Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Ketegangan
Wanqing akhirnya selesai mandi dan berganti pakaian yang lebih santai dan sopan, ia masih menunggu salah satu ajudan yang memang ditunjuk untuk menemaninya pergi ke gudang. Tak berselang lama, suara pintu diketuk mengejutkannya.
Wanqing membuka pintu itu dan menatap serius pria tinggi besar di hadapannya. Pria itu tersenyum lebar dengan lesung pipi di kedua sisi pipinya dan mata yang sangat indah. Wanqing tidak tahu apa yang membuat pria ini terasa unik, tapi tampaknya pria ini bukan orang keturunan asli Tiongkok.
"Selamat siang Nyonya Lu! Saya Ajudan utusan Jenderal yang akan menemani Nyonya untuk mengambil beberapa bahan makanan dari gudang. Panggil saja Ajudan Han."
Wanqing mengangguk. Ia lalu mempersilahkan ajudan Han masuk selagi dirinya mempersiapkan beberapa keranjang belanjaan. Setelah keranjang itu didapatkan Wanqing mulai berjalan bersama Ajudan Han menuju gudang penyimpanan makanan.
Di sepanjang perjalanan Ajudan Han dengan sabar menjelaskan bagian-bagian yang ada di komplek militer ini. Ajudan Han juga menjelaskan arti bunyi sirine sambil mempraktikkan beberapa bunyinya yang membuat Wanqing tersenyum senang. "Ajudan Han ini orang yang sangat humoris ya." Puji Wanqing sembari terus berjalan.
Ajudan Han tersipu malu namun tetap berusaha menutupinya dengan mengalihkan topik pembicaraan. Mereka pun akhirnya tiba di depan gudang penyimpanan persediaan makanan dan ajudan Han mulai melakukan beberapa registrasi.
"Jadi nanti Nyonya Lu hanya perlu mengisi nama dan tanggal serta jam kedatangan di sini ya?" Ujar Ajudan Han.
Wanqing mengangguk tanda mengerti, mereka pun masuk ke dalam gudang yang sedari tadi sudah ketat dijaga oleh beberapa prajurit. "Nah, silahkan Nyonya dengan leluasa mencari bahan yang dibutuhkan."
Wanqing mulai menelusuri satu demi satu rak yang berisikan full bahan makanan yang sangat lengkap. Wanqing perlahan memasukkan bumbu-bumbu, daging, beras, minyak, dan masih banyak keperluan untuk dua hari. Ajudan Han dengan sangat senang hati membantunya membawakan keranjang belanjaan sampai akhirnya mereka tiba di bagian peralatan dapur.
"Nyonya Lu hati-hati sebentar, Saya izin meletakkan keranjang ini di depan supaya bisa mengambil troli untuk membawa semua keranjang ini kembali nanti."
Wanqing mengangguk mengerti dan mulai memilih beberapa peralatan termasuk talenan, baskom, nampan dari yang kotor sampai nampan yang terlihat bagus dan antik. Masih di peralatan itu, Wanqing melihat pisau yang indah tertumpuk di beberapa tumpukan pisau dapur besar. Ia perlahan-lahan berusaha memisahkan pisau-pisau itu dan menarik pisau yang ia inginkan.
SLASH
Tanpa sengaja ia melukai kulit punggung tangannya dengan pisau yang ada di sana. Perih dan sakit itu Wanqing tahan karena ia tidak ingin membuat kegaduhan, dengan sigap ia tekan pendarahannya dengan tangannya yang satunya lagi.
Ajudan Han yang nampaknya sempat melihat itu berlari mendekati Wanqing dan merobek bagian perut dari kaos di dalam pakaian seragam militernya untuk diikatkan pada tangan Wanqing agar pendarahannya berhenti sebentar.
Wanqing yang melihat itu berkata, "Terima kasih, nanti bisa Aku perbaiki di rumah. Ada beberapa kotak P3K juga."
Ajudan Han menggeleng, "Sepertinya ini luka yang cukup dalam Nyonya Lu, sebaiknya di jahit, Ayo."
Wanqing menggeleng lagi, "Tidak perlu Ajudan Han."
Lagi-lagi karena Wanqing menolak, Ajudan Han menggeleng, dengan cepat ia menggendong Wanqing dan membawanya berlarian menuju barak pengobatan. Beberapa tentara yang sedang bertugas mengamati kepergian mereka berdua dengan mata membelalak dan kaget.
Luka Wanqing ternyata hanya perlu di obati dan diperban saja, seperti apa yang Wanqing bilang, namun Ajudan Han baru lega ketika mendengar itu dari dokter militer langsung. Ajudan Han mengantar Wanqing kembali ke rumah dinas dan kembali untuk mengantarkan beberapa keranjang tadi untuk Wanqing.
Setelah merasa cukup istirahat, dengan tangannya yang masih mengeluarkan luka, Wanqing memaksakan dirinya untuk memasak seadanya, karena ia tahu Suaminya belum makan sarapan maupun makan siang, sementara ini sudah hampir masuk waktu sore hari.
