Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.
Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.
Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.
Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C013: Arthur Lesson, Sahabat Masa Kecil
...Selamat Baca...
"Ethan...." gumam Arthur pelan melihat sosok pemuda di depannya itu.
Ethan menatap pemuda di depannya, dengan kerutan bingung. Dia pun duduk tegak, bersikap layaknya profesional. "Siapa?"
"Arthur Lesson, sahabatmu." Jawab pemuda itu, ekpresi Ethan sedikit terkejut, tapi langsung kembali ke ekpresi sebelumnya.
'Arthur Lesson? Arthur yang menelponku tadi?' Batin Ethan, pemuda itu mendekat, menatap Ethan dengan penuh selidik.
"Apakah kau ada masalah? Mengapa tidak kenal aku? Apa yang terjadi?" Tanyanya beruntun, membuat Ethan linglung sejenak, dia pikir pemuda di depannya ini adalah orang dingin yang sulit di dekati.
Tapi tak Ethan sangka, orang bernama Arthur ini cukup cerewet. Dan banyak pertanyaan yang di tanyakan sekaligus dari pada satu satu pertanyaan.
"Jawab Ethan! Apakah ada masalah?" Tanya Arthur, memegang bahu Ethan dengan ekpresi khawatir yang sangat jelas.
"..... Paman..." gumam Ethan, Arthur langsung merubah wajahnya dengan merah, karena sangat benci jika membahas paman Ethan.
Arthur tahu, bahkan lebih tahu seperti apa struktur dan masa lalu Ethan, karena dia adalah sosok yang tumbuh bersama Ethan. Arthur tahu tabiat pamannya Ethan seperti apa.
"Aku tahu tentang pamanmu, aku dengar dia di penjara olehmu karena tindakan curang. Jadi sekarang katakan padaku mengapa kau tidak mengenaliku? Apa yang terjadi? Ada masalah apa?" Arthur bertanya ulang, awalnya Ethan ragu tapi melihat ketulusan sahabat Ethan 'Asli' mau tak mau Ethan harus menjawab.
"Aku overdosis obat tidur, dan ingatanku sedikit kacau maaf jika tak mengenalimu...." kata Ethan pelan, dengan ekpresi tenang.
"Lalu ada masalah apa dan apa yang terjadi?" Arthur terus mengulang pertanyaan itu karena khawatir pada sahabatnya, Ethan tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa, hanya masalah kecil. Dana perusahaan habis karena dibuat korupsi oleh paman."
"Dana darurat tersisa 2,5 juta Aurelia, Dana kompensasi dari paman karena tidak merawatku dengan benar 775 juta Aurelia."
"Tapi aku masih kekurangan Dana, waktu debut grup masih 1 tahun lagi, para karyawan baru yang akan di rekrut gajinya harus di persiapkan, Mentor, staf, dan lainnya uang 775 juta belum cukup."
"Aku harus mencari cara untuk mendapatkannya, sewa apartemen juga belum benar benar di bayar, uang akhir dari renovasi juga belum di bayar.... aku benar benar bingung..." gumam Ethan, Arthur terus mendengarkan tentang masalah dana perusahaan yang belum cukup untuk para trainee dan pekerja lainnya.
Arthur tersenyum, lalu menepuk bahu Ethan. "Bagaimana bayar dulu yang belum terbayar, lalu cari sponsor. Aku bisa rekomendasikan kamu pada brand brand perusahaan besar jika kamu mau."
"Selain itu, aku ada investasi pada acara Variety Show, Shine the Star 150 Members. Acara ajang pencarian bakat untuk Boy grup, kamu bisa ikut investasi mulai dari 20 juta Aurelia, dan memasukan salah satu traineemu."
"Selain itu, aku juga akan mencoba berinvestasi ke perusahaanmu." Kata Arthur dengan senyum lebar, Ethan membelalakan mata.
"Investasi? Ke perusahaanku?" Tanyanya, Arthur mengangguk membenarkan ucapannya.
"Berapa?" Kata Ethan curiga, Arthur hanya tersenyum kecil, lalu mentransfer uang sebesar 3 miliar Aurelia lewat dana perusahaan, Ethan memeriksanya membuat ekpresi terkejut yang konyol, matanya membelalak, mulutnya terbuka dengan ekpresi tak percaya.
Ethan terdiam cukup lama dan memikirkan, perusahaannya memang merosot banyak. "20% saham cukup?" Lanjut Ethan, menolak jika lebih dari itu, Arthur hanya terkekeh saja dan mengiyakan.
