NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Dingin

Menikah Dengan Dosen Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / CEO / Nikah Kontrak / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:598
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.

Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Sementara di ruangannya Reihan, farel tengah duduk di salah satu sofa diruangan itu, sembari melihat ke sepupunya itu. Ya Reihan dan farel adalah sepupu beda tiga tahun. Ayah dan ibu mereka adalah saudara kandung. Dan mereka lumayan akrab dulu.

Maklum jika Alya tidak kenal dengan Reihan karena setelah lulus sekolah menengah atas dia melanjutkan studinya di Singapura untuk belajar bisnis sekalian mengolah cabang perusahaan milik orang tua nya disana.

Tatapan farel menuju ke pintu yang baru saja Alya lewati. " Dia cantik kan bang"

"Siapa"

" Alya"

" Biasa aja"

Farel melirik ke arah Reihan " buta mata Lo kali bang, biar gue kasih tau ya, Alya tu  biarpun tampilannya naturan dia tetap kelihatan cantik apalagi kalo di poles dikit, aduhh cantiknya"

" Ada hubungan apa kamu sama dia" tanya Reihan yang sedang berkutak dengan berkas yang ada di atas mejanya

" Kepo yaa"

" Ya sudah" jawab Reihan datar, kembali sibuk seolah tak tertarik.

Farel terdengar menghelai nafas panjang sebelum mengucapkan " Waktu pas SMA gua sama Alya tu temenan dekat, dekat banget malah, gua udah kenal banget sama orang tuanya om Pratama sama Tante Dewi begitupun sebaliknya." Farel menjeda sebentar ucapnnya " tapi setelah lulus SMA kita jadi jarang ketemu,  Meski masih sesekali main bareng sih.”

Walaupun wajah Reihan tampak tetap cuek, sebenarnya ia menyimak dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Farel.

" Ohh jadi apa rencanamu setelah ini"

" Rencananya sih gua mau hubungan kami lebih dari kata teman"

Reihan menutup map berisi proposal yang baru saja ia periksa. Pandangannya lurus ke arah Farel, meski ekspresinya tetap datar.

“Lebih dari sekadar teman?” ulangnya, seolah memastikan apa yang didengar tadi.

"  Iya,Doa in gua ya bang semoga keterima"

Dengan cepat Reihan langsung menjawab" Alya sudah punya pendamping "

Bukan pacar lagi tapi pendamping, lebih tepat pendamping hidup.

" Darimana Lo tau" tanya farel penuh selidik. Sebelumnya farel sudah bertanya kepada orang yang dekat dengan Alya tapi mereka mengatakan jika Aya belum punya pacar atau sekedar dekat dengan siapapun.

" Yah ngga penting,  sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan"

Reihan hanya menatapnya dengan malas " Terserah kamu saja"

" Ngapain kamu kesini " tanya Reihan untuk mengalihkan topik pembicaraan

Farel menyandarkan tubuhnya ke sofa, santai sekali. “Gue diundang jadi pembicara seminar, Bang. Kan lo tahu sendiri, gue seterkenal apa. Jadi ya… anak-anak kampus pengen dengerin pengalaman gue"

Reihan hanya mengangguk singkat

“Sekalian deh mampir. Udah lama juga kita nggak ngobrol" lanjut Farel.

Reihan memandanginya sebentar, lalu kembali menekuni berkas di meja. “Jangan terlalu banyak main di sini. Fokus ke pekerjaan mu.”

Farel terkekeh kecil. “lo nggak berubah sama sekali ya mulai dari dulu masih sama dinginnya."

Reihan tidak menanggapi, membuat suasana ruangan jadi hening beberapa detik.

“By the way, bang gue cabut duluan ya, Masih ada yang harus gue kerjain. Sesekali main ke rumah mama pengen ketemu sama Lo bang"

" Nanti saya sempatkan"

Begitu pintu ruangan tertutup, Reihan mengembuskan napas berat. Jemarinya mengetuk meja berulang kali, seolah menyalurkan kegelisahan dan amarah yang tadi dia pendam. Sejujurnya dia tidak mau peduli, tapi hatinya justru tidak terima.

.

.

.

.

.

.

POV Alya

Aku keluar ruangan dengan dada sedikit lega, meski masih terasa sesak apalagi lagi tadi disana ada farel.Di koridor, aku kembali melihat Nia dan Lala yang ternyata masih menungguku.

“Cepet banget, Al?” tanya Nia begitu melihatku.

Aku mengangguk. “Iya, mungkin lagi nggak mood ngomel.”

" Hhhh awas nanti kedengaran sama pak Reihan, Habil Lo al"

Setelah itu kami bertiga duduk di pojokan sebuah kafe kecil dekat kampus. Tempat itu memang jadi favorit mahasiswa karena suasananya cozy dan harganya masih ramah di kantong.

“Aku pesen es kopi susu ya, kayak biasa,” kata Lala sambil mengacungkan jari.

“Kalau aku matcha latte aja,” tambah Nia.

Aku tersenyum lalu memesan untuk kami bertiga. Tak lama kemudian, pesanan datang, dan kami mulai mengobrol.

“Al,” Nia membuka percakapan sambil menatapku penuh selidik, “aku tuh masih penasaran sama kamu. Akhir-akhir ini kamu sering banget ngilang. Susah dihubungi, kalau diajak ketemu alasannya banyak. Jujur deh, sebenarnya kamu lagi sibuk apa?”

