NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 : Kita Selamat?

Langit yang tadi terbelah seperti kaca retak kini bergetar pelan, seolah dunia sedang menahan napasnya sendiri. Debu berjatuhan dari udara, serpihan cahaya ungu yang tersisa dari retakan dimensi berpendar sebelum memudar satu per satu. Tanah yang terangkat perlahan runtuh kembali, meninggalkan kawah besar di tengah hutan yang baru pertama kali mereka injak—hutan yang kini berubah seperti medan perang kuno.

Di tengah kehancuran itu, tubuh raksasa Basilisk masih berdiri melingkari Ferisu. Sisik tanahnya retak di beberapa bagian, menguarkan asap tipis seperti batu yang dipaksa menahan petir.

Ferisu terjatuh berlutut.

Darah menetes dari sudut bibirnya.

Napasnya berat.

Aries—domba hitam dengan kilauan bintang seperti langit malam—sedang mengumpulkan energi terakhirnya. Cahaya gelap di tanduknya berputar, memadat, siap menghancurkan segalanya.

Tiba-tiba—sebuah tangan raksasa muncul dari langit.

Bukan tangan manusia. Bukan pula tangan makhluk biasa.

Ia terbentuk dari cahaya putih pucat dan bayangan ungu, seperti sesuatu yang berada di antara keberadaan dan ketiadaan. Jari-jarinya panjang dan tak memiliki bentuk yang sepenuhnya stabil—seakan realitas pun kesulitan menahannya.

Tangan itu turun perlahan.

Semua orang membeku.

Eliza yang masih terduduk memeluk dadanya dengan wajah pucat.

Noa menahan napas.

Anor hanya bisa terdiam dengan tatapan gemetar.

Aries mengangkat kepalanya.

Untuk pertama kalinya, makhluk itu tidak menyerang.

Tangan raksasa itu menggenggam tubuh Aries begitu saja—tanpa perlawanan berarti. Cahaya gelap yang tadi berkumpul langsung padam seperti lilin tertiup angin.

Retakan dimensi bergetar keras.

Lalu—tertutup. Seolah tak pernah ada.

Langit kembali normal. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah dan daun yang terbakar.

Basilisk mengeluarkan suara rendah, lalu perlahan hancur menjadi butiran cahaya tanah sebelum menghilang.

Menyisakan hutan yang rusak, tanah yang retak, dan empat sosok yang berdiri di tengah kehancuran.

Eliza masih memegang dadanya. Napasnya tidak teratur, bahunya naik turun menahan sisa ketegangan.

Anor terdiam dengan pedang masih tergenggam, meski ujungnya sudah tertancap di tanah untuk menopang tubuhnya sendiri. Keringat membasahi pelipisnya.

Noa memandang ke arah langit kosong, tempat tangan raksasa tadi muncul dan membawa Aries pergi.

“Kita… selamat?” suaranya hampir seperti bisikan.

Di depan mereka—Ferisu mencoba berdiri beberapa detik lebih lama.

Lalu tubuhnya goyah.

Pedang di tangannya jatuh lebih dulu, menimbulkan suara logam yang nyaring di tengah keheningan hutan.

Dan Ferisu pun roboh.

“FERISU-SAMA!” Eliza berlari paling cepat.

Ia berhasil menangkap tubuh Ferisu sebelum benar-benar menghantam tanah. Tubuh itu terasa berat, panas, dan tidak merespons sama sekali. Mata Ferisu terpejam, napasnya sangat tipis.

Noa berlutut di sisi lain.

“Hei… bangun. Ini bukan waktunya tidur!”

Tidak ada jawaban.

Anor menelan ludah. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat garis-garis gelap samar di bawah kulit Ferisu—seperti retakan yang merambat dari dalam.

“Eliza… ini bukan cuma kelelahan.”

Eliza tahu.

Ia bisa merasakan jiwanya.

Kontrak roh yang tadi dipaksakan, kekuatan lama yang ditarik paksa dari kehidupan sebelumnya—semuanya seperti mengoyak wadah yang belum siap menampungnya.

“Kita harus kembali ke ibu kota. Sekarang.” Suaranya bergetar, tapi tegas.

Perjalanan pulang terasa seperti mimpi buruk yang panjang.

Hutan yang tadi terasa misterius kini hanya terlihat sunyi dan dingin. Burung-burung tidak terdengar. Angin pun seperti enggan berhembus.

Mereka berempat datang bersama.

Dan kini mereka kembali dengan Ferisu yang tak sadarkan diri.

Kereta kuda melaju cepat menyusuri jalan tanah. Noa memacu kuda tanpa banyak bicara. Anor duduk di sampingnya, sesekali menoleh ke belakang dengan wajah tegang.

Di dalam kereta—

Eliza memangku kepala Ferisu.

Tangannya tak pernah lepas dari tangan pria itu. Ia menyalurkan energi roh perlahan, sangat hati-hati, takut jika terlalu banyak justru memperparah retakan jiwanya.

“Kenapa…” bisiknya lirih. “Kenapa kau tidak bilang kalau kondisimu separah ini…”

Ferisu tidak bergerak.

Keringat dingin membasahi dahinya. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tak mampu.

Anor membuka tirai kereta sedikit.

“Sebentar lagi sampai gerbang.”

Noa tidak menjawab, tapi cambuknya kembali terangkat. Ia jarang terlihat seserius ini.

Langit berubah gelap ketika menara ibu kota Asterism terlihat di kejauhan. Cahaya obor di tembok kota menyala hangat—kontras dengan suasana di dalam kereta.

Begitu gerbang dibuka, para penjaga terkejut melihat kondisi rajanya.

“Buka jalan! Panggil semua tabib istana!” teriak Anor.

Kereta langsung melesat menuju istana.

Ferisu dibaringkan di kamar kerajaan.

Tabib dan penyihir penyembuh segera bekerja. Cahaya sihir lembut menyelimuti tubuhnya, mantra penyembuhan dilantunkan berulang kali.

Namun semakin lama, wajah para penyembuh itu semakin suram.

“Luka fisiknya bisa ditangani,” ujar salah satu tabib tua.

“Tapi jiwanya… terkikis.”

Eliza yang berdiri di samping ranjang merasa dadanya sesak.

“Terkikis bagaimana?”

“Seperti bejana yang dipaksa menampung lautan. Retak dari dalam.”

Noa mengepalkan tangan.

“Kalau retaknya membesar?”

“Tubuhnya bisa berhenti berfungsi… atau jiwanya tercerai.”

Ruangan itu hening.

Anor menatap Ferisu yang terbaring tak berdaya.

“Dia tahu risikonya, kan…”

Eliza menunduk.

“Dia selalu tahu.”

Malam turun sepenuhnya.

Jam demi jam berlalu.

Ferisu tidak bergerak.

Di dalam kesadarannya—

Ia berdiri di ruang gelap tanpa ujung. Tanahnya seperti kaca retak yang memantulkan bayangan dirinya dalam dua wujud—yang lama dan yang sekarang.

Retakan cahaya menyebar perlahan di bawah kakinya.

Sakit.

Bukan rasa sakit tubuh.

Tapi seperti ada sesuatu yang menggerogoti inti keberadaannya.

Sebuah suara bergema pelan.

“Kau memaksakan takdir yang belum waktunya.”

Ferisu mengangkat wajahnya sedikit.

Kalau aku berhenti sekarang…

Bayangan Eliza, Noa, dan Anor terlintas di benaknya.

“Mereka tidak akan bisa mengatasinya,” gumamnya.

Retakan di tanah bergetar.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di dunia nyata—jari Ferisu bergerak sangat kecil.

Eliza yang duduk di sampingnya langsung tersentak.

“Dia bergerak!”

Noa dan Anor mendekat.

Namun napas Ferisu kembali melemah.

Lampu sihir di kamar bergetar pelan, seolah bereaksi pada sesuatu yang tak terlihat.

Di luar jendela istana, angin malam bertiup lebih kencang.

Dan jauh di balik lapisan realitas—sesuatu mengamati.

Bukan Aries.

Bukan retakan dimensi.

Tapi sesuatu yang telah lama menunggu saat tubuh dan jiwa Ferisu mencapai batasnya.

Ferisu belum membuka mata.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia membangun kerajaan ini—masa depan Asterism terasa rapuh.

1
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
K_P
😓
angin kelana
visual keren👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!