Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Racun dalam Cawan Emas
Ternyata, kemenangan atas Dian Mahendra hanyalah pembuka dari permainan yang jauh lebih gelap.
Di dunia ini, musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang berteriak di depan wajahmu, melainkan mereka yang bertepuk tangan di belakangmu.
Jakarta diguyur hujan lebat, jenis hujan yang membuat suara klakson kendaraan terdengar seperti rintihan.
Di lantai teratas Sarah Tower, Elena sedang merayakan kemenangannya atas akuisisi saham Mahendra.
Ruangan itu penuh dengan tawa para petinggi perusahaan dan aroma cerutu mahal.
Reza Mahendra berdiri di sudut, memutar gelas wiskinya dengan elegan.
Ia tampak seperti pemenang, meski keluarganya sendiri baru saja ia tumbangkan.
"Kau terlihat tegang, Elena. Bukankah ini yang kau inginkan?" tanya Reza sambil mendekat.
Elena menyesap anggur merahnya, matanya tidak lepas dari pintu masuk.
"Aku belajar dari pengalaman, Reza. Saat semuanya terlihat sempurna, biasanya ada satu sekrup yang sedang melonggar."
Pesta masih berlangsung ketika Paman Han mendekati Elena dengan wajah yang pucat pasi—sesuatu yang sangat jarang terjadi pada pria setenang dia.
Ia membisikkan sesuatu yang membuat gelas di tangan Elena hampir jatuh.
"Nona, brankas rahasia di lantai bawah... seseorang telah membukanya. Dan bukan dengan paksa."
Jantung Elena berdegup kencang.
Brankas itu berisi satu-satunya bukti digital asli tentang keterlibatan banyak pejabat tinggi dalam organisasi The Obsidian yang ia simpan sebagai asuransi nyawanya.
Hanya ada dua orang yang punya akses biometrik ke sana: Elena sendiri dan... Paman Han.
Elena menatap Paman Han dengan tatapan tajam, mencoba mencari jejak pengkhianatan di mata pria yang sudah seperti ayahnya sendiri itu.
Namun, Paman Han justru menunjukkan ponselnya.
"Biometrik yang digunakan adalah milik Anda, Nona. Tepat sepuluh menit yang lalu."
Elena meraba lehernya. Kalung dengan chip sensor mini miliknya masih ada.
"Itu tidak mungkin. Aku berada di sini sepanjang malam!"
Elena segera meninggalkan pesta, diikuti oleh Reza dan Paman Han. Mereka menuju ruang kontrol keamanan.
Di layar monitor, terlihat sosok wanita yang mengenakan gaun yang persis dengan yang dipakai Elena, dengan potongan rambut dan postur yang identik, melangkah keluar dari ruang brankas dengan sebuah koper hitam.
Wanita itu berhenti sejenak, menatap kamera CCTV, dan perlahan melepas kacamata hitamnya.
Elena menutup mulutnya dengan tangan.
Wanita di layar itu memiliki wajah yang sama persis dengan wajah Elena yang sekarang.
Bukan wajah Alana yang dulu, tapi wajah Elena hasil operasi di Swiss.
"Dia... dia menduplikat wajahku?" gumam Elena.
"Bukan cuma wajahmu," Reza menyela sambil menatap layar dengan serius.
"Dia tahu protokolmu, cara jalanmu, bahkan kode enkripsimu. Elena, ada seseorang yang menjual datamu dari rumah sakit di Swiss dua tahun lalu."
Elena tidak punya waktu untuk panik.
Jika data itu jatuh ke tangan sisa-sisa anggota dewan The Obsidian, maka semua usahanya akan hancur.
Ia melacak sinyal pelacak yang ia tanam secara rahasia di dalam koper itu—sebuah rahasia yang bahkan Paman Han pun tidak tahu.
Sinyal itu mengarah ke sebuah teater tua yang sudah tutup di pinggiran kota.
Dengan napas memburu, Elena tiba di sana.
Ia masuk sendirian, menolak bantuan Reza karena ia merasa ini adalah urusan yang sangat pribadi.
