Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Restoran The Obsidian seakan menjadi saksi bisu atas drama yang tak kasatmata namun menyesakkan dada. Aroma daging panggang premium dan anggur merah tahun 2005 yang baru saja dituang Adrian ke gelas masing-masing tidak mampu mencairkan kebekuan di antara mereka. Catherina duduk dengan punggung tegak, jari-jarinya yang gemetar disembunyikan di bawah meja, meremas kain gaun hitamnya yang mahal.
Di sampingnya, Adrian tampak begitu bersemangat. Ia tertawa lebar, sesekali menyentuh lengan Julie—asistennya—dengan dalih memberikan instruksi dokumen. Catherina melihat itu semua. Ia melihat bagaimana tatapan Adrian pada Julie jauh lebih hidup dibandingkan saat Adrian menatap Liam tadi pagi.
"Jadi, Everest," Adrian memulai, suaranya mengandung nada sok akrab yang memuakkan. "Bagaimana rasanya kembali ke sini setelah bertahun-tahun di Eropa? Kudengar kau membangun dinasti baru di sana. Cavanaught Group sekarang menjadi raksasa yang menakutkan."
Everest mengangkat gelasnya, menyesap anggur itu dengan gerakan elegan yang membuat Catherina teringat masa lalu. Dulu, Everest akan meminum soda dari kaleng dengan cara yang sama maskulinnya di pinggir lapangan bola. Kini, pria itu telah menjelma menjadi monster yang dingin.
"Bisnis adalah bisnis, Adrian. Tempat tidak relevan selama ada keuntungan," jawab Everest datar. Matanya tidak sekalipun melirik ke arah Catherina, seolah wanita di depan pria itu hanyalah udara kosong.
"Tentu, tentu," Adrian manggut-manggut. "Aku sangat menghargai kerja sama ini. Apalagi istriku, Catherina, dia juga sangat antusias. Dia bahkan sempat belajar banyak tentang profil perusahaanmu sebelum kita makan malam."
Catherina tersentak. Itu bohong. Adrian bahkan tidak memberitahunya siapa yang akan mereka temui sampai mereka berada di dalam mobil. Adrian sedang bermain peran sebagai suami yang suportif di depan rekan bisnisnya.
"Benarkah?" Stefhanie, adik Everest, menimpali dengan senyum penuh arti. "Cathe memang selalu pintar sejak dulu. Dia mahasiswi terbaik di angkatannya, bukan? Tidak heran jika dia membantumu dalam urusan kantor."
"Begitulah," sahut Adrian singkat, lalu beralih pada Julie. "Julie, tolong tunjukkan skema distribusi yang kita diskusikan tadi sore di mobil."
Kalimat itu—tadi sore di mobil—seperti tamparan bagi Catherina. Tadi sore, ia sedang berjuang sendirian di rumah sakit dengan Liam yang dehidrasi. Sementara suaminya sedang "berdiskusi" di mobil bersama asisten wanitanya.
Julie tersenyum manis, membuka tabletnya dan menunjukkan beberapa grafik pada Everest. Saat Julie membungkuk sedikit untuk memperlihatkan layar, Catherina melihat kilatan di mata Everest. Bukan kilatan ketertarikan pada Julie, melainkan kilatan muak yang dilemparkan pada Adrian.
"Skema ini tidak efisien," potong Everest tiba-tiba. Suaranya yang dingin memotong penjelasan Julie. "Kalian membuang terlalu banyak biaya di sektor pergudangan. Aku ingin skema yang lebih ramping."
Adrian tampak sedikit tersinggung, namun ia segera menutupi wajahnya dengan senyum profesional. "Tentu, kami bisa memperbaikinya. Julie, catat itu."
Di sela-sela perdebatan teknis itu, Stefhanie kembali menoleh pada Catherina. "Cathe, kau terlihat sangat pucat. Apa kau baik-baik saja? Melahirkan dalam satu bulan dan langsung menghadiri acara seperti ini... kau pasti sangat lelah."
Catherina mencoba tersenyum, meski rasanya wajahnya akan retak. "Aku hanya butuh sedikit udara segar, Stef. Terima kasih sudah perhatian."
"Bagaimana dengan bayimu?" tanya Stefhanie lagi, mengabaikan tatapan peringatan dari Everest. "Siapa tadi namanya? Liam? Apa dia sangat mirip dengan Adrian? Biasanya anak laki-laki adalah fotokopi ayahnya."
Keheningan mendadak jatuh di meja itu. Pertanyaan Stefhanie seperti memicu bom waktu yang sejak tadi berdetak.
Catherina merasakan tenggorokannya kering. Ia melirik Adrian. Suaminya itu justru sedang sibuk berbisik dengan Julie, seolah tidak peduli dengan pembicaraan tentang anaknya sendiri.
"Liam... dia punya ciri khasnya sendiri," jawab Catherina dengan suara yang nyaris hilang.
"Aku sangat ingin melihat fotonya," desak Stefhanie. "Kau punya fotonya di ponselmu?"
Catherina ragu. Jika ia menunjukkan foto Liam, Everest pasti akan melihatnya. Dan jika Everest melihat wajah bayi itu—wajah yang merupakan cerminan dirinya sendiri—apa yang akan terjadi?
"Ponselku... habis baterai," bohong Catherina.
"Oh, sayang sekali," ujar Stefhanie.
Tiba-tiba, Everest angkat bicara. "Mungkin karena bayi itu tidak cukup mirip dengan ayahnya, sehingga ibunya malu menunjukkannya."
Kalimat itu dijatuhkan seperti granat. Adrian berhenti bicara dengan Julie. Dia menoleh pada Everest dengan tatapan tajam. Ada ego yang terusik di sana.
