masih up, cuma jarang!
Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Daerah Targus
14.
....
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Morline berusaha membuang rasa bosan dengan membaca buku, teralihkan oleh suara erangan dari anak itu.
Dia menaruh bukunya ke sisi lalu mendekat, memeriksa apakah lukanya terbuka. Tiba-tiba mata anak itu terbuka, Morline berkedip dua kali karena heran melihat anak itu hanya menatapnya. Namun beberapa detik kemudian anak itu terperanjat duduk, membuat Nina terbangun karena terkejut.
"Kenapa yang mulia!?" Nina duduk tegak dan baru menyadari apa yang terjadi ketika dirinya melihat Morline.
Anak itu mengingsut ke sudut kereta, tubuhnya gemetar dan maniknya bergetar. Melihat reaksi itu, dada Morline terasa memberat. Dia tersenyum, berusaha tidak menakutinya. "Lukamu belum sembuh berbaringlah lagi, ya."
"Si siapa kalian!? Di-dimana ak-aku!?" Bicaranya gagap, dia menggunakan aksen yang kental dari wilayah selatan.
Wilayah itu cukup jauh dari wilayah bagian tengah Hesperias. Memikirkan bagaimana anak itu sampai di tempat ini dari tangan ke tangan lainnya membuat Morline semakin yakin untuk mengubah nasibnya menjadi lebih baik.
"Aku Morline dan dia Nina, dayangku. Kami yang membawamu ke sini. Kau belum boleh bergerak dulu, lukamu nanti terbuka," kata Morline.
Anak itu menunduk melihat tubuhnya yang tak lagi kotor oleh lumpur juga darah, aroma samar alkohol dan kain kasa tercium di indra menciumnya. Tatapannya beralih ke arah Morline dan Nina, kedua manik hijau itu tak mampu menyembunyikan ketakutan dan kebingungan dalam dirinya.
Morline mengeluarkan wadah air yang terbuat dari kulit, "ini minumlah dulu. Kau pasti haus kan?"
Anak itu menatap minuman yang diulurkan kedepannya lalu menyabet dengan cepat menenggaknya, air meluncur dari kedua sudut bibirnya saat anak itu dengan ganas menenggak semua isi wadah air.
Nina mengernyit tak suka, air itu tumpah ke dudukan kereta yang terbuat dari kain beludru yang mahal. "Hei hati-hati!"
Tubuh anak itu langsung gemetar dia lalu menjatuhkan diri dan bersujud. "Ampuni saya! Ampuni saya! Jangan pukul saya!"
Nina terkejut melihat reaksinya, rasa bersalah menyergap relung hatinya. Di sisinya, Morline mengernyit, matanya menatap anak itu dengan pandangan observasi.
"Aku, aku hanya...tidak sengaja...." Nina merasa bersalah tapi tak tahu harus bagaimana pada anak itu.
Morline menggeser tubuhnya untuk lebih dekat pada anak itu, tangannya bergerak lembut mengelus kepalanya. Pada awalnya tubuh anak itu gemetar hebat, dia terus mengelus sampai getaran punggungnya berhenti.
Morline tahu bahwa dia hanya ketakutan. "Tenang, kami tidak akan melakukan hal buruk padamu. Kau tenang ya, ini aku berikan kue. Makan dan isi perutmu, cepat duduk dengan benar agar lukanya tak tertekan." Morline menyodorkan sepotong kue jahe padanya.
Anak itu mendongak, menatap kue tepat di depan wajahnya. Kue itu dipegang oleh jari-jari kecil yang gemuk, tatapannya merambat dari jari ke wajah Morline.
Morline tersenyum lembut, matanya yang hijau tidak menatapnya dengan pandangan menghakimi, jijik dan hina. Justru tatapannya lembut, yang tak pernah anak itu dapatkan. Dia terpaku untuk beberapa saat.
"Ayo duduk dengan benar dan makan ini."
Anak itu masih diam di tempat, menunduk begitu dalam hingga kepala sejajar dengan bahu.
