🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan sekedar kebetulan
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Bimo tiba-tiba bangkit dari kursinya. "Aku ke ruang Pak Bos dulu," ujarnya singkat, lalu melangkah pergi tanpa menunggu tanggapan.
Rani melirik Yura sekilas. "Doakan saja."
Yura hanya mendengus pelan.
Tak berselang lama, langkah Bimo kembali terdengar di antara derap aktivitas kantor.
Yura mendongak. "Bagaimana?"
Bimo berhenti tepat di depan meja Yura. Ekspresinya datar, nyaris tanpa minat. "Kau kembali menjadi kepala tim."
Yura tertegun. "Apa?"
"Posisimu dikembalikan," ulang Bimo. "Mulai hari ini."
Rani refleks menoleh cepat. "Serius?"
Yura mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggung ke kursi. "Apa dia sedang mempermainkanku lagi?" gumamnya kesal. "Selalu tarik ulur seperti ini. Melelahkan."
Leo mendengarnya. Ia menoleh, alisnya sedikit berkerut. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya pelan. "Kau seperti tidak baik-baik saja. Perlu bantuan?"
"Tenang saja." sebelum Yura sempat menjawab, Bimo menyela. Pandangannya meluncur ke dinding kaca di kejauhan, tempat ruang kerja Alexa terlihat jelas. "Hal seperti ini sudah biasa."
Leo menyipitkan mata. "Maksudmu?"
Bimo mendengus kecil. "Asal kau tahu," ucapnya sambil melirik Leo, "Mereka berdua itu tidak pernah benar-benar akur."
Yura mengangguk pelan, mengakui.
"Itu faktanya," sambung Rani lirih.
Pandangan Leo ikut bergeser ke arah ruang kaca itu. Sosok Alexa tampak berdiri di dalam, membelakangi mereka, seolah sepenuhnya tenggelam dalam pekerjaannya.
"Tapi anehnya," lanjut Bimo dengan sindiran tipis ke Yura, "Dia tetap dipertahankan di sini."
Yura menekan bibirnya, memilih diam.
Sementara itu, Leo menatap pemandangan tersebut sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Ketertarikannya pada Yura beserta dinamika ganjil antara Yura dan bos mereka kian menguat, tumbuh perlahan namun jelas.
Bimo mengetuk meja Yura pelan. "Sekarang," katanya singkat. "Kita dipanggil ke ruang rapat."
Semuanya mengangguk, dan merapikan map di tangan masing-masing, lalu berdiri tanpa banyak bicara. Namun, wajah Yura tampak tenang, tetapi pikirannya bergerak lebih cepat dari yang ingin ia akui.
Ruang rapat telah hampir penuh saat mereka masuk. Beberapa tim duduk berkelompok, saling berbisik dalam suara rendah yang terdengar seperti desas-desus terkontrol. Layar proyektor menyala, masih menampilkan halaman pembuka presentasi.
Menit-menit berlalu perlahan. Tidak ada yang berani membuka rapat lebih dulu. Beberapa orang berpura-pura membaca berkas, sebagian lain melirik jam tangan, sementara yang lain sekadar mengamati tim Yura dengan pandangan yang sulit diterjemahkan. Tekanan menggantung di udara—rapat ini jelas bukan rapat biasa.
Pintu terbuka.
Langkah sepatu terdengar tegas dan teratur.
Alexa masuk tanpa tergesa, dengan tatapan lurus dan ekspresi yang nyaris dingin. Ren mengikuti di belakangnya. Begitu Alexa duduk di kursinya, seluruh ruangan seketika sunyi, seolah seseorang mematikan suara.
"Baik," ucap Rendra singkat. "Kita mulai."
Koordinator rapat berdiri dan membuka agenda. Satu per satu tim memaparkan laporan mereka, hingga akhirnya giliran tim Yura.
Bimo berdiri. Suaranya mantap saat menjelaskan strategi distribusi baru. Grafik dan data berganti di layar, tersaji rapi dan sistematis.
Namun belum sampai ia menutup penjelasan, sebuah suara menyela dari sisi meja.
"Pendekatan ini bukannya terlalu agresif," kata salah satu kepala tim lain dengan nada bicaranya terdengar tenang, tetapi jelas mengandung tekanan. "Perubahan konsep sepertinya dilakukan dalam waktu yang terlalu singkat."
Beberapa orang mengangguk, kali ini lebih terang-terangan.
