NovelToon NovelToon
The Savior

The Savior

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Misteri / Action / Fantasi / Sci-Fi / Horor
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.

Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.

Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.

Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.

Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.

Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi part 2

Tiba-tiba perut Will berbunyi.

Keroncongan itu cukup keras di tengah sunyi kamar. Will menunduk, tangannya menekan perutnya.

"Belum makan tadi siang,"

Dari pagi hanya sarapan bubur hangat di penginapan. Setelah itu panen sampai sore. Tidak ada waktu untuk makan.

"Aku lapar. Mungkin resepsionis penginapan menjual makanan," gumamnya.

Will berdiri dari kasur. Ia merapikan bajunya, lalu membuka pintu kamar.

Lorong penginapan cukup luas. Dua orang bisa berpapasan tanpa menyamping. Lampu minyak di dinding mulai dinyalakan, tanda sore akan beranjak malam.

Will berjalan menuju meja depan.

Di belakang meja, perempuan pemilik penginapan sedang sibuk menulis. Matanya ramah, senyumnya tipis.

"Ada yang bisa kubantu?" tanyanya.

Will mengeluarkan beberapa koin perunggu dari kantong.

"Kak, ada makanan untuk malam ini?"

Perempuan itu mengangguk. "Ada. Nasi dengan lauk sederhana. Dua koin perunggu,"

Will menyerahkan koin itu. Perempuan itu menerimanya, lalu berbalik ke pintu belakang.

"Tunggu sebentar. Aku ambilkan,"

Will berdiri di dekat meja, menunggu. Matanya mengamati sekitar. Beberapa tamu lain duduk di bangku panjang dekat jendela, makan malam sambil berbincang pelan.

Tak lama, perempuan itu kembali dengan sepiring nasi, sepotong ikan goreng, dan sedikit sayuran.

"Ini. Makananmu,"

Will menerimanya. "Terima kasih, Kak,"

Ia mencari meja dan kursi yang cocok.

Rupanya penginapan itu, sekaligus restoran kecil juga. Beberapa meja kayu tersusun rapi di sudut ruangan, masing-masing dengan kursi sederhana.

Will memilih meja dekat jendela. Ia duduk, meletakkan piring di depannya, lalu mulai makan.

Sambil mengunyah, pikirannya melayang ke hari besok.

"Misi rank B. Hutan timur. Monster,"

"Clara menunggu jam 8,"

"Aku harus siap,"

Saat makan, sesosok wanita mencurigakan datang.

Ia membawa keranjang anyaman bambu di tangan kirinya. Sebuah kerudung menutupi kepalanya, hampir seluruh wajahnya tertutup, hanya mulutnya yang terlihat sedikit di sela lipatan kain.

Wanita itu berjalan pelan mendekati meja Will.

Tamu lain yang sedang makan tidak memperhatikan. Resepsionis di meja depan sedang sibuk menulis.

"Hai, nak,"

Suaranya pelan, lembut. Tapi ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Will meremang.

"Aku dengar kau mau menjadi kuat,"

Will menoleh cepat. Matanya menyipit.

"Kau siapa? Dan mau apa?" tanya Will yang curiga.

Wanita itu tidak menjawab pertanyaannya.

Ia hanya menurunkan keranjangnya ke atas meja, lalu memasukkan tangan ke dalam.

"Aku hanya mau memberimu ini,"

Ia mengeluarkan sebuah apel. Tapi apel ini berbeda, warnanya hitam pekat seperti arang, seperti malam tanpa bintang.

Wanita itu meletakkan apel hitam di atas meja, lebih tepatnya di samping piring Will yang masih berisi sisa nasi.

"Itu tergantung pilihanmu. Mau memakannya atau tidak,"

Tanpa menunggu jawaban, wanita itu mengambil keranjangnya, berbalik, dan berjalan pergi.

Will menoleh, mengikuti kemana wanita itu pergi.

Ia berjalan menuju pintu keluar penginapan. Langkahnya ringan. Hampir tanpa suara.

Pintu terbuka. Wanita itu keluar.

Will masih menatap pintu itu beberapa saat setelah tertutup.

Lalu matanya beralih ke apel hitam di atas meja.

Apel itu diam di sana, menunggunya.

Will menghabiskan makanannya perlahan. Sesekali matanya menatap apel hitam itu. Tidak berani menyentuhnya. Tidak berani memindahkannya.

Tapi ia juga tidak bisa meninggalkannya begitu saja.

"Siapa wanita itu?" batinnya.

"Dari mana ia tahu aku mau menjadi kuat?"

"Apel hitam... apa maksudnya?"

Selesai makan, Will mencuci piring dan sendoknya di tempat yang disediakan. Lalu ia kembali ke meja.

Apel hitam masih di sana.

