NovelToon NovelToon
THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Husein. R

"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."

​Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.

​Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.

​"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."

​Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Lain dari Sebuah Kemenangan

Pagi itu Jakarta mendung tipis. Arka kembali mengenakan seragam supirnya yang sedikit pudar di bagian bahu. Tidak ada Rolls-Royce, tidak ada pengawalan. Hanya mobil operasional kantor yang biasa, karena Nadia ingin masuk ke gedung itu dengan cara yang paling tenang.

Di sepanjang jalan, Arka lebih banyak diam. Dia memperhatikan orang-orang di pinggir jalan: seorang bapak yang menyapu trotoar dengan tatapan kosong, dan seorang karyawan muda yang berlari mengejar bus sambil memegang roti yang belum sempat digigit.

"Dunia itu lucu ya, Nad," ucap Arka memecah hening. Matanya menatap spion, melihat Nadia yang sedang merapikan riasannya. "Banyak orang menghabiskan kesehatan mereka untuk mencari uang, lalu setelah tua, mereka menghabiskan uang itu untuk mencari kembali kesehatan mereka. Kita semua cuma sedang berlari di roda hamster yang sama."

Nadia berhenti sejenak, menatap punggung Arka. "Kenapa tiba-tiba ngomong gitu, Ka?"

"Enggak apa-apa. Cuma kepikiran pesan Papa kamu semalam. Dia punya segalanya, tapi di akhir hayatnya, dia cuma ingin kamu aman. Bukan ingin kamu kaya."

Begitu sampai di lobi gedung Atmaja Group, suasana terasa asing. Para karyawan yang biasanya sibuk bergosip mendadak diam saat melihat Nadia masuk. Arka berjalan selangkah di belakangnya, membawakan tas kerja Nadia seperti biasa.

Di depan lift, mereka berpapasan dengan Pak Danu, staf kebersihan senior yang sudah bekerja di sana sejak zaman ayah Nadia. Pak Danu terlihat sedang membersihkan sisa tumpahan kopi di lantai dengan tangan yang sedikit gemetar.

Beberapa manajer muda lewat di samping Pak Danu tanpa menoleh, bahkan ada yang sengaja menginjak kain pelnya seolah pria tua itu tidak ada di sana.

"Pagi, Pak Danu," sapa Nadia lembut, berhenti sejenak di samping pria itu.

Pak Danu mendongak, matanya yang mulai kabur tampak terkejut. "Eh, Neng Nadia... Pagi, Neng. Selamat datang kembali. Bapak dengar... Neng sudah jadi pemilik penuh sekarang?"

Nadia mengangguk kecil. "Doakan saya ya, Pak."

"Pasti, Neng. Karena cuma Bapak Atmaja dulu yang menganggap kami ini manusia, bukan cuma sekadar biaya operasional perusahaan," ucap Pak Danu dengan senyum tulus yang getir.

Arka memperhatikan interaksi itu. Dia melihat betapa murahnya harga sebuah rasa hormat di gedung pencakar langit ini, namun betapa mahalnya nilai kemanusiaan yang sudah punah di sana.

Mereka sampai di lantai paling atas. Ruang CEO.

Paman Bram sudah tidak ada di sana. Ruangan itu kosong, menyisakan aroma parfum mahal yang tertinggal dan tumpukan berkas yang berantakan. Nadia duduk di kursi besar peninggalan ayahnya. Dia terlihat sangat kecil di kursi yang begitu luas.

"Ka, kamu tahu?" suara Nadia parau. "Dulu aku benci melihat Papa duduk di sini. Aku merasa kursi ini mencuri waktu Papa dariku. Tapi sekarang aku duduk di sini, dan aku sadar... kursi ini sebenarnya penjara."

Arka mendekat, berdiri di samping jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung lain yang saling berlomba mencapai langit.

"Orang-orang di bawah sana melihat gedung ini dengan rasa iri, Nad. Mereka pikir siapa pun yang duduk di kursi ini pasti bahagia," Arka menunjuk ke arah jalanan yang macet di bawah. "Padahal mereka nggak tahu, semakin tinggi kita naik, semakin tipis oksigen yang bisa kita hirup. Kamu sendirian di sini."

Nadia menyandarkan kepalanya di meja, tepat di samping foto kecil ayahnya yang masih tersimpan di laci. "Papa pasti kesepian banget ya, Ka? Dia harus menjaga wajahnya tetap keras di depan musuh, sementara di dalam dia hancur dikhianati keluarganya sendiri."

Arka tidak menjawab. Dia hanya meletakkan tangannya di bahu Nadia.

Di luar, suara bising kota tetap berlanjut. Dunia tidak peduli jika hari ini ada satu orang yang menang atau satu keluarga yang hancur. Hidup terus berjalan seolah-olah semua orang adalah suku cadang mesin yang bisa diganti kapan saja.

"Baron bilang Paman Bram sudah mengemasi barangnya tadi subuh," ucap Arka pelan. "Dia pergi tanpa membawa satu pun foto keluarga. Cuma dokumen penting dan uang tunai. Ternyata benar, bagi sebagian orang, keluarga itu cuma beban yang bisa dibuang kalau sudah tidak menghasilkan."

