NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Jangan lupa Follow Instagram Author

@arvn_63

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Serangga Pelacak dan Pesta di Bawah Pohon Kaca

​Malam kedua di Hutan Cermin Hitam terasa lebih pekat dari sebelumnya. Kabut kelabu tidak lagi sekadar melayang di atas tanah, melainkan mulai merayap naik, memeluk batang-batang pohon obsidian seolah ingin menelan dunia dalam kebisuan abadi.

​Di tengah sebuah tanah lapang yang dipenuhi akar-akar mati, sebuah api unggun kecil menyala redup.

​Bagi siapa pun yang mengerti hukum bertahan hidup di alam liar, menyalakan api di hutan yang dipenuhi Binatang Buas Mutasi adalah tindakan bunuh diri. Api tidak mengusir monster di sini; ia justru menjadi mercusuar yang meneriakkan posisi mangsa.

​Namun, Shen Yuan duduk dengan tenang di dekat perapian itu. Jubah sutranya sedikit kotor oleh abu, dan tangan kanannya yang dibalut perban ia istirahatkan di atas lutut. Ia sedang memanggang sepotong daging kaki Kera Mata Enam yang ia simpan sebelumnya, memutar kayunya dengan ritme yang lambat dan tanpa beban.

​Logikanya sangat jernih. Ia tidak menyalakan api untuk menghangatkan tubuh. Tulang Emas Pucatnya sudah kebal terhadap hawa dingin hutan ini. Ia menyalakan api sebagai kartu undangan.

​Bzzzt... Bzzzt...

​Suara kepakan sayap yang sangat halus, lebih pelan dari kepakan nyamuk, tertangkap oleh telinga Shen Yuan. Ia tidak menoleh. Matanya tetap fokus pada lemak daging yang menetes ke dalam api, mendesis menghasilkan asap wangi.

​Dari balik kegelapan hutan, seekor serangga berwarna merah seukuran kuku ibu jari melayang perlahan menembus kabut. Serangga itu terbang berputar-putar di atas kepala Shen Yuan, sebelum akhirnya melesat kembali ke arah pepohonan gelap.

​Serangga Pelacak Darah, batin Shen Yuan, sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman setipis benang. Tiga anjing pelacak Lapisan Keenam yang kubunuh kemarin pasti sudah ditanami aroma khusus sebelum mereka berangkat. Keluarga Lin memang selalu rapi dalam urusan membunuh orang.

​Hanya selang sepuluh tarikan napas setelah serangga itu pergi, suhu di sekitar tanah lapang itu tiba-tiba anjlok. Bunyi ranting patah terdengar dari tiga arah yang berbeda, sengaja tidak disembunyikan.

​Dari balik tirai kabut, empat sosok melangkah keluar secara bersamaan, mengepung posisi duduk Shen Yuan.

​Tiga di antaranya adalah pria bertubuh kekar dengan jubah pelindung tingkat menengah, memancarkan fluktuasi Qi di awal Lapisan Ketujuh. Dan di tengah mereka, berjalan dengan dagu terangkat dan kipas lipat di tangan kirinya, adalah Lin Feng.

​Sang jenius emas itu menatap Shen Yuan layaknya melihat seekor kecoak yang akhirnya terjebak di sudut ruangan.

​"Aku harus mengakui," suara Lin Feng memecah keheningan, nadanya mengalun merdu namun penuh dengan bisa yang mematikan. "Kau lebih licin dari yang kukira, Pelayan. Tiga elit Lapisan Keenam yang kukirim kemarin menghilang tanpa jejak. Entah ilusi apa yang kau gunakan untuk menjebak mereka, tapi keberuntunganmu sudah habis malam ini."

​Shen Yuan memutar daging panggangnya sekali lagi. Ia bahkan tidak mengangkat kepalanya untuk menatap Lin Feng.

​"Malam ini cukup dingin, Tuan Muda Lin," ucap Shen Yuan datar. "Apakah Pil Penyambung Sumsum yang keluarga Anda beli dengan harga selangit itu tidak memberikan efek samping? Kudengar jika udaranya terlalu lembap, tulang yang baru disambung akan terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Mengingat fondasi Qi Anda bergetar setiap kali Anda melangkah... saya rasa tabib Anda telah menipu Anda."

​Ctak!

​Kipas di tangan Lin Feng tertutup dengan kasar. Kata-kata Shen Yuan menohok tepat di titik paling sensitifnya. Lengannya memang berdenyut nyeri sedari tadi, sebuah rahasia yang ia tutupi mati-matian di depan para pengawalnya demi menjaga gengsi. Pelayan rendahan ini bukan hanya menolak untuk takut, tapi berani menguliti harga dirinya di depan umum!

​"Lidahmu selalu lebih tajam dari pedangmu," desis Lin Feng, matanya memancarkan niat membunuh yang tak lagi bisa ditahan. "Kita lihat apakah kau masih bisa merangkai kata-kata puitis saat lidahmu kupotong dan kuberikan pada anjing hutan."