Di tengah panggung teater yang hanya diterangi satu lampu sorot, wanita itu duduk. Kembaran identiknya.
"Kau siapa?" tanya Elena, suaranya bergema di aula yang kosong.
Wanita itu berdiri, berbalik, dan tersenyum—senyum yang benar-benar mirip dengan senyum Elena saat sedang merencanakan balas dendam.
"Aku adalah versi dirimu yang tidak punya hati nurani, Alana," jawab wanita itu. Suaranya sedikit lebih mekanis.
"Panggil saja aku Eve. Aku diciptakan oleh mereka yang kau pikir sudah kau hancurkan.
Kau pikir operasi plastikmu itu cuma hadiah? Kau adalah prototype, sayang. Dan aku adalah produk finalnya."
Eve mengeluarkan sebuah alat pemicu.
"Data di koper ini sudah terunggah ke satelit mereka. Dalam satu jam, seluruh kerajaanmu akan diblokir, dan asetmu akan dialihkan kembali ke pemilik aslinya."
Elena menerjang Eve. Terjadilah perkelahian yang brutal di atas panggung.
Rasanya seperti melawan bayangan sendiri; Eve tahu setiap gerakan beladiri yang Elena kuasai.
Mereka berguling, saling pukul, dan saling kunci.
"Kau cuma boneka!" teriak Elena sambil menghantamkan sikunya ke rahang Eve.
"Dan kau cuma pion yang merasa jadi ratu!" balas Eve, menendang perut Elena hingga ia terpental ke barisan kursi penonton.
Saat Eve bersiap untuk memberikan pukulan terakhir, sebuah tembakan terdengar.
Peluru itu menyerempet bahu Eve.
Reza muncul di pintu masuk dengan pistol di tangan.
"Maaf, aku tidak suka melihat wanita cantik berkelahi, apalagi jika wajahnya ada dua."
Eve menyadari posisinya terdesak.
Ia melempar sebuah bom asap dan menghilang ke balik tirai panggung.
Elena mencoba mengejar, namun ia sudah kehilangan jejak.
Koper itu tertinggal, namun isinya sudah kosong.
Kembali di Sarah Tower, Elena duduk di kursinya dengan bahu yang memar.
Paman Han berlutut di depannya, merasa gagal karena tidak bisa menjaga brankas tersebut.
"Jangan salahkan dirimu, Paman.
Mereka sudah merencanakan ini sejak aku di Swiss," ucap Elena lemas.
Reza berdiri di depan jendela, menatap hujan.
"Ini lebih besar dari yang kita duga, Elena. Eve adalah bukti bahwa musuhmu bukan lagi orang-orang seperti Adrian atau Haryo.Musuhmu sekarang adalah organisasi yang punya teknologi untuk menduplikat manusia."
Elena menatap telapak tangannya yang gemetar.
Ia menyadari bahwa identitas rahasianya bukan lagi pelindung, melainkan kutukan.
Wajah cantik yang ia banggakan ternyata adalah milik orang lain juga.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Paman Han.
Elena berdiri, matanya kembali menyala dengan api yang lebih gelap dari sebelumnya.
"Jika mereka menciptakan 'Eve' untuk menghancurkanku, maka aku akan menghancurkan penciptanya.
Aku tidak peduli seberapa besar organisasi itu.
Mereka memberiku wajah ini, dan aku akan menggunakannya untuk menjadi mimpi buruk terakhir mereka."
Ia menatap Reza. "Kau masih mau ikut, atau kau mau lari selagi bisa?"
Reza tersenyum, jenis senyum yang penuh risiko.
"Aku selalu suka tantangan yang mustahil, Elena. Mari kita lihat seberapa jauh lubang kelinci ini membawa kita."
Elena menatap layar monitornya yang mulai menampilkan peringatan sistem.
Perang baru telah dimulai.
Bukan lagi soal harta atau dendam pribadi, tapi soal mempertahankan hak atas dirinya sendiri.
Sang Ratu mungkin terluka, tapi ia belum jatuh.
Dan kali ini, ia tidak akan bermain dengan aturan siapa pun.
Bersambung...
Ayo buruan baca...