"Belum lagi," lanjutnya, "Perhitungan risiko di wilayah lain tampaknya diremehkan. Jika terjadi kegagalan, dampaknya akan signifikan. Bisa-bisa menimbulkan banyak kerugian besar."
Pandangan mulai beralih bukan ke Bimo, melainkan ke Yura.
"Jangan bilang, ini inisiatif dari Yura sendiri?" tambahnya, seolah hanya memastikan, padahal semua tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Yura tetap duduk tegak. Wajahnya tenang, tetapi rahangnya mengeras tipis. Ia merasakan tekanan itu mengarah langsung kepadanya, disengaja dan terukur.
Bimo menarik napas dan bersiap bicara.
Namun suara lain mendahuluinya. "Itu tidak tepat," ucap Alexa.
Ia menautkan jari di atas meja. Suaranya datar, tetapi tajam, memotong suasana tanpa usaha berlebihan.
"Strategi tersebut disusun melalui evaluasi lintas tim," lanjutnya. "Data risiko, simulasi kerugian, dan opsi mitigasi telah dibahas sebelum diajukan."
Alexa menoleh ke arah penyanggah tadi, tatapannya tenang namun menekan.
"Menyederhanakan tanggung jawab menjadi satu pihak hanya karena posisi struktural bukanlah cara kerja yang profesional."
Ruangan mendadak hening.
Beberapa orang saling berpandangan. Tidak ada yang menyela.
Bimo terdiam, jelas tidak menyangka bahwa pembelaan itu datang lebih dulu dari Alexa.
Yura mengangkat pandangan perlahan.
Tatapan Alexa jatuh tepat padanya sedikit lebih lama dari yang diperlukan sebelum kembali menyapu ruangan. Ada sesuatu yang terasa ganjil.
Bukan hanya soal pembelaan itu, melainkan intensitas perhatian Alexa yang terus kembali kepadanya sepanjang rapat, jauh berbeda dari sikapnya selama ini.
Yura merasakannya dengan jelas.
Di sela pembahasan berikutnya, secarik kertas kecil didorong perlahan ke arah Yura.
Leo.
Ia tidak menoleh. Tangannya bergerak santai, seolah hanya menggeser catatan biasa.
Apa kalian memiliki hubungan secara diam-diam?
Alis Yura terangkat. Ia menoleh ke arah Leo dengan sorot tanya yang tajam. Leo akhirnya melirik sekilas, ujung bibirnya terangkat samar, jelas menikmati reaksi itu.
Yura menahan napas. Dengan gerakan tenang, ia menarik kertas itu, lalu mengambil pulpen dari mapnya.
Tangannya bergerak cepat, rapi, nyaris tanpa jeda. Setelah itu, ia menggeser kertas yang sama kembali ke arah Leo.
Apa maksudmu? Kau tidak tahu saja yang sebenarnya terjadi. Kami ini, diam-diam musuh tersembunyi masing-masing.
Leo membaca baris demi baris. Senyum di wajahnya tidak memudar, justru semakin jelas, seolah menemukan sesuatu yang lebih menarik dari dugaan awalnya.
Ia mengambil kertas itu lagi, menambahkan tulisan dengan santai, lalu mendorongnya kembali ke arah Yura.
Tapi yang kulihat tidak begitu. Sepertinya dia menyukaimu secara diam-diam.
Yura membaca tulisan itu perlahan.
Kali ini, ia tidak langsung membalas. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Leo dengan ekspresi penasaran. Ada jeda tipis di antara mereka, singkat namun penuh makna.
"Cukup."
Yura tersentak. Pandangannya refleks beralih ke Alexa. Ada denyut kecil di dadanya. Bukan karena kerasnya suara Alexa, melainkan karena waktunya yang tepat, seolah Alexa tahu ke mana perhatiannya tertuju.
"Rapat kita akhiri sampai di sini," lanjut Alexa datar. "Semua kembali bekerja."
Kursi-kursi bergeser hampir bersamaan. Tidak ada yang bertanya.
"Yura, tetap di sini."
Yura terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk pelan. Jemarinya menekan tepi meja, berusaha tetap tenang.
Rani sempat menoleh, sorot matanya jelas menyimpan kekhawatiran, sebelum akhirnya melangkah pergi. Bimo menyusul tanpa berkata apa-apa.
Leo keluar paling akhir. Ia menoleh sebentar, senyum tipis itu kembali muncul, seolah tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Pintu menutup.
Kini hanya Yura dan Alexa yang tersisa.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