Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Pertama di Penthouse
Mireya menunduk sambil memegang tisu yang mulai kusut di tangannya.
Air matanya masih tersisa di sudut mata.
Namun kali ini senyumnya jauh lebih lembut.
“Terima kasih, Kak…”
Suaranya pelan.
Tulus.
“Kakak baik banget…”
Rhea yang tadinya hendak mengambil minum hanya berhenti sebentar.
Mireya menatap meja, lalu melanjutkan dengan suara kecil.
“Aku juga… sering kesepian.”
Rhea menoleh.
“Karena aku nggak punya saudara lain.”
“Ayah anak tunggal…”
“Ibu juga cuma sendiri…”
Ia tersenyum kecil, tapi ada luka di sana.
“Dan aku juga anak tunggal.”
Tatapannya jatuh pada piring di depannya.
“Aku pengen punya keluarga juga…”
Kalimat itu menggantung sejenak.
Membuat suasana di antara mereka melambat.
Mireya mengangkat mata.
“Keluarga yang beneran.”
Suaranya bergetar sedikit.
“Aku pengen nyemangatin ibu biar sembuh…”
“Biar beliau bisa hidup bahagia lagi.”
Sunyi.
Rhea menatap wajah gadis di depannya lama.
Ada sesuatu yang terasa menekan dada.
Rasa iba.
Atau mungkin…
rasa ingin menjaga.
Ia menghela napas kecil.
Lalu menatap Mireya lurus.
“Ya sudah.”
Mireya berkedip.
“Mulai sekarang…”
Rhea menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Panggil aku kakak.”
Mata Mireya langsung membesar.
Rhea melanjutkan dengan nada datar khasnya.
“Aku jadi kakakmu mulai sekarang.”
Beberapa detik Mireya hanya diam.
Lalu bibirnya bergetar.
Air matanya kembali jatuh.
“K-kak…”
Suaranya pecah.
Rhea langsung mendecak kecil.
“Cih.”
“Kamu menyedihkan sekali.”
Tapi sudut bibirnya naik tipis.
Ia lalu mengambil sendok saji dan memindahkan lauk ke piring Mireya.
Bukan sembarang lauk.
Melainkan lauk yang sedari tadi paling sering dicomot Mireya diam-diam.
“Ini.”
Mireya menatap piringnya.
Rhea menambahkan beberapa potong lagi.
“Kamu terlalu kurus, tahu?”
Nada suaranya terdengar seperti omelan.
Tapi justru hangat.
Mireya menatapnya tak berkedip.
Rhea mendesah kecil.
“Makan yang banyak.”
“Tubuhmu harus sehat dulu sebelum memikirkan hal lain.”
Lalu ia mengangkat alis tipis.
“Tapi hati-hati.”
“Jangan sampai terlalu gemuk.”
Mireya langsung membeku.
“Hah?”
Rhea melanjutkan sambil meminum airnya.
“Nanti susah ngurusinnya.”
Mireya spontan tertawa kecil di sela air mata.
“Kakak jahat…”
Rhea mendengus.
“Bukan jahat.”
“Realistis.”
"Kamu akan jadi artis tau?"
Namun ia tetap menambahkan satu potong lauk lagi ke piring Mireya.
“Makan.”
“Itu perintah kakakmu.”
Kalimat itu membuat dada Mireya terasa penuh.
Hangat.
Sangat hangat.
Sudah lama sekali…
ia tidak merasakan ada seseorang yang memedulikannya seperti ini.
Dan malam itu—
di meja restoran sederhana itu—
ia merasa untuk pertama kalinya…
tidak sendirian lagi.
...****************...
Pagi itu cahaya matahari masuk lembut dari jendela besar kamar.
Sinar keemasan membelah tirai tipis dan jatuh tepat di atas ranjang empuk yang bahkan sampai sekarang masih terasa tidak nyata bagi Mireya.
Ia menggeliat pelan.
Kelopak matanya berkedip beberapa kali.
Langit-langit kamar yang tinggi.
Lampu kristal kecil.
Dinding putih mewah.
Aroma linen bersih.
