Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sukaa!
Pukul sepuluh malam.
Kruuukk!
Suara nyaring itu berasal dari perut kecil Deana yang mulai keroncongan karena sejak sore belum diisi makanan. Di dalam kamar kontrakan yang sempit dan remang-remang itu, hanya ada Deana dan Baby Elvano.
Vivian sedang keluar sebentar untuk meminta bantuan pinjaman kepada Ibu Kos. Bukan hanya itu, Vivian juga sempat berpesan agar Ibu Kos segera mengusir atau melapor jika melihat ada sekelompok pria berjas hitam yang mencurigakan datang ke area sekitar kontrakan.
"Oweeeekkk! Oweeeekkk!"
Keheningan malam itu pecah saat Baby Elvano mulai rewel dan menangis kencang.
"Aduuh ... belhenti menangis, Baby El. Suala kamu bisa lusak.... Kalo lusak nanti nda bisa nangis lagi. Nda bisa oeekkk oeekk... Diam ya, tanttiiik!"
Deana mencoba menenangkan adiknya. Namun, bukannya diam, Baby Elvano justru menangis lagi.
Deana mulai panik lalu kedua tangannya berkacak pinggang. "Ihhh, udah dibilangin masih bandel aja! Baby El mau apa? Mau pup? Tapi Auntie lagi kelual cali makan. Pupnya tahan dulu yaaa sampe Auntie pulaaang... Ayuuk nulut jadi adik baiiik!"
"Kalo ndak nulut, Dea tukalin Baby El sama jagung bakall, mauuu?"
Bayi mungil itu tentu saja tak mengerti. Tangisannya malah makin melengking memekakkan telinga. Hal itu membuat Deana mengacak rambutnya sendiri.
"Tauu ahhhh... Dea pusinggg! Kepala lasanya mau pecaaaah! Belkunang-kunang ini matanya Dea lho, Baby El," pekik Deana frustrasi.
Gadis cilik itu akhirnya menjatuhkan badannya di sebelah Baby Elvano, lalu memiringkan tubuhnya menghadap sang adik. Dengan gemasnya, Deana menunjuk-nunjuk pipi gembil Baby Elvano. Namun tiba-tiba, jemari mungil Elvano bergerak spontan, menangkap jari telunjuk Deana lalu menariknya masuk ke dalam mulutnya.
Deana tersentak kaget dengan mata membulat sempurna.
OWAAAALAAAH!
Ia menatap telunjuknya yang kini basah karena air liur sang adik. "Kilain mau pipis, lupa-lupanya mau mimik. Tapi Dea ndak punya susu. Dea pinjamin jali aja ya, tapi jangan dimakan! Kalau dimakan, nanti Dea ndak bisa galuk-galuk pantaaat bulat Baby El.”
Akhirnya, Deana hanya bisa pasrah membiarkan jarinya sebagai pengganti empeng. Sesekali, gadis kecil itu cekikikan karena geli merasakan hiisapan tanpa gigi dari adiknya. Berkat telunjuk kakaknya, tangisan Baby Elvano perlahan mereda hingga menyisakan suara sesenggukan kecil.
Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat, disusul pintu depan yang terbuka. Vivian kembali masuk ke dalam rumah bersama Ibu Kos.
Ternyata, Ibu Kos yang berhati malaikat itu dengan sukarela meminjamkan beberapa lembar uang agar Vivian bisa membeli popok dan makanan instan malam ini. Tidak hanya uang, tangan Ibu Kos juga membawa bungkusan berisi pakaian anak-anak dan pakaian bayi bekas yang masih sangat layak pakai.
"Ini ada baju bekas keponakan Ibu dulu, Neng. Masih bagus dan bersih, sudah Ibu cuci wangi. Pakai saja ya," ucap Ibu Kos tulus.
Melihat kebaikan itu, mata Vivian berkaca-caca karena terharu. Rasanya sangat ajaib, seorang putri mafia yang dulu hidup bergelimang kemewahan, kini harus meneteskan air mata bahagia hanya karena mendapat bantuan baju bekas dan uang pinjaman. Vivian merasa sangat beruntung.
"Terima kasih banyak, Bu... Terima kasih. Saya berjanji, begitu saya punya uang, saya akan balas semua kebaikan Ibu berkali-kali lipat," ucap Vivian.
Ibu Kos tersenyum hangat lalu menepuk-nepuk bahu Vivian. "Sudah, tidak usah dipikirkan. Sesama wanita yang pernah dikhianati dan disakiti mantan suami, kita memang harus saling support, Neng. Kamu harus kuat ya demi anak-anakmu."
Mendengar kalimat itu, Vivian langsung memeluk Ibu Kos dengan erat. Kehangatan dekapan wanita paruh baya itu membuat Vivian merasa seolah-olah sedang dipeluk oleh ibunya sendiri di masa lalu.
Sebelum melangkah pergi meninggalkan kontrakan, Ibu Kos merogoh kantong daster pribadinya dan mengeluarkan sebungkus biskuit cokelat. "Ini buat si Geulis yang di dalam. Kasihan pasti dia sudah lapar."
"Terima kasih, Bu," sekali lagi Vivian membungkuk hormat.
Setelah Ibu Kos pergi, Vivian segera menutup pintu, menguncinya rapat-rapat dari dalam dan memasang slot kunci ganda. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah pelan menuju kamar tidur yang hanya beralaskan kasur busa tipis.
Namun, begitu tirai kamar disibak, pemandangan di depannya mendadak membuat hati Vivian berdesir hangat dan meleleh.
Deana dan Baby Elvano sudah terlelap bersama di atas tempat tidurnya dengan posisi yang sangat menggemaskan. Jari telunjuk kecil Deana masih setia berada di dalam mulut mungil Baby Elvano, sementara tangan satu lagi milik Deana tampak memeluk pelan perut adiknya, seolah takut bayi itu akan hilang.
Setetes air mata haru jatuh di pipinya. Pemandangan ini begitu menyentuh sudut terdalam hati Vivian.
"Kalian berdua adalah nyawaku sekarang. Aku akan melindungi kalian sampai kalian bertemu Nenek dan Kakek kalian," batin Vivian penuh tekad.
Namun, mengingat perut Deana yang pasti masih kosong, Vivian dengan berat hati membangunkan putrinya. Ia mendekat, lalu mengelus lembut pipi tembem Deana yang mulai memerah.
"Deana... Sayang, bangun sebentar yuk," bisik Vivian selembut mungkin.
Deana melenguh kecil, kelopak mata bulatnya itu mengerjap-erjap menyesuaikan cahaya lampu yang remang.
"Eunghh... Auntie udah pulang?"
Vivian tersenyum manis, lalu menyodorkan biskuit pemberian Ibu Kos tadi. "Ini, makan biskuit ini dulu ya untuk ganjal perut Deana. Setelah ini, aku akan masak bubur hangat yang enak untuk Deana. Mau, kan?"
Deana mengangguk senang dengan sisa-sisa rasa kantuknya. Gadis cilik itu langsung duduk manis di sebelah Baby Elvano yang masih terlelap, lalu mulai mengunyah biskuit pemberian Ibu Kos dengan lahap. Rasa lapar di perutnya membuat biskuit sederhana itu terasa begitu nikmat.
“Enaaak! Makasih, Auntie! Deaa sukaaa!”
“Syukurlah, Sayang. Besok-besok Aunty belikan kamu biskuit yang paling enak dari ini.”
“Ndak pellu! Auntie ada di sini udah bikin Deana senang. Lasanya sepelti punya Mama sungguhan.”
DEG!
tapi bagaimana mungkin bisa melahirkan anak bayi lagiii 😁