Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 Di depan Ren Dan Sae
Pintu rumah akhirnya benar-benar tertutup di belakang Anjani. Pelan, tapi suaranya terasa seperti sesuatu yang diputus paksa dari hidupnya.
Klik.
Selesai.
Angin pagi langsung menerpa kulitnya. Terasa dingin dan menusuk.
Tanktop tipis yang membungkus tubuhnya sama sekali tidak cukup menahan udara pagi. Legging hitam selutut itu bahkan membuat kakinya terlihat terlalu terbuka untuk seseorang yang baru saja diusir dari rumahnya sendiri.
Anjani memeluk lengannya pelan. Dingin, tapi dinginnya tidak lebih menyakitkan dari tatapan orang-orang saat ini. ART rumah yang berdiri dekat taman mulai berbisik pelan. Pandangan satpam depan rumah ikut berubah bingung. Bahkan dua ibu tetangga yang kebetulan lewat jogging pagi mulai saling melirik kecil.
“Itu Bu Anjani bukan sih…? Kok keluar kayak gitu…? Ya ampun…,” bisikannya lirih.
Dan itu membuat harga diri Anjani terasa benar-benar dihancurkan sampai serpihan terakhir. Perempuan itu terus berjalan tanpa alas kaki. Aspal dingin menusuk telapak kakinya.
Dadanya sesak. Air matanya mulai menggenang lagi, membuat semuanya terlihat kabur. Rumah-rumah mewah, pohon, dan langit pagi.
Kepalanya terasa berat, tapi Anjani tetap berjalan. Ia tidak mungkin berhenti sekarang, takut benar-benar tidak akan bisa berdiri lagi.
Pandangannya menunduk. Membutakan mata, menulikan pendengaran dari lingkungan. Satu langkah, dua langkah, lalu gerak kakinya tiba-tiba terhenti.
Bruk!
Ia menabrak sebuah tubuh tinggi yang berdiri tepat di depannya. Anjani membeku perlahan. Dan saat ia mengangkat wajah--
Deg.
Ren Aksara
Pri itu menatapnya. Sorot mata tajam dan dingin, tapi kali ini berbeda. Tidak seperti biasanya, lebih seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.
Tatapan Ren perlahan turun.
Ke rambut Anjani yang sedikit berantakan, ke mata sembabnya, ke wajah pucat yang terlihat seperti kehilangan darah, lalu ke tubuh perempuan itu yang hanya terbungkus tanktop tipis polos. Tulang bahunya terlihat jelas. Kulit putih bersihnya terbuka disambar udara pagi.
Dan untuk pertama kali, Ren benar-benar tampak marah. Bukan marah meledak. Justru jenis marah paling menyeramkan, yang terlalu dingin sampai rahangnya mengeras diam-diam.
Tatapannya turun lagi ke kaki Anjani.
Tanpa sandal, tanpa apa pun. Lelaki itu diam beberapa detik. Namun diamnya terasa berat sekali.
“Ini cara mereka ngelepas orang dari rumah?” Suara Ren dingin, datar. Tidak terdengar kasihan.
Anjani buru-buru menghapus air matanya kecil. “Aku nggak apa-apa.”
Ren masih menatap wanita itu, lebih lama. Tatapan lelaki itu seperti ingin mengatakan 'Kalau ini namanya baik-baik saja, berarti dunia memang sudah gila.'
Namun tentu saja Ren tidak mengatakan itu karena dia Ren Aksara. Lelaki itu hanya menghela napas pendek kasar. Tanpa banyak bicara ia melepas jaket mahal miliknya, lalu menutupi tubuh Anjani.
Hangat langsung menyelimuti pundaknya. Aroma maskulin samar memenuhi inderanya. Anjani membeku.
“Pakai.” Hanya satu kata, pendek, datar, namun sukses membuat dada Anjani terasa makin sesak.
“Pak Ren, saya--”
“Kamu mau sakit?”
