistair menelan ludah. "Itu adalah pengaturan standar saya agar sistem emosional saya tidak overheat."
Sloane baru saja akan mengatakan sesuatu yang mungkin akan mengubah hubungan mereka selamanya ketika matanya menangkap sebuah pemandangan mengerikan di kursi makan di belakang Alistair.
Dunia mendadak berhenti bagi Sloane Sterling.
"ALISTAIR THORNE!!!"
Alistair tersentak hebat, refleks melepaskan tangan Sloane. "Ada apa?! Apakah ada serangan gas saraf dari ventilasi?!"
"LIHAT ITU!" Sloane menunjuk ke arah kursi makan dengan wajah yang lebih menyeramkan daripada Lady Eleanor tadi. "KAU MELEPASKAN JAKET JASMU DAN MENYAMPIRKANNYA DI KURSI MAKAN LAGI?! ADA UAP SAUS DI SINI! KAU MAU JASMU BERBAU KRIM JAMUR SEUMUR HIDUP?!"
Alistair menatap jasnya yang tadi memang ia lepas sembarangan di kursi makan karena terburu-buru membantu Sloane yang hampir menjatuhkan panci. "Saya... saya hanya ingin bergerak lebih bebas saat melakukan prosedur memasak tadi—"
"TIDAK ADA ALASAN! Meja makan adalah tempat suci untuk asupan nutrisi! Bukan untuk jas yang penuh kuman jalanan!" Sloane menyambar jas itu dengan gerakan kasar namun tetap hati-hati agar tidak lecek. "Gantung sekarang di tempatnya! Dan cuci kemejamu itu! Aku tidak mau ada 'noda berjalan' yang merusak pemandangan rumah yang sudah aku bersihkan ini!"
Alistair Thorne hanya bisa menghela napas panjang, ia mengambil kembali jasnya dari tangan Sloane dengan wajah pasrah. "Saya akan segera melaksanakan instruksi Anda. Dan harap simpan spatula itu sebelum Anda secara tidak sengaja mengotori dinding saya lagi."
Sloane mengangguk puas sambil berkacak pinggang, napasnya memburu karena baru saja mengeluarkan omelan panjang. "Bagus! Jangan sampai aku harus mendisiplinkanmu lagi di depan panci panas!"
Alistair berjalan menuju gantungan jas di lorong, menggelengkan kepalanya pelan. Baru beberapa menit lalu mereka berada dalam momen yang sangat intim, tapi dalam sekejap Sloane kembali menjadi "diktator kebersihan" yang tidak mengenal ampun.
Namun, saat Alistair menggantung jasnya, ia melihat bayangannya di cermin. Ia melihat noda putih di dadanya dan sebuah senyum tulus muncul di wajahnya. Ia menyadari satu hal: ia lebih suka diteriaki setiap hari oleh mawar jalanan yang berisik ini daripada hidup dalam kesunyian mansion yang sempurna namun mati.
"Nona Sterling!" panggil Alistair dari luar dapur.
"APA?!" sahut Sloane dari dalam, suaranya sudah kembali ceria sambil mengaduk pasta.
"Pastanya... jangan terlalu lembek. Secara administratif, saya lebih menyukai tekstur al dente."
"DIAMLAH DAN CEPAT GANTI BAJUMU, TUAN KAKU! SEBELUM AKU MENYIRAMMU DENGAN AIR CUCI PIRING!"
Alistair tertawa kecil, suara tawa yang jarang sekali terdengar oleh siapa pun di London, lalu ia melangkah menuju kamarnya dengan hati yang terasa jauh lebih ringan.
To be continued....