Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Lucky Emosi
Dojo Milik Keluarga Pratomo
Daisy menunggu suaminya yang memukul samsak di Dojo. Daisy tahu dokter Lucky marah yang semarah-marahnya dokter. Dia pun memilih untuk memberikan kesempatan pada suaminya melampiaskan semua emosinya.
"AAAARRRGGGGHHHHHH! ORANG TUA PEKOOOKKKK! PEEEAAAA! TOLOOOLLLL! ASSSYYYUUUUUU!" teriak dokter Lucky sambil memukul membabi buta.
Daisy menatap lembut ke suaminya. Hampir 24 jam suaminya tidak pulang karena sibuk di rumah sakit. Dokter Lucky bersandar di samsak dan Daisy mendengar suaminya menangis. Daisy mengambil handuk besar dan berdiri lalu menghampiri suaminya. Daisy memberikan handuk itu di punggung dokter Lucky yang basah dengan keringat.
"Aku marah Jeng ...." bisiknya.
"Aku tahu. Aku juga marah tapi aku tidak mau nanti Kenzie merasakan kemarahan aku jadi aku berusaha tenang." Daisy menyentuh pipi suaminya. "Mas, kamu bukan Superman, kamu bukan Bruce Wayne yang berusaha menyelamatkan semuanya. Kita tahu, jika sudah kena ARV, dia tidak akan sembuh. Dia tidak boleh berhubungan intim karena bisa menularkan penyakitnya ... Kita tinggal menunggu informasi apakah ibunya juga kena. Kita berusaha tapi kalau yang diusahakan tidak mau dan bebal gimana? Mau diedukasi soft spoken atau tantrum, akan mental."
Dokter Lucky meletakkan keningnya di bahu Daisy. "Aku capek Jeng ...."
"Yuk pulang. Kamu nggak kangen Kenzie?" senyum Daisy sambil memeluk dokter Lucky.
"Ah, iya. Aku masih harus membesarkan Spiderman berhelm."
Daisy tersenyum. "Setidaknya masih mending daripada Buto Cakil Mini," kekehnya. "Sekarang Mas Lucky pendinginan dulu baru mandi ya. Biar segar."
Dokter Lucky mencium bibir Daisy. "Terima kasih istriku."
***
Keesokan paginya, dokter Rahmat datang ke ruang kerja tim bedah dan melihat sahabatnya sudah datang. Wajah dokter Lucky tampak segar padahal dokter Rahmat tahu kemarin situasi IGD sangat hectic. Dokter Rahmat juga melihat dokter Lucky ngamuk ke seorang bapak-bapak yang membuat suasana kacau padahal IGD sangatlah hectic.
"Sudah baikan, Dok?" tanya dokter Rahmat sambil meletakkan kotak makanan di atas meja dokter Lucky.
"Alhamdulillah. Tadi malam tidur bertiga ... Eh, berempat ding sama Winston di kamar. Meskipun muka aku kena tendang Kenzie sih," kekeh dokter Lucky. "Ini apa Dok Rahmat?"
"Risol mayo, tahu petis dan lemper buatan Fifi. Kamu tahu kan Fifi kalau cuti isinya buat penganan. Mau gimana, anak-anak sudah pada keluar rumah buat kuliah di kota lain jadi dia gabut deh," kekeh dokter Rahmat yang kedua anaknya kuliah di ITS Surabaya dan di Melbourne Australia.
"Lho, Mbak Fifi kemarin cuti?" tanya dokter Lucky sambil membuka kotak makanan itu. "Kayake enak."
"Cuti. Tahu alasannya? Aku capek kerja. Ya sudah dong, dia cuti," kekeh dokter Rahmat.
"GM mah bebas!" gelak dokter Lucky sambil makan lemper. "Enak! Abonnya enak!"
"Lha pakai abon Mesran," cengir dokter Rahmat.
Dokter Lucky melongo. "Eh buset! Kapan ke Solo?"
"Nggak ke Solo. Sekretarisnya Fifi sempat pulang ke Solo tempat orang tuanya. Fifi jastip abon Mesran sama dia. Ya udah dibeliin." Dokter Rahmat melepaskan jaketnya dan mengganti dengan snelinya. "Aku visite dulu. Tolong, Dok. Hari ini jangan marah-marah."
"Diusahakan."
***
Medical Examiner RS Bhayangkara
"Dok Daisy ...."
Daisy menoleh dan melihat wanita yang kemarin datang ke gedung kantornya.
"Bu Jihan. Apa yang ibu lakukan di sini?" tanya Daisy bingung.
