Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13. tidur di ranjang pria
Alif yang sejak tadi bersandar santai di kusen pintu dapur, melirik ke arah Chris, "Gimana skripsi lo, Chris? Udah di ACC sama pak Wawan?"
Dr. Ir. Wawan Setiawan, M.Eng adalah dosen pembimbing Chris sejak dua bulan yang lalu, setelah Chris mempresentasikan proposal skripsinya tentang 'Pengaruh Desain Fasad Bangunan Terhadap Identitas Kota'. Skripsi yang dibuat Chris ini, dapat meneliti bagaimana desain fasade bangunan dapat mempengaruhi identitas kota.
Chris yang baru saja akan menempelkan papan kecil alumunium di replika bangunannya, mengangkat kepalanya sekilas pada Alif. Ia menghela napas berat sebelum menjawab, “Belum... masih nunggu balasan revisi kemarin tentang konsep sama desain fasade nya," ucap Chris. Dan kembali sibuk merakit replika bangunan yang tengah ia kerjakan.
Alif mengangkat alis, lalu tertawa pendek. “Wah, masih di-php in berarti. Udah kayak nunggu chat gebetan, ya?”
Chris nyengir tipis. “Gebetan mending, Lif. Ini dosen. Ditinggal nikah juga nggak bisa ngapa-ngapain.”
Alif tertawa lagi, tapi kali ini dengan anggukan penuh pengertian. “Sabar, Bro. Skripsi itu emang ujian kesabaran paling akhir. Lo lulus bukan karena pinter, tapi karena tahan banting.”
Chris mengangguk pelan, "Terus, lo sendiri?" Kali ini, gantian Chris yang bertanya.
Alif mendesah panjang. "Nggak ada perubahan. Kalau aja dosen pembimbing gue cewek, pasti udah gue rayu habis-habisan, deh tuh dosen. Biar cepet di ACC."
"Sialan lo!" Chris melemparkan pensilnya ke arah Alif, dan Alif menangkap pensil itu lalu memainkannya dengan malas.
Setelah beberapa saat duduk dalam diam, Alif akhirnya angkat suara lagi. "Terus acara camping nya gimana? Lo beneran fix nggak jadi ikut?"
Chris terdiam enggan merespon.
"Ikut aja napa sih, Bro! Itung-itung sebagai ucapan perpisahan kita sama club FA. Padahal anak-anak udah semangat tahu lo bakalan ikut. Mereka pada bingung kenapa lo nggak jadi ikut."
Chris lagi-lagi lebih memilih diam. Ia meletakkan kembali peralatannya di atas meja dan berjalan menuju dapur. Chris membuka lemari pendingin dan meraih sekaleng minuman seperti yang siang tadi diminum oleh Maya. Sambil bersandar di pintu lemari pendingin, Chris menenggak minuman itu sampai habis tak tersisa.
Alif yang sudah tahu sifat luar dan dalam Chris, akhirnya lebih memilih untuk tidak memperpanjang masalah itu. Chris terlalu keras dan sulit untuk diajak kompromi.
"Terserah lo, sih. Gue nggak mau terlalu ikut campur urusan lo."
Alif berdiri, lalu mendengus kesal saat melihat Riski tertidur pulas dan tergeletak di sofa ruang tamu. Tubuhnya miring dengan mulut sedikit terbuka. Dan benar saja, dari sudut bibirnya mengalir setitik liur yang sudah mengering di bantal kecil yang entah sejak kapan ia bawa dari kamarnya.
“Woy, Riski! Njir, lo ngiler lagi..” seru Alif sambil menepuk paha temannya keras. “Bangun, Bro. Udah kayak gelandangan lo tidur di sini.” Alif menatap Riski jijik seraya menjitak kepala temannya itu.
Riski hanya menggeliat pelan, bergumam tidak jelas sambil menarik bantalnya lebih erat.
Alif memutar bola mata, lalu berdiri dan mengambil botol air mineral dari meja. Tanpa ragu, ia membuka tutupnya dan menyiramkan beberapa tetes ke wajah Riski.
“Bangun woy!"
“Apaan sih! Kok ribut banget lo, Lif.” Riski terlonjak kaget, setengah sadar, sambil mengelap wajahnya yang basah. Rambutnya berantakan, dan matanya masih setengah tertutup.
