NovelToon NovelToon
Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.

Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.

Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.

Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Inara terdiam beberapa saat. Tatapannya turun pada rantang di tangan Reno sebelum kembali menatap wajah lelaki itu. Jujur saja, ia masih sulit percaya Reno bisa berdiri di depannya sambil membawa sarapan buatan sendiri seperti ini. Karena selama bersama, Reno bahkan jarang masuk dapur.

“Mas gak perlu sampai kayak gini,” ucap Inara pelan.

“Aku perlu,” potong Reno cepat. “Karena selama ini aku terlalu sering nyakitin kamu.”

Suasana langsung kembali hening. Nila yang berdiri tak jauh dari sana refleks mengangkat sebelah alisnya. Sementara Altaf memilih diam sambil memperhatikan Reno tanpa banyak bicara.

Namun sikap tenang pria itu justru membuat Reno semakin tidak nyaman. Apalagi ketika Baba tiba-tiba menarik tangan Inara pelan.

“Tante, nanti kita telat syuting loh.” Ucapan polos itu membuat sorot mata Reno langsung berubah.

“Syuting?” tanyanya tajam.

“Iya,” jawab Baba santai. “Tante Inara mau ikut sama aku.”

Reno langsung menatap Inara. “Kamu mau pergi sama mereka?”

Belum sempat Inara menjawab, Baba kembali menyela dengan bangga. “Tante Inara sekarang sama Baba.”

Kalimat sederhana itu entah kenapa langsung menyulut sesuatu dalam diri Reno.

“Sekarang sama Baba?” ulangnya sambil tertawa kecil, tetapi terdengar dingin. “Kamu pikir gampang banget ngambil orang?”

“Mas…” Inara langsung mencoba menenangkan.

Namun Reno sudah lebih dulu menatap Altaf dengan rahang mengeras.

“Al, aku tahu dulu kita sering berebut satu sama lain, tapi itu dulu. Sekarang kita sudah sama-sama kepala tiga harusnya kamu lebih dewasa,” ucapnya tajam. “Jadi kondisikan anakmu ini!”

Altaf baru saja ingin menjawab tapi Nila refleks mendecak kesal. “Eh, eh. Mulai lagi emosinya.”

"Dan kamu diam, gak capek ikut campur urusan orang terus?" sahut Reno.

“Saya gak merasa masuk ke urusan siapa pun, dan lagi Inara itu—"

“Jelas masuk.” Reno melangkah mendekat satu langkah dan memotong kalimat Nila. “Inara itu calon istriku.”

Kalimat itu membuat suasana langsung menegang. Inara langsung menunduk gelisah, sementara Baba mengerjapkan matanya bingung melihat perubahan suasana yang begitu cepat.

Altaf akhirnya menatap Reno lurus. “Baru calon istrikan?”

Nada suaranya datar, tetapi justru terdengar menekan. “Kalau saya gak salah dengar,” lanjutnya tenang, “statusmu dengan ibu dari anakmu saja belum selesai.”

Reno langsung membeku sesaat dan itu cukup membuat emosinya naik seketika.

“Jangan ikut campur urusan saya,” bentaknya.

Baba refleks memeluk kaki Altaf, sementara Inara langsung kaget melihat Reno mulai kehilangan kendali lagi.

“Mas, jangan marah di depan anak kecil,” ucap Inara cepat.

Namun Reno justru tertawa hambar sambil mengusap wajahnya kasar.

“Aku marah?” sorot matanya kembali jatuh pada Altaf. “Dari tadi dia yang sengaja mancing.”

“Aku cuma bicara fakta, Reno,” balas Altaf tetap tenang.

“Fakta?” Reno mendekat lagi. “Fakta apa? Bahwa sekarang kamu sengaja deketin Inara karena tahu hubungan kami lagi bermasalah?”

“Mas cukup!” kali ini suara Inara terdengar lebih keras dari sebelumnya.

Reno langsung diam. Untuk sesaat hanya suara napas mereka yang terdengar di area lobi apartemen itu.

Inara menatap Reno dengan wajah lelah. “Aku udah pusing banget sama semua masalah ini. Tolong jangan bikin keributan lagi.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi Reno. Untuk pertama kalinya sejak datang ke sana, Inara sama sekali tidak membelanya. Justru sekarang ia merasa seperti berdiri sendirian di hadapan semua orang. Tatapannya bergerak satu per satu. Dari Inara, Nila, Altaf, sampai Baba yang sejak tadi bersembunyi di belakang ayahnya.

Rahang Reno mengeras.

“Inara, semua masalah ini awalnya karena kamu,” ucapnya akhirnya. Nada suaranya rendah, tetapi penuh emosi yang ditahan. “Kalau dari awal kamu bisa tulus sama Zidan, aku gak mungkin sampai bawa Zoya lagi ke hubungan kita.”

Seketika mata Inara membesar tidak percaya.

“Aku?” suaranya bergetar pelan. “Aku gak tulus sama Zidan?”

Tatapan putus asa mulai terlihat jelas di wajahnya. “Aku yang jadi penyebab semuanya?” lanjutnya lirih. “Sekarang tuduhan apalagi yang mau Mas kasih ke aku?”

Dada Inara terasa sesak. Beberapa saat lalu Reno datang meminta maaf, bilang ingin berubah, ingin memperbaiki semuanya. Namun sekarang lelaki itu kembali menusuknya dengan tuduhan yang sama. Seolah semua pengorbanannya selama ini tidak pernah ada artinya.

Reno berdecak kasar sambil mengusap wajahnya frustrasi. “Apa perlu aku ingetin lagi?”

“Reno, serius deh, kamu emang udah gak bisa ditolong,” sela Nila yang sejak tadi mencoba menahan diri.

“Diam kamu!” bentak Reno spontan sambil menunjuk Nila. “Dari dulu kamu selalu ikut campur hubunganku dengan Inara!”

Nila langsung melotot tidak terima.

“Ah… atau jangan-jangan memang kamu yang terus ngebujuk Inara buat gak tulus sama Zidan?” lanjut Reno penuh emosi.

Nila langsung mengacungkan jari telunjuknya pada dirinya sendiri. “Aku? Bener-bener kamu ya, Reno! Lelaki breng—”

Inara tahu sahabatnya mulai emosi. Ia pun segera menenangkan Nila agar pertikaian tidak semakin besar. Setelah itu, Inara kembali menatap Reno. Kali ini tatapannya benar-benar dipenuhi rasa kecewa.

“Aku tidak perlu menjelaskan apapun lagi, Mas. Sudah sering aku katakan kalau aku benar-benar menyayangi Zidan. Tapi sepertinya sikapku selama ini tak cukup meyakinkan kamu. Jadi sekarang terserah!”

Reno terdiam. Ia hampir frustrasi mendengar kata terserah yang keluar dari mulut Inara. Apalagi wanita itu terlihat ingin pergi begitu saja meninggalkannya.

“Inara, waktu di rumah sakit…” ucap Reno cepat.

Kalimat itu sukses membuat langkah Inara terhenti. Wanita itu perlahan menoleh, menunggu Reno melanjutkan perkataannya.

“Kamu sendiri yang bilang,” lanjut Reno dengan rahang mengeras, “bagaimanapun anak kandung pasti lebih berharga dibanding anak sambung.”

Seketika Inara terdiam. Ia langsung menggali kembali ingatannya dan beberapa detik kemudian, wajahnya berubah pucat.

Ia ingat. Waktu itu ia memang pernah mengucapkan kalimat tersebut saat menemani Nila latihan dialog untuk casting. Namun Inara sama sekali tidak menyangka Reno mendengarnya dan menyimpan semuanya selama ini.

Jadi hanya karena itu? Hanya karena satu kalimat yang bahkan bukan ditujukan untuknya… Reno sampai menghancurkan dirinya perlahan?

Inara tertawa kecil, tetapi terdengar sangat hambar.

“Jadi karena itu Mas nyakitin aku?” tanyanya lirih. “Apa Mas pernah tanya dulu ke aku?”

“Inara, aku dengar sendiri suara kamu.”

“Iya, aku tahu.” Inara mengangguk pelan. “Mas gak tuli.”

Matanya mulai memerah, tetapi kali ini ia tidak menangis.

“Tapi Mas lupa satu hal.” Tatapannya lurus menembus Reno. “Setiap hubungan itu dilandasi rasa percaya.”

Hening.

“Kalau Mas ragu, Mas bisa tanya aku. Kalau Mas curiga, Mas juga bisa minta penjelasan.” Napas Inara mulai terdengar berat. “Bukan malah langsung menyimpulkan semuanya sendiri lalu menghukum aku tanpa ngasih kesempatan buat bicara.”

Reno langsung membeku di tempatnya, tanpa bisa membalas.

Sementara Inara kembali tertawa kecil dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Dan lucunya…” suaranya melemah, “selama ini aku bahkan gak tahu kesalahan apa yang sebenarnya aku lakukan sampai Mas berubah sedingin itu.”

1
falea sezi
😒 jangan balik kayak pengemis aja
falea sezi
😒 inara🤣 knp nama ini selalu goblok y
falea sezi
oon
falea sezi
males cwek bego😒 tinggal prgi aja ngapain ngemis kayak lacur aja menjijikkan
falea sezi
pergi Glblok
Dew666
💄💄💄💄
Anonim
Bagus inara jangan mau balik sama reno,orang egois kaya gitu belum jadi laki aja ribet g percayaan kek mana jadi suami nanti yg ada di jadikan keset terus
Anonim
Ambil aja reno sama kamu zoya,inara mah sama altaf aja.buat inara sama altaf thor biar bisa bareng baba
Anonim
Semangat inara tinggalkan reno,ayo gas altaf pepet terus inara
Anonim
Lanjut up thor banyakan dong seru ,semangat thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, masih satu bab 1 lagi tapi review
total 1 replies
Dew666
🩵🩵🩵🩵
Anonim
Dih jangan mau inara emang maaf doang bakal kelar gitu aja laki g jelas
Anonim
Lah emang si zoya belum cerai sama di reno?aneh banget si reno mau ngawinin si inara tapi belum cerai laki laki g jelas
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: nah iya, 4 th pergi jadi udh cerai belum ya 🤭
total 1 replies
Anonim
Jangan bikin inara balik sama reno y thor biarin aja si szidan sama emak bapak nya
A'ra
Cepet up lagi yah kak dan semangat nulisny 🥰🫶🏻💪🏻💪🏻
Anonim
Jangan sampe inara balik sama reno ya thor g iklas aku,biar inara jadi ibu sambung baba aja
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: 🤭🤭🤭 coba tanya inara apa dia mau atau gak kak
total 1 replies
Dew666
💝💝💝
Anonim
Inara ko bloon sih menye menye banget jadi cewe,laki masih demen ama mantan ko masih aja di pikirin
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: sabar kak, dia gak bodoh, hanya terbawa perasaan🤭
total 1 replies
Dew666
👄👄👄👄
Dew666
Pigi aja drpd jd bulan bulanan mereka huffff
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: hooh, mending pergi ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!