Aku terdiam sejenak. “Aku beneran lagi sibuk skripsi, Ni. Kan kalian tau juga sekarang aku lagi dirumah bukan di kost"

“Hmm…” Lala menyipitkan matanya curiga. “Tapi tetep aja, kayak ada yang kamu sembunyiin dari kita. Kamu tuh biasanya kalau ada masalah cerita ke kita. Nah, sekarang beda banget."

" Serius deh aku ngga papa" jujur saja semenjak tinggal dirumahnya Reihan aku jarang buka media sosial atau sekedar nongkrong di luar.

"Tapi Al soal perjodohan Lo waktu itu, perasaan Lo ngga pernah bahas lagi deh, atau Lo udah....." Tanya Nia sambil memicingkan matanya ke arahku.

Skakmat. Bisa bisanya aku lupa soal itu. Tapi ngga juga aku jujur kalo sudah menikah dengan Reihan.

Dengan susah payah kau menelan ludahku.

"Emm itu, mama udah ngga masalahin itu, iya mama juga udah tidak pernah bahas itu lagi."

Ucapku dengan deg-degan, semoga mereka percaya.

" Ohh kirain kamu udah terima perjodohan itu"

Aku tersenyum kecil, meski di dalam hati rasanya perih. Kalau kalian tahu yang sebenarnya, apakah kalian masih akan mendukungku?

Lala menatapku penuh arti. “Kalau suatu hari kamu butuh cerita, jangan sungkan. Kita berdua selalu ada buat kamu. Nggak usah dipendam sendiri.”

.

.

Saat aku sedang menunduk, mengaduk es lemon tea yang sudah setengah cair, entah kenapa aku merasa ada yang memperhatikan. Aku mengangkat kepala, dan dari jendela kafe aku melihat sosok yang sangat familiar.

Reihan.

Dia berdiri di dekat mobil hitamnya, pandangannya lurus menembus kaca jendela kafe. Matanya jelas-jelas tertuju padaku.

Aku langsung tersentak, buru-buru menunduk.

'Tuh orang kok ada dimana-mana sih, apa dia penguntit'

“Ly, kamu kenapa?” tanya Lala heran.

Aku menggelengkan kepala“Nggak… aku nggak apa-apa. Kok"

“Eh, ngomong-ngomong…gua hampir lupa” Nia mencondongkan tubuhnya ke depan. “Semalam itu loh, kamu pulang bareng Pak Reihan kan?”

"Nah iya Lo belum cerita sama kita"

Aku langsung terbatuk kecil. Tanganku buru-buru meraih gelas lemon tea untuk menutupi gugupku. “Hah? Iya sih, kebetulan aja. Soalnya kan searah.”

“Kebetulan?” Lala mengangkat alisnya.

“Kebetulan atau udah janjian?”

Aku menahan napas sejenak, mencoba tersenyum santai. “Nggak lah. Mana mungkin aku janjian sama dospem. Aku aja takut kalau ketemu di luar kampus.”

Nia melipat tangannya di dada, ekspresi wajahnya jelas tidak percaya. “Hmm… tapi aku nggak yakin, Al. Dari dulu aku perhatiin deh, kamu tuh kalau ngomongin Pak Reihan suka kelihatan aneh. Entah gugup, entah salah tingkah.”

Aku menelan ludah, berusaha mengendalikan ekspresi wajahku. “Itu cuma perasaan kamu aja, Nia. Lagian beliau kan dosen, wajar kalau aku agak tegang.”

Lala ikut nimbrung. “Tapi jujur aja, Al. Kalau misalnya kamu beneran deket sama beliau, nggak usah malu. Kita kan sahabat, apa pun cerita kamu pasti kita dukung.”

Aku menghela napas panjang. Rasanya sulit sekali menjaga rahasia ini di hadapan mereka berdua. Kalau aku terus mengelak, mereka pasti semakin curiga. Tapi kalau aku jujur… bisa gawat.

“Udahlah, nggak ada apa-apa,” jawabku akhirnya. “Aku sama Pak Reihan itu cuma hubungan dosen dan mahasiswa. Nggak lebih.”

1
Nurhikma Arzam
semangat thor next nya. 😁
Nurhikma Arzam
saran aja ini, please thor aku agak bingung povnya yg awalnya sudut pandang orang ketiga jadi sudut pandang orang pertama. kalau bisa kasih peringatan untuk peralihan pov ha
Erwinda: ihh makasih banget kak sarannya 🥰
total 1 replies
Nurhikma Arzam
awas jatuh cinta Al
Nurhikma Arzam
bagus semangat thor semoga kamu bisa menyelesaikan tulisan ini dan jadi penulis yang keren kelak. jangan menyerah
Nurhikma Arzam
Farel calon calon sad boy haha
Nurhikma Arzam
roman-romannya Reihan ini naksir duluan keknya sama Alya hmm
Nurhikma Arzam
semangat, saran aja ya kak ujung percakapannya jangan lupa pakai tanda titik biar lebih enak di baca☺
Nurhikma Arzam
Halo thor semangat upnya ya. jangan lupa mampir di cerita aku juga 😁
Pandaherooes
Ceritanya seru banget, semangat terus thor!
Gấu bông
Gila seru abis!
Arisu75
Alur ceritanya keren banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!