​Lin Feng tidak berniat mengotori tangannya sendiri. Ia melangkah mundur setengah langkah, memberikan isyarat dengan dagunya. "Patahkan kedua kakinya. Hancurkan juga lengan kirinya. Sisakan nyawanya untukku."

​Tiga pengawal Lapisan Ketujuh itu menyeringai serentak. Bagi mereka, ini adalah pekerjaan termudah yang pernah mereka terima dengan bayaran tertinggi. Membantai seorang pelayan Lapisan Keempat yang lengan kanannya sudah cacat diperban? Ini bahkan tidak pantas disebut pertarungan.

​Dua pengawal langsung melesat maju, meninggalkan satu orang untuk menjaga Lin Feng.

​Pengawal pertama di sebelah kiri mengayunkan sebuah tombak besi berat, mengarah lurus untuk menyapu lutut Shen Yuan. Pengawal kedua di sebelah kanan melompat ke udara, mengayunkan sebilah golok raksasa yang diarahkan tepat ke bahu kiri Shen Yuan.

​Serangan ganda dari dua praktisi Lapisan Ketujuh. Di mata Lin Feng, detik berikutnya adalah pemandangan di mana darah pelayan itu akan menyiram api unggun.

​Namun, waktu seolah membeku bagi Shen Yuan. Di matanya, gerakan dua pengawal itu terasa sangat lambat dan penuh dengan celah kotor.

​Tepat ketika ujung tombak berjarak sejengkal dari lututnya, Shen Yuan melepaskan daging panggangnya. Ia tidak menghindar. Ia tidak menggunakan Langkah Penghancur Bayangan.

​BAM!

​Shen Yuan menendangkan kaki kirinya ke arah tombak yang melaju. Bukannya kakinya yang terpotong, justru gagang tombak besi seberat tiga puluh kati itu yang melengkung parah dan terpental balik ke arah pemiliknya akibat membentur tulang kaki Shen Yuan yang sekeras berlian.

​Mata pengawal bertombak itu terbelalak ngeri. Tangannya mati rasa akibat getaran balik yang mengerikan. "Tulang apa ini?!" jeritnya tertahan.

​Belum sempat pengawal pertama mencerna kenyataan, pengawal kedua dengan golok raksasanya telah tiba di udara, menebas turun menuju bahu Shen Yuan.

​Tanpa menoleh, Shen Yuan mengangkat tangan kirinya ke atas, telapak tangannya terbuka menyongsong bilah golok yang setajam silet itu.

​"Mati kau, Sombong!" raung pengawal bergolok.

​TRRAAAANGGG!

​Bunyi logam menghantam benteng baja merobek keheningan hutan. Bukan daging yang terbelah, melainkan percikan bunga api yang meledak terang. Golok raksasa itu berhenti seketika di telapak tangan Shen Yuan. Bilahnya bahkan tidak mampu menggores sehelai pun kulit emas pucatnya.

​Rahang Lin Feng yang berdiri di belakang jatuh hingga nyaris menyentuh tanah. Nafasnya terhenti. Mustahil! Itu serangan Lapisan Ketujuh!

​"Kalian terlalu bergantung pada senjata," suara Shen Yuan terdengar sangat tenang, sedingin es yang merayap di tengkuk. "Sehingga kalian lupa bagaimana cara membunuh dengan tangan kalian sendiri."

​Kelima jari tangan kiri Shen Yuan mendadak mencengkeram bilah golok itu dengan erat. Dengan satu tarikan kasar yang tidak masuk akal, ia menarik pengawal yang masih melayang di udara itu jatuh menukik ke arahnya.

​BUMMM!

​Shen Yuan menyarangkan lutut kanannya tepat ke wajah pengawal bergolok yang tertarik turun. Suara tulang tengkorak yang hancur berkeping-keping terdengar renyah seperti menginjak cangkang telur. Tubuh pengawal itu terpelanting ke tanah, kejang-kejang sedetik, lalu diam selamanya.

​Pengawal bertombak yang baru saja memulihkan rasa kebas di tangannya, mundur dengan panik. Matanya memancarkan teror murni. "Monster... Dia bukan Lapisan Keempat! Dia Lapisan Ketujuh Pemadatan Cair!"

​"Terlambat," bisik Shen Yuan.

​Langkah Penghancur Bayangan.

​Satu langkah, dan Shen Yuan telah menembus jarak sepuluh tombak, muncul tepat di hadapan pengawal bertombak itu. Tidak ada ruang untuk berteriak. Shen Yuan memusatkan aliran Qi cair ke telapak tangan kirinya, membentuk pisau angin yang tak terlihat, dan menusukkannya lurus menembus dada sang pengawal, langsung menghancurkan jantungnya.

​Dua elit Lapisan Ketujuh. Tewas dalam waktu kurang dari lima tarikan napas.

​Shen Yuan menarik tangannya dari dada pengawal kedua, membiarkan mayat itu jatuh berdebum ke atas lumut basah. Darah segar menetes dari ujung jarinya, namun tidak ada setetes pun yang mengenai jubah sutra putihnya. Ia bergerak dengan keanggunan seorang maestro di atas panggung orkestra kematian.

