Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Apa? Menikah?
Sosok itu … dia datang lagi. Bagaimana mungkin ia bisa mengenalku yang kini sudah tertutup sempurna? Aku lantas berlalu tak memedulikannya. Pintu rumah kuketuk. Namun, saat tanganku sibuk mengetuk pintu rumah yang tak kunjung terbuka, Dimas lantas menyodorkan sebuah kertas ke wajahku.
“Nah! Surat dari Pak Thomas,” ucapnya. Aku lantas mengambil kertas yang ternyata adalah sebuah surat. Kemudian menyimpannya di dalam tas.
“Nggak dibaca dulu?” ulang Dimas bertanya seraya mata itu menyipit terkena sinar matahari.
“Nggak. Nanti aja,” jawabku singkat lantas memanggil sebuah nama di dalam sana.
“Ibu! Ridho! Tolong buka pintunya!”
“Kamu tenang aja. Aku nggak bakal sentuh kamu, kok,” pernyataan Dimas membuatku menghentikan aksiku menggedor pintu. Mataku kini meliriknya tajam, seolah tak percaya dengan setiap ucapannya.
Tiba-tiba … Ridho membuka pintu rumah. Ia menatapku dari atas kepala hingga kaki. Satu pertanyaan muncul dari lisannya.
“Siapa, ya?” tanyanya sambil menyipitkan kedua matanya. Berusaha mengingat-ingat sosok di hadapannya saat ini.
“Gue! Adelin!” jawabku, kemudian berlalu ke dalam rumah tanpa memedulikan Dimas di luar sana.
“Adelin!” Tiba-tiba, suara yang memanggil namaku itu membuat langkahku kini terhenti.
“Aku masih menunggumu. Kapan kamu siap, segera hubungi aku.” Kutinggalkan ia seorang diri di teras rumahku.
Aku berlalu ke dalam kamar, mengunci diriku di sana. Aku membuka semua atribut muslimahku. Lantas membawa diriku tidur di atas kasur yang jauh dari kata empuk ini. Tiba-tiba, terlintas di dalam benakku untuk membuka surat dari Pak Thomas tersebut. Kubaca pelan isi pesan itu.
"Kepada: Adelin
Perihal Permohonan Maaf dan Penawaran Kembali
Saudari Adelin,
dengan datangnya surat ini, izinkan saya untuk menyampaikan permohonan maaf atas pemecetan yang saya lakukan malam itu pada Anda. Saya menulis surat ini setelah melakukan perenungan panjang. Saya menyadari bahwa tindakan saya sangat tidak pantas dan terkesan ambigu kepada Anda. Sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang besar. Dan tindakkan saya dalam memecat Anda adalah keputusan yang emosional.
Luka di hidung saya sudah pulih. Namun, rasa bersalah saya begitu besar karena telah memutus mata pencaharian Anda. Melalui surat ini, saya ingin kembali menawarkan kembali posisi Anda di perusahaan dengan tawaran gaji yang lebih besar sebagai bentuk permintaan maaf saya.
Jika Anda bersedia, hubungi saya atau melalui Dimas.
Salam,
Thomas"
Aku menutup surat itu dengan perasaan getir yang hebat di hatiku. Bagaimana bisa ia kembali memintaku bekerja, sementara harga diriku sudah dikoyak sedalam itu. Tapi, aku kembali teringat pada sosok Ibu yang masih menjadi tanggung jawabku. Aku berubah pikiran. Lantas menghubungi Dimas detik itu juga.
“Dimas … aku mau kembali bekerja di perusahaan Pak Thomas. Bisa bantu hubungkan aku dengannya?”
***
“Jadi bagaimana? Kamu siap kembali bekerja?” tanya Pak Thomas padaku seraya tersenyum. Kali ini, senyuman itu bukan lagi senyuman penuh maksud yang kulihat dulu.
“Baik, tapi beri saya izin hari ini untuk menimbang dulu, Pak,” jawabku sambil menunduk.
“Baik. Besok kamu sudah boleh bekerja. Selamat, ya.” Pak Thomas menyodorkan tangannya padaku.
Aku dengan gugup hendak menyalami tangannya. Namun, teringat lagi dengan sebuah kajian yang pernah dibawakan oleh ustaz Afwan, bahwa lebih baik kepala seseorang ditusuk dengan jarum di banding bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Aku memutuskan untuk tidak menyalami tangan Pak Thomas. Hingga ia tiba-tiba bertanya.
“Ada apa, Adelin? Tangan saya bersih, kok.”
“Bukan begitu, Pak. Saya …”
“Permisi, Pak!” Sebuah suara yang kukenali kini bersuara di balik pintu ruangan Pak Thomas. Suara Dimas.
“Oh, ya? Ada apa?” tanya Pak Thomas pada Dimas seraya mendongakkan kepala.