"Apa maksudmu, Everest?" tanya Adrian dengan nada rendah yang berbahaya.
Everest menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangannya di dada. Matanya yang dingin kini menatap Adrian secara langsung, lalu beralih sekilas ke arah Catherina—tatapan yang hanya berlangsung sedetik namun sanggup membakar kulit Catherina.
"Hanya pengamatan acak," ujar Everest tenang. "Biasanya orang tua yang bangga akan memamerkan anak mereka tanpa diminta. Tapi kalian... kalian tampak lebih sibuk dengan asisten masing-masing daripada membicarakan pewaris Mettond."
Adrian tertawa, namun tawa itu terdengar dipaksakan. "Kami hanya profesional, Everest. Dan tentang Liam... dia masih terlalu kecil untuk dibilang mirip siapa. Tapi yang jelas, dia adalah masa depan keluarga Mettond."
Catherina merasa mual. Masa depan keluarga Mettond. Kata-kata itu terdengar sangat munafik keluar dari mulut pria yang tadi pagi menyebut Liam sebagai "putramu" dan meragukan keabsahan kehamilannya.
Makan malam berlanjut dengan ketegangan yang merayap di bawah permukaan. Adrian terus-menerus memberikan perhatian berlebih pada Julie, sementara Everest tetap menjadi kutub es yang tak tersentuh.
Satu jam kemudian, Adrian izin meninggalkan meja untuk menjawab telepon penting di lobi yang lebih tenang. Tak lama kemudian, Julie juga izin ke toilet—lagi.
Tersisalah Catherina di antara keluarga Cavanaught.
"Dia tidak berubah ya," gumam Stefhanie pelan, matanya menatap ke arah perginya Adrian. "Masih sombong seperti saat di kampus dulu."
Catherina tidak menjawab. Ia hanya menatap gelas anggurnya yang masih penuh.
"Kenapa kau menikah dengannya, Cathe?"
Pertanyaan itu bukan datang dari Stefhanie. Itu adalah suara Everest. Suara yang dulu selalu membisikkan kata-kata cinta di telinga Catherina, kini terdengar seperti vonis hakim.
Catherina mengangkat wajahnya, menatap Everest. "Itu bukan urusanmu, Everest."
"Tentu saja," Everest tersenyum sinis. "Hanya saja aku penasaran. Apa yang kau cari? Kekayaan? Nama besar? Atau kau hanya mencari seseorang yang cukup bodoh untuk menerima wanita yang sudah rusak sepertimu?"
Plak!
Tanpa sadar, Catherina sudah berdiri, tangannya masih terasa panas setelah mendarat di pipi Everest. Ben, asisten Everest, tersentak kaget. Stefhanie menutup mulutnya dengan tangan.
Everest tidak bergerak. Wajahnya hanya berpaling sedikit karena tamparan itu. Ia perlahan mengembalikan posisinya, menatap Catherina dengan mata yang kini menyala karena amarah yang murni.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang kulalui," desis Catherina, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kau pergi, Everest. Kau meninggalkanku saat aku hancur!"
"Aku pergi karena kau yang mendorongku keluar, Catherina!" balas Everest, suaranya naik satu oktav namun tetap terkendali. "Kau yang memilih untuk membunuh masa depan kita dengan obat-obat itu! Kau yang tidak pernah percaya padaku!"
"Aku melakukannya karena aku takut!" teriak Catherina tertahan, sadar bahwa mereka berada di tempat umum. "Aku takut tidak bisa menjadi apa yang kau butuhkan!"
"Dan sekarang?" Everest menunjuk ke arah pintu tempat Adrian pergi. "Apa ini yang kau butuhkan? Seorang suami yang bahkan tidak bisa membedakan antara asisten dan istri? Seorang pria yang meragukan anaknya sendiri?"
Catherina terdiam. Kata-kata Everest menghujam tepat di ulu hati.
"Kau pikir aku tidak tahu?" Everest merendahkan suaranya, mendekatkan wajahnya ke arah Catherina. "Aku tahu tentang rumor kehamilanmu yang 'terlalu cepat'. Aku tahu Adrian sudah meragukan Liam."
"Liam anak Adrian!" teriak Catherina putus asa.
Everest menatapnya dengan pandangan yang sangat dalam, seolah ingin menembus ke dasar jiwa Catherina. "Jika kau terus membohongi dirimu sendiri, kau akan mati perlahan di rumah itu, Cathe."
Sebelum Catherina sempat menjawab, Adrian kembali ke ruangan dengan wajah ceria yang tidak sinkron dengan suasana di sana. Ia melihat Catherina berdiri dan Everest dengan tanda merah di pipinya.
"Ada apa ini?" tanya Adrian heran.
"Hanya nyamuk," ujar Everest dingin, sambil merapikan jasnya. "Sepertinya istrimu sedikit terlalu sensitif malam ini, Adrian. Mungkin dia benar-benar butuh istirahat."
Adrian menatap Catherina dengan tatapan memperingatkan. "Catherina, duduk."
Catherina duduk dengan tubuh gemetar. Ia merasa seperti sedang berada di dalam pusaran air yang siap menenggelamkannya. Di satu sisi ada Adrian yang mengkhianatinya, dan di sisi lain ada Everest yang kembali untuk membongkar luka lama.
Namun di atas segalanya, ada Liam. Liam yang sedang tidur di rumah, menunggunya kembali. Bayi yang memiliki wajah masa lalu yang kini duduk di depannya dengan penuh kebencian.
Catherina tahu, malam ini hanyalah awal dari keruntuhan yang lebih besar. Rahasia tentang Dua bulan kehamilan itu, kemiripan Liam dengan Everest, dan pengkhianatan Adrian... semuanya akan segera meledak, menghancurkan takhta yang ia bangun di atas pasir kebohongan.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