Morline menatap Nina, dayangnya itu tampak tak tahu apa yang harus dia lakukan pada anak kecil. Dia menghela nafas, kemudian meraih tangan anak itu dengan gerakan hati-hati. Meski sudah berusaha agar tak menakutinya, tapi Morline bisa merasakan tangannya bergetar dan tatapan matanya ketakutan.
Morline memberikan sebungkus kue jahe ke tangan anak itu. "Ini untukmu, makanlah!" Nadanya pelan dan lembut tapi mengandung kalimat perintah.
Bocah itu menatap telapak tangannya yang terdapat bungkusan kue jahe, harum gula merah dan kayu manis menyapa hidungnya dengan lembut. Manik hijaunya berbinar dan dengan rakus meraup kue dalam wadah dengan satu genggaman tangannya, makan dengan brutal hingga remahan kue bertebaran di lantai kereta.
Morline memberi isyarat pada Nina agar tak menegurnya, mereka hanya diam menatap anak itu yang makan seperti anjing kelaparan.
Dia mengingat jika anak ini memiliki ketakutan terhadap penganiayaan, Morline tak mau bertanya apa penyebab dari ketakutan itu karena dia tak akan pernah bisa membayangkan betapa menyiksanya saat-saat itu bagi anak ini.
Lalu, anak ini juga memiliki ketakutan untuk kabur dari majikan, meski itu terdengar aneh. Akan tetapi Morline yang mengetahui kenapa itu bisa terjadi hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya untuk menenangkan diri.
Saat usianya delapan tahun, anak itu pernah kabur, tapi kemudian tertangkap dan dipukuli hingga pingsan, diusia sembilan tahun dia kembali kabur tapi hal yang sama terulang. Untuk ketiga kalinya, dia kabur bersama budak-budak lain saat akan di kirim ke tempat penjualan, sayangnya hanya dirinya yang tertangkap, dia kemudian disiksa hingga hampir mati.
Morline terus menatap anak itu dengan penuh empati, membayangkan kehidupan seperti itu Morline bahkan merasa tersiksa.
"Heei, duduk di sini." Morline menepuk tempat kosong disebelahnya. "Aku memintamu untuk duduk di sini."
Anak itu menurut, kain kasa yang melilit tubuhnya sedikit longgar karena gerakan tadi. "Boleh aku memperbaiki balutan kasanya?" Morline menatap manik hijau anak itu dengan lembut.
"...." Diam, anak itu tak mengatakan apapun selain kebisuan yang memberi jawaban.
Morline tak memaksa juga tak berusaha. "Coba kau lihat apakah lukanya terbuka atau tidak?"
Anak itu memeriksa tubuhnya sendiri kemudian menggelengkan kepala. Morline diam, bersandar malas setelah mendapat jawabannya, membiarkan keheningan di dalam kereta kembali merayap.
Suara roda yang melintasi jalan berderak konstan, dari dalam kereta mereka mendengar kaki-kaki kuda yang berderap. Sinar bulan yang tipis menyusup masuk dari sela-sela jendela kereta, memberi sedikit ruang bagi mata untuk bisa melihat.
Morline melirik anak itu yang duduk dengan posisi tegang, dia tak melakukan apapun selain memperhatikannya dalam diam. Anak ini belum terbiasa berada di lingkungan seperti mereka, akan sangat mengganggunya jika Morline terus berusaha mendekatinya dengan agresif.
Anak ini tumbuh di lingkungan yang miskin, dia dijual oleh orang tuanya sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Setelah dijual, tubuh dan raganya terombang-ambing dari pemilik ke pemilik lain. Tidak pernah benar-benar merasakan apa itu kehidupan sebagai anak kecil.
Menurut sistem, pada usia 23 tahun dia dibeli oleh Aleron sebagai pengurus kuda. Dari sana dia belajar tentang apa itu kehidupan sebagai manusia, sayangnya pengertian hidup yang dia ambil cacat. Justru menanamkan rasa kebencian dan iri dengki pada Aleron yang memberinya kehidupan layak.