​Hening kembali merengkuh tanah lapang itu. Hanya suara api unggun yang berderak pelan.

​Shen Yuan menoleh perlahan ke arah Lin Feng dan satu pengawal tersisa yang kini berdiri mematung. Wajah tampan Lin Feng kini sepucat mayat. Kakinya bergetar di luar kendalinya. Realita baru saja menampar arogansinya dengan sangat brutal.

​"Kau..." Bibir Lin Feng bergetar hebat. Ia melangkah mundur, mendorong pengawal terakhirnya maju sebagai tameng. "Tahan dia! Tahan dia! Aku akan memberimu seribu batu roh!"

​Pengawal terakhir itu menelan ludah, pedangnya bergetar hebat. Tidak ada jumlah batu roh di dunia ini yang sepadan dengan melawan iblis yang bisa menangkis golok raksasa dengan telapak tangan kosong.

​Namun, sebelum pengawal itu sempat memutuskan untuk lari atau bertarung, Shen Yuan mengangkat tangan kanannya. Lengan yang selama ini diperban tebal.

​Dengan gerakan perlahan, Shen Yuan menggigit ujung perban itu, dan menariknya hingga terlepas sepenuhnya. Kain putih kotor itu jatuh ke tanah, memperlihatkan lengan yang dipenuhi otot sempurna dan kilau emas pucat di balik kulitnya. Jaring luka palsu di pergelangan tangannya memantulkan cahaya api unggun.

​Benih Hitam di perutnya akhirnya diizinkan melepaskan rantainya.

​BZZZZTTT!

​Tekanan spiritual Lapisan Ketujuh yang jauh lebih pekat, lebih biadab, dan lebih berat dari siapa pun di hutan itu meledak dari tubuh Shen Yuan. Kabut di sekitar mereka terhempas sejauh dua puluh tombak. Api unggun seketika padam, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh kilatan mata obsidian Shen Yuan.

​"Kenapa kau mundur, Tuan Muda Lin?" tanya Shen Yuan, melangkah maju satu demi satu. Setiap pijakannya membuat tanah bergetar. "Bukankah kau datang untuk memotong anggota tubuhku? Aku sudah melepaskan perbanku. Datang dan ambillah."

​Pengawal terakhir yang berdiri di antara mereka menjerit histeris. Ia tidak tahan lagi dengan tekanan membunuh itu. Ia berbalik dan mencoba berlari menembus hutan.

​Shen Yuan tidak mengejarnya. Ia hanya merentangkan telapak tangan kirinya ke arah punggung pengawal yang melarikan diri itu.

​Kitab Penelan Surga: Tarik.

​Pusaran hisap absolut meledak. Pengawal yang baru berlari tiga langkah itu tiba-tiba berhenti di udara, seolah ditarik oleh tali tambang raksasa yang tak kasat mata. Tubuhnya terseret mundur dengan kecepatan gila, langsung terbang menuju telapak tangan Shen Yuan.

​Tangan Shen Yuan mencengkeram leher pengawal itu tanpa melihat.

​"Jangan lari sebelum perjamuan selesai," bisik Shen Yuan.

​KRAAAAK!

​Ia mematahkan leher pengawal itu dengan satu putaran kasual, lalu membuang mayatnya tepat di kaki Lin Feng.

​Kini, tidak ada lagi pelindung. Tidak ada lagi pengawal. Di tengah Hutan Cermin Hitam yang gelap gulita, di atas karpet daun mati dan darah segar, Bintang Emas keluarga Lin berdiri sendirian berhadapan dengan mimpi terburuknya.

​Lin Feng jatuh terduduk, pedang mewahnya terlepas dari genggamannya yang gemetar. Air mata keputusasaan yang tidak pernah ia kenal seumur hidupnya kini mengalir membasahi pipinya. Ilusi tentang dirinya yang tak terkalahkan telah dihancurkan menjadi debu.

​Shen Yuan berdiri menjulang di hadapannya. Ia menundukkan kepalanya, menatap Lin Feng yang sedang gemetar hebat di tanah, persis seperti tatapan yang ia berikan pada serangga yang mencoba merayap di atas meja makannya.

​"Sekarang," ucap Shen Yuan lembut, suaranya mengalir layaknya angin kematian di Hutan Cermin. "Mari kita bicarakan tentang siapa sebenarnya yang akan dimakan oleh Iblis Ilusi malam ini."

1
Wiharso Saja
ceritanya bagus dan runut.... yg penting lg jgn sampai hiatus
Optimus prime
ga usah pakai kata mandor ...daiken...lebih enak nya pakai kata suhu...wakil sekte...senior...kn jdi enak baca nya thor
@arv_65: terlanjur udah nulis babnya banyak🙏
total 1 replies
Joshua Zirje
Author jangan sampai hilang lagi😁
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue: oke bang, semangat💪
total 3 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!