Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Abinaya dan Ayana menatap Bu Winda yang mata-matanya berkaca-kaca seperti akan menangis. Lalu, keduanya saling melirik.
"Oma, kenapa menangis?" tanya Anaya. Dia takut sudah mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya.
"Tadi kalian bilang tinggal hanya dengan Mama?"
Kedua anak itu mengangguk bersamaan.
"Lalu, Ayah kalian ada di mana?" lanjut Bu Winda bertanya dengan menahan sedih
Pertanyaan itu membuat suasana mendadak sunyi. Anaya terlihat menahan sedih. Sedangkan Abinaya berusaha tetap tegar.
"Mama bilang ... Ayah sudah lama tidak bersama kami," jawab Abinaya dengan lirih.
"Apa orang tua kalian ber—"
Di saat yang bersamaan, dari pengeras suara mall terdengar sebuah pengumuman.
"Perhatian kepada ananda Abinaya dan Anaya, putra dan putri dari Bu Kanaya. Mohon segera menuju pusat informasi. Bunda kalian sedang menunggu."
Kedua anak itu langsung menoleh bersamaan. Mata mereka membesar. "Itu Bunda!"
Anaya dan Abinaya spontan berdiri. Wajah mereka langsung panik.
"Ayo, cepat bayar cincinnya!" kata Abinaya kepada pelayan toko perhiasan itu.
Sementara di pusat informasi, Kanaya yang sejak tadi menahan tangis akhirnya menutup wajahnya saat mendengar pengumuman itu diputar untuk ketiga kalinya.
"Ya Allah, lindungi dan jagalah mereka," bisik Kanya lirih.
Air mata Kanaya sedari tadi tidak bisa berhenti keluar. Di dalam hatinya dia tidak berhenti berdoa dengan penuh harap. Karena tanpa Abinaya dan Anaya, hidupnya tidak akan lagi memiliki arti apa pun.
Kanaya yang sejak tadi duduk di kursi bagian informasi terus menggenggam kedua tangannya dengan gelisah. Matanya berkali-kali menyapu keramaian pusat perbelanjaan itu, berharap melihat sosok kedua anaknya muncul dari salah satu sudut koridor.
Perasaannya benar-benar kacau. Selama menjadi ibu, tidak ada ketakutan yang lebih besar daripada kehilangan anak. Berbagai kemungkinan buruk terus berputar di dalam kepalanya. Semakin lama waktu berlalu, semakin sulit baginya untuk berpikir jernih.
"Bunda...!"
Suara kecil yang sangat dikenalnya tiba-tiba terdengar. Kanaya spontan menoleh. Mata yang sejak tadi dipenuhi kecemasan langsung membesar.
"Abinaya! Anaya!"
Dua anak kembar itu sedang berlari ke arahnya. Dalam hitungan detik, Kanaya sudah berdiri dan berlari menyambut mereka.
"Bunda!"
Anaya langsung memeluk pinggang Kanaya erat-erat. Sementara Abinaya memeluk lengan ibunya.
Kanaya berjongkok dan memeluk keduanya bersamaan dengan sangat erat. Seolah takut mereka menghilang lagi. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah.
"Kalian ke mana saja?" Suara Kanaya bergetar. "Bunda takut sekali."
Anaya terlihat merasa bersalah. "Maaf, Bunda."
"Kami tidak bermaksud membuat Bunda khawatir," tambah Abinaya lirih.
Kanaya mengusap rambut keduanya berkali-kali. Ia bahkan tidak peduli orang-orang di sekitar sedang memperhatikan mereka. Saat itu yang penting bagi dirinya hanya satu. Kedua anaknya kembali dengan selamat.
"Jangan lakukan seperti ini lagi, ya? Pergi diam-diam tanpa pamit dulu sama Bunda."
"Iya, Bunda."
"Janji?"
"Janji."
Kanaya tersenyum di tengah air matanya. Kemudian pandangannya beralih kepada seorang wanita paruh baya yang berdiri tidak jauh dari mereka. Wanita itu tersenyum hangat.
Kanaya langsung berdiri. "Terima kasih banyak, Bu."
"Tidak perlu berterima kasih."
"Kalau bukan karena Ibu, aku mungkin masih panik mencari mereka."
Bu Winda terkekeh pelan. "Justru aku yang beruntung bisa bertemu dua anak luar biasa ini."
Anaya langsung tersenyum bangga. "Aku memang anak luar biasa."
Abinaya memijat pelipisnya. "Anaya, jangan jadi anak sombong."
Bu Winda tertawa. Kanaya pun ikut tersenyum. Suasana di sana pun mulai terasa ringan. Mereka kemudian memperkenalkan diri satu sama lain.
"Kenalkan, nama ibu ... Winda."
"Kanaya." Kanaya menjabat tangan Bu Winda sambil tersenyum dibalik cadarnya.
Bu Winda terlihat sedikit terkejut. "Kanaya?"
"Iya, Bu."
"Nama yang cantik."
"Terima kasih, Bu." Kanaya tersenyum sopan.
Mereka akhirnya duduk bersama di area dekat pusat informasi sementara kedua anak kembar itu menikmati minuman yang dibelikan petugas.
Bu Winda semakin kagum setelah mengetahui bahwa Kanaya membesarkan kedua anaknya seorang diri.
"Jadi selama ini kamu membesarkan mereka tanpa suami?"
Kanaya mengangguk pelan. "Iya, Bu. Kami sudah berpisah cukup lama, sebelum anak-anak lahir."
Bu Winda menatap wanita muda di depannya dengan penuh kekaguman. Tidak mudah menjadi seorang ibu tunggal. Apalagi melihat bagaimana sopan, cerdas, dan mandirinya kedua anak tersebut.
"Kamu adalah waniga luar biasa, Kanaya."
Kanaya tersenyum kecil. "Masih banyak kekurangan saya sebagai ibu."
"Kalau melihat mereka, aku rasa kamu melakukan pekerjaan yang sangat baik." Mata Bu Winda kemudian beralih kepada Abinaya dan Anaya.
Keduanya sedang sibuk berdebat mengenai model cincin yang tadi mereka pilih, kapan harus diberikan kepada ibunya.
Senyum Bu Winda semakin lebar. "Aku jarang melihat anak-anak seusia mereka memiliki pemikiran seperti itu."
Kanaya terlihat bingung. "Pemikiran seperti apa?"
Bu Winda tertawa kecil. "Loh, mereka belum cerita?"
"Cerita apa?"
Anaya langsung menutup mulutnya. Abinaya juga mendadak salah tingkah.
Kanaya mengernyit. "Kalian menyembunyikan sesuatu dari Bunda?"
Anaya dan Abinaya saling pandang. Kemudian perlahan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas mereka.
Kanaya membeku dan matanya membesar. "Apa itu?"
Anaya menyodorkannya. "Hadiah ulang tahun."
"Untuk siapa?" tanya Kanaya.
"Untuk Bunda," jawab kedua anak itu bersamaan.
Kanaya terdiam. Tangannya gemetar ketika membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah cincin cantik yang berkilauan. Air mata langsung memenuhi kedua matanya.
"I-ni ... buat Bunda?"
Abinaya mengangguk. "Besok ulang tahun Bunda."
"Kami mau kasih kejutan," lanjut Anaya dengan nada ceria.
Kanaya menutup mulutnya. Dadanya terasa penuh. Selama bertahun-tahun berjuang sendirian, ada banyak hari ketika ia merasa lelah. Ada banyak malam ketika ia menangis diam-diam setelah kedua anaknya tertidur. Namun, saat melihat cinta yang begitu tulus dari kedua anaknya, seluruh perjuangan itu terasa terbayar.
Kanaya langsung memeluk mereka. Kali ini lebih erat daripada sebelumnya.
"Bunda sayang kalian."
"Kami juga sayang Bunda."
Bu Winda yang menyaksikan pemandangan itu sampai ikut berkaca-kaca. Pemandangan tersebut menghangatkan hatinya. Mengingatkannya kepada masa-masa ketika anak-anaknya masih kecil.
Saat pembicaraan kembali berlanjut, Bu Winda tiba-tiba bertanya. "Kalau boleh tahu, usaha kamu bergerak di bidang apa?"
"Saya punya usaha katering."
"Oh, ya?"
Kanaya mengangguk. "Namanya BUNDA AYA."
Mata Bu Winda langsung membulat. "Tunggu sebentar."
Kanaya tampak heran. "Kenapa, Bu?"
"Jangan bilang katering BUNDA AYA itu milik Anda?"
Kanaya mengangguk. "Iya, Bu."
Bu Winda sampai tertawa tidak percaya. "Ya, ampun! Aku mengenal usaha kamu itu."
Kini giliran Kanaya yang bingung. "Benarkah?"
"Tentu saja."
Kanaya benar-benar terkejut. Ia tidak menyangka wanita pengusaha besar seperti Bu Winda mengetahui usaha kecil yang dulu dirintisnya dari nol.
"Aku pernah beberapa kali menghadiri acara di kota ini yang menggunakan jasa katering kamu."
Bu Winda tersenyum kagum. "Rasanya luar biasa."
"Terima kasih."
"Bahkan banyak rekan bisnis saya memuji pelayanan BUNDA AYA."
Kanaya tidak tahu harus berkata apa. Hatinya terasa hangat. Perjuangan panjangnya ternyata mulai membuahkan hasil.
"Kanaya, coba buka cabang di Jakarta. Aku pasti akan menjadi rekan bisnismu dalam urusan makanan," ucap Bu Winda.
***
Jika respon kalian bagus maka aku akan rajin crazy up 3-5 bab sehari, ya! Biar imbang jumlah bab dan like, karena akan berpengaruh ke retensi dan view.