ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pengamat di Atas Dahan Perak dan Tebasan Pertama Sang Abadi
Tujuh hari telah berlalu sejak insiden di Distrik Perdagangan Bawah. Selama tujuh hari itu pula, nama "Sang Algojo Berjaket Hitam" telah bertransformasi dari sekadar rumor menjadi sebuah legenda hidup di Kerajaan Valeria. Sebagai petualang Kelas S yang baru diangkat, Ajil memiliki akses tanpa batas ke semua fasilitas tingkat tinggi. Namun, ia tidak menggunakan hak istimewanya untuk berpesta, menyewa wanita penghibur di tempat bordil mewah, atau membeli budak pelayan seperti yang dilakukan kebanyakan bangsawan dan petualang kaya.
Rutinitas Ajil sangat monoton dan mematikan. Pagi hari, ia akan singgah di Restoran Golden Griffon, sebuah tempat makan mewah khusus Kelas S. Seperti pagi ini, ia duduk sendirian di meja VIP yang terbuat dari kayu mahoni berukir. Di hadapannya, tersaji sepotong Steak Daging Griffon Bakar Bumbu Rempah Daun Emas berukuran besar, disajikan di atas piring perak panas yang masih mendesis, ditemani segelas Teh Bunga Es yang memancarkan uap dingin.
Pisau peraknya memotong daging tebal yang dipanggang dengan tingkat kematangan medium rare itu. Tekstur daging griffon sangat lembut, meleleh di lidah dengan ledakan rasa gurih dari mentega sihir dan sedikit rasa pedas dari lada api. Teh bunga esnya memberikan sensasi dingin yang menyegarkan tenggorokan, membersihkan palet rasanya dengan sempurna. Harga satu porsi sarapan ini setara dengan biaya hidup sebuah keluarga petani selama satu tahun penuh.
Namun, saat mengunyah makanan mewah tersebut, mata hitam Ajil menatap kosong ke luar jendela restoran. Pikirannya melayang kembali ke sebuah pagi yang gerimis di Bumi. Saat itu, gas di kontrakan mereka habis. Ami, almarhumah istrinya, terpaksa memasak nasi goreng sisa semalam menggunakan penanak nasi listrik (rice cooker), dicampur dengan irisan kubis dan sosis murah yang dipotong dadu kecil-kecil agar cukup untuk mereka berempat. Arzan makan dengan lahap, dan Dara menyuapkan nasi yang berantakan ke mulutnya. Saat itu, mereka miskin, sangat miskin. Tapi tawa di ruangan kecil beratap bocor itu jauh lebih berharga dari ribuan keping emas murni di Planet Ridokan.
"Kemewahan sejati bukanlah saat kau mampu membeli hidangan termahal di dunia," batin Ajil, menelan paksa daging griffon di mulutnya yang kini terasa seperti serbuk gergaji basah. "Kemewahan sejati adalah ketika kau memiliki seseorang yang rela membagi potongan lauk terakhirnya ke piringmu."
Ia menghabiskan minumannya dalam satu tegukan, meletakkan sekeping emas murni di atas meja, dan berjalan keluar. Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya berkibar tertiup angin pagi Valeria.
Tujuannya hari ini adalah Hutan Bayangan Berbisik, sebuah zona merah yang terletak di barat laut kerajaan. Misi yang ia ambil semalam dari Guild bukanlah misi sembarangan. Misi itu adalah permintaan langsung dari Master Guild Leon: Menyelidiki hilangnya dua kelompok petualang Kelas A dan membasmi anomali sihir gelap di hutan tersebut.
Langkah Ajil yang stabil dan tanpa suara membawanya keluar dari gerbang kota. Dan seperti sudah menjadi rutinitas, sebuah layar hologram kuning berkedip di sudut pandangannya.
[SISTEM: Peringatan Pengintaian. Entitas Udara (Level Tidak Teridentifikasi) kembali mendeteksi dan mengikuti Anda. Jarak: 300 meter di atas kanopi pepohonan. Niat: Netral/Mengamati.]
Ajil mengabaikan notifikasi itu dengan satu kedipan mata. Ia tahu siapa yang mengikutinya. Si High Elf telinga runcing arogan yang ia pergoki pertama kali di Hutan Terlarang. Semenjak kejadian di pasar tempo hari, elf itu menjadi semakin berani. Jarak pengintaiannya menyempit dari hari ke hari. Walaupun elf itu menggunakan sihir manipulasi angin dan pembiasan cahaya tingkat tinggi untuk menyembunyikan wujud, penciuman dan insting Ajil yang telah dipertajam oleh kekuatan God-Tier bisa merasakan aroma wangi nektar bunga matahari dan embun pagi yang tertinggal di udara setiap kali elf itu melintas dari dahan ke dahan.
Di atas sana, tepat di atas dahan raksasa Pohon Pinus Perak yang usianya ribuan tahun, Erina berdiri dengan keanggunan seorang dewi hutan.
Sang High Elf itu tidak lagi mengenakan jubah hijau penyamarannya. Ia membiarkan zirah sutra mithrilnya yang berwarna putih mutiara memantulkan sinar matahari yang menembus dedaunan. Rambut perak kebiruannya tergerai bebas, dihiasi sebuah jepit rambut berbentuk daun mallorn yang memancarkan pendaran sihir pelindung. Mata zamrudnya yang indah menatap punggung tegap Ajil di bawah sana dengan intensitas yang membara.
"Sudah tujuh hari, Ajil," bisik Erina pada angin yang berhembus melewati telinga runcingnya. "Setiap hari kau membantai monster, setiap hari kau pulang dengan wajah yang semakin beku, tapi aku tahu, di balik tatapan matamu yang mati itu, kau masih pria yang sama yang menangis untuk anak-anak jalanan itu."
Erina melompat ringan, tubuhnya seakan tidak memiliki bobot. Ia mendarat di dahan lain yang jaraknya lima puluh meter hanya dengan satu tolakan ujung kakinya. Mengamati Ajil telah menjadi obsesi terindah dalam hidupnya yang panjang dan membosankan. Ia mempelajari cara Ajil berjalan, cara bahunya menegang saat mencium bau darah, dan cara pria itu selalu mengelus ruang kosong di jari manis tangan kirinya—tempat di mana Erina menduga sebuah cincin pernah melingkar.
Tiga jam perjalanan menembus medan yang semakin terjal, sinar matahari perlahan meredup, terhalang oleh kanopi Hutan Bayangan Berbisik yang sangat rapat. Daun-daun di hutan ini berwarna hitam keunguan, dan batang pohonnya mengeluarkan getah yang berpendar biru redup. Suhu udara anjlok secara drastis, dipenuhi oleh kabut tipis yang merayap di atas tanah berlumut tebal.
Langkah sepatu bot Ajil terhenti. Suasana hutan ini terlalu sunyi. Tidak ada kicauan burung roh, tidak ada suara serangga. Hanya keheningan yang mencekam dan bau busuk belerang yang bercampur dengan anyir darah yang mengering.
[SISTEM: Peringatan Bahaya Kelas S! Anomali Energi Gelap Terdeteksi.]
[Menganalisis Entitas... Peringatan! Entitas bukan berasal dari ras monster biasa. DNA Iblis terdeteksi!]
Ajil menyipitkan matanya. Hatinya yang membeku sedikit tergelitik. Iblis. Ras yang menurut Dewi Lumira sedang bersiap untuk menginvasi seluruh dimensi, termasuk Bumi. Inilah musuh utamanya. Inilah penghalang utamanya untuk pulang.
Dari balik kabut tebal di depan Ajil, terdengar suara langkah kaki yang berat dan diseret.
Klang... Klang... Klang...
Suara logam berkarat beradu dengan batu.
Sesosok makhluk setinggi tiga meter melangkah keluar dari kegelapan. Ia mengenakan zirah lempeng berwarna hitam kelam yang diselimuti oleh aura ungu gelap yang menjijikkan. Di balik helm zirahnya yang berbentuk tengkorak bertanduk domba, tidak ada wajah, hanya ada dua titik api berwarna merah darah yang menyala penuh kebencian. Di tangan kanannya, makhluk itu menyeret sebuah pedang raksasa bermata gergaji yang masih meneteskan darah segar—darah milik kelompok petualang Kelas A yang hilang.