Malang sekali, dia hanya perlu bimbingan agar pemikirannya tak cacat. Batin Morline yang membuat skenario bagaimana cara membimbing anak ini kedepannya.
.....
Dua hari berlalu, mereka menempuh perjalanan. Gengi memutuskan untuk berhenti ketika mereka melewati sebuah kota.
Gengi menghampiri Morline ketika selesai membayar tempat penitipan kereta dan kuda mereka. Alis Gengi bertaut hingga membentuk kerutan di tengah alisnya saat Morline membawa budak kecil itu, bahkan memperlakukannya dengan baik.
Meski dia hanya anak kecil, tapi asal-usulnya yang tak jelas dan bisa saja menyebarkan penyakit berbahaya, membuat Gengi berpikir Morline terlalu naif. Dia hanya bisa menahan diri untuk tidak menegur sang ratu muda atas tindakannya yang terburu-buru.
"Gandeng tanganku, kita akan pergi ke suatu tempat." Morline menunduk untuk menatap anak itu. Dia masih ketakutan dan kaku meski sudah dua hari berlalu bersama, akan tetapi Morline berusaha bersabar dan mencoba yang dia bisa untuk mendapatkan kepercayaannya.
Melihat anak itu hanya menunduk dan tak mengatakan apapun selain hembusan nafas yang keluar dari bibir pucatnya, Morline membatin pada dirinya sendiri untuk bersabar.
Dia lalu berlutut, membuat tinggi mereka setara. Tatapannya melembut saat kedua mata mereka saling bertemu. "Kalau begitu boleh aku gandeng tanganmu? Nanti kita akan jalan cari dokter, gandengan tangan mencegah kau tertinggal. bisa aku gandeng tanganmu?"
Meski harus menunggu beberapa detik, anak itu mengangguk setuju.
Dengan gerakan hati-hati agar tak memicu trauma anak itu, Morline menggenggam tangannya dengan lembut. Dia lalu menatap manik hijau yang lebih gelap dari miliknya, seperti hutan rimbun yang tampak kelam. "Terimakasih yang sudah memberiku izin menggandeng tanganmu.''
Anak itu berkedip, matanya menatapnya seakan lebih dalam. Morline tak mau menebak-nebak apa yang dia pikirkan,prioritasnya adalah membuat anak ini merasa nyaman dan percaya padanya.
'Yang muli....maksud saya lady, saya sudah menemukan dokternya. Kita bisa ke sana sekarang." NIna datang setelah ditugaskan untuk mencari dokter bersama Tande.
Gengi berdiri tanpa banyak bicara, satu tangannya selalu berada di kepala pedangnya.
Tande yang memimpin jalan ke depan dengan jarak yang tak mencurigakan, Morline dan Nina berada di belakangnya lalu Gengi berjalan di belakang mereka, membentuk formasi penjagaan yang tak terlalu mencolok bagi orang-orang.
Morline menggengam lebih erat tangannya lalu menunduk untuk memastikan dia nyaman. "Aku genggam erat ya agar tak mudah lepas."
Anak itu memutuskan tatapannya ke depan, tak mengatakan apapun selain mulut yang terus terkunci sejak dua hari lalu.
Setelah berjalan selama hampir 10 menit, mereka akhirnya sampai di rumah dokter di kota itu. Morline dan Nina masuk ke dalam sementara Tande dan Gengi berjaga di luar, mereka berusaha tampak tak mencurigakan dengan berbaur dengan warga sekitar.
Menyadari perubahan suasana saat mereka masuk ke rumah sang dokter, tubuh anak itu mulai gemetar. Morline kembali berlutut, tatapan mereka bertemu. Dia bisa melihat ketakutan di manik hijaunya yang gelap. "Kita akan periksa pada dokter itu untuk mengetahui keadaannya kita, jadi jangan takut ya."
"Siapa yang mau periksa, ke sini! Ke sini!" Suara pria tua itu bergema.
Morline berdiri, "aku dulu."
