Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tukang Rayu
"Bukankah buah ini hanya beracun untuk manusia biasa? manusia setengah binatang bisa memakannya, bukan?"
Ruu mengangguk. "Memang. Tapi rasanya tidak terlalu enak. Mengapa kamu bertanya ini?"
"Bisakah Bai Muzhi memakannya?"
"... Entahlah. Aku tidak pernah melihat dia memakan buah ini."
Ruu hanya pernah mencoba memakannya dan dia baik-baik saja. Jadi dia pikir, manusia setengah binatang juga bisa memakannya.
Benar, benar begitu. Dia saja kelinci spiritual bisa memakannya dan tetap baik-baik saja. Maka manusia setengah binatang juga pasti baik-baik saja.
Setelah memetik beberapa buah merah, keduanya melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya, ia melihat seseorang duduk santai di batang pohon yang sudah tumbang di dekat aliran sungai kecil.
"Hmm ... Gadis manusia, takdir mempertemukan kita. Pasti kita berjodoh, bukan?"
Li Yunru terkejut saat melihat seorang pria berambut merah sepinggang dan memiliki sepasang telinga rubah merah yang mencolok. Yang lebih mengejutkannya lagi, beberapa ekor rubah besar bergoyang manja di belakang tubuhnya.
Satu, dua, tiga, ... lima, ... sembilan ekor! Jelmaan rubah ekor sembilan?
Ruu mengernyit sambil menatap pria itu. Wajahnya terlihat seperti sedang mengingat sesuatu, tetapi otak kelincinya bergerak terlalu lambat.
Pria itu memelintir beberapa helai rambut merahnya dengan senyum lembut, namun tatapannya penuh dengan godaan besar.
"Gadis, apakah aku tampan?"
"...."
Pria narsistik lainnya, batin Li Yunru tiba-tiba merasa sebal. Mengapa dia merasa dejavu? Ia teringat dengan Hei Sanfeng.
Pria itu memakai hanfu putih mahal dengan jubah merah berpola rubah. Pinggangnya diikat dengan sabuk yang terlihat cocok dengan gayanya. Melihat bahwa Li Yunru memperhatikannya dengan saksama, dia semakin yakin gadis manusia itu terpikat olehnya.
Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan santai ke arah Li Yunru. Ia sedikit membungkuk dan menyentuh dagu Li Yunru dengan senyum rayuannya yang mematikan.
"Cantik, siapa namamu? Namaku Hong Maxing."
Iris mata merahnya itu menatap Li Yunru penuh arti. Namun ia terkejut karena gadis di depannya ini memiliki aura spiritual ras peri hutan. Tapi, bagaimana mungkin gadis ini mampu mengalahkan Xu Jiangyue?
"... Namaku Li Yunru."
Li Yunru tidak memperhatikan bahwa pria tampan jelmaan rubah merah itu sedang menggodanya. Ia hanya tertarik dengan ekor besar yang bergoyang-goyang di belakangnya, lalu berpikir keras.
Jika ekor rubah ini dijadikan kerah jubah, pasti sangat cantik, batinnya.
Ruu mencari ingatan tentang pria bernama Hong Maxing ini. "Hong Maxing?" gumamnya.
Mengapa ia merasa familiar dengan namanya?
"Si cantik Yunyun," kata Hong Maxing seraya meraih pinggangnya. "Bagaimana jika kita menjadi lebih dekat lagi?"
Li Yunru memperhatikannya sejenak dan ekspresinya sedikit canggung. "Mmm ... itu, aku punya permintaan kecil lebih dulu."
"Oh, ya? Tentu saja, cantik. Apa yang kamu inginkan?" Suara Hong Maxing sengaja dibuat menjadi lebih merdu.
Wajah Li Yunru memerah, bukan karena malu oleh rayuannya, melainkan karena menahan kegembiraan saat melihat ekor besar yang tampak sangat lembut itu. Keranjang bambu di tangannya jatuh ke tanah, namun untungnya isinya tidak berserakan.
"Itu ... bisakah aku menyentuh ekormu? Aku ... aku suka ekormu."
Melihatnya yang tampak malu-malu di pelukannya, Hong Maxing merasakan perasaan tak terkalahkan di hatinya.
Humph! Siapa itu, naga putih yang sakit! Wanitanya sendiri bahkan jatuh hati padaku! pikirnya sombong.
"Tentu saja, cantik. Sentuhlah, aku yakin kamu pasti akan menyukainya. Selama kamu menjadi milikku, aku pastikan kamu bisa menyentuh ekorku kapan pun dan di mana pun."
Hong Maxing menggerakkan salah satu ekornya ke arah Li Yunru untuk disentuh. Ekor itu tampak halus, tebal, dan berkilau di bawah sinar matahari, seolah benar-benar memikat perhatian siapa pun yang melihatnya.
