NovelToon NovelToon
Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Bad Boy / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

​"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
​Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
​Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Umpan Beracun

Udara di dalam toilet rumah sakit itu mendadak terasa hampa. Aletta bersandar pada pintu bilik yang terkunci, napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan gemuruh yang siap meledak. Kertas kecil bertinta merah darah itu kini lecek di dalam genggaman tangannya yang gemetar hebat.

​Xavier merencanakan kebangkrutan itu sejak awal.

Dialah iblis yang menghancurkan hidup ayahmu...

​Kalimat itu terus bergaung di kepalanya seperti kaset rusak yang memekakkan telinga. Jika surat ini benar, maka semua kebangkrutan, hutang dua triliun, hingga penyiksaan ayahnya di tangan para rentenir... semuanya adalah skenario yang dirancang dengan sangat rapi oleh pria yang memeluknya pagi tadi. Pria yang telah merenggut ciuman pertamanya.

​Air mata Aletta menetes, bukan lagi air mata haru, melainkan air mata pengkhianatan dan kemarahan. Ia merasa sangat bodoh karena sempat luluh pada perlindungan palsu sang iblis.

​"Nyonya Aletta? Anda sudah di dalam lebih dari sepuluh menit. Anda baik-baik saja?"

​Suara berat Diego dari balik pintu utama toilet mengejutkan Aletta. Ia harus segera bertindak. Menyadari bahwa membawa kertas ini keluar sama saja dengan bunuh diri, Aletta segera merobek kertas itu menjadi serpihan sangat kecil, membuangnya ke dalam kloset, dan menekan tombol siram. Kertas itu lenyap ditelan pusaran air.

​Aletta berjalan ke wastafel, menyalakan keran, dan membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Mata merahnya tidak bisa berbohong, tapi ia harus memakai topengnya sekarang. Ia berada di wilayah musuh.

​"Aku keluar sekarang, Diego," sahut Aletta dengan nada suara yang ia buat senormal mungkin.

​Begitu pintu terbuka, tatapan menyelidik Diego langsung memindai wajah Aletta. "Anda menangis, Nyonya?"

​"Aku hanya... terlalu emosional setelah berpamitan dengan ayahku," dusta Aletta lancar. "Ayo kita pulang. Xavier pasti sudah menunggu."

​Diego mengangguk kaku, lalu memberi isyarat pada para pengawal untuk membuka jalan.

​Perjalanan pulang ke mansion terasa seperti siksaan tanpa akhir bagi Aletta. Ia duduk dalam diam di kursi belakang Maybach yang melaju membelah kota, menatap kosong ke luar jendela. Cincin berlian biru di jarinya kini terasa panas, seolah membakar kulitnya.

​Setibanya di mansion, hari sudah berganti malam. Pelayan menyambutnya di lobi dan memberitahu bahwa Xavier sedang menunggunya di ruang makan.

​Aletta menarik napas panjang. Ia melangkah menuju ruang makan utama yang diterangi lampu kristal raksasa. Di ujung meja makan panjang yang mewah, Xavier duduk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan tato naganya yang familiar. Pria itu sedang menyesap anggur merah dari gelas kristal.

​Mendengar langkah kaki Aletta, Xavier menoleh. Senyum tipis yang mematikan namun memesona terukir di bibirnya. "Bagaimana pertemuannya, Sayang? Kau terlihat lelah."

​"Ayah baik-baik saja," jawab Aletta singkat, menarik kursi di sisi kanan Xavier dan duduk di sana. Pelayan segera menyajikan hidangan steak wagyu di hadapannya.

​Xavier meletakkan gelas anggurnya. Matanya yang tajam bak burung pemangsa langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda dari istrinya. Dinding es yang pagi tadi berhasil ia hancurkan, malam ini terasa kembali berdiri kokoh mengelilingi gadis itu.

​"Hanya itu?" Xavier memiringkan kepalanya, menatap Aletta intens. "Kau tidak berlari memelukku dan mengucapkan terima kasih sambil menangis seperti yang kubayangkan."

​Aletta memotong daging di piringnya dengan gerakan kaku. "Aku sangat berterima kasih, Xavier. Ayah terlihat jauh lebih sehat."

​Aletta sengaja menjeda kalimatnya. Ia memasukkan sepotong daging ke mulutnya, mengunyahnya tanpa rasa, lalu meletakkan pisau dan garpunya. Jantungnya berdegup kencang bak genderang perang, namun ia memberanikan diri menatap mata kelabu suaminya. Ia harus menguji kebenaran surat itu malam ini juga.

​"Kami membicarakan banyak hal," lanjut Aletta, suaranya terdengar terlalu tenang. "Ayah sedikit bernostalgia tentang masa jayanya dulu. Dia... menyinggung tentang proyek pelabuhan lima tahun lalu."

​Clank.

​Suara pisau daging Xavier yang beradu dengan piring porselen terdengar luar biasa nyaring, memecah kesunyian ruang makan.

​Gerakan Xavier berhenti total. Suasana di dalam ruangan itu mendadak berubah drastis. Udara yang semula hangat seolah membeku dalam hitungan detik. Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan tanpa sadar menahan napas mereka, merasakan aura membunuh yang menguar pekat dari sang majikan.

​Xavier perlahan mengangkat wajahnya. Mata kelabu yang pagi tadi menatap Aletta dengan penuh gairah dan kelembutan, kini berubah menjadi mata badai yang gelap, dingin, dan menakutkan. Tidak ada secercah pun senyum di bibirnya.

​"Apa yang dia katakan tentang proyek pelabuhan itu?" tanya Xavier. Nada suaranya sangat datar, nyaris berbisik, namun justru itulah yang membuatnya terdengar berkali-kali lipat lebih mengancam.

​Aletta menelan ludah dengan susah payah. Reaksi Xavier baru saja membenarkan kecurigaannya. Iblis ini menyembunyikan sesuatu.

​"Tidak banyak," Aletta mencoba mempertahankan kontak mata, meski tangannya di bawah meja gemetar hebat. "Hanya nostalgia orang tua. Kenapa? Apa kau tahu sesuatu tentang proyek itu, Suamiku?"

​Xavier bangkit dari kursinya secara perlahan. Dengan langkah pelan yang disengaja dan penuh intimidasi, pria itu berjalan memutari meja hingga berdiri tepat di belakang kursi Aletta.

​Aletta membeku. Hembusan napas dingin Xavier terasa di tengkuknya. Tangan besar pria itu turun, mencengkeram sandaran kursi Aletta di kedua sisi, mengurung gadis itu sepenuhnya.

​"Kau berbohong, Aletta," bisik Xavier tepat di telinga kirinya. Suara itu bergetar oleh amarah yang tertahan sempurna. "Ayahmu tidak akan pernah berani mengungkit proyek berdarah itu padamu. Dan kau tidak cukup pintar untuk menyembunyikan ketakutan di matamu saat ini."

​Tangan kanan Xavier berpindah dari sandaran kursi, naik menyusuri leher Aletta, hingga jemarinya yang kasar mencengkeram rahang gadis itu dengan paksaan lembut namun tak bisa ditolak, memaksa Aletta mendongak menatapnya.

​"Katakan padaku, Sayang," desis Xavier, matanya berkilat mematikan menatap langsung ke kedalaman jiwa Aletta. "Siapa tikus yang berani menyusup dan berbicara padamu di rumah sakit hari ini?"

1
Nurwana
go go go Alleta....
Nurwana
semangat Alleta......
Nurwana
kayaknya makin berat hidupmu alleta....
Nurwana
alleta......
Nurwana
jangan cepat percaya alleta, selidiki dulu tentang kebenarannya. jangan sampai itu surat tipuan dari musuh suamimu.
Nurwana
saya mampir Thor.
Orang_Cuman_Cerita: Ok Semagat Ya 💪
total 1 replies
fatmawati (pipit)
disini aletta blm menguasai dunia IT apa untuk menemukan siapa yg menjadi dalang penjebakan
Orang_Cuman_Cerita
GOKIL💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!