Memasak adalah keterampilan yang selalu paling ia sukai, bukan karena hobby atau kesenangannya pada makanan, tapi karena dengan memasak ia bisa terjauhkan dari keluarga atau realita kehidupannya yang menyakitkan. Wanqing ingat sering diajarkan beberapa resep rahasia koki koki keluarganya dan diberikan banyak tips dari beberapa pelayan lainnya. Menurut dirinya, dapur adalah tempat yang hangat untuk hatinya.
Masakannya akhirnya selesai juga, ia dengan senang hati menghiasnya di atas meja makan dan membawakan beberapa porsi sebagai bekal untuk Jenderal Lu dan Ajudan Han. Wanqing pun bersiap pergi ke kantor Jenderal Lu.
Baru saja menutup pintu rumah dinas, Wanqing dikejutkan dengan kehadiran mobil dari kediaman Jenderal Lu dan supir yang ia kenal. "Nyonya Muda!!" Supir itu melambaikan tangannya.
Wanqing bergegas menghampiri dan membuka pagar lebar. "Ayo masuk."
Ternyata paket barang menjahit dan seluruh keperluan kain yang Ibu Mei titipkan untuk dibuat pakaian couple bagi dirinya dan suaminya telah tiba. Wanqing meminta bantuan supir untuk menyusunnya sementara dirinya harus pergi mengantar bekal dulu.
"Tuan nanti kalau lapar makanlah, ada makanan di atas meja makan, makan lah sampai kenyang okay??"
Supir itu tersenyum mengangguk, "Tenang saja Nyonya Lu."
Wanqing melambaikan tangannya dan berjalan pergi. Berjalan sore itu, Wanqing bisa melihat aktivitas para tentara yang perlahan berubah. Ia tidak tahu apa maksud Ajudan Han yang bilang kalau mereka masih siaga di perbatasan karena wilayah Fuzhou belum juga berhasil ditaklukan akibat bandit serta beberapa panglima masih memiliki banyak dukungan dari penduduk setempat.
Wanqing tidak pernah diajari apapun mengenai apa yang sedang dialami negerinya ini, tapi yang Wanqing tau, saat ini semua orang sedang terus mempertahankan apa yang menurutnya paling benar.
Wanqing akhirnya tiba di depan kantor itu dan mengisi formulir administrasi kunjungan. Wanqing menatap kertas itu lama, Bai Yueran? Untuk apa wanita itu mengunjungi Jenderal tepat sebelum dirinya?
"Nyonya silahkan sebelah sini." Seorang ajudan lainnya mengarahkan Wanqing untuk duduk di depan pintu ruangan Jenderal sambil menunggu.
"Jenderal masih ada tamu, Ajudan Han juga sedang di dalam menemani Jenderal, jadi mohon bersabar Nyonya, jika perlu sesuatu silahkan bilang."
Wanqing mengangguk tanda mengerti dan mengucapkan terima kasih dengan senyuman pada tentara itu. Ia menunggu sampai lebih dari 30 menit baru pintu itu terbuka lebar. Wanqing masih terduduk ketika Bai Yueran menoleh dan menatap dirinya yang datang membawakan bekal.
Bai Yueran tersenyum sinis, "Maaf membuat Nyonya Muda Lu menunggu lama.. Tapi, ketika kekasih lama datang, siapa yang bisa tahan sebentar saja berbincang dengannya kan?" Ujarnya sinis.
Wanqing bangun dari tempat duduknya dan sambil berjalan berkata, "Semut kecil ada dimana saja." Lalu menutup pintu kantor Jenderal dengan kasar.
Ajudan Han dan Jenderal Lu menoleh secara bersamaan dengan kedatangan Wanqing. Ia lalu berjalan cepat dan meletakkan dua kotak bekal di atas meja dengan kasar.
"Makanan." Ujarnya singkat lalu duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Jenderal Lu.
Melipat kedua tangannya, Wanqing berkata, "Bai Yueran ke sini mau apa?" Tanyanya spontan.
Ajudan Han yang mendengar itu terlihat terkejut namun berusaha menghilangkan ekspresinya dan membukakan kotak makanan bawaan Wanqing.
"Urusan militer." Jawab Jingyuan datar.
Wanqing mengangguk. Ia menarik lengan Ajudan Han dan berkata, "Ayo temani ke perpustakaan, biar dia makan sendiri." Ujarnya sambil berjalan pergi, masih dengan tangannya yang menggenggam ajudan Han.
Pria itu memandang kesal pemandangan tadi, entah kenapa rasanya ia tidak suka dengan kedekatan Wanqing istrinya dengan ajudannya sendiri, yang bahkan memang ia tugaskan untuk menjaga dan mengawasinya.
*BERSAMBUNG*
Seperti biasa ya pembacaku semua, jangan lupa like, komen, vote, dan subscribe luvvv!!