[Nama: Zarkul (Ksatria Iblis Bayangan)]
[Ras: Iblis Tingkat Menengah]
[Level: 85]
[Kelas: S (Komandan Pasukan Perintis)]
"Daging manusia... yang sangat lezat..." Zarkul mendesis, suaranya terdengar seperti gesekan dua buah batu gilingan yang menggerus tulang. "Aura mana mu sangat pekat, Manusia. Memakan jantungmu akan membuatku berevolusi menjadi Jenderal."
Ajil tidak membalas provokasi murahan itu. Ia menatap Iblis Level 85 di depannya dengan tatapan mengevaluasi. Monster-monster sebelumnya selalu ia bunuh menggunakan tangan kosong dan Tinju Petir Ungu. Namun lawannya kali ini adalah Iblis, makhluk dengan ketahanan sihir gelap yang tinggi dan zirah yang dirancang untuk meredam serangan energi. Terlebih lagi, level iblis ini cukup tinggi.
"Ini saat yang tepat," pikir Ajil.
Ajil mengangkat tangan kanannya ke depan, sedikit membuka telapak tangannya. Ia menyambungkan niatnya ke dalam Cincin Ruang Tak Terbatas.
"Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa menahan jalan pulangku, Sampah."
Tiba-tiba, ruang di depan telapak tangan Ajil terdistorsi. Udara di sekitarnya bergetar hebat. Sebuah pusaran dimensi sekecil kepalan tangan terbuka, melepaskan gelombang kejut yang menyapu kabut di sekitar mereka hingga bersih.
Gagang hitam pekat yang terbuat dari sisik naga purba dengan crossguard berbentuk sayap naga perlahan muncul dari pusaran tersebut. Ajil menggenggam gagang itu, dan menariknya keluar sepenuhnya.
VZZZMMMM!!
Begitu Pedang Petir Hijau Abadi sepenuhnya terwujud di alam nyata, langit Hutan Bayangan Berbisik bergemuruh dahsyat. Bilah pedang sepanjang satu setengah meter yang terbuat dari logam hijau zamrud transparan itu berdenyut mengerikan. Aliran petir hijau dan ungu saling melilit di dalam bilahnya, memancarkan cahaya yang menyilaukan mata dan mengusir seluruh energi gelap di area tersebut.
Sistem langsung merespons dengan rentetan notifikasi berwarna emas.
[SISTEM: Pemanggilan Senjata God-Tier: 'Pedang Petir Hijau Abadi'.]
[Mendeteksi Level Pengguna: Level 65 (Melampaui batas Level 50).]
[Memulai Protokol Pelepasan Segel Pertama...]
KRAAAK!
Sebuah suara retakan gaib terdengar menggema di dalam jiwa Ajil. Satu dari tujuh titik hitam yang berderet di bilah pedang zamrud itu pecah berkeping-keping menjadi debu cahaya hijau.
Seketika, berat pedang itu berlipat ganda, namun di saat yang sama, aliran kekuatan yang tak masuk akal merambat dari gagang pedang ke lengan Ajil, menyatu dengan sel-sel tubuhnya. Aura petir ungu milik Ajil kini beresonansi dengan aura petir hijau dari pedang, menciptakan sebuah medan gaya badai petir dua warna yang meliuk-liuk ganas mengelilingi tubuhnya. Tanah tempat Ajil berpijak hangus terbakar hingga kedalaman dua puluh sentimeter hanya karena radiasi energinya.
[Segel Pertama Berhasil Terbuka: 'Tebasan Pembelah Batas'.]
[Efek Segel 1: Mengabaikan 50% Pertahanan Fisik dan Sihir Lawan. Mampu membelah elemen sihir murni.]