Nina mengerutkan alisnya, sebelumnya Morline berkata bahwa ingin memeriksakan anak itu, tapi mengapa justru Morline yang ingin diperiksa dokter? Nina merasa bingung sebelum akhirnya Morline berbisik padanya, Nina mengangguk memahami rencana Morline.
Tatapannya menghangat menyadari betapa perhatiannya sang satu hingga memikirkan rencana agar anak ini tak ketakutan.
"Aku titip dia dulu."
Dokter itu menatap Morline dari atas sampai bawah. "Kau gemuk sekali! Berapa banyak makanan yang masuk ke dalam perutmu! Gemuk itu tidak baik untuk tubuhmu! Sini aku periksa!" Sang dokter menarik tangan Morline tanpa peringatan.
Nina yang melihatnya hampir saja menegur dokter itu.
Dokter itu memeriksa Morline lalu menimbang berat badannya. "100 kg dengan tinggi badan 166, Itu termasuk obesitas, berat badanmu ini melebihi berat ideal dari rata-rata orang dengan tinggi seperti itu! Turunkan berat badanmu ya! Makan makanan yang sehat!"
Wajar Morline memerah karena malu, dia hanya mengangguk lalu menarik Nina agar diperiksa juga. Awalnya perempuan itu menolak, tapi karena Morline memaksa Nina menurut.
"Kau kurang tidur ya! Kau mengalami anemia ringan, makan banyak daging, jeroan dan kacang-kacangan! Kualitas tidur perbaiki!"
"Ya dokter." Nina menunduk malu dan gugup karena dokter yang memeriksa begitu terang-terangan tanpa menyadari rasa canggung yang dirinya rasakan.
"Aku dan Nina sudah di periksa, kau juga harus di periksa ya." Kata Morline lembut pada anak itu. Dia hanya diam.
"Selanjutnya! Apa sudah?"
"Saya ingin memeriksakan anak ini, dokter. Tolong periksa. Aku izin mengangkatmu ya?" Morline menatap anak itu, dia menatapnya juga. Ada jeda beberapa detik untuk anak itu mengangguk. Morline mengangkat tubuhnya dan menggendongnya seperti balita.
"Ayo cepat! Kenapa kalian lama sekali!" Dokter itu selalu tampak marah-marah dan tak sabaran, jujur Morline agak kesal dengan sikapnya. Namun dia berusaha menghormatinya.
Morline duduk di kursi dan mendudukkan anak itu ke pangkuannya. Tubuh anak itu menegang saat sang dokter menggenggam tangannya untuk memeriksa kondisinya. Morline berbisik pelan untuk menenangkannya.
Di depan mereka, Nina memperhatikan. Merasa bahwa keberadaannya tak penting di sana.
Beberapa menit setelahnya.
Dokter itu mengerutkan dahinya menatap tubuh anak itu, lalu menatap Morline. Menyadari manik mereka sama-sama berwajah hijau, dalam kepalanya langsung menyimpulkan. "Aneh, ibunya gendut tapi kenapa bisa anaknya mengalami kekurangan gizi parah begini! Kau apakan anakmu ini sebenarnya?! Dia mengalami kekurangan gizi! Tubuhnya luka-luka! ini ada indikasi penganiayaan!"
"Dokter aku..."
"Tidak perlu membela diri! Meski kau ingin hidup enak tapi jangan siksa anakmu seperti ini! Bagaimanapun dia masih kecil! Sebagai seorang ibu kau seharusnya menjadi pelindungnya bukan menyiksanya! Kalau kau tak menginginkannya jangan siksa dia!"
"Dokter lady Mor bukanlah ibunya." Kata Nina dari belakang dokter itu. Dia sudah tidak tahan melihat ratunya dimarahi tanpa alasan oleh Dokter galak itu.
Sang dokter menoleh kebelakang, "hah?" Mulutnya menganga dengan kerutan dalam di dahinya.
