Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab14
lanjutttt🤗
Alya menatap keluar jendela kamar, hujan sore baru saja reda. Pikiran-pikirannya masih bercampur. Sejak Arka datang ke perpustakaan beberapa hari lalu, rasanya dunia Alya tidak lagi sama. Ia sadar satu hal: perasaan itu muncul, meski ia menolak menerima keadaan.
Namun, ada sesuatu yang lebih besar daripada hatinya sendiri: orang tua.
Ibu Alya, Ratna, sudah beberapa kali menyinggung hal yang sama. “Kamu harus mulai siap, Alya. Jangan menolak hubungan ini terlalu lama,” kata ibunya beberapa malam lalu.
Alya menelan ludah. Ia masih merasa bahwa perjodohan ini terlalu cepat, terlalu dipaksakan, tapi ia tahu orang tua tidak akan mundur begitu saja. Perjodohan ini bukan sekadar rencana pribadi Arka atau Alya, tapi juga kehendak keluarga yang harus dihormati.
Hari itu, Alya menerima kabar dari ibunya: Arka akan membawa orang tuanya untuk bertemu Alya secara resmi. Jantungnya berdebar. Ia tahu pertemuan ini bukan hanya formalitas, tapi juga ujian bagi hatinya dan bagi rasa terpaksa yang ia rasakan setiap kali berada dekat dengan Arka.
Sesampainya di rumah, Alya sudah menyiapkan diri. Pakaian rapi tapi sederhana, wajahnya tetap tenang walau jantung berdegup kencang. Ibunya tersenyum hangat, sementara ayahnya memerhatikan dengan serius, sedikit mengangguk seakan memberi kode: “Kamu harus kuat.”
Beberapa menit kemudian, Arka datang dengan kedua orang tuanya. Alya menatapnya, dan ia tidak bisa menahan campuran rasa: takut, malu, dan… sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.
Ibu Arka tersenyum ramah. “Alya, senang akhirnya bisa bertemu langsung. Arka sering bercerita tentangmu.”
Alya menunduk sopan. “Senang bertemu, Bu.”
Bapak Arka menatap Alya lama, matanya tajam tapi tidak menakutkan. “Jadi ini Alya yang akan menjadi bagian dari keluarga kita?”
Alya menelan ludah. Ia tahu, ini momen yang menegangkan. “Iya, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin.”
Arka berdiri di samping Alya, wajahnya tegas seperti biasa. Ia tidak banyak bicara, tapi keberadaannya cukup menenangkan. Hanya tatapannya yang membuat Alya sadar: meski ia menolak hubungan ini, ada perhatian halus yang ia rasakan.
Percakapan berlangsung santai tapi ada ketegangan yang tidak bisa dihindari. Orang tua Arka banyak menanyakan tentang Alya: latar belakang keluarga, kebiasaan sehari-hari, dan bagaimana ia mengatur studinya. Alya menjawab dengan sopan, sesekali tersenyum, meski hatinya tetap berdebar.
Setelah beberapa saat, Arka menarik Alya ke sisi lain ruangan. “Tenang saja, Alya. Aku di sini,” bisiknya pelan.
Alya menatapnya, sulit mengendalikan jantungnya. “Aku… aku hanya takut, Pak. Takut tidak bisa diterima, takut gagal.”
Arka mengangguk perlahan. “Aku mengerti. Aku juga merasa terpaksa kadang, tapi ini bukan hanya soal kita. Kita harus bisa saling menahan diri, tapi juga mencoba mengerti satu sama lain.”
Alya menunduk, merasakan ketegangan itu. Tapi ada kenyamanan yang tidak ia duga—bahwa Arka, meski tegas dan dingin, tetap peduli dengan rasa takutnya.
Ibu Arka datang menghampiri mereka. “Anak-anak, jangan terlalu kaku. Lihatlah, kalian berdua masih bisa berbicara dan tersenyum. Itu penting.”
Alya tersenyum malu, menunduk sebentar. Arka hanya menatapnya pelan, tanpa kata-kata, tapi ada pemahaman yang terpancar.
Beberapa jam berlalu, percakapan mulai lebih ringan. Mereka membahas makanan favorit, hobi, dan sedikit tentang masa kecil Arka. Alya mulai melihat sisi lain dari Arka bukan hanya dosen yang tegas dan dingin, tapi juga anak yang patuh pada orang tua, penuh tanggung jawab, dan diam-diam hangat.
Saat pertemuan hampir berakhir, Bapak Arka menatap Alya serius. “Alya, aku berharap kamu bisa menerima kenyataan ini. Arka bukan tipe pria yang bisa diminta mundur. Jika kamu bersedia, kami harap hubungan ini bisa berkembang dengan baik.”
Alya menelan ludah. Ia tahu ini bukan permintaan, tapi kenyataan yang harus ia hadapi. “Saya… akan mencoba, Pak. Saya janji akan berusaha sebaik mungkin.”
Arka menatap Alya, mata mereka bertemu. Ada perasaan yang belum terucap, tapi tersampaikan jelas. Alya tahu, meski hatinya masih menolak dalam beberapa hal, ada sesuatu yang mulai tumbuh rasa hormat, perhatian, dan… ketertarikan diam-diam.
Di perjalanan pulang, Alya menatap hujan tipis yang jatuh di jalan. Ia menarik napas dalam-dalam. “Ini… berat, tapi… aku harus belajar menerima,” bisiknya sendiri.
Arka duduk di sampingnya, tidak banyak bicara. Tapi satu kata-kata sederhana keluar dari mulutnya: “Aku di sini.”
Kata itu cukup. Alya menatapnya sekilas, hatinya campur aduk. Ia tahu, hubungan ini masih dipenuhi terpaksa dan ketidakpastian. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa… ada kemungkinan untuk perlahan menerima.
Dan bagi Arka, malam itu juga, ada kesadaran yang sama: hubungan ini tidak mudah. Tapi rasa hormat dan perhatian pada Alya membuatnya ingin menjaga, bukan memaksakan.
Pertemuan hari itu bukan hanya soal orang tua, bukan sekadar formalitas. Ini tentang pemahaman, kesabaran, dan langkah pertama untuk membuka hati mereka sendiri meski semuanya dimulai dari sebuah perjodohan.
Alya tahu satu hal: perjalanan ini panjang, penuh rintangan, dan tidak mudah. Tapi kini, ia siap untuk melangkah, satu langkah kecil demi satu langkah kecil, menuju sesuatu yang mungkin tidak direncanakan, tapi bisa menjadi nyata.
Dan Arka, dengan caranya yang tegas tapi diam-diam peduli, siap menunggu. Menunggu Alya menerima, menunggu waktu yang tepat, dan menjaga rasa yang perlahan tumbuh di antara mereka.
maaf lancang🙏🙏🙏