Will mengambilnya. Permukaannya dingin, terlalu dingin untuk apel yang baru saja dikeluarkan dari keranjang.

Ia membawa apel itu ke kamarnya.

Pintu dikunci. Jendela diperiksa. Tirai ditutup rapat.

Will duduk di tepi kasur. Apel hitam diletakkan di sampingnya.

Lalu ia memasukkan tangan ke dalam kantong dan mengeluarkan batu komunikasi.

Batu itu hangat.

"Kak Aisa,"

"Will? Ada apa?"

"Ada yang aneh, Kak,"

"Aneh bagaimana?"

Will menceritakan semuanya. Tentang Wanita berkerudung, keranjang bambu, apel hitam.

"Kau makan apel itu?"

"Belum," jawab Will.

"Baguslah. Aku khawatir terjadi hal buruk padamu,"

"Emang kenapa, Kak?" tanya Will yang penasaran.

"Apa kau tahu, apel itu tercipta dari kekuatan Daimos,"

Will mengerjap. "Daimos?"

"Iya. Makhluk jahat yang suka membuat masalah dan menyesatkan makhluk hidup. Jika kau makan apel itu, mungkin ada efek samping yang buruk,"

Will menghela napas lega. Tangannya tanpa sadar meraba perutnya sendiri, bersyukur tidak ada yang masuk ke dalam sana.

Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Kak, aku tadi fokus melihat wanita itu. Tapi... aku tidak bisa meniru apa pun darinya. Termasuk wujud dan kekuatannya,"

Diam sejenak.

"Aku sudah menduga hal itu. Memang dari dulu Daimos dan Valkyrie tidak bisa ditiru siapa pun,"

Will terdiam. Matanya beralih ke apel hitam yang ada di sampingnya.

"Lalu, apelnya mau diapakan, Kak?"

Diam sejenak.

"Coba kau tiru kekuatan apel itu,"

Will mengerjap. "Meniru kekuatan apel ini?"

"Iya. Apel itu terbuat dari kekuatan Daimos. Meskipun, kau tidak bisa meniru Daimosnya langsung, mungkin kau bisa meniru kekuatan dari sesuatu yang ia ciptakan,"

Will mengangguk pelan. "Hmm... baiklah. Akan kucoba,"

Will meletakkan batu komunikasi di sampingnya. Lalu ia mengambil apel hitam itu, membuka bungkus sapu tangannya, dan meletakkannya di atas meja kecil dekat jendela.

Ia duduk di kursi. Matanya fokus menatap apel itu.

Sama seperti, saat ia fokus melihat Clara bertani.

3 detik kemudian...

Will merasa sudah selesai menirunya. Tapi, ia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada cahaya. Tidak ada getaran. Tidak ada perubahan yang terasa.

"Apa berhasil?" pikirnya ragu.

Will mulai mengambil batu komunikasi dari sampingnya.

"Kak Aisa,"

Batu itu hangat.

"Bagaimana? Kau sudah menirunya?"

"Sudah. Tapi tidak terjadi apa-apa," jawab Will.

"Coba kau periksa tubuhmu. Pelan-pelan,"

Will mulai memeriksa tubuhnya. Dari kaki ke atas. Betis, tidak ada yang aneh. Paha, masih sama. Perut, dada, lengan, masih seperti biasa.

Kemudian tangannya meraba leher, naik ke dagu, ke pipi, hingga ke atas kepalanya.

Ia berhenti.

Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang keras.

Bukan rambut. Bukan kulit.

Ada yang tumbuh di kepalanya.

Will berdiri cepat. Ia berjalan ke cermin kecil yang tergantung di dinding kamar.

"A-ada... ada tanduk di kepalaku,"

Suaranya gemetar. Ia menatap bayangannya sendiri. Sebatang tanduk kecil berwarna hitam pekat tumbuh di sisi kiri kepalanya, seperti tunas yang baru mulai tumbuh.

Tapi itu nyata.

"Bagus itu,"

Will mengerjap. "Bagus? Apa bagusnya itu?"

"Dengan memiliki kekuatannya, kau menjadi salah satu dari manifestasi esensinya," jawab Aisa.

"Aku tidak mengerti," Will bingung.

"Kau tahu, Daimos adalah ras yang hadir sebagai kumpulan hal buruk dari makhluk hidup, yang kau temui tadi hanyalah manifestasi esensinya,"

"Tapi, Kak... aku tidak mau jadi Daimos,"

"Kau tidak sepenuhnya Daimos. Kau hanya meniru kekuatannya. Itu artinya kau bisa menggunakan kekuatan mereka, tanpa kehilangan dirimu sendiri, walaupun ada kekurangannya,"

Will menghela napas. Masih belum sepenuhnya tenang.

Bersambung...​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!