NovelToon NovelToon
TERJERAT

TERJERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Mafia
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.

Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?

Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 14: SENJA YANG PENUH DENDAM

"Ada apa Ngit?" tanya Intan heran melihat bocah itu tiba-tiba berseru kaget seperti orang kesetrum.

Langit berjalan beberapa langkah mendekati dua bocah berusia 5 tahun itu. Ia mencium pipi mereka bergantian dengan gemas, lalu berkata dengan ekspresi penuh drama dan penghayatan.

"Pertama julukan padaku 'Ngit' itu dari Teh Intan, sekarang secara terang-terangan Teh Intan memberikan panggilan 'Om' pada kedua bocah cantik ini. Sakit hatiii... Langit sakit hati banget!" ucapnya sambil memegang dadanya seakan patah hati besar.

Mata Intan dan Nenek Wati langsung melotot, mulut mereka menganga lebar. Kalau saja ada lalat terbang, pasti sudah masuk ke dalam tenggorokan tanpa sadar.

"YA AMPUN... KEMBALI LAGI KE MODE BOCAH SABLENG!" seru mereka berdua serentak sambil memukul pelan jidat masing-masing.

"Hehehehe...!"

"Hehehehe...!"

Langit terkekeh jahil, diiringi tawa renyah kedua bocah kembar itu. Ia lalu mengacungkan jempolnya pada Intan, isyarat agar ibunya kembali ceria dan melupakan masalah berat yang baru saja terjadi.

Intan terharu dan bahagia, apa yang dilakukan oleh Langit, walaupun itu hanya receh yang di lakukan nya itu, namun perubahan ku sangat besar bahkan kedua anakku langsung ceria.

"Makacih Om Langit... Ibu sudah tersenyum lagi," ucap salah satu anak Intan dengan bahasa cadelnya yang lucu.

"Sama-sama keponakan Om yang cantik dan ganteng! Mau ikut nggak cama Om?" tanya Langit meniru-niru gaya bicara mereka yang cadel, membuat suaranya jadi terdengar lebih lucu dan imut.

"Icut kemana Om?" tanya mereka berdua serentak dengan mata berbinar.

"Ke warung cuma... Om mau beli kopi biar makin ganteng. Kalian mau jajan nggak? Ayo sini, Om traktir deh! Pilih apa saja boleh, yang penting jangan minta bintang aja ya hehehe!"

"ICUT OM...!!" teriak mereka kompak dengan antusias.

Kedua bocah itu langsung berlari kecil mengikuti Langit, kaki mereka jingkrak-jingkrak kegirangan. Intan dan Nenek Wati melihat pemandangan itu dengan hati yang sangat lega. Walaupun sifat dan karakternya kadang kelewatan seperti anak kecil, namun Langit punya keajaiban tersendiri: mampu menghibur dan mencairkan suasana bagi orang-orang yang sedang tertimpa kesedihan.

Sementara itu, di tepi sawah yang luas di Kampung Cemara, menjelang senja...

Dua lelaki yang usianya hanya berselisih setahun, Jaji dan Pardi, duduk bersandar santai di kursi kayu. Langit mulai menyebarkan warna jingga kemerahan yang indah, memantul di permukaan air sawah, mencerminkan deretan pohon kelapa di kejauhan. Udara sejuk bercampur aroma tanah basah dan bunga liar yang baru mekar.

Awalnya mereka diam, hanya menikmati pemandangan yang sudah menjadi saksi masa kecil mereka. Saat warna langit mulai berubah menjadi ungu gelap dan suara jangkrik mulai bersahutan, dialog pun terjalin. Namun, diam mereka bukan diam biasa, melainkan diam yang penuh cerita di dalam kepala masing-masing.

Pardi duduk dengan posisi badan agak membungkuk, kepalanya tertunduk dalam. Wajahnya terlihat sangat lelah namun ada sedikit aura puas yang aneh terpancar, bercampur dengan rasa malu yang luar biasa. Matanya kosong menatap tanah, seolah tak berani menatap langit. Dalam hati ia masih mengingat kejadian tadi siang—bagaimana ia "mengambil haknya" pada sebatang pohon pisang yang kokoh. "Alhamdulillah... lega juga," batinnya, tapi rasanya ingin masuk ke lubang tanah saja kalau sampai ada orang yang tahu kelakuannya tadi.

Nafsunya seperti kerasukan syetan siang tadi, bagaimana pohon pisang itu jadi pelampiasannya, Pardi sangat brutal menciumi batang pohon pisang sementara lubang yang ia bolongi untuk di jadikan tempat pelampiasannya, terasa hangat seperti milik istrinya.

"AHHHHHHHH."

"Tapi nikmat juga ya." Senyum kepuasan terpancar olehnya membayangkan adegan tadi siang.