“Ini berkas-berkas yang harus ditanda tangani, Pak,” ucapnya sambil menyodorkan berkas-berkas tersebut.
Aku menoleh sekilas pada Dimas. Kemudian kembali fokus pada Pak Thomas di hadapanku.
“Baiklah. Kamu boleh pulang dulu. Besok, datang untuk bekerja di jam biasa, ya.” Aku mengangguk cepat seraya menampilkan sedikit senyuman di wajahku.
Siang yang gersang. Membuat tenggorokanku menjerit kehausan. Aku mencari tempat duduk untuk beristirahat dan berteduh di trotoar ini. Aku menemukannya. Kuregangkan otot-ototku sejenak di atas kursi kayu ini. Aku mendongakkan kepala menatap langit yang mulai terik. Kuambil sebotol mineral yang ada di dalam tasku, sebagai pelepas dahaga.
Tiba-tiba, ingatanku kembali berlabuh pada sosok Hamzah. Aku tersenyum. Membiarkan senyuman itu bertahan di bawah terpaan panasnya cuaca. Tiba-tiba, bulir air mata di balik kelopak mata berontak ingin tumpah. Lagi, aku menangis kala mengingat kebersamaanku selama satu minggu lamanya dengan Hamzah.
Entah apa alasan air mata begitu mudah luruh. Aku teringat satu hal. Janjiku untuk menghubunginya melalui video call. Aku lantas menghubungi dokter Deva. Berharap ia saat ini ada di rumah. Panggilan tersambung. Menampilkan sosok wanita lengkap dengan jilbab lebarnya dan menampilkan senyum manis.
“Asalamualaikum, ya Ukhti!” sapanya dengan ceria sembari tersenyum padaku.
“Waalaikumsalam, ya Ammaty,” jawabku sambil ikut tersenyum padanya.
“Mana cadarnya?” Aku tersenyum seraya menutup wajahku malu.
“Mau ketemu Hamzah, ya?” Aku mengangguk sigap sambil menantinya muncul di layar ponsel.
“Assalamualaikum, Tante.”
“Waalaikumsalam, Hamzah sayangku. Kamu apa kabar, Nak?” tanyaku di balik telepon itu.
“Hamjah, khail, alhamdulillah. Kaifa haluki?”
“Alhamdulillah, Tante juga baik.”
“Kapan Tante main ke sini? Nanti, hamjah ke sana, ya. Malam.” Kudengar Dokter Deva membisikkan sesuatu kepada Hamzah lalu diikuti oleh Hamzah. Mungkin, mereka sedang bercanda. Atau, mungkin … sedang menghiburku.
***
Malam kini datang. Aku baru saja selesai salat isya. Kemudian melanjutkan untuk membaca Al Quran. Tiba-tiba … saat aku hendak membuka Al Quran, seseorang mengetuk pintu rumah sebanyak tiga kali. Kemudian sebuah salam terucap.
“Suara itu …” Aku mengenalnya. Rasa penasaranku begitu kuat. Hingga saat aku mengintip pada jendela, aku dikagetkan oleh sosok ustaz Afwan dan dokter Deva serta Hamzah yang berdiri di depan pintuku—menanti pintu terbuka.
“Astagfirullah. Ada apa, ya mereka kemari?” tanyaku lirih seraya bersandar di balik pintu. Sambil menutup rapat tirai jendelaku.
“Adelin! Siapa di luar?” tanya Ibu padaku. Aku lantas berlari ke dalam kamar hendak segera mengganti pakaianku dengan pakaian sesuai syariat.
Tak lama, Ibu membuka pintu rumah. Aku menanti kehadiran mereka di belakang Ibu.
“Assalamualaikum,” ucap salam mereka serempak.
“Waalaikumsalam,” jawabku dan Ibu bersamaan.
“Boleh kami masuk?” tanya Dokter Deva seraya menyipitkan matanya. Seolah senyuman itu mekar di balik cadarnya.
“Boleh, Dok. Silakan duduk!” jawabku.
Saat dokter Deva dan ustaz Afwan telah duduk, aku bergegas menyiapkan teh di dapur. Membiarkan mereka bercakap-cakap dengan Ibuku.
“Ada apa, ya, Buk?” Suara Ibu terdengar nyaring hingga ke dapur. Aku mencoba menguping pembicaraan mereka di dapur. Hingga setelah aku menyelesaikan hajat membuat teh di dapur, aku mulai kembali ke ruang tamu untuk menyajikan teh untuk mereka.
Aku berjalan dengan langkah hati-hati. Hingga tiba-tiba … ustaz Afwan menyampaikan satu hal yang membuatku berpikir untuk kabur dari rumah.
“Maaf, saya ingin menikahi Adelin.”
Pranggg!
Gelas-gelas itu hancur berserakan di ubin. Bersama detak jantungku yang seolah berhenti berdetak saat kalimat itu terucap.
“A … apa? Menikah?"
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?