Di atas dahan raksasa Pohon Pinus Perak yang berjarak dua ratus meter dari lokasi pertarungan, Erina tersentak mundur hingga punggungnya menabrak batang pohon. Mata zamrudnya membelalak lebar, rambut perak kebiruannya berkibar hebat diterpa gelombang kejut dari aura pedang Ajil.
"Senjata apa itu?!" napas Erina tercekat. Sebagai High Elf yang telah hidup ratusan tahun, ia telah melihat berbagai Artefak Suci dan Pedang Legendaris peninggalan para pahlawan masa lalu. Namun, senjata yang baru saja ditarik oleh Ajil memancarkan aura otokratik yang melampaui segala sesuatu di dunia ini. "Sihir alam di sekitarku... mereka ketakutan. Pedang itu... seolah bernapas dan hidup!".
Perhatian Erina sepenuhnya terkunci. Jantungnya berdebar kencang. Ia menyaksikan sosok dewa kematian pujaan hatinya yang kini memegang pedang berlapis petir hijau dan ungu, tampak seperti penguasa dimensi yang turun dari langit untuk menghukum para pendosa.
Zarkul, sang Ksatria Iblis Bayangan, yang sebelumnya sangat angkuh, kini mundur satu langkah. Titik api di matanya bergetar hebat. Insting iblisnya menjeritkan satu kata: Lari. Namun, ego dan kegelapannya menolak untuk tunduk.
"Trik ilusi yang bagus, Manusia!" raung Zarkul. Ia mengangkat pedang gergaji raksasanya, mengumpulkan seluruh mana gelapnya hingga pedang itu membesar dua kali lipat, diselimuti bayangan hitam pekat yang berbau kematian. "Mati kau di bawah Tebasan Gerhana Berdarah!"
Zarkul melompat setinggi belasan meter ke udara, lalu meluncur turun bagai meteor hitam, menebaskan pedangnya dengan kekuatan penuh yang diklaim mampu membelah sebuah bukit menjadi dua.
Ajil menatap iblis yang sedang jatuh ke arahnya dengan pandangan kosong dan teramat tenang. Ia tidak menghindar. Ia hanya menyesuaikan kuda-kudanya, menggenggam gagang Pedang Petir Hijau Abadi dengan kedua tangannya, dan menarik bilahnya sedikit ke belakang.
"Ilusi paling mematikan di dunia ini bukanlah kebohongan atau trik yang diciptakan oleh musuh," gumam Ajil, suaranya tenggelam oleh gemuruh petir, namun frekuensinya menggema jelas di dimensi itu. "Melainkan masa lalu yang mencoba menahan kakimu untuk melangkah maju menuju masa depan. Dan kau... kau hanyalah kerikil kecil di jalan pulangku."
Saat pedang gergaji hitam itu berjarak kurang dari satu meter dari kepalanya, Ajil mengayunkan pedangnya ke atas dengan gerakan yang teramat sederhana, tidak memiliki teknik bela diri yang rumit, namun diisi dengan kecepatan mutlak dan tenaga yang tak terhingga.
ZRAAAAAASSSSHHHHH!!!!
Pertemuan dua kekuatan itu tidak menghasilkan ledakan yang lama. Tidak ada adu kekuatan atau dorong-mendorong senjata.
Bilah zamrud transparan milik Ajil memotong pedang gergaji raksasa Zarkul beserta energi kegelapannya layaknya pisau panas yang membelah mentega tipis. Suara robekan dimensi terdengar melengking.
Sebuah tebasan energi berbentuk bulan sabit raksasa berwarna perpaduan hijau terang dan ungu gelap melesat ke atas, menembus tubuh Zarkul, membelah langit-langit Hutan Bayangan Berbisik, dan terus melesat ke angkasa hingga membelah awan malam di langit Kerajaan Valeria menjadi dua bagian yang terpisah sejauh berkilo-kilometer.
Di udara, tubuh raksasa Zarkul terbelah dua secara simetris dari selangkangan hingga ke ujung helm tengkoraknya. Darah hitam berbau busuk menyembur ke segala arah. Namun, sebelum potongan tubuh iblis itu sempat menyentuh tanah, kilatan petir abadi yang tertinggal dari tebasan Ajil membakar kedua belahan tubuh itu menjadi abu abu vulkanik yang tak bernyawa, melenyapkannya dari eksistensi dunia Ridokan selamanya.
