Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Dewa Penolong
Ciiiiit!
Sebuah mobil mewah berdecit tajam, lalu berhenti tepat di depan tubuh Raznalira yang terkapar tak sadarkan diri.
Setelah diusir dari rumahnya sendiri, Razna berjalan tanpa arah. Air matanya terus mengalir, langkahnya semakin gontai hingga tubuhnya tak sanggup lagi menahan lelah. Dia pun jatuh pingsan di tengah jalan yang cukup lengang.
"Ada apa?" tanya seorang lelaki yang berusia tiga puluh lima tahun, Rendra Mahardika.
"Ada perempuan di depan. Sepertinya dia pingsan, Tuan," jelas Tono, matanya waspada sambil memperhatikan sekitar. Dia khawatir perempuan itu hanyalah umpan perampokan yang sering terjadi belakangan ini.
Tono melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan jam dua belas malam. Waktu yang biasa dimanfaatkan perampok untuk mencari mangsa di jalan yang sepi.
Rendra membuka kaca mobilnya secara perlahan, menatap ke arah sosok perempuan yang tergeletak di depan mobilnya. Keningnya berkerut, ada sesuatu yang terasa tidak asing hanya dari pakaian yang dikenakan perempuan itu.
"Sebaiknya kita turun! Kita lihat siapa sebenarnya perempuan itu!" ujarnya tegas, langsung membuka pintu mobil.
"Tapi Tuan, aku khawatir..." sargah Tono masih ragu.
"Turun, Tono. Sekarang!" titah Rendra tak terbantahkan. Entah mengapa Rendra merasa khawatir terhadap perempuan itu.
Dengan ragu, Tono ikut keluar dari mobilnya, mengikuti langkah Rendra. Dia tetap waspada sambil memperhatikan sekeliling. Mereka melangkah mendekat dengan hati-hati. Begitu wajah perempuan itu terlihat jelas, napas Rendra seketika tertahan bercampur kaget. Ternyata dugaannya tidak salah, ia mengenali perempuan itu.
"Tidak salah lagi, ini..." gumamnya pelan.
Wajah pucat perempuan itu, meski sembab dan basah oleh air mata, Rendra masih mengenalinya.
"Razna...kenapa jadi seperti ini?" bisiknya pelan.
Bayangan tadi sore langsung terlintas dalam benaknya. Di pemakaman yang sunyi, diantara deretan nisan, hanya ada dia dan dirinya.
Satu-satunya orang yang ia temui di pemakaman itu, tanpa ia duga mampu menyentuh hatinya lewat kalimat sederhana namun sarat akan makna. ucapan Razna sore itu membuat Rendra terdiam, bahkan untuk pertama kalinya sejak kepergian istrinya, dia merasa bersalah dan ingin memperbaiki dirinya.
Wajah Razna menyimpan kesedihan yang begitu dalam. Matanya sembab, namun ia terlihat tegar.
Saat itu, Rendra memberanikan diri menghampiri Razna karena gumaman perempuan itu yang seolah ditujukan padanya.
Mereka berbincang singkat lalu saling berkenalan. Saat itu mereka sama-sama telah kehilangan orang yang dicintai. Razna kehilangan anak, dan Rendra kehilangan istri.
"Tuan kenal dengan perempuan ini?" tanya Tono heran.
Rendra mengangguk kecil, lalu berjongkok untuk memeriksa denyut nadi Razna dengan hati-hati.
"Alhamdulillah. Dia cuma pingsan," katanya lega, meski nada suaranya tetap serius.
Tanpa banyak berpikir lagi, Rendra melepas jasnya untuk menyelimuti tubuh Razna.
"Kita bawa dia ke rumah."
Tono terkejut. "Ke rumah, Tuan? Apa tidak sebaiknya ke rumah sakit saja?"
Rendra menggeleng pelan. "Tidak. Kita lihat dulu kondisinya. Kalau perlu, nanti kita panggil dokter Indra saja untuk memastikan kondisinya. Lagi pula jarak ke rumah sakit itu lumayan jauh."
"Tapi Tuan..."
