NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Hari-hari berikutnya berjalan menegangkan bagai benang tipis yang siap putus kapan saja. Seluruh kantor seolah terbelah menjadi dua kubu: sebagian besar diam menunggu keputusan, sementara sebagian lagi pengikut setia Dimas dan Rina berbisik-bisik menyebarkan kabar burung bahwa Ani pasti akan segera dipecat karena terbukti curang. Wajah Dimas dan Rina tampak semakin berseri, penuh kemenangan yang belum sempat diraih. Mereka yakin rencana jahatnya berjalan mulus, tanpa celah dan tanpa jejak.

Namun, mereka lupa satu hal penting: kejahatan, seberapa rapi pun disusunnya, pasti akan meninggalkan bekas. Apalagi kejahatan yang dilakukan oleh orang yang terlalu percaya diri dan meremehkan lawannya.

Ani bekerja diam-diam, tidak lagi banyak bicara atau menanggapi bisikan-bisikan yang menyakitkan itu. Ia tidak lagi menangis atau merasa sedih. Di dalam dadanya kini hanya ada satu tujuan: mencari kebenaran, membersihkan nama baiknya, dan membuktikan siapa dalang di balik semua kekacauan ini. Berkat kepercayaan Damar, ia diberi akses penuh ke ruang arsip dan data-data lama, hal yang biasanya tidak boleh diakses sembarangan orang.

Setiap sore sepulang jam kerja, saat semua karyawan sudah pulang, Ani tetap tinggal di ruang arsip yang sepi dan berbau kertas tua itu. Ia memeriksa satu per satu dokumen, membandingkan angka, tanggal, tanda tangan, hingga jenis kertas dan tinta yang digunakan. Matanya lelah, tubuhnya pegal, tapi semangatnya tak pernah padam. Ia teringat pesan Ayah dan Ibu, teringat betapa berat perjuangannya bangkit dari keterpurukan, dan ia bertekad tidak akan membiarkan semuanya sia-sia begitu saja.

Malam ketiga pencariannya, saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Ani hampir putus asa. Ia sudah memeriksa ratusan berkas namun belum menemukan bukti kuat yang bisa membalikkan keadaan. Ia duduk sejenak, mengusap wajahnya yang lelah, lalu tangannya kembali meraih berkas-berkas yang berkaitan langsung dengan proyek bermasalah itu. Ada dua dokumen yang menjadi kunci: satu berkas rancangan asli yang diklaim milik Ani dengan angka yang meleset, dan satu lagi salinan data yang masuk ke keuangan.

Ani mengambil kaca pembesar kecil yang selalu ia bawa. Ia memeriksa tanda tangannya sendiri di berkas yang "bermasalah" itu. Bentuknya memang mirip, sangat mirip, sampai orang awam pun pasti percaya itu asli. Namun, mata Ani yang teliti menangkap hal kecil. Saat ia menandatangani dokumen, ia selalu memiliki kebiasaan kecil: huruf akhir namanya selalu sedikit menjulur ke bawah, jejak goresan pena yang khas karena ia menulis dengan gaya tangan santai. Di berkas ini, goresan itu ada, tapi kaku. Seperti orang yang meniru gerakan tangan, bukan menulis dengan lancar.

Tapi itu belum cukup. Ani lalu membandingkan tanggal dan waktu masuk dokumen yang tertera di stempel kantor.

"Ini aneh..." gumam Ani pelan.

Di berkas yang ada di arsip, tertulis stempel masuk tanggal lima belas bulan lalu, jam sepuluh pagi. Tapi di buku catatan pribadinya yang selalu ia simpan rapat di apartemen dan tidak pernah dibawa ke kantor ia mencatat dengan rinci bahwa dokumen itu baru selesai diperiksa dan diserahkan pada tanggal enam belas, jam dua siang. Ada selisih satu hari lebih.

Namun yang paling mengejutkan ditemukan saat Ani memeriksa jenis kertas dan nomor seri kertas di pinggiran berkas. Perusahaan ini memiliki aturan ketat: kertas untuk dokumen resmi proyek besar hanya menggunakan jenis tertentu dengan kode seri produksi khusus. Ani membandingkan berkas yang dituduhkan padanya dengan berkas-berkas lain di tumpukan yang sama.

Jantungnya berdegup kencang seketika.

Berkas yang "salah" itu, kode serinya berbeda! Itu adalah kertas biasa yang bisa dibeli di toko alat tulis mana saja, bukan kertas resmi dari gudang perusahaan. Orang yang memalsukannya ceroboh di bagian ini, terlalu fokus pada angka dan tanda tangan, lupa bahwa kertas yang digunakan pun punya identitas sendiri.

Tapi itu baru bukti bahwa berkas itu palsu. Ani butuh bukti siapa yang membuat dan memasukkan berkas palsu itu ke sistem.

Ani teringat ucapan Damar: "Penjahat pasti meninggalkan jejak."

Ia lalu beralih memeriksa catatan akses ruang arsip yang tercatat di komputer administrasi. Setiap kali ada yang masuk atau meminjam berkas, harus ada tanda tangan atau catatan sistem. Ani menelusuri tanggal lima belas bulan lalu, hari di mana berkas palsu itu diklaim masuk.

Nama yang tertera jelas di layar monitor itu membuat darah Ani mendidih sekaligus lega.

Nama Pengakses: Rina Amalia

Bagian: Keuangan

Keperluan: Memeriksa kelengkapan dokumen pendukung.

Namun, ada satu lagi hal yang menarik perhatian Ani. Di catatan log sistem digital, tertera bahwa akun pengguna Dimas pernah masuk dan mengunduh data proyek itu dua hari sebelum berkas "asli" itu "dibuat".

Potongan-potongan teka-teki itu mulai tersusun rapi di kepala Ani.

Jadi begini ceritanya... batin Ani. Mereka berdua bekerja sama. Dimas mengambil data asli, mengubah angkanya, lalu Rina yang mencetak ulang di kertas biasa, memalsukan tanda tangan, lalu memasukkannya ke arsip dan sistem agar terlihat sah. Mereka pikir semuanya sama, mereka pikir tidak ada yang akan mengecek sampai ke detail kertas dan nomor seri.

Namun, bukti ini masih dianggap lemah jika hanya berupa data komputer dan perbedaan kertas. Ani butuh sesuatu yang lebih nyata, sesuatu yang tidak bisa mereka bantah.

Pagi harinya, Ani datang ke kantor dengan wajah yang tidak lagi cemas, melainkan penuh tekad. Ia langsung menemui Damar dan menyerahkan semua temuan itu: perbedaan tanda tangan, perbedaan kertas, selisih tanggal, hingga catatan akses nama Rina dan Dimas.

Damar memeriksanya satu per satu dengan saksama. Semakin lama ia membaca dan memeriksa, semakin gelap wajah Damar. Bukan marah pada Ani, melainkan marah luar biasa pada pengkhianatan bawahannya sendiri. Damar tahu betul aturan kertas perusahaan, ia tahu betul ciri khas tulisan tangan Ani, dan ia tahu betul sistem pencatatan akses. Semua bukti itu menunjuk satu arah yang sama.

"Kamu hebat, Ani. Kamu benar-benar hebat," ucap Damar pelan, namun suaranya mengandung amarah yang tertahan. "Mereka terlalu sombong. Mereka pikir karena mereka sudah lama di sini, mereka bisa melakukan apa saja semaunya sendiri. Mereka pikir kamu wanita lemah yang akan langsung menyerah dan pergi. Mereka lupa kalau ketelitian dan kejujuranmu adalah kelebihan terbesarmu."

Damar bangkit berdiri