"Dia benar Dokter, aku bukanlah orang tuanya." Morline mengelus kepala anak itu dengan jari-jari gemuknya, dengan suara lembut dia bicara. "Tapi benar kata Dokter, aku harus menjaganya dan merawatnya dengan baik. Terimakasih atas saran Dokter."
Sang Dokter menyipitkan mata menatap wajah Morline dan anak itu bergantian, memastikan apakah keduanya mirip atau tidak. Meski sama-sama memiliki mata hijau tapi wajah mereka sangat berbeda, menyadari kesalahannya sang Dokter berdehem. "Hem bagus kalau begitu, aku akan memberikan obat untuk anak ini. Perbaiki gizi dan jangan makan sembarangan, dia terkena jamur, oleskan salep ini tiga kali sehari."
"Baik Dokter."
Selesai pemeriksaan, Morline membayar dengan beberapa koin perak. Mereka lalu pamit pada Dokter itu. Sang Dokter berdiri di ambang pintu sambil memainkan perak-perak itu di tangannya, pandangannya lurus menatap kepergian Morline dan Nina.
"Seorang bangsawan berani-beraninya datang ke kota kecil ini?" Dokter itu mengelus janggutnya yang panjang, bibirnya tersenyum ironis. "Siapa dia?"
Morline menggandeng tangan anak itu, dia meminta pada Gengi agar mereka pergi ke rumah makan.
Gengi tidak menyukai ide itu karena memperlambat perjalanan mereka. "Mohon maaf yang mulia, jika kita singgah dahulu maka perjalanan akan membutuhkan waktu sangat lama, lebih baik kita langsung bergegas melanjutkan perjalanan kita."
Morline menatap Gengi juga Tande, entah karena wajah mereka yang datar dan gaya bicara yang kaku Morline jadi merasa mereka tak menyukainya.
"Baiklah, tapi kita beli makanan untuk perbekalan."
Gengi membatin; pantas tubuhnya gemuk, dia memang suka makan.
"Baik yang mulia."
Setelah membeli perbekalan, mereka melanjutkan perjalanan ke wilayah Utara, tepatnya di daerah Targus.
Menurut sejarah yang di baca Morline, daerah itu dulunya dikuasai oleh pemimpin klan Huth, yang sebenarnya masih satu rumpun dengan nenek moyang Cedric, hanya saja perbedaan pandangan membuat mereka membuat kelompok sendiri.
Pada awalnya klan Huth tidak ingin bekerja sama dengan Hesperias, akan tetapi sebuah wabah menyebar di daerah Targus, fasilitas yang tak memadai membuat pemimpin klan terpaksa bekerjasama dengan raja Hesperias saat itu, sampai sekarang hubungan itu masih terjalin.
Sayangnya banyak keturunan dari klan Huth yang merasa tak puas. Mereka merasa diabaikan meski menyandang status sebagai rakyat Hesperias. Karena perbedaan pandangan, mereka sering kali didiskriminasi dan di kucilkan oleh sesama rakyat Hesperias.
Kereta kuda berguncang hebat membuat tubuh mereka bergoyang ke kiri dan kanan dengan brutal, bahkan Morline hampir saja tersungkur menindih Nina karena guncangan besar.
Saat kereta kuda berhenti berguncang, Morline mengintip keluar. Matanya melebar saat melihat pemandangan di depannya.
Langit biru dengan gumpalan awan seperti kapas melayang pelan di atas sana. Di bawahnya, hanya terpisah oleh garis horizon, daratan itu di penuhi oleh rumah-rumah kecil dari tanah dan jerami. sungai yang sudah surut berliuk seperti ular dan beberapa manusia sedang beraktifitas tampak seperti semut dari jarak Morline memandang.
"Kita sudah sampai di daerah Targus, yang mulia!" Suara Gengi menyatu dengan derap langkah kuda.
Morline menatap Gengi yang berada di samping kereta lalu beralih menatap pada rumah-rumah di bawahnya.
****
setia menunggu up berikut nya 😁👍
lanjuuttttt lagiiii 💪💞
Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
lanjut lagiiii 👍👍👍😍