Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 : Cara yang sama untuk menyapa
“Apa maksudmu?” tanya salah satu polisi dengan raut bingung, disusul tatapan ragu dari rekan-rekannya.
Tak seorang pun benar-benar memahami arah penyelidikan itu. Mereka hanya saling bertukar pandang, seakan berharap ada jawaban yang bisa menjelaskan kebuntuan. Pemandangan itu membuat Alexander semakin geram. Rahangnya mengeras, suaranya meninggi.
“Tch!! Dia menyiram cairan itu untuk menghapus jejak darah!” desisnya tajam. “Menyamarkan pembunuhan ini sebagai kecelakaan kerja!”
Nada suaranya begitu keras hingga memantul di dinding, menampar kesadaran semua orang di ruangan itu. Beberapa polisi terdiam, baru menyadari betapa rapihnya pola yang selama ini menipu mata mereka.
“Ohh… jadi maksud anda, kasus-kasus sebelumnya juga bukan kecelakaan?” sahut salah satunya dengan wajah serius.
Ketegangan semakin tebal. Kebenaran mulai merangkak keluar dari bayangan. Sejak dua bulan terakhir, rumah sakit Aldridge Hall terus diguncang kematian yang dikira akibat kelalaian medis. Publik mempercayainya mentah-mentah, hingga kasus demi kasus menguap seperti debu terbawa angin. Kini, tabir itu mulai robek.
Alexander berdiri, pikirannya masih tertinggal pada suara-suara semalam. Tatapannya menempel pada lantai dingin tempat korban terakhir ditemukan, seolah ingin menggali jawaban dari noda tak kasat mata di sana. Baru ia hendak menarik napas, sebuah benturan ringan menghantam punggungnya.
Tubuhnya sedikit goyah. Alexander menoleh cepat, wajahnya masam. Tak asing baginya—tabrakan kecil yang selalu sama. Dua mahasiswa koas berdiri kikuk, nampan di tangan mereka bergetar. Victoria, dengan senyum canggung yang selalu mengundang masalah, berdiri di samping temannya, Olivia, yang menunduk ketakutan.
“Tidak ada cara lain untuk menyapaku selain membuat kekacauan?” nada suaranya tajam, tegang seperti cambuk yang mengancam.
“M-maaf, Tuan… kami terburu-buru…” Victoria menunduk, wajahnya memerah, sementara puluhan pasang mata menyorot ke arahnya.
“Apa rumah sakit ini milikmu, sampai kau bebas berlari seenaknya?” Alexander menatapnya lekat-lekat, nada penuh penekanan. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan amarah yang masih tersisa. “Aku tidak sekecil itu sampai kau tak melihatku. Justru aku yang tak bisa melihatmu!”
Udara makin berat. Rico, yang sejak tadi mengamati, melangkah mendekat. Ia menepuk bahu atasannya pelan, mencoba meredam ledakan yang semakin mendekat.
“Tuan… jangan marah padanya. Dia hanya calon dokter,” bisiknya rendah.
Alexander mendengus kasar. “Apa aku peduli dia calon dokter atau calon apa pun? Bahkan jika dia calon penjahat sekalipun, lebih mudah bagiku menangkapnya!”
Suara itu begitu dalam, terdengar seperti sumpah yang tak bisa ditarik kembali. Semua orang terdiam, menyaksikan ketegangan yang berubah arah menjadi pribadi.
Victoria menarik napas, senyum kecil muncul di wajahnya. Ia menyerahkan nampan di tangannya kepada Olivia. “Antarkan ini ke dokter. Aku akan menyusul.”
Olivia panik. “Lalu kau bagaimana? Sudahlah, katakan maaf dan kita pergi.” Ia meraih lengan sahabatnya, mencoba menyeretnya menjauh dari pusat perhatian.
Victoria menolak halus, kepalanya sedikit menggeleng. “Tidak… aku punya pasien di sini.”
Ucapan itu menimbulkan gelombang keheningan baru. Semua yang hadir menatapnya, tercengang oleh keberaniannya menantang pria dengan pengaruh sebesar Alexander.
Tatapan Victoria jatuh pada tangan Alexander. “Tanganmu terluka…” ucapnya lirih, sebelum jemari mungilnya menyentuh pergelangan tangannya. Luka bakar di punggung tangan Alexander tampak jelas, kulitnya memerah perih.
Rico spontan teringat pada semalam, saat ia melihat atasannya merintih di lantai delapan, tapi tak mampu menilai lukanya karena gelapnya ruangan. Kini, semuanya jelas.
“Ayo, ikut aku… biar kuobati.” Suara Victoria lembut namun mantap. Ia menarik tangan Alexander, langkahnya tegas meski tubuhnya kecil. Seolah menyeret seseorang yang jauh lebih besar darinya, tanpa memberi kesempatan untuk menolak.
Yang lain membeku, bingung melihat pemandangan aneh itu. Alexander, yang beberapa menit lalu berapi-api, kini tidak melawan. Lelaki itu hanya membiarkan dirinya dibawa, seakan kehilangan alasan untuk menolak.