[SISTEM: Berhasil mengeksekusi Ksatria Iblis Bayangan (Lv.85). Ancaman Utama Dieliminasi.]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 70.]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 75.]
[Mendeteksi item jarahan langka: 1x Inti Kegelapan Iblis (Kelas S), 1x Kepingan Peta Dimensi Gelap. Disimpan ke Cincin Ruang.]
Ajil menurunkan pedangnya dengan perlahan. Hembusan napasnya stabil. Setelan jaket panjangnya kembali tenang seiring dengan meredanya badai petir di sekitarnya. Hutan Bayangan Berbisik kini terang benderang oleh cahaya bulan yang masuk melalui celah awan dan kanopi pepohonan yang telah dibelah oleh tebasannya.
Ia menatap bilah zamrud pedangnya sejenak. Senjata ini... rasanya terlalu ringan di tangannya, meski daya hancurnya mampu merobek langit. Ajil memutar pergelangan tangannya, dan pedang overpower itu kembali menghilang ke dalam ruang penyimpanannya.
Di atas dahan tertinggi, Erina kehilangan keseimbangannya dan jatuh terduduk di atas cabang pohon yang kokoh. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya memburu. Keringat dingin sebesar biji mutiara mengalir dari pelipisnya.
Ia baru saja menyaksikan sebuah keajaiban yang melampaui batas rasionalitas. Tebasan pedang pria itu... bukan sekadar sihir elemen, itu adalah manifestasi dari kekuatan murni yang mampu menghancurkan fondasi dunia ini. Zarkul, Iblis Level 85 yang akan membutuhkan setidaknya lima Master Guild untuk ditumbangkan secara berkelompok, dibelah menjadi dua dengan gerakan yang teramat santai dan tanpa sedikit pun cedera.
"Dewa-dewa Ridokan..." bisik Erina parau, meremas sutra mithril di dadanya. "Apakah dia benar-benar seorang manusia? Dari mana Dewi Lumira menemukan jiwa seperti ini?"
Ketertarikan Erina kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi sebuah rasa cinta yang bercampur dengan pemujaan. Ia memandang sosok Ajil di bawah sana yang sedang berdiri di tengah-tengah kehancuran yang ia ciptakan sendiri, disinari oleh cahaya dua bulan Ridokan. Pria berhati es itu terlihat begitu kesepian, berdiri di puncak kekuatannya namun tak memiliki seorang pun untuk berbagi kemenangan.
Tiba-tiba, Ajil menghentikan langkahnya. Pria berjaket hitam itu berdiri membelakangi posisi pohon tempat Erina berada. Namun perlahan, Ajil menolehkan kepalanya ke belakang, dan mendongak, menatap tajam menembus ilusi pembiasan angin yang digunakan Erina. Mata hitam pekat Ajil bertabrakan lurus dengan mata zamrud Erina dari jarak dua ratus meter.
Jantung Erina seakan berhenti berdetak. Ia tahu Ajil menyadari keberadaannya sejak awal, tapi ini adalah kali pertama pria itu secara langsung, tanpa keraguan, mengunci pandangannya tepat ke wajah Erina di tempat persembunyiannya yang paling sempurna. Tatapan Ajil dingin, penuh peringatan, dan sangat mendominasi.
"Turunlah dari sana, atau aku yang akan menebang pohon itu," pesan tak kasat mata itu seolah tersirat jelas dari sorot mata tajam sang Algojo.
Erina menelan ludah. Bibirnya yang merah muda melengkung ke atas, membentuk senyuman paling tulus dan menawan yang pernah terukir di wajah sang High Elf. Ia telah memutuskan. Ia tidak akan bersembunyi lagi. Malam ini, ia akan turun dari dahan peraknya, dan menapaki jalan setapak yang sama dengan dewa kematian berhati hancur itu.