"Oke..." kata Ethan tersenyum, menerima bantuan itu, akhirnya ia tak terlalu pusing mikirin dana perusahaan lagi.
"Ngomong ngomong, brand itu dari mana saja?" Tanya Ethan, membawa Arthur duduk ke sofa kecil selain, sofa tempatnya tidur.
Arthur bersandar santai, lalu mulai menjelaskan dengan percaya diri. "Banyak, mulai dari brand pakaian jalanan, kosmetik pria, hingga peralatan elektronik."
"Aku punya koneksi baik dengan direktur utama Luxuria Wear dan Gadget Hub. Mereka sedang mencari wajah baru untuk iklan musim ini."
"Kalau traineemu punya bakat dan visual yang oke, tidak mustahil mereka akan langsung tertarik untuk memberikan kontrak sponsor besar."
"Bahkan bisa sampai endorsement deal yang nilainya fantastis," tambah Arthur sambil menatap Ethan.
"Jadi, gimana? Mau aku hubungi mereka minggu depan buat jadwal pertemuan?" Tanya Arthur dengan senyum lebar, siap membantu sahabatnya bangkit kembali.
"Boleh, besok juga bisa karena aku perlu banget uangnya, untuk menutupi lubang tanpa dasar dana perusahaan. Oh tentang Shine The Star juga, bisa hubungi direkturnya? Aku akan ikut investasi disana."
"Terima kasih sudah membantuku," kata Ethan tersenyum tipis, dengan rasa terima kasih yang tulus. Arthur tentu saja ikut tersenyum, dan menyemangati Ethan.
"Tidak perlu berterima kasih, aku adalah sahabatmu tentu saja aku harus bantu kamu saat kesulitan." Kata Arthur dengan percaya diri, oleh karena mereka sahabat dari masa kecil.
"Besok aku akan kemari lagi, bisa perkenalkan aku pada para traineemu?" Tanya Arthur, Ethan mengangguk.
"Ya bisa," katanya mereka pun berbincang santai selama beberapa menit lagi, sebelum akhirnya Arthur pulang ke mansionnya sendiri, dan Ethan tetap di kantornya.
Setelah Arthur pergi, Ethan membuka ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo?" Suara seorang dari sebrang telpon terdengar.
"Halo, pak Martinez. Ini saya Ethan Lucifer." Kata Ethan, di sebrang sana sempat terdiam sejenak dan baru ingat seorang bos muda yang menghubunginya untuk renovasi perusahaan.
"Oh Tuan Ethan, ada apa?" Tanya sosok di sebrang sana, sambil meminum kopinya.
"Jadi begini pak. Pembayaran akan saya lakukan besok, tapi bisakah anda bantu lagi untuk renovasi bangunan tua di samping perusahaan saya yang lantainya ada 4 itu?" Tanya Ethan, Pak Martinez terdiam sejenak, lalu menjawab.
"Kami bisa renovasi lagi, tapi akan di mulai minggu depan, dan pembayaran renovasi bisa dilakukan besok untuk pelunasan 50% nya, dan hasil renovasinya yang sudah selesai."
"Kami juga akan mulai evaluasi gedung tua disamping perusahaan anda, tapi jangan lupa hubungi pemilik aslinya untuk di beli." Kata Pak Martinez memperingatkan, Ethan mengiyakannya lalu setelah itu dia selesai membahas perusahaannya.
Besok Ethan juga perlu asisten karena pekerjaannya kedepannya akan banyak, jadi dia menghubungi Arthur yang sudah memberinya nomor telpon para direktur Brand.
>Adakah seorang yang mau menjadi asistenku? Aku akan terlalu sibuk kedepannya, dan memerlukan asisten.<
Pesan Ethan terkirim, lalu dia pergi untuk tidur, menantikan hari esoknya. Untuk membahas brand dan lainnya.
***
Pagi tanggal 07 April, pukul 06.30 WAZ
Lokasi: Perusahaan Lucifer Entertainment
Ethan sudah bangun dan bersiap turun menuju perkumpulan, karena kemarin malam ia menyempatkan diri untuk menghubungi para trainee, dan berkumpul di aula perusahaan.
Saat itu para Trainee sudah hadir, bersama dengan Noah tim kreatif untuk pengeditan video rekaman, Ethan muncul dan memeriksa ponselnya, memastikan Arthur sudah tiba.
Aula utama perusahaan terlihat lebih sunyi dari biasanya. Semua trainee yang hadir berdiri rapi dalam barisan, menahan napas menanti kehadiran sosok penting tersebut.
Ethan berdiri tegak di atas panggung, tatapannya dingin menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya ia menoleh ke samping.
"Seperti yang sudah saya umumkan, hari ini kita memiliki tamu istimewa. Beliau bukan hanya pihak investasi, tetapi juga orang yang sangat dekat dengan saya dan perusahaan ini."
Ethan memberi isyarat tangan. "Silakan, Arthur Lesson."
Pintu terbuka, dan Arthur melangkah masuk dengan aura yang tenang namun memancarkan kewibawaan tinggi.
Ia mengenakan setelan jas yang rapi, senyum tipis terukir di wajahnya saat berjalan menghampiri podium.
"Selamat pagi," sapanya dengan suara yang terdengar jelas hingga ke sudut ruangan.
"Nama saya Arthur Lesson. Mulai hari ini, saya menjabat sebagai Investor Utama dan Pemegang Saham kedua di Lucifer Entertainment, tepat di bawah Tuan Ethan."
Suasana hening sejenak saat para trainee mencoba mencerna informasi tersebut. Arthur tidak langsung duduk, melainkan turun dari podium dan mulai berjalan perlahan menyusuri barisan para pemuda di hadapannya.
Matanya tajam, mengamati setiap detail wajah, postur tubuh, dan aura yang dipancarkan oleh masing-masing individu.
Ia berjalan pelan, sesekali berhenti tepat di depan seseorang, menatap lama seolah sedang menilai permata berharga. Ia mencari... wajah-wajah yang memiliki potensi untuk bersinar.
Langkahnya terhenti di hadapan seorang pemuda bernama Felix Nalendra dari seragam latihannya. Arthur menatapnya dari ujung kaki hingga ke wajah.
Garis wajah Felix yang tajam namun tetap terlihat elegan serta gaya yang dimilikinya sangat cocok dengan konsep mewah, meski dulunya dia adalah sosok berkacamata dan berambut panjang seperti perempuan.
'Visual yang sempurna untuk Luxuria Wear...' batin Arthur mencatat nama tersebut dalam ingatannya.
Ia melanjutkan langkah, hingga akhirnya berhenti di hadapan sosok lain yang menarik perhatiannya lebih jauh. Sosok itu adalah Leo Whitmore.
Arthur sedikit menyipitkan matanya. Wajah pemuda ini terasa... berbeda. Sangat berbeda dengan yang lain. Leo memiliki ciri khas yang sangat kuat, jelas terlihat bahwa ia berasal dari Levia.
Tatapan matanya dingin namun memikat, fitur wajahnya tajam dan sempurna layaknya patung marmer buatan tangan seniman terbaik, serta memiliki aura misterius yang kuat.
Wajah asing namun memancarkan karisma yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
'Inikah Leo Whitmore... Ethan berkata dia berasal dari Levia.' Pikir Arthur.
'Wajah ini... sangat unik dan berkelas. Sangat pas untuk mewakili citra modern dan canggih dari Gadget Hub. Penampilannya yang futuristik dan misterius akan menarik banyak perhatian.'
Arthur tersenyum puas, lalu kembali berjalan ke posisi semula di samping Ethan. Ia menatap seluruh trainee dengan pandangan penuh arti.
"Saya melihat potensi besar di mata kalian semua," ucap Arthur pelan namun tegas.
"Ingatlah, di perusahaan ini, wajah dan bakat adalah aset terbesar kalian. Saya sudah menyiapkan banyak peluang kerja sama dengan brand-brand ternama."
"Nantinya, akan ada nama-nama yang saya pilih khusus untuk mewakili produk-produk tersebut."
Ia melirik sekilas ke arah Felix dan Leo sebelum melanjutkan.
"Kerja keraslah. Buktikan bahwa penilaian saya dan Tuan Ethan terhadap kalian tidak salah. Selamat bekerja."
Dengan begitu Arthur pergi bersama Ethan, sebelum pergi Ethan memberikan intruksi untuk lanjut latihan mereka, setelah Ethan meminta mereka melanjutkan latihannya. Keduanya berdiskusi, tentang Shine The Star.
Mereka memerlukan wajah dan kemampuan yang mempuni, tidak hanya dalam visual saja. Ethan memikirkan trainee paling muda, Alfian Vale yang berusia 13 tahun, tapi tinggi 178 cm.
Dia menjelaskan tentang Alfian pada Arthur, faktor genetiknya meski usia 13 tahun. Dan mereka langsung ke pertemuan dengan direktur Shine The Star.