Beberapa detik ia hanya menatap kosong.
Lalu—
matanya membesar.
“ASTAGA.”
Ia langsung bangun setengah duduk.
“Ini kamar…”
Oh.
Benar.
Ini bukan rumah lamanya.
Bukan kamar sempit yang dindingnya hampir menempel dengan lemari.
Ini penthouse.
Rumah Zevran.
Rumah mereka.
Dan tepat di detik itu—
otaknya akhirnya menyala penuh.
Aku udah nikah.
Mireya membeku.
Pipinya memanas.
“Ya ampun…”
Tangannya langsung menutup wajah.
“Beneran ya…”
“Aku udah punya suami…”
Kata itu terasa aneh sekali di lidahnya.
Suami.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Ia buru-buru turun dari tempat tidur, merapikan rambut, lalu membuka pintu kamar.
Klik.
Dan tepat saat pintu terbuka—
pintu kamar di seberangnya juga terbuka.
Mireya membeku di tempat.
Di sana berdiri Zevran.
Masih mengenakan pakaian olahraga hitam yang sedikit menempel pada tubuhnya.
Rambut hitamnya sedikit lembap oleh keringat.
Napasnya stabil.
Tampak seperti baru selesai berolahraga.
Mireya melotot.
“K-kok kamu di sini?!”
Zevran mengangkat alis tipis.
Ekspresinya datar seperti biasa.
“Selamat pagi juga.”
Pipi Mireya langsung merah.
“B-bukan itu maksudku…”
“Kemarin katanya sibuk…”
Tidak akan pulang ke sini.
Zevran berjalan santai keluar kamar.
“Aku memang sibuk.”
“Lalu?”
Ia melirik Mireya sebentar.
“Ini rumahku.”
Mireya langsung menutup mulut.
Benar juga.
Ia jadi makin malu.
Zevran menghentikan langkahnya di depan Mireya.
“Oh.”
“Kamu sudah bangun.”
Nada suaranya tetap tenang.
“Turunlah.”
“Bibi sudah menyiapkan sarapan.”
Mireya masih menatapnya tak percaya.
“Tunggu…”
“Kamu benar-benar nginep di sini?”
Zevran memandangnya beberapa detik, lalu sudut bibirnya bergerak tipis.
Nyaris seperti menahan geli.
“Kenapa?”
“Apa kau mengira aku menghilang setelah menikah?”
Mireya langsung menggeleng cepat.
“Bukan gitu…”
Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Mata Mireya membesar.
“Eh—”
“Jadi benar kamu bakal nemenin aku beli furnitur?”
“Kata Kak Rhea begitu…”
Zevran mengangguk santai.
“Tentu.”
“Kebutuhanmu penting.”
“Kamar itu terlalu kosong untuk ditinggali.”
Ia melirik pintu kamar Mireya.
“Sebagai suamimu, aku harus ikut.”
Kalimat itu membuat jantung Mireya hampir lompat.
Sebagai suamimu.
Astaga.
Kenapa kalau dia yang ngomong jadi terdengar serius banget?!
Mireya langsung salah tingkah.
“Oh…”
“Oh iya…”
Zevran berbalik menuju kamar nya.
“Ayo kamu turun.”
“Aku baru selesai olahraga.”
Ia melirik Mireya lagi.
“Kamu tunggu di meja makan.”
“Aku mandi dulu.”
Lalu ia berjalan pergi dengan santai menutup pintu kamar nya lagi.
Meninggalkan Mireya yang masih berdiri membatu di lorong.
Matanya masih melebar.
Pikirannya berputar.
Baru beberapa detik kemudian ia menepuk pipinya sendiri pelan.
“Ya ampun…”
“Dia beneran tidur di sini…”
Barulah Mireya sadar.
Tadi malam ia pulang larut dan langsung masuk kamar setelah diantar Rhea.
Wajar saja mereka tidak berpapasan.
Kemungkinan besar Zevran baru datang saat ia sudah tertidur pulas.
Atau mungkin memang datang lebih malam.
Membayangkan pria itu pulang diam-diam saat seluruh penthouse sunyi membuat jantungnya kembali berdebar aneh.
Ia memegang dadanya.
“Kenapa sih…”
Lalu buru-buru menuruni tangga menuju ruang makan.
Namun satu hal terus terngiang di kepalanya.
Sebagai suamimu.
Aaaaaagrrrrh!!!
...****************...
Mireya turun dengan langkah pelan menuju ruang makan.
Aroma masakan hangat langsung menyambutnya.
Harum roti panggang, telur mentega, dan sup ringan memenuhi udara.
Bibi dapur yang sedang sibuk menata meja langsung menoleh.
“Oh, kamu sudah bangun, Neng?”
Wajahnya langsung cerah.
“Ayo sini, duduk dulu.”
“Sebentar lagi menu utamanya siap.”
Mireya tersenyum malu lalu duduk di salah satu kursi.
“Pagi, Bi…”
Bibi mendekat sambil membawa teko minuman hangat.
“Gimana kemarin?”
“Seru nggak diantar sama manajer mu?”
Mireya langsung tertawa kecil.
“Seru sih, Bi…”
“Kak Rhea orangnya tegas banget, tapi baik.”
Bibi mengangguk cepat.
“Nah, itu bagus.”
“Orang tegas tuh biasanya sayang, cuma caranya aja keras.”
Mireya mengangguk.
Entah kenapa, obrolan santai itu membuat tubuhnya jauh lebih rileks.
Rasa canggung sejak bangun tadi perlahan memudar.
Sampai tanpa sadar tangannya hampir meraih sendok.
Namun Bibi cepat-cepat menahan.
“Eh eh, Neng.”
“Jangan makan duluan.”
Mireya berhenti.
Bibi tersenyum penuh arti.
“Tunanganmu belum datang.”
“Jangan lupa ya…”
Seketika pipi Mireya memerah.
“Ah…”
Ia menunduk malu.
Benar juga.
Ia bahkan sempat lupa kalau sekarang dirinya sudah sah menjadi istri seseorang.
Jantungnya kembali berdebar aneh.
Tak lama kemudian—
langkah kaki terdengar dari tangga.
Tap.
Tap.
Zevran turun dengan pakaian rumah yang rapi dan rambut yang masih sedikit lembap setelah mandi.
Tatapannya langsung tertuju pada meja makan.
“Pagi.”
Bibi tersenyum ramah.
“Mas sudah siap, sarapannya juga sudah lengkap.”
Lalu seperti biasa, Bibi menolak duduk bersama.
“Bibi makan di dapur aja ya.”
“Kalian makan dulu.”
Dan… pergi.
Meninggalkan hanya Mireya dan Zevran di meja besar itu.
Sunyi.
Mireya langsung menegang.
Sendok di tangannya terasa kaku.
Cara makannya mendadak jadi aneh.
Terlalu pelan.
Terlalu lurus.
Seperti robot yang baru belajar etika makan.
Berbeda sekali dengan pertemuan pertama mereka di restoran dulu.
Zevran menatapnya beberapa detik.
Lalu mendecak kecil.
“Tidak usah setegang itu.”
Mireya mengangkat kepala.
“Hah?”
Zevran mengambil minumannya.
“Makan saja seperti biasa.”
“Lupakan dulu kata tunangan atau suami istri.”
Kalimat itu membuat bahu Mireya sedikit turun.
“Iya…”
Ia mulai makan lebih normal.
Melihat itu, Zevran akhirnya mulai berbicara.
Nada suaranya langsung berubah seperti sedang rapat kerja.
“Untuk ibumu, perjalanan sudah disiapkan.”
Mireya langsung fokus.
“Pihak rumah sakit akan mengurus pemindahan.”
“Ambulans khusus sudah dipesan.”
“Nanti ada sopir yang mengantar dan pengawal.”
“Kamu tinggal ikut melihat prosesnya.”
Mireya mengangguk cepat.
Zevran lanjut tanpa jeda.
“Robert juga sudah mengurus barang pindahan.”
“Yang besar seperti lemari atau kulkas bisa disimpan dulu di gudang sini.”
