Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Pagi ini Lila kembali beraksi, dia sengaja memasak untuk Mas Danu nya. Dua porsi nasi goreng sudah ada di tangannya.
Lila segera ke luar rumah berniat mengajak sarapan calon suami.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, begitu Lila membuka pintu rumah, Danu terlihat sedang mencuci mobilnya.
Lila bergegas ke rumah sebelah sebelum di dahului janda depan rumah.
"Mas Danuuuuuu"
"Hmmmmmmmm"
Seperti biasa Danu kembali ke setelan awal, namun Lila sudah terbiasa dengan sikap ini.
Lila mengangkat piringnya ke depan Danu, mencium kan aroma nasi goreng itu ke hidung Danu.
"Sarapan yuk? Lila sudah masakin nasi goreng spesial pakai cinta dan kasih sayang buat Mas Danu"
"Taruh saja di situ, nanti mas makan"
"Oh tidak bisa, kita harus latihan jadi suami istri yang romantis, jadi sarapannya harus berdua"
Danu berhenti mengelap mobilnya, dia benar-benar bingung dengan hatinya sendiri. Jujur Danu ragu, Lila masih sangat muda untuk dirinya yang sudah kepala tiga. Tapi entah kenapa dia tidak bisa menahan diri saat di dekati Lila. Mungkin itu reflek seorang pria normal.Danu tidak mau menghancurkan cita-cita Lila. Dia mau melihat gadis itu sukses. Dua kali sudah Danu khilaf, dia tidak akan mengulang untuk yang ke tiga kalinya.
"Makan saja dulu"
Lila menaruh nasi gorengnya dia ruang tamu, di depan rumah Danu memang tidak ada kursi ataupun meja untuk bersantai. Awalnya Lila ingin memprotes Danu dan memintanya membeli kursi dan meja kecil di depan rumahnya. Tapi setelah Lila pikir-pikir itu lebih baik. Dengan begitu, janda depan rumah tidak akan bisa mengintip mas Danu nya.
Lila menaikkan lengan baju dan juga celananya. Dia mengambil sabun dan gosok yang di gunakan Danu untuk mencuci mobil.
"Sini Lila bantu biar cepat selesai"
Danu membulatkan matanya, dia hampir selesai, hanya tinggal mengelap saja. Kenapa Lila menumpahkan air sabun itu ke mobilnya lagi.
"Lila!"
Lila tanpa rasa bersama sekali menggosok-gosok badan mobil Danu dengan penuh semangat.
"Apa yang kamu lakukan!"
"Lila sedang bantu mas Danu"
"Ini bukan bantu Lila, ini mengganggu"
"Mas Danu kog bilang gitu? Lila ikhlas lho bantuin Mas Danu"
"Tapi kamu memang tidak sedang membantu, Mas sudah membersihkan mobil ini, tinggal di lap saja biar cepat kering. Kenapa kamu kasih sabun lagi?"
Lila merasa bersalah kali ini, dia menggaruk-garuk kepalanya dan cepat-cepat mengambil selang.
"Biar Lila yang bereskan"
Lila menghidupkan kran agar air bisa keluar, namun airnya tidak kunjung mau keluar. Lila sampai menatap lubang selang itu dengan satu matanya.
"Tandon airnya habis ya mas? Kog airnya nggak keluar?"
Saat selang itu tepat ada di depan wajah Lila, mendadak air keluar dari selang itu dengan begitu derasnya. Wajah Lila langsung basah kuyup, dia hampir saja terjatuh.
"Hahahahaha"
Yuda tertawa begitu lantang, dia memang sengaja menginjak selangnya tadi.
"Seger ya Lil?" Kekeh Yuda. Danu menoleh, dia melirik tajam ke arah Yuda.
"Kayak anak kecil aja lu"
"Asyik tahu ngerjain anak kecil" Kekeh Yuda. Ni sebagai balasan karena semalam kakinya di injak Lila hingga bengkak.
"Kekanak-kanakan"
Danu menghampiri Lila, berniat memberi dia handuk, namun Lila yang tengah kesal menyemprotkan a itu ke arah Yuda yang berada tepat di belakang Danu.
"Minggir mas! biar Lila mandiin tuh Pak Yuda"
Teriak Lila. Namun Yuda sudah menjadikan Danu tameng, dia memegangi pundak Danu dan bersembunyi di belakang Danu. Alhasil mereka berdua basah kuyup.
Danu ikut menghindar saat air itu terus di arahkan ke tubuhnya.
"Lila berhenti!" Teriak Lila.
"Mas Danu yang minggir! Lila mau siram Pak Yuda sampai basah kuyup"
Danu menyerah, dia akhirnya pasrah dan membiarkan Lila menyiram tubuh nya hingga basah kuyup.
Lila langsung mematikan kran kala melihat wajah masam Danu. Dia menghampiri Danu dan mengelap bajunya dengan tangan.
"Maaf mas, salahin tuh Pak Yuda yang mulai duluan"
"Kamu yang duluan injak kaki saya semalam"
"Itu salah bapak, lagian kenapa semalam datang di waktu yang salah?"
"Kalau bapak tidak ada, mungkin pagi ini kita sudah ke KUA" lanjut Lila dengan nada begitu lirih.
"Kalian yang berbuat kenapa saya yang di salahkan?"
"Memang salah bapak!"
"Salah kamulah"
"Salah bapak!"
"Salah...."
"CUKUP!"
Teriak Danu yang merasa kesal dengan perdebatan tak penting antara Lila dan Yuda.
"Kalian benar-benar ke kanak-kanakan"
Danu pergi dari hadapan kedua orang random itu.
****
Begitu selesai mandi dan membersihkan diri, Lila, Danu dan Yuda makan bersama di ruang tamu. Lila benar-benar lapar setelah main air di depan.
Lila satu piring dengan Danu, sedangkan Yuda makan sendirian.
"Kalian seperti ayah dan anak ya? Akur sekali"
Lila langsung melempar sendoknya ke arah Yuda. Yuda sangat cerewet sekali, pantas saja di tinggal istrinya.
"Kita itu pasangan suami istri!" Jelas Lila.
Meski Yuda bercanda, namun ada rasa rendah diri di hati Danu. Yuda benar, mereka lebih pantas jadi Om dan ponakan, atau ayah dan anak di bandingkan dengan pasangan suami istri.
"Mas jangan di ambil pusing kata-kata orang tua itu, mata dia sudah tidak jelas, makanya bilang begitu"
Wajah Yuda jadi kecut di katai orang tua, dia seumuran Danu woy! Dia belum tua-tua amat. Dia itu sedang dalam usia matang sekarang.
"Apa! Nggak terima? Makanya jangan ngatain!"
Yuda mendengus dan memilih melanjutkan makannya. Ternyata masakan Lila enak juga.
Begitu nasi goreng habis, Lila mengambil piring itu, dia berniat mencuci piring yang dia pakai di rumah Danu, biar makin terasa latihan jadi istri Mas Danu nya.
Yuda ingin memberikan piring yang dia pakai, namun Lila menolak.
"Cuci saja sendiri, Pak Yuda punya tangan kan? Lagian Lila bukan calon istrinya pak Yuda! "
Yuda melotot tak percaya, Lila begitu lembut di depan Danu, kenapa jadi Mak Lampir jika di depannya.
"Sekalian Lil, hitung-hitung sebagai bakti seorang murid ke gurunya" Rayu Lila.
"Ogah!"
Lila berlalu begitu saja tanpa mau mengambil piring kotor itu, membuat Danu kembali terkekeh melihatnya.
"Hah bisa tertawa juga kamu Dan, katanya nggak suka? Tapi di sosor juga. Dia kayaknya suka banget sama kamu, kenapa nggak di terima saja, lumayan dapat istri bocil"
"Semalam hanya khilaf, kalau kamu jadi aku, kamu juga pasti tergoda ya kan? Kucing mana yang tahan saat di beri ikan asin?"
"Jadi kamu hanya mainin dia? Parah kamu. Jangan PHP in anak orang. ntar nyesel"
"gue nggak suka dia, jadi tidak akan menyesal"
Lila diam-diam mendengar percakapan antar Danu dan Yuda. Hatinya bak di hantam batu besar, rasanya begitu sesak dan menyakitkan.
'Munafik'
Batin Yuda.