Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : Project Reaper 1980 (Bag. 1)
Aris dan Liora berdiri mematung di balik rak arsip yang tinggi. Cahaya senter mereka yang redup mengarah pada lembar kertas kusam yang dipegang Liora. Di sana, tertulis identitas pemilik catatan tersebut: Dr. Stela Hindenburg, seorang ahli patologi kelahiran Jerman. Nama itu tertulis dengan tinta hitam yang sudah memudar, memberikan kesan bahwa dokumen ini telah tersimpan sangat lama di dalam kegelapan.
Langkah kaki yang tadi mendekat tiba-tiba berhenti tepat di depan pintu B1 ruangan arsip. Aris menahan napas, tangannya mengepal kuat, siap jika pintu itu terbuka. Namun, setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, suara langkah itu terdengar menjauh kembali ke arah koridor utama. Orang misterius itu tampaknya batal masuk dan pergi tanpa mengunci kembali pintu koridor.
"Dia pergi," bisik Liora pelan setelah suara langkah kaki benar-benar menghilang. Ia kemudian kembali membolak-balik lembaran di tangannya dan menemukan dokumen lain yang terselip di bagian belakang map. Judulnya tertulis dengan huruf kapital yang tegas: PROJECT REAPER 1980. Di dalamnya terdapat diagram-diagram aneh mengenai sistem distribusi air kota dan catatan tentang reaksi biologis pada subjek yang terpapar cairan tertentu.
"Aris, ini bukan sekadar penelitian biasa. Ini skema pemusnahan massal yang pernah direncanakan di masa lalu," ujar Liora dengan suara bergetar.
Mereka tidak bisa berlama-lama di sana. Aris memberikan isyarat agar mereka segera keluar. Mereka melangkah keluar dari ruang arsip dan menuju pintu besar yang berada tepat di depan mereka. Pintu B2 itu tidak terkunci. Begitu Aris mendorongnya, aroma formalin dan bau busuk yang sangat tajam menyengat hidung.
Ruangan itu sangat luas, lebih menyerupai laboratorium anatomi raksasa. Di sepanjang ruangan, berjejer meja-meja logam yang di atasnya tergeletak tubuh manusia tanpa nyawa. Sebagian ditutup kain, sebagian lagi dibiarkan terbuka. Aris berjalan perlahan, memeriksa kondisi mayat-mayat itu. Luka mereka bermacam-macam, namun ada satu kesamaan yang mengerikan: kulit mereka mengering, pecah-pecah, dan meninggalkan residu kerak abu-abu.
"Kondisinya sama... sama seperti Pak Jaya," gumam Aris ngeri.
Liora yang melihat pemandangan itu tidak sanggup lagi menahan gejolak di perutnya. Ia membungkuk dan muntah di sudut ruangan.
Aris segera menghampirinya, membekap mulut Liora dengan tangan agar suara mualnya tidak menggema keluar. "Tahan, Liora. Kita harus tetap tenang. Tempat ini sangat tidak beres."
Saat Aris kembali menyapu ruangan dengan pandangannya, matanya terpaku pada sebuah meja di ujung barisan. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Di sana, tergeletak tubuh yang sangat ia kenali. Pak Jaya. Alih-alih dikuburkan secara layak oleh "kerabatnya", jenazah itu justru berakhir di ruangan dingin ini sebagai bahan penelitian. Aris berdiri terpaku, merasa marah sekaligus ngeri dengan kenyataan bahwa majikannya telah menjadi bagian dari eksperimen gila ini.
"Kita harus pergi sekarang!" Aris menarik tangan Liora. Mereka berlari menuju pintu di ujung lorong, berharap ada jalan keluar menuju permukaan.
Namun, tepat saat mereka mendorong pintu keluar, cahaya lampu yang sangat terang menyilaukan mata mereka. Di depan mereka, dua orang penjaga berpakaian taktis lengkap dengan penutup wajah dan senjata laras panjang sudah berdiri siaga.
"Jangan bergerak!" bentak salah satu penjaga.
Aris dan Liora tidak sempat melawan. Dalam sekejap, tangan mereka dipelintir ke belakang dan diikat kuat dengan tali plastik. Penjaga itu membekap mulut mereka dengan isolasi dan menutup kepala mereka menggunakan kain hitam yang pengap. Mereka diseret paksa melewati lorong-lorong sunyi hingga dimasukkan ke dalam ruangan yang berbeda.
Di dalam ruangan yang gelap karena kepalanya tertutup, Aris mendengar pintu besi berdentum. Ia merasakan seseorang mendekat. Kain di kepalanya ditarik kasar. Aris mengerjap, melihat dua orang pria berdiri di depannya. Salah satunya adalah penjaga bersenjata.
"Siapa kalian? Kenapa kalian bisa masuk ke fasilitas ini?" tanya seorang pria berpakaian rapi namun memiliki tatapan dingin sambil membuka isolasi penutup mulut Aris.
Aris diam, mencoba mengatur napasnya. Tiba-tiba, sebuah pukulan keras mendarat di sisi kepalanya. Bukk!
"Jawab!" gertak penjaga itu.
"huss jangan kasar," ucap pria itu.
Aris meringis kesakitan, rasa pening menjalar di kepalanya. "Kami... kami hanya relawan. Kami sedang membantu memperbaiki jalur pipa karena krisis air di atas. Kami terjebak saat tanah amblas," jawab Aris dengan suara parau.
"Relawan?" Pria berpakaian rapi itu tersenyum sinis. "Kalian masuk lewat mana? Jalur galian itu tidak terhubung dengan sektor ini kecuali ada yang sengaja merusaknya."
Di ruangan lain, Liora terus menangis ketakutan. Ia dihujani pertanyaan yang sama mengenai denah yang ia bawa. Penjaga di sana terus menekannya, menanyakan apakah dia bekerja untuk pihak luar atau sedang menyamar. Liora hanya bisa terisak sambil memohon untuk dilepaskan.
Setelah interogasi yang melelahkan dan penuh tekanan, pria berpakaian rapi itu memberikan instruksi kepada bawahannya. Penjaga itu menyeret Aris keluar dan membawanya ke sebuah ruangan yang sedikit lebih luas namun tetap tertutup rapat. Tak lama kemudian, Liora didorong masuk ke dalam ruangan yang sama.
Begitu pintu besi itu terkunci kembali, Liora langsung merangkak mendekati Aris. Mereka berdua bersandar di dinding, tangan masih terikat, mencoba mencari kekuatan di tengah situasi yang kini sudah jauh di luar kendali mereka. Mereka telah melihat apa yang seharusnya tetap terkubur, dan kini mereka menjadi saksi hidup dari sebuah rahasia yang mematikan.
Liora bersandar pada bahu Aris, tubuhnya masih gemetar hebat. Dalam ruangan yang remang-remang itu, Aris berbisik pelan, memastikan rekannya tidak terluka parah.
"Liora, kamu baik-baik saja? Mereka tidak menyakitimu, kan?" tanya Aris dengan suara parau.
Liora tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan sambil terisak. "Aku takut, Aris. Tempat ini... mayat-mayat itu... Pak Jaya. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Aris hanya bisa terdiam. Tangannya yang terikat di belakang punggung terasa kaku dan kebas. Tak lama kemudian, pintu besi berdecit keras. Seorang penjaga masuk dan kasar menyentak kain penutup kepala mereka hingga terlepas. Cahaya lampu yang mendadak terasa menyakitkan di mata mereka. Penjaga itu meletakkan dua piring makanan di lantai dingin tanpa berkata apa-apa.
"Kalian disuruh makan oleh bos kami," ujar penjaga itu singkat sambil berbalik.
Aris mendengus, lalu tertawa getir. "Bagaimana kami bisa makan kalau tangan kami diikat ke belakang? Pakai kaki?"
Penjaga itu tidak bergeming. Ia melangkah keluar dan membanting pintu besi tanpa memedulikan ucapan Aris. Aris dan Liora hanya bisa menatap piring itu dalam diam. Mereka sudah kehilangan rasa waktu; Entah sudah berapa jam atau hari mereka berada di bawah tanah. Rasa haus, lapar, dan lelah bercampur aduk dengan rasa ngeri yang belum hilang.
Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka. Kali ini pria berpakaian jas rapi yang sebelumnya muncul kembali dengan dikawal dua penjaga bersenjata lengkap. Ia tersenyum tipis, menatap piring yang masih utuh.
"Bagaimana? Apakah kalian sudah makan?" tanyanya dengan nada yang dibuat-buat ramah.
"Sudah saya katakan pada anak buahmu," jawab Aris sambil menatap tajam pria itu. "Kami tidak bisa makan dengan tangan terikat seperti ini."
Pria berjas itu tertawa kecil, namun tawanya terdengar hambar dan dingin. Tiba-tiba, gerakannya berubah sangat cepat. Ia menyambar pistol dari sarung senjata salah satu penjaga di sampingnya, lalu tanpa ragu melepaskan satu tembakan tepat ke kepala penjaga tersebut.
DOR!
Tubuh penjaga itu ambruk seketika. Darah segar muncrat ke dinding beton. Aris tersentak hebat, sementara Liora menjerit tertahan dan memejamkan mata rapat-rapat. Air mata mengalir deras di pipinya yang pucat.
"Idiot," gumam pria berjas itu sambil mengembalikan pistol ke penjaga yang satunya lagi, yang tampak mematung ketakutan. Ia kemudian menoleh ke arah penjaga yang masih hidup. "Buka ikatan tangan mereka. Sekarang."
Penjaga itu bergegas maju dengan tangan gemetar, memotong tali plastik yang mengikat pergelangan tangan Aris dan Liora. Begitu ikatan terlepas, Aris segera memijat pergelangan tangannya yang sementara Liora masih menutup mulutnya, menahan mual yang luar biasa.
"Sekarang, silakan dimakan. Saya harap menunya sesuai selera kalian," ujar pria itu dengan sopan santun yang mengerikan.
Aris menatap makanan di depannya, lalu menatap mayat yang tergeletak tidak jauh dari kakinya. Perutnya terasa diaduk. Bagaimana mungkin seseorang bisa makan dengan tenang setelah melihat eksekusi sesadis itu tepat di depan mata?
"Jangan buang makananmu. Itu tidak sopan," ucap pria itu lagi saat melihat keraguan di wajah mereka. Ia kemudian memberi isyarat kepada penjaga yang selamat. "Seret mayat ini keluar. Jangan ganggu waktu makan tamu-tamu kita."
Penjaga itu segera menarik kaki rekannya yang sudah tak bernyawa, meninggalkan jejak darah panjang di lantai koridor. Pria berjas itu merapikan kancing jasnya, tersenyum sopan sekali lagi, lalu melangkah keluar meninggalkan Aris dan Liora dalam kesunyian yang mencekam bersama sisa aroma mesiu dan amis darah.
...****************...