Di sebelahnya, Jaji juga tak kalah lamunannya. Tatapannya tajam menembus hamparan sawah, namun pikirannya melayang kembali ke ruang tamu rumahnya tadi pagi. Bayangan wajah istrinya saat ia menuduh selingkuh terus berputar. Amarah, kecewa, dan rasa curiga bercampur menjadi satu. Ia membayangkan bagaimana seharusnya ia memaki lebih keras, atau bagaimana seandainya ia menangkap basah pelakunya. Kepalanya terasa panas hanya dengan mengingatnya.

Hening. Hanya angin senja yang berhembus, memisahkan dua sahabat ini dengan masalah dan "pengalaman" masing-masing yang tak terucap.

"Kenangan indah waktu kecil sungguh tidak bisa dilupakan ya Bro," buka Pardi setelah pelayan warung membawakan kopi pesanan mereka.

"Ya Di..." jawab Jaji singkat. Pikirannya masih kacau balau membayangkan istrinya yang dianggapnya telah berkhianat.

"Semangat Brow! Untuk masalahmu, saran gue... Kita kasih pelajaran keras sama selingkuhan istri Lo itu. Gue kenal banyak preman tangguh," ucap Pardi mulai memainkan perannya, seringai licik tersembunyi di balik senyumnya.

"Aku juga kepikiran ke situ Di. Kamu bisa bantu kan?" tanya Jaji.

Di hati Pardi bergumam penuh keserakahan:

'Hahaha... Pundi-pundi uang akan masuk kantong gue dengan mudah lewat Jaji bodoh ini. Sementara Langit... kalau dia mau kompromi ya syukur, kalau nekat berontak... habislah dia babak belur dimakan preman-preman yang gue sewa.'

"Bisa... sangat bisa! Tapi....!"

Pardi berhenti sejenak, menggerakkan jarinya meminta uang. Jaji langsung paham maksud temannya itu.

"Masalah uang kamu jangan khawatir. Hari ini juga aku transfer 10 juta. Aku mau lihat Langit babak belur, dan 'pusaka'-nya hancur supaya dia nggak bisa menggoda istri orang lagi!" desis Jaji penuh kebencian.

"Siap Brow! Itu mahal mudah banget," jawab Pardi santai. "Terus bagaimana kelanjutan rencana sama istri Lo sendiri?"

"INTAN......"

"INTAN......"

Tawa jahat Jaji terdengar menyeramkan di tengah senja.

"Untuk istriku itu urusan pribadi gue! Akan gue buat dia menderita... sama seperti penderitaan masa lalu ibunya dulu! Hahaha!"

Pardi sempat termenung sesaat. Ada rahasia besar dalam takdir Intan yang ia tahu, namun ia segera tepisah pikiran itu.

'Ah sudahlah, gue nggak peduli. Yang penting sekarang, untuk bisa dapatkan tubuh Intan, gue harus manfaatkan situasi ini. Rencana berubah total.'

"Yang 10 juta sudah gue transfer, secepatnya bereskan! Bukti usahakan diperkuat. Aku mau hancurkan Langit dan nenek tua itu!" sorot mata Jaji tajam menusuk, membuat bulu kuduk Pardi sedikit meremang.

"Baik brow, Lo tenang saja. Tugas ini gampang bagi gue," jawab Pardi berusaha terlihat tenang meski dalam hati sedikit waspada melihat sisi gelap temannya itu.

Obrolan panjang di kala senja itu pun usai. Jaji akan kembali ke ibu kota, menunggu hasil eksekusi dari Pardi. Sebelum berpisah, Jaji kembali mengingatkan dengan nada mengancam.

"Gue ingatkan sekali lagi... JANGAN SENTUH INTAN DI! Urusan istri gue biar gue sendiri yang tangani!"

"Siap...!" jawab Pardi cepat seraya mengangguk patuh.

CATATAN PEMBACA:

SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!

SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.

JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!

SALAM DARI ANAK KAMPUNG,

ARIS.

Bersambung.

1
Yoyo
parah Thor 🤣🤣🤣🤣
man
aku dukung penuh Thor semangat
Akang
lanjut Thor
Akang
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Akang
waduhh
Akang
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
Akang
gasss kak
Ramdan
lanjut dong thor
Ramdan
🤣🤣🤣🤣🤣
Ramdan
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramdan
👍👍👍👍👍👍👍
Ramdan
kayaknya orang tua sri tahu asal-usul langit
Ramdan
😄😄😄😄😄😄😍😍😍😍😍
Ramdan
keren thor
Ramdan
siapa ya itu
Ramdan
nahkan ciut juga nyali nya🤣🤣🤣
man
Keren
man
sip
Yoyo
ok
Kar
👍👍👍👍👍 keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!