Nadia memejamkan mata. Kesedihan di bab ini bukan tentang tangisan yang meledak-ledak, tapi tentang kesadaran pahit bahwa di dunia yang penuh dengan angka dan aset ini, menjadi "manusia" adalah sebuah kemewahan yang paling langka.

"Ka," panggil Nadia. "Jangan pernah tinggalkan aku di kursi ini sendirian ya?"

Arka menatap ke luar jendela lagi. "Aku supir kamu, Nad. Supir nggak akan turun sebelum penumpangnya sampai di tujuan yang benar-benar aman."

Di atas meja, secangkir kopi yang disediakan sekretaris tadi perlahan menjadi dingin tanpa sempat disentuh. Sama seperti ambisi manusia yang seringkali mendingin saat sudah mencapai puncaknya, hanya untuk menyadari bahwa di puncak itu ternyata sangat sepi.

Setelah keheningan di ruang CEO tadi, Arka mengajak Nadia turun ke area kantin karyawan di basement. Bukan lewat lift VIP yang berlapis emas, tapi lewat tangga darurat.

​"Kenapa ke sini, Ka?" tanya Nadia heran.

​"Kadang, cara terbaik melihat isi sebuah rumah bukan dari ruang tamunya, tapi dari dapurnya," jawab Arka santai.

​Di kantin, suasananya kontras banget sama lantai atas. Pengap, bau minyak goreng, dan meja-meja plastik yang sudah kusam. Arka memesan dua gelas teh manis hangat.

​Di pojokan, mereka melihat seorang karyawan muda—mungkin anak magang—sedang duduk sendirian. Di depannya cuma ada sebungkus nasi kucing kecil dan segelas air putih. Dia terlihat sedang menghitung sisa uang di dompetnya dengan dahi berkerut.

​"Itu pemandangan asli kantoran, Nad," bisik Arka. "Di atas, orang-orang berdebat soal profit miliaran. Di bawah, ada orang yang pusing mikirin cara bertahan hidup sampe tanggal gajian berikutnya."

​Nadia memperhatikan anak muda itu. Tiba-tiba, seorang supervisor lewat dan menggebrak meja anak magang itu. "Mana laporan stoknya?! Jangan cuma makan doang lu! Lu tau nggak perusahaan lagi transisi? Kalau lu lambat, mending keluar!"

​Anak magang itu cuma bisa nunduk, minta maaf berkali-kali sambil buru-buru beresin nasi yang belum abis dia makan.

​Nadia mau berdiri, tapi Arka nahan tangan dia.

​"Jangan sekarang, Nad. Kalau kamu bantu dia sekarang sebagai 'Pemilik Perusahaan', dia bakal makin di-bully pas kamu nggak ada. Dunia ini keras sama orang jujur yang nggak punya kuasa," Arka menyesap tehnya. "Dunia nggak butuh pahlawan yang datang sekali, dunia butuh sistem yang nggak bikin orang kecil kayak mereka makin kecil."

​Nadia duduk kembali, hatinya terasa sesak. Dia baru sadar kalau kekuasaan yang dia pegang sekarang bukan cuma soal balas dendam ke Paman Bram, tapi soal tanggung jawab atas ribuan 'nasi kucing' di bawah sana.

​"Dulu aku pikir Papa itu jahat karena jarang pulang," suara Nadia bergetar. "Sekarang aku sadar, Papa mungkin lagi berusaha jagain piring nasi orang-orang ini biar tetep isi, sambil dia sendiri lupa gimana rasa makan bareng anaknya."

​Arka natap Nadia dengan pandangan yang dalam. "Kemenangan kamu hari ini itu pahit, Nad. Kamu menang harta, tapi kamu kehilangan masa depan yang tenang. Kamu bakal jadi target, kamu bakal dicari kesalahannya."

​Gue nengok ke arah jendela kecil di basement yang sejajar dengan aspal jalanan. Gue liat kaki-kaki orang lewat yang terburu-buru.

​"Banyak orang mau jadi raja, tapi sedikit yang sanggup mikirin gimana cara rakyatnya tidur nyenyak," lanjut gue. "Nadia... jabatan CEO ini bukan hadiah. Ini beban. Kamu sanggup?"

​Nadia menarik napas panjang, menatap gelas tehnya yang sudah tidak lagi panas. "Aku harus sanggup, Ka. Kalau bukan aku, mungkin orang kayak Paman Bram bakal bikin orang-orang di sini makin menderita."

​Arka berdiri, menaruh uang sepuluh ribu di meja—jumlah yang sangat kecil untuk seorang triliuner, tapi itulah harga sebenarnya dari segelas teh dan sebuah pelajaran hidup.

​"Ayo balik ke atas. Pak Danu tadi udah selesai bersihin lantai. Jangan biarkan kerja keras dia dikotori lagi sama langkah kaki orang-orang yang nggak punya hati."

​Saat mereka jalan balik ke lift, nggak ada sorak sorai kemenangan. Cuma ada dua orang yang sadar kalau di atas gedung tinggi itu, tanggung jawab ternyata jauh lebih berat daripada mahkota mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!