"Boleh saya bicara dengan Dok Daisy?" tanya Jihan.
Daisy mengangguk. "Selama ibu tidak masalah dengan bau khas kamar mayat. Mari ke ruang kerja saya."
Jihan pun mengikuti Daisy bertepatan dengan Mamat yang keluar karena baru saja selesai mengurus jenazah di ruang pendingin. Mamat menatap bingung tapi Daisy memberikan kode 'it's okay'.
Dokter Wayan yang baru datang, juga melihat itu. Dia pun menghampiri Mamat.
"Apa ibu itu anggota keluarga jenazah kemarin yang datang?" tanya dokter Wayan.
"Mana aku tahu Dok." Mamat menatap wajah dokter Wayan yang terluka. "Itu ... kenapa Dok?"
"Kena cakar Aya. Jadi Aya ribut sama Cakra. Aku coba pisahin, malah kena cakar. Ampun deh dua cucuku itu masih bayi tapi sudah macam ibunya," kekeh dokter Wayan yang diberikan cucu kembar bernama Arnawa Cakra dan Gayatri Ayu oleh Madhava dan Hana.
"Oh ya ampun." Mamat tertawa.
***
Ruang Kerja Daisy
Daisy menatap Jihan yang tampak menangis. Dia tahu pasti hasilnya tidak baik. Daisy memberikan kotak tissue ke Jihan yang mengambil secarik tissue.
"Anda kena HIV juga?" tebak Daisy.
Jihan mengangguk. "Aku berdosa pada Flint. Kemarin dokter yang menangani kami, memarahi aku habis-habisan."
Daisy hanya diam. Dirinya masih bersyukur, suaminya tidak meledak di IGD. Daisy dan dokter Lucky sudah tahu sebenarnya tapi terkadang harus ada orang lain yang memberikan slap on the head so hard.
"Jadi anda berdua harus dirawat?" tanya Daisy.
"Aku rawat jalan tapi Flint harus dirawat," jawab Jihan.
"Jalani. Jangan protes, jangan putus asa dan jangan menyerah. Penyakit anda memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan tapi ARV untuk menghambat perkembangan virus HIV serta meningkatkan daya tahan tubuh! Patuhi perintah dokter. Oke?" Daisy menatap Jihan serius.
"Iya Dok Daisy," jawab Jihan.
"Jangan berhubungan intim dengan siapapun! Anda bisa menjadi penyebar dan itu kriminal! Anda bisa jadi dendam pada almarhum suami anda tapi ... Semua ini tidak akan terjadi jika anda lepas dari lavender marriage. Tidak akan pernah kita bisa mengubah seseorang seperti perokok, tukang selingkuh sampai kapanpun. Hanya ada dua opsinya. Dia sendiri yang mau berubah atau mati!" ucap Daisy pedas.
***
Ruang Tim Bedah RS Bhayangkara
"Selamat ulang tahun, Dok Lucky."
Dokter Lucky yang sedang bersiap hendak visite, terkejut saat mendengar ucapan Suster Lia.
"Heh? Aku ulang tahun hari ini?" tanya dokter Lucky.
"Ya elah ... Iyaaaa Papanya Kenzie," jawab Suster Lia. "Tuh, tumpukan makanan banyak buat anda. Habiskan! Kata almarhum ibuku, makanan itu harus habis!"
Dokter Lucky melihat tumpukan roti, kue, jajanan pasar, minuman macam-macam ada diatas troli yang dibawa Suster Lia.
"Kok Jeng Daisy ...." Dokter Lucky menyalakan ponselnya karena tadi offline dan dia charge. Tak lama ada pesan dari Daisy.
"Happy birthday suami terbaik aku. Nanti malam candle light dinner ya? Aku sudah pesan tempat."
"Pantas tadi aku diciumi Jeng Daisy dan Kenzie. Ketambahan Winston pulak!" kekeh dokter Lucky membuat Suster Lia terbahak.
"Ampun deh kalian itu. Yuk Dok, kita visite."
"Itu makanan banyak dari mana?" tanya dokter Lucky.
"Tim bedah, tim IGD dan semuanya."
Dokter Lucky meringis. "Masa bakalan habis?"
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Aku bkln ttp jd fans'mu,dgn sgla kerandomn yg bkin ngakak plus pusing....🤣🤣🤣....
jgn emosian,tar cpt tua....🤭🤭🤭
btw, met milad dok Lucky 🤗
Doa terbaik untuk papanya Kenzie yang sukanya asbun😅😅😅
hikksss.....