Jantung Li Yunru berdetak kencang saat ekor itu berada tepat di depan matanya. Ia mengulurkan tangan dengan hati-hati dan sedikit gemetar. Namun kemudian ia memegang ekornya itu sekuat tenaga dan menariknya dengan kuat.
Hong Maxing terkejut dan tidak siap dengan perlakuan tiba-tiba Li Yunru. Ia terhuyung ke samping dan merasakan sakit di salah satu ekornya. Tatapan gadis yang semula tampak malu-malu itu kini berubah tajam.
"Dasar rubah genit! Kamu pikir aku akan termakan rayuan murahanmu itu? Ternyata semua rubah sama saja, tukang rayu!! Beri aku ekormu sebagai kompensasi!" teriaknya.
"Kamu!"
Hong Maxing merasakan kesemutan hingga ke tulang ekornya. Meski ekornya terbentuk dari energi spiritual saat ia berwujud manusia, tetap saja rasa sakitnya nyata dan menusuk.
Senyum Hong Maxing perlahan menghilang dan segera menunjukkan ekspresi dingin. Untuk pertama kalinya keduanya bertemu, matanya menunjukkan niat membunuh. Dia segera menggunakan ekornya yang lain untuk menusuk Li Yunru sampai mati.
Beraninya manusia ini menipunya—mati!
Li Yunru siap untuk menghindari serangan ekor rubah merah itu.
Tetapi tubuh Hong Maxing tiba-tiba bergetar. Energi spiritual di dalam tubuhnya kacau seolah ditekan sesuatu. Ia segera mengubah tubuhnya menjadi rubah merah ukuran normal. Karena Li Yunru mencengkeram salah satu ekornya, tubuh rubah itu menggantung di udara.
"Apa? Sekarang kamu gagal untuk membunuhku dan mau langsung kabur?! Tidak mungkin! Aku pasti akan mencabut ekormu dulu sebelum melepaskanmu, dasar pejantan genit!"
"Manusia, jangan fitnah! Lepaskan aku! Beraninya kamu menginginkan ekor rubah raja ini? Orang itu bahkan belum lahir!" Rubah merah jelmaan Hong Maxing menggeram padanya, taringnya terlihat tajam.
"Bukankah sekarang sudah lahir? Akulah orang itu! Sialan!" Li Yunru memikirkan cara untuk bisa memutuskan salah satu ekor cantiknya.
Setelah sekian lama, Ruu yang mengingat jelas siapa Hong Maxing, akhirnya berteriak dan panik. "Tuan, aku ingat! Dia adalah raja rubah merah dari Istana Laifu di wilayah Hongbo bagian barat! Dia itu rubah durjana dan perayu para wanita. Jangan sampai dia merayumu!"
"Telat!" Li Yunru melotot pada kelinci gemuk itu. "Dia sudah merayuku tadi!"
"...."
Eh, benarkah? Mengapa aku tidak lihat? pikir si kelinci yang sebelumnya sibuk dengan pikirannya sendiri.
Hong Maxing entah mengapa pikirannya tiba-tiba kosong. Seakan-akan ia tidak bisa melawan balik Li Yunru sama sekali.
Mengapa aku tiba-tiba berubah menjadi rubah? Bukan ini maksudnya!
"Manusia, lepaskan aku atau aku akan membunuhmu!" ancamnya.
"Bunuh saja jika mampu! Kamu bahkan hanya seekor rubah. Aku akan menguliti bulumu dulu sebelum kamu membunuhku!"
Li Yunru melemparkan rubah merah itu ke salah satu pohon terdekat.
Jelmaan rubah Hong Maxing merasa kesempatannya telah tiba. Mata rubahnya menyipit. Sebelum ia menghantam batang pohon, tubuhnya menyesuaikan diri dan segera berbalik untuk menyerang Li Yunru dengan ekornya.
Sayangnya Li Yunru sudah siap. Ia langsung mengepalkan tangan kanan dan bersiap untuk meninjunya.
"Humph! Kamu pikir tangan kecilmu mampu menahan serangan ekor besiku? Mimpi!"
Hong Maxing dipenuhi amarah dan tanpa ragu untuk membunuhnya. Ia menggunakan ekornya sebagai tameng sekaligus tombak.
Namun di detik-detik terakhir, Li Yunru tidak jadi meninjunya. Ia justru mengangkat salah satu kaki dan menggunakan gerakan bela diri yang diingatnya. Dia langsung melancarkan tendangan samping hingga rubah merah itu menghantam batang kayu tumbang dengan keras.
Inilah gerakan dan cara untuk menipu lawan hingga membuatnya lengah.
Wajah rubah merah langsung mencium batang kayu, dan tubuhnya seketika terkapar tak sadarkan diri dengan lidah menjulur ke samping mulutnya yang terbuka.
"Apakah dia mati?" Li Yunru bergumam pelan, sedikit terengah setelah pertarungan singkat itu.
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih