Maura, seorang gadis yang terpaksa harus menikah dengan seorang pengusaha muda yang ternyata adalah bos tempat dimana dia mencari nafkah.
semua berawal dari minuman, Maura yang saat itu sedang memergoki ke kasihnya sedang berselingkuh dan bercinta dengan sahabatnya sendiri sungguh sangat frustasi dan memutuskan untuk pergi ke club dan meminum alkohol di sana.
tetapi sayangnya itu justru membawa pengaruh buruk untuknya, akibat mabuk dia salah masuk apartemen.
Bukannya melakukan hubungan terlarang, Maura justru menghajar pria tersebut hingga dia berakhir di penjara.
untuk bisa keluar dari sel tahanan tersebut, Jo memberikan syarat, yaitu harus menjadi kekasih sekaligus calon istri penggantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon na4vR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 25
Pagi hari ini, Maura terlihat malas sekali untuk bangkit dari tempat tidurnya. Semalam dirinya tidak bisa tidur karena memikirkan masalah yang baru saja datang lagi. Dirinya terus saja menerka-nerka bagaimana akhir dari drama kebohongannya ia dan Joe ciptakan tersebut.
Jika ia boleh jujur, dirinya sudah sangat lelah yang setiap hari di marahin Joe. Pria itu selalu saja menyalahkan dirinya, padahal sudah jelas pria itu yang membuat masalah.
Dirinya hanya wanita biasa, kadang kala juga kesal setiap Joe menghinanya dengan menyebut ia wanita gila. Tidak sampai disitu saja, ia juga kadang semena-mena. Selalu mengancam mengenai uang, seolah tahu kalau itulah kelemahan orang.
Tidak hanya itu saja, ia bahkan sudah menjelekkan dirinya sendiri di depan orang tua Joe. Namun, tetap saja serba salah dan yang lebih parahnya lagi justru pria itu menyalahinya lagi.
"Gue harus berhenti!!"seru Maura.
Ya, setelah di pikir-pikir. Ia memang harus mengundurkan diri saja dari perusahaan Alexander Group, kemudian mengasingkan dirinya ke kampung halamannya. Walau pun sekarang mencari pekerjaan di jaman sekarang sangat sulit, namun jika ia terus-terusan kerja bersama Joe yang ada ia akan semakin gila.
Maura membulatkan tekadnya, sepertinya mengundurkan diri dari perusahaan Joe adalah pilihan yang tepat. Dengan cepat Maura menyambar laptop miliknya, lalu jari-jarinya dengan lincah menari-nari di atas keyboard laptop. Ia membuat surat pengunduran diri , bahkan dengan sengaja ia datang telat hari ini.
Setelah selesai membuat pengunduran diri, Maura datang ke kantor. Bergegas ia masuk keruangan bosnya sambil membawa map yang berisi surat pengunduran diri yang tadi sudah ia siapkan.
"Kamu kenapa datang terlambat, Maura? Saya paling tidak suka ada karyawan yang seenaknya saja di perusahaan ini!!"
Begitu melihat Maura, pria itu langsung menghardiknya. Kini sosok pemimpin dalam dirinya terlihat sangat jelas, namun Maura dengan tenang menghampiri Joe. Lalu menyodorkan sebuah map tersebut pada pria yang ada di hadapannya.
"Saya mau mengundurkan diri dari perusahaan ini," ucap Maura dengan tenang dan tanpa mau memanggil Joe dengan sebutan Bos atau Pak lagi.
Joe terdiam sejenak menatap surat pengunduran diri yang di letakkan sekretarisnya. Pria itu lantas mengambilnya, lalu membacanya hanya ingin memastikan jika surat itu berisi surat pengunduran diri. Hanya takut Muara bercanda.
Kali ini Joe terbungkam saat membaca surat yang memang berisi surat pengunduran diri.
"Kenapa?"tanya Joe dengan suara rendah.
Maura menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Jujur, karena bekerja dengan Bos seperti Anda tidak baik untuk kesehatan jiwa saya."
"Memangnya kamu sehat?"desis Joe.
Maura memilih diam, kali ini ekspresi wajahnya benar-benar serius. Ia sudah tidak mau lagi meladeni candaan Bosnya. Joe yang melihat tidak percaya, jika wanita di hadapannya bisa berbicara serius.
"Ngga bisa gitu dong, Maura!!"
"Kenapa ngga bisa? Saya sudah lelah.."balas Maura ketus.
"Terus bagaimana dengan masalah yang saat ini terjadi?"
"Tolong Anda akhiri saja!! Saya sangat lelah kalau tiap hari harus berpura-pura kita sebagai sepasang kekasih, silahkan Anda cari alasan yang masuk akal!! Bilang saja kita putus, Anda mau bilang saya selingkuh pun buat alasan buat saya ngga ada masalah.. Tapi saya sarankan untuk Anda jujur saja."
"Jujur apa jujur kata mau? Kalau saya jujur perusahaan saya akan di ambil sama mereka."
"Loh!! Apa kaitannya dengan saya? Anda bisa bangun perusahaan baru lagi!!"
"Enteng banget ya mulut kamu!! Kamu pikir mudah buat perusahaan lagi? Butuh modal yang ngga sedikit dan itu pakai uang bukan daun!!" Joe mulai gemas dengan wanita di hadapannya, yang sangat mudah menyuruhnya membuat perusahaan baru lagi. Dikira mudah kayak buat jus buah, bahkan perusahaan yang ini saja butuh waktu lama untuk sukses.
"Lagian kalau umur saya sudah lewat 30 tahun, tapi belum nikah saya bisa di gantung sama Mommy!!"
"Ckk maaf saya sudah ngga mau lagi!! Saya tetap akan mengundurkan diri!!" tegas Maura tak terbantahkan lagi.
"Eits ngga semudah itu ferguso..!!"
Dengan cepat Joe membuka laci meja kerjanya? Segera ia menyodorkan selembar kertas pada Maura.
"Masih ingat dengan surat itu? Disana jelas perjanjian, jika kamu mengundurkan diri harus membayar denda sebesar 2 milyar."
Maura meringis dengan nominal yang bosnya katakan, sial!! Dia lupa dengan surat perjanjian itu.
"Apa Anda tidak setuju kalau saya mengundurkan diri?"
"Tentu tidak!! Saya malahan suka sekali kalau kamu jadi sekretaris saya, bahkan saya ingin mempersunting kamu jadi istri saya."
Joe mengatakan itu semua dengan santai, tapi itu mampu membuat Maura terdiam. Kembali mencerna apa yang di katakan Bosnya itu.
"Maksudnya?"
Alih-alih menjawab, Joe malah mencondongkan wajahnya menatap Maura dengan sangat serius.
"Maura Shellomitha, menikahlah denganku..!!"
Mendengar permintaan pria yang di hadapannya itu membuat Maura terbatuk, ia pun memberikan tatapan yang sulit di artikan.
Ia merasa telinganya salah dengar atau memang Joe yang salah ucap.
"Anda masih waras kan?"
Maura menatap bingung pada bosnya, saat ini wajah terlihat sangat menggemaskan. Apa lagi mata wanita itu mengerjab-ngerjab lucu, membuat Joe mati-matian untuk tidak mencubit gemas pipi wanita yang ada di hadapannya itu.
"Masih kok!!"
"Bos lagi ngga salah makan kan?"
"Saya serius!! Apa kamu mau menikah dengan saya?"
Sebenarnya Joe tidak ada niat sama sekali untuk melamar Maura, karena menurutnya pernikahan bukan untuk permainan. Dirinya bahkan berharap bisa menikah sekali seumur hidup, tanpa ada yang namanya perceraian. Itulah sebabnya ia ingin sekali menikah dengan wanita yang benar-benar ia sayangi, bukan wanita sembarangan.
Tapi impian untuk menikah dengan orang yang ia sayang harus di kubur dahulu, situasi yang sulit mengharuskan ia melakukan nya.
Kali ini entah siapa yang bisa di salahkan? Mungkinkah Luna? Atau kah dirinya sendiri?
Dirinya tahu jika menjadi seorang artis memang impian Luna sejak lama,maka ia pun membantu menggapai cita-cita serta impian nya Luna. Dia bahkan rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membantu kekasihnya itu. Tapi semua itu ia lakukan tanpa sepengetahuan Luna, agar kekasihnya itu tidak merasa terbebani.
Tapi boleh kah saat ini dirinya egois sedikit? Ia hanya ingin di utamakan oleh Luna bukan selalu jadi yang kedua.
Joe saat ini hanya bisa pasrah, ia hanya akan mengikuti rencana Tuhan saja. Mungkin Tuhan ada rencana lain untuknya.
"Bos tadi kekantor lewat jalan mana?"
Pertanyaan Maura membuat Joe sedikit bingung dan mengernyitkan dahi, ia merasa aneh dengan pertanyaan wanita di hadapannya ini.
"Lewat jalan biasa."