“Nanti Bibi akan menunjukkan letaknya.”
“Perusahaan jasa pengangkutan akan mengambil barang hari ini.”
“Kamu tidak perlu kembali ke rumah lama.”
Mireya berkedip.
“Lho… kuncinya?”
Zevran menatapnya datar.
“Tidak perlu.”
“Teknologi duplikat kunci sudah disiapkan.”
“Kalau perlu, pintu bisa dibuka otomatis.”
Ah yang kemarin di katakan kak rhea dia melupakan nya secepat kilat karena tidak pernah melihat cara membobol dengan teknologi.
Mireya merenung.
Zevran melanjutkan perkataan nya lagi.
“Setelah itu kita ke pusat furnitur.”
“Lalu ke rumah sakit, atau bisa di sesuaikan ke rumah sakit dulu atau furniture.”
“Setelah selesai, kembali ke sini.”
Mireya yang mendengarnya mulai sedikit kosong.
Kepalanya seperti penuh jadwal.
Poin.
Poin.
Poin.
Poin.
Zevran benar-benar seperti orang kerja.
Mulutnya tidak berhenti.
Suara tenang tapi terus mengalir.
Dan anehnya—
itu justru membuat Mireya sedikit mengantuk.
Kelopak matanya mulai berat.
Kepalanya hampir turun.
Zevran langsung mengetuk meja pelan.
Tak.
“Kamu mengerti tidak?”
Mireya tersentak.
“Hah? Ah iya!”
Zevran menghela napas.
“Jangan tidur lagi.”
“Makan juga.”
Mireya buru-buru mengangguk.
“I-iya…”
Zevran memandangnya beberapa saat.
Lalu suaranya sedikit merendah.
“Aku bahkan sampai melanggar kebiasaan tidak bicara saat makan.”
Mireya berkedip.
“Hm?”
Zevran menoleh sedikit.
“Karena aku khawatir kamu kepikiran banyak hal.”
“Dan kamu malah hampir tidur.”
Nada suaranya datar.
Tapi entah kenapa—
Mireya merasa ada sedikit rasa khawatir di sana.
Yang tidak ia ketahui…
malam tadi, Rhea sempat mengirim pesan pada Zevran.
Tentang kejadian di restoran.
Tentang bagaimana Mireya dihina.
Disebut sugar baby.
Bahkan diucapkan tepat di depan wajahnya.
Itulah yang membuat Zevran, yang awalnya berencana kembali ke rumah atau apartemen miliknya yang lain—
memutuskan pulang ke sana lebih cepat.
Tempat yang di huni Mireya juga.
Dan pagi ini…
ia sengaja mengosongkan jadwal.
Untuk menemani Mireya seharian.
...****************...
POV Zevran — Malam Sebelumnya.
Lampu kota ibu kota memantul di kaca restoran privat itu.
Dari lantai tertinggi gedung, seluruh jalan udara terlihat seperti aliran cahaya yang bergerak tenang di malam hari.
Di dalam ruangan, suasana jauh berbeda.
Dingin.
Formal.
Suara gelas kaca beradu pelan, layar hologram terbuka, dan angka-angka proyek melayang di udara.
Zevran duduk tegak di kursi utama.
Jas hitamnya rapi.
Tatapannya tajam menelusuri rincian kerja sama yang dipresentasikan oleh pihak lain.
“Dengan dukungan keluarga Ardevar, keuntungan pihak kami diperkirakan naik empat puluh persen.”
Pria di seberang meja tersenyum penuh harap.
Zevran hanya menjawab singkat.
“Enam puluh untuk kami.”
Ruangan langsung hening.
Pria itu membeku.
“E-eh?”
Zevran menyandarkan tubuh sedikit.
“Nama kami yang menjual proyek ini.”
“Bukan kalian.”
Nada suaranya tenang.
Namun tidak memberi ruang untuk negosiasi.
Tepat saat pihak lain hendak menjawab—
ting.
Terminal pribadinya menyala.
Pesan masuk.
Dari Rhea.
Mata Zevran sedikit menyipit.
Nama itu tidak asing.