“Pindah sono ke kamar! Udah berapa sofa yang udah lo ilerin? bikin pemandangan nggak enak diliat, njir.”
Riski mendengus sambil duduk perlahan, matanya masih menyipit, sedikit terpejam. "Kaya lo nggak pernah ngiler disini aja."
Alif mencibir sambil menendang ringan telapak kaki Riski. "Ayo pindah."
Riski akhirnya bangkit, menggaruk kepala sambil mengumpat pelan. “Aduhh.. Sadis amat lo.”
Alif nyengir puas, lalu mengikuti Riski yang berjalan tertatih ke arah tangga. “Sadis demi kenyamanan visual, Ki. Percaya deh, lo ngiler tuh nggak aesthetic sama sekali.”
"Kita naik ke atas dulu," seru Alif kepada Chris sambil memiting Riski.
Chris hanya mengangguk sambil memainkan kaleng birnya di dapur. Setelah Alif dan Riski pergi, ia membuang kaleng kosong di tangannya ke tempat sampah, lalu kembali merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
Dilihatnya jam dinding yang berada di atas televisi, hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Dan Maya masih belum bangun juga.
Malam semakin larut, dan suasana kosan sudah benar-benar sepi. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan di langit-langit dan sesekali bunyi cicak dari pojok ruangan.
"Argh!" Chris mendesah dengan sedikit menggeram. Kedua kakinya yang panjang terlihat menggantung karena sofa itu terlalu kecil untuk menampung tubuhnya yang tinggi.
Ia menghela napas panjang, lalu menutup mata sejenak. Di balik pintu kamarnya, Maya masih tertidur pulas. Bahkan mungkin belum sadar bahwa tadi ia mengonsumsi minuman beralkohol tanpa sengaja. Chris menatap ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat, lalu menunduk dengan ekspresi ragu.
"Shit!"
Sebenarnya, tubuhnya kelelahan. Ia ingin sekali tidur di kasur empuk kamarnya sendiri. Tapi bayangan Maya yang terbaring di sana dalam kondisi lemah dan tidak sepenuhnya sadar, membuat pikirannya kacau. Chris tahu dirinya. Ia laki-laki dengan dorongan yang nyata. Ia tahu bagaimana efek Maya terhadap dirinya. Gadis itu seperti pemantik, cukup satu sentuhan, satu gerakan, satu tarikan napas dekat telinganya, dan segalanya bisa kacau. Ia takut tidak bisa mengendalikan nafsunya sebagai seorang lelaki.
"Sialan," gumamnya pada diri sendiri. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, mencoba menahan rasa frustasi yang mulai menjalar.
Bukan karena dia tidak menginginkannya, justru karena ia terlalu menginginkan Maya, makanya ia memilih menjauh malam ini. Tidur di sofa keras yang tidak bersahabat jauh lebih aman daripada mengambil risiko menyakiti seseorang yang sedang ia jaga.
Dengan posisi miring yang tak nyaman, Chris mencoba memejamkan mata. Tapi bayangan Maya terus menghantuinya. Membuat malam terasa lebih panjang dari biasanya.
Chris tidak bisa tidur. Benar saja, saat matanya hampir terpejam, dan tubuhnya yang lelah mulai tenggelam dalam rasa kantuk, tiba-tiba terdengar teriakkan yang berasal dari dalam kamar tidurnya.
"AAAAA!! CHRIIIS!!!"
Suara teriakan itu melesat seperti petir di tengah malam yang sunyi. Chris langsung terlonjak dari sofa, nyaris terjatuh karena kaget. Jantungnya berdetak kencang, dan tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju kamarnya dengan perasaan cemas.
Ia membuka pintu kamarnya dengan cepat. Lampu kamar masih menyala redup, dan di sana Maya terduduk di atas ranjang, napasnya memburu, wajahnya pucat, dan matanya penuh kebingungan dan ketakutan. Selimut tersingkap sebagian, memperlihatkan bahunya yang terbuka. Tangannya mencengkeram kain seolah sedang mencoba melindungi diri.
Chris berdiri di ambang pintu, napasnya juga belum kembali normal karena terkejut. "Maya, ada ap—?"