"Ga usah membantah. Ini tempat sepi. Dia tidak aman kalau ditinggal di sini. Ayo bantu aku mengangkatnya!"
Tono sempat ragu, tapi akhirnya mengangguk. Mereka mengangkat tubuh Razna dengan hati-hati ke kursi belakang mobil.
Sepanjang perjalanan menuju kediamannya, Rendra sesekali menoleh ke belakang. Tatapannya tak lepas dari wajah pucat itu. Banyak pertanyaan yang berseliweran di benaknya, mengapa perempuan yang baru dikenalnya tadi sore tiba-tiba ditemukan di tengah jalan yang sepi?
"Pasti telah terjadi sesuatu," pikirnya dalam hati.
Tono melirik majikannya yang tengah terpekur.
"Maaf Tuan, kalau perempuan ini dibawa ke rumah, apa tidak akan jadi masalah? Di rumah kan ada nona Dirana. Khawatir nona akan salah paham. Apalagi nyonya belum lama ini meninggal,"
Tono mengingatkan Rendra agar mempertimbangkan kembali keputusannya untuk membawa pulang perempuan itu. Sejak Sang nyonya meninggal, adik ipar Tuannya itu berinisiatif tinggal di rumah tersebut demi memastikan kedua keponakannya dalam keadaan baik-baik saja.
"Biarkan saja. Dirana kan hanya sementara tinggal di rumah. Kalau sudah ada pengasuh, Dirana pasti akan kembali pulang ke rumahnya." jelas Rendra yakin.
"Ooh, baik Tuan. Aku harap juga seperti itu. Semoga secepatnya Moana dan Finza mendapatkan pengasuh yang benar-benar menyayangi anak-anak Tuan dengan tulus,"
Rendra tersenyum tipis. Dia berharap, perempuan yang ditolongnya bersedia membantunya untuk memecahkan masalah dalam keluarganya. Terutama untuk bayinya yang sangat membutuhkan ASI dari seorang ibu yang penyayang.
Mobil pun melaju dengan cepat menuju rumah besar milik Rendra. Beberapa saat kemudian, mobil itu memasuki halaman rumah mewah dengan gerbang tinggi yang terbuka secara otomatis. Para pelayan yang berjaga langsung sigap ketika melihat tuannya turun dengan seorang perempuan yang sedang pingsan.
"Siapkan kamar tamu. Cepat!" perintah Rendra pada beberapa pelayan.
Razna dibawa masuk ke kamar tamu dengan hati-hati, dibaringkan di ranjang empuk yang hangat. Seorang dokter keluarga segera dipanggil untuk memeriksa kondisi tubuh Razna.
"Bagaimana dok, keadaannya?" tanya Rendra cepat setelah dokter Indra memeriksa Razna dengan teliti.
"Dia hanya kelelahan. Saya melihat di perutnya ada bekas jahitan yang belum kering. Ini harus segera dibersihkan. Pasca operasi kondisinya harus benar-benar dijaga dan diperhatikan, dari pola makan dan aktifitasnya tidak boleh berlebihan,"
"Baik dok. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini,"
"Iya sama-sama. Ini saya beri resep obat untuk melancarkan ASI dan obat untuk mengeringkan luka, semoga nyonya lekas sembuh," ujar dokter Indra yang mengira bahwa pasien yang diperiksa adalah nyonya Rendra.
Rendra tertegun. Dokter Indra pasti lupa pada wajah istrinya dan tidak mengetahui bahwa sang istri telah meninggal setelah melahirkan.
Rendra mengantar dokter Indra hingga ke teras, lalu kembali masuk ke kamar tamu. Rendra berdiri di samping tempat tidur, menatap wajah Razna yang kini tampak lebih tenang.
"Sore tadi, kau terlihat begitu kuat," gumamnya lirih. "Tapi sepertinya kau sedang dalam masalah. Kau terlihat rapuh saat ini,"
Tangannya hampir saja menyentuh wajah Razna, namun ia mengurungkannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan perasaannya sendiri.
"Ada apa dengan perasaan ini?" batinnya mulai resah.
bnar kata renndra.. patuhin aja razz
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...