Justru terlalu familiar.
Rhea adalah salah satu nama besar di industri hiburan.
Manajer top yang pernah menangani banyak artis papan atas.
Dulu…
ia pernah hampir hancur.
Salah satu artis yang dibimbingnya memfitnahnya demi menaikkan citra diri.
Skandal itu nyaris merusak seluruh kariernya.
Saat semua orang menjauh—
Zevran yang membantu membersihkan nama Rhea.
Bukan karena iba.
Melainkan karena ia tahu mana data yang benar dan mana kebohongan. Dan meskipun dia terlihat pendiam, jika seseorang berguna yang datang kepadanya untuk meminta bantuan. Dia mungkin menerima hal itu.
Sejak saat itu, Rhea berutang satu bantuan besar.
Dan saat itu— utangnya sedang ia tagih.
Hanya pesan singkat.
Zevran:
Urus Mireya.
Jawaban Rhea saat itu sangat cepat.
Rhea:
Kalau dia buruk, aku tidak akan memanjakannya.
Zevran menjawab singkat.
Zevran:
Terserah.
Kamu yang urus.
Sesingkat itu.
Dan cukup.
Setelah seharian keduanya bertemu Zevran mau tak mau merasa penasaran dengan pertemuan keduanya.
Namun kini pesan baru dari Rhea muncul.
Ia membuka.
Rhea:
Istri kecilmu menyedihkan sekali.
Zevran terdiam.
Tatapannya langsung berubah.
Pesan berikutnya masuk.
Rhea:
Dia di hina teman lamanya.
Sampai disebut sugar baby.
Dia terlihat biasa saja, tapi aku rasa itu kena ke hatinya.
Sunyi.
Suara presentasi di depan Zevran mendadak terasa jauh.
Kata-kata terakhir itu terus terulang di kepalanya.
kena ke hatinya.
Tanpa sadar jemarinya mengetuk meja pelan.
Tak.
Tak.
Tak.
Pria di seberangnya masih bicara.
“…jadi bagaimana menurut Tuan Zevran?”
Zevran mengangkat kepala.
Tatapannya kembali dingin.
“Kontrak kirim besok.”
Ia berdiri.
Semua orang di ruangan langsung kaget.
“P-pertemuannya belum selesai…”
Zevran merapikan jasnya.
“Sisanya Robert yang lanjutkan.”
Ia menatap mereka sekilas.
“Keuntungan kalian tetap lebih besar dari biasanya.”
“Jangan rakus.”
Lalu pergi.
Begitu saja.
...----------------...
Perjalanan pulang terasa lebih cepat dari biasanya.
Mobil terbang hitam itu meluncur halus menuju penthouse tempat Mireya berada.
Zevran menatap lampu kota dari jendela.
Entah kenapa…
kepalanya terus memikirkan wajah Mireya.
Gadis itu memang sering terlihat kuat.
Terlalu sering tersenyum.
Tapi justru orang seperti itu yang paling mudah menyimpan luka.
Saat sampai di penthouse, suasana sudah sepi.
Lampu ruang tengah diredupkan.
Semua tenang.
Ia berdiri di depan pintu kamar Mireya.
Tangannya nyaris terangkat.
Lalu berhenti.
Apa yang sebenarnya ingin ia lakukan?
Mengetuk?
Bertanya apakah ia baik-baik saja?
Aneh.
Sangat aneh.
Akhirnya ia hanya mendekatkan telinga ke pintu.
Diam.
Mendengarkan.
Takut jika ada suara isakan.
Tangis.
Atau tanda bahwa gadis itu belum tidur karena memikirkan perkataan orang.
Namun…
tidak ada.
Sunyi.
Hanya keheningan malam.
Zevran menghela napas pelan.
Sedikit lega.
“Mungkin aku berlebihan…”
gumamnya sangat pelan.
Ia menatap pintu itu beberapa detik lagi.
Lalu berbalik menuju kamarnya sendiri.
Setidaknya malam itu—
kecemasannya tidak terbukti.
Dan entah kenapa…
hal itu membuat dadanya sedikit lebih tenang.