Pandangan Anjani menurun sedikit, lalu bergumam lirih. "Aku nggak apa-apa." Kalimat itu terucap lagi. Entah mengapa saat ini hanya itu yang mampu lolos dari bibir.
“Keras kepala," sela Ren pedas. Tapi anehnya, lebih terasa seperti dimarahi karena dikhawatirkan.
Dan itu terlalu asing bagi Anjani sekarang. Tangannya perlahan menggenggam ujung jaket tersebut.
Sangat hangat, seakan seseorang baru saja menutupi sisa harga dirinya yang tadi dilucuti habis-habisan.
Tidak lama kemudian, pintu mobil belakang terbuka cepat. Sae turun dengan wajah datarnya. Namun langkah kecilnya langsung menuju Anjani tanpa ragu.
“Tante.”
Anjani menoleh. Dan sebelum perempuan itu sempat bicara, anak kecil itu langsung memeluk kakinya. Hanya sebuah pelukannya kecil, tidak berisik, dan tidak manja. Namun tulusnya begitu terasa.
Sae mendongak pelan. Tatapan matanya tetap tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu di sana. Khawatir.
“Kenapa Tante keluar rumah kayak orang hilang?”
Deg.
Kalimat polos yang meluncur dari bibir mungilnya berhasil menghancurkan pertahanan terakhir Anjani. Seketika napasnya tersendat. Dadanya naik turun. Dan tanpa bisa ditahan lagi, air matanya pecah. Benar-benar pecah. Bukan tangisan pelan, melainkan tangis seseorang yang terlalu lama menahan dirinya tetap kuat.
Setenang apapun Anjani dia tetap seorang manusia yang terlahir dengan fitrah wanita. Ingin dihargai, diperlakukan lembut, dan dilindungi.
Anjani menangis sampai menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahu kecilnya bergetar hebat. Suara tangisnya pecah di pagi yang dingin itu.
Dan ironisnya, bukan di depan suami yang pernah dicintainya mati-matian.
Bukan di depan anak yang dilahirkannya. Melainkan di depan dua orang asing yang baru dikenalnya semalam.
Sementara di rumah Satriya, suasana ruangan mendadak terasa asing setelah Anjani pergi. Biasanya pagi-pagi seperti ini ramai dengan suara sendok beradu dan suara cerewet mengingatkan Bella makan pelan-pelan. Biasanya aroma masakan sehat juga menguar bahkan sebelum mereka bangun tidur. Namun, sekarang yang tersisa hanya mi instan, nugget, dan rasa sesak aneh yang mulai mengganggu dada Satriya.
Lelaki itu berdiri diam di dekat meja marmer. Tatapannya jatuh pada benda-benda milik Anjani yang masih tertinggal di sana. Kalung perak, cincin kecil, jam murah, cardigan lama, sandal tipis. Entah kenapa, semuanya terlihat menyedihkan sekali sekarang.
Deg.
Tiba-tiba sebuah ingatan muncul begitu saja di kepala Satriya. kenangan tentang Anjani muda duduk di motor butut mereka dulu. Tertawa kecil sambil memeluk pinggangnya erat.
“Nanti kalau kita kaya, aku mau rumah yang dapurnya kena matahari pagi.”
Dulu sesederhana itu mimpi perempuan tersebut. Ingatan lain menyusul.
Anjani begadang menjahit orderan kecil sambil hamil besar demi membantu ekonomi mereka. Anjani diam-diam menjual tas kesayangannya waktu Satriya belum bisa bayar cicilan motor.
Anjani yang selalu bilang "Nggak apa-apa, kita pelan-pelan aja.”
Satriya menghela berat. Dadanya mulai terasa penuh. Namun bukannya mengakui rasa bersalah, emosinya justru berubah menjadi sesuatu yang lebih kacau, frustrasi, kesal, dan tidak nyaman. Karena untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, rumah ini terasa benar-benar kehilangan nyawanya.
Satriya mengusap wajah kasar. Sial. Kenapa jadi begini? batinnya menjerit.
Lelaki itu tiba-tiba melangkah cepat keluar rumah. Entah untuk apa. Bahkan dirinya sendiri tidak sadar. Mungkin ingin memastikan Anjani baik-baik saja. Mungkin ingin memanggilnya kembali pulang. Atau mungkin, egonya hanya belum rela ditinggalkan lebih dulu.
Namun saat Satriya keluar menyusuri jalan, langkahnya langsung membeku. Di ujung jalan, mobil hitam terparkir. Mobil mewah jauh di atas mobil miliknya. Dan di situlah, Satriya melihatnya.
Ren Aksara. Tubuh tinggi lelaki itu berdiri di dekat pintu mobil. Sementara Anjani tampak masuk ke dalam mobil tersebut memakai jaket Ren.
Sesaat kepala Satriya langsung kosong, lalu panas. Emosi yang tadi sempat retak oleh penyesalan kini mendidih jauh lebih liar.
“Anjing…,” umpatnya tertahan. Rahangnya mengeras. Tatapannya langsung tajam menusuk ke arah mobil itu.
Dan di saat bersamaan, pikirannya mulai dipenuhi asumsi paling buruk.
Cepat sekali. Jadi ini alasannya. Pantes berani minta cerai. Pantes sekarang mulai melawan.
Satriya tertawa pendek sinis. Namun tawanya terdengar lebih seperti lelaki yang harga dirinya baru saja diinjak.
“Baru juga keluar rumah udah masuk mobil laki-laki lain.”
Dadanya makin terbakar saat melihat Sae duduk dekat Anjani dengan nyaman. Dan lebih parah lagi, Anjani tidak terkesan menjaga jarak. Seolah perempuan itu memang sudah menemukan tempat baru untuk bersandar.
Satriya mengepalkan tangan kuat-kuat. “Murahan.”
Kalimat itu lolos begitu saja, padahal jauh di dasar hatinya ada sesuatu lain yang sebenarnya sedang ia rasakan.
Cemburu. Dan Satriya membenci itu. Sangat benci. Karena artinya, Anjani masih punya pengaruh sebesar itu terhadap dirinya.
“Mas…” Suara lembut Cintya tiba-tiba muncul dari belakang. Perempuan itu berjalan mendekat perlahan dengan wajah penuh ketenangan seperti biasa. Persis peri baik hati dalam dongeng Cinderela.
Cintya ikut melihat ke arah mobil Ren, lalu napasnya tertahan kecil seolah kaget. “Ya ampun…” Tangan menutup pelan bibir merah meronanya. “Cepat banget ya…”
Satriya menoleh tajam. “Maksud kamu?”
Cintya buru-buru menggeleng kecil. “Nggak… aku cuma nggak nyangka aja.” Suaranya pelan sekali. Terkesan sangat berhati-hati, takut menyakiti siapa pun. Padahal ada niat terselubung lainnya di setiap tutur kata lembutnya
“Semalam Pak Ren juga keliatan perhatian banget sama Kak Anjani…,” lanjut Cintya lirih. “Aku kira cuma kebetulan.”
Satriya mendengus geram diikuti gertakan gigi. Dan Cintya tahu.
Ia tahu tepat bagian mana yang harus disentuh.
“Aku sebenarnya nggak enak ngomong begini…” Tatapannya turun pura-pura ragu. “Tapi perempuan kalau lagi merasa nggak dihargai memang gampang nyaman sama laki-laki yang datang di waktu yang pas…”
Kalimat itu sukses menghantam ego Satriya telak. Semuanya tiba-tiba terasa seperti penghinaan besar untuk dirinya sebagai suami.
Cintya cepat menambahkan lembut. “Tapi mungkin aku salah kok…”
Padahal jelas-jelas tidak. Ia justru sedang menuangkan bensin sedikit demi sedikit ke api yang sudah berkobar.
Dan Satriya, terlalu sibuk terbakar cemburu sampai tidak sadar dirinya sedang dimanipulasi perlahan.
Bersambung~~