Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Sore ini matahari hampir terbenam, Melina melangkah gontai melewati gerbang rumah Ganendra.
Mengenakan kaos lengan pendek berwarna ungu muda dan celana legging, untuk kardigannya saat kuliah sudah di lepas---di masukan ke dalam tas.
Waktu sudah menunjukan hampir magrib, dengan napas terengah karena baru saja pulang dari kampus.
Wajahnya kusam oleh debu jalanan dan polusi setelah menempuh perjalanan jauh, dengan berjalan kaki.
Kaos ungu tuanya lembab penuh keringat, mengeluarkan aroma apek yang menusuk hidung.
Di depan rumah, Satpam membuka pintu dan melihat Melina.
"Baru sampai Mbak?" tanya sang satpam.
"Iya Pak," jawab Melina buru-buru masuk.
Di depan rumah sudah ada Adisti yang sedang membenarkan bunga, dan sambil melihat bagaimana Melina yang berjalan masuk ke dalam rumah.
"Nyonya... maaf saya terlambat," ucap Melina.
Nyonya Adisti duduk di kursi teras, sambil menunggu assisten rumah tangganya.
Nampak anggun dengan atasan merah berlengan panjang, duduk di kursi kayu jati gaya tahun 1880-an yang terkesan antik.
Begitu Melina mendekat dan tersenyum, secara spontan Nyonya Adisti mengibaskan tangan di depan hidungnya.
Seolah ada aroma tak sedap yang mengusik kenyamanannya.
"Kamu, cepat siapkan makan malam," titahnya tanpa basa-basi.
Terlihat matanya menatap tajam, pada pembantu mudanya itu, menunduk kepatuhan.
Melina hanya mengangguk pasrah, karena disini dirinya yang membutuhkan uang----tak masalah jika dirinya di suruh-suruh.
Tanpa sempat membasuh wajah atau sekedar berganti baju, gadis itu mengikat rambutnya setengah.
Langkahnya bergegas menuju area dapur yang menyatu dengan ruang makan.
Nampak gadis ini tak peduli lagi dengan tubuhnya yang kotor atau kakinya yang pegal karena perjalanan jauh.
Setelah selesai memasak, nanti Melina akan membersihkan diri di kamar mandi belakang---dekat kamar pembantu.
Sebenarnya dirinya mau disini, tinggal dan untuk tidur---Namun dirinya tak berani mengajukan itu pada Nyonya rumah.
Di tambah adik-adik di panti asuhan masih membutuhkannya, untuk membimbing mereka.
Di atas kompor induksi modern, Melina mulai menumis bumbu.
Suara minyak goreng dan aroma bawang putih mulai memenuhi ruangan, perlahan menyamarkan bau apek dari tubuhnya.
Gadis ini nampak bergerak lincah di depan pantry, fokus penuh di wajan seolah dunianya hanya sebatas kompor dan sudip nasi.
Tas ransel yang berisi buku dan laptop di letakan di atas meja dapur, menjadi saksi jika dirinya tengah tak fokus kecuali dengan masakan.
Adisti duduk di meja makan, memperhatikan punggung Melina dari kejauhan, sebuah senyum tipis muncul di bibirnya saat melihat kegesitan gadis itu.
"Gadis pekerja keras, tubuhnya seperti robot, tidak pernah mengeluh."
Adisti membatin dalam hati, dirinya amat mengagumi Melina----selain itu karena Melina mahasiswa.
Tempo hari teman Adisti berkunjung dan tengah kesulitan.
Kesulitan dalam ponselnya, Melina juga yang membantu.
Bahkan Melina mengajarkan caranya memesan makanan online lewat aplikasi---biasanya kalo gen X atau gen boomer yang sosialita.
Memesan makanan selalu lewat nomer telepon resto yang terpercaya, tapi Melina membantu mereka memesan lewat aplikasi online.
Adisti hanya menghela napas panjang, tatapannya beralih ke arah pintu masuk.
Karena hari ini bukan sore biasa, putranya---Ishan Ganendra akan pulang.
Ishan Ganendra adalah Aktor yang baru saja menyelesaikan proyek syuting panjang di Bogor, dan akan pulang hari ini.
Benar saja, tak lama.
Seorang pria dengan kaos hitam polos dan topi baseball biru, dengan celana jeans panjang warna biru gelap masuk ke dalam rumah.
Wajahnya tampak lelah, meski begitu tetap memancarkan karisma seorang bintang.
Ishan menarik kursi dan duduk tepat di hadapan ibunya, meletakkan kedua tangannya di atas meja marmer.
"Mah," sapa Ishan pendek.
"Ishan...Kamu sudah pulang?!" jawab Adisti dengan nada antusias namun lembut.
Ishan menarik kursi meja makan, menyandarkan tubuhnya---matanya tanpa sengaja melirik ke arah dapur.
Di sana melihat ada seorang gadis muda berkaos ungu yang sibuk membolak-balik masakan di atas wajan.
Gadis itu tampak tidak menyadari kehadiran sang Aktor, yang menjadi favoritnya.
Pikirannya benar-benar larut dalam tugasnya meski berkeringat membasahi tengkuknya.
"Mah pembantu baru?" tunjuk Ishan dengan nada pelan.
"Iya, namanya Melina. Dia kuliah sambil kerja disini," ujar Adisti singkat.
"Sudah kamu makan jangan ganggu dia," kata Adisti.
Melina yang baru saja mematikan kompor mendadak membeku, baru menyadari ada suara seorang pria di dalam ruang makan.
Matanya menatap Ishan yang duduk berbicara dengan ibunya, seketika jantungnya berdegup kencang karena malu dengan penampilannya yang kotor dan bau keringat.
"Anjirr, gua ketemu aktris malah penampilan gua kaya gini lagi," ujar Melina menatap Ishan dengan membeku.
Dirinya harus menyajikan hidangan ini dengan cepat agar bisa segera ke kamar mandi.
Dan membersihkan diri.
Setelah selesai menyajikan makanan di atas meja, sekilas mata keduanya saling berpandangan.
Lalu segera Melina mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan segera pamit kepada majikannya.
"Saya permisi nyonya," ucap Melina dengan lirih.
Melina segera ke belakang, dan Ishan masih menatap gadis itu lama.
"Ishan...," panggil ibunya lirih.
Pria itu masih melamun, karena dirinya masih memperhatikan Melina---gadis muda yang amat menggemaskan, wajahnya juga sangat natural Indonesia.
"Ishan!" ucap sang ibu dengan nada tinggi.
"Eh iya Ma," ujarnya.
Ishan terbuyar dari lamunannya, dan menatap ibunya.
"Ayo dimakan," kata sang ibu.
"Iya, Mah."
Ishan dan Adisti makan malam bersama, sementara Melina membersihkan diri dan membawa baju ganti hanya atasan saja.
Di meja makan.
"Mah lain kali jangan terlalu keras apa sama Livia," tegur Ishan dengan nada lembut.
Adisti hanya menyuapkan makanan ke mulutnya lalu menatap putranya, wajahnya nampak tak suka.
"Yah mama nggak suka dia, liat aja...dia 'kan pernah buat skandal p*rnografi!" ucap Adisti menatap Ishan.
"Itu 'kan masa lalu mah, lagian sekarang Livia sudah berubah mah," jawab Ishan dengan nada lembut.
Adisti yang kesal hanya menggebrak meja membuat Melina yang sedang di kamar mandi belakang, tengah melipat baju dan memasukan ke dalam tas langsung kaget.
Brak!
"Sudah mama katakan, mama nggak akan pernah terima piala bergilir! Ishan kamu tahu nggak sih! tubuhnya bisa aja kena penyakit!" tegur Adisti yang kesal.
Dengan kesal Adisti meninggalkan meja makan, dan menuju ke kamarnya yang terletak di lantai atas.
Sementara Melina yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepala, dirinya tak berani ikut campur----karena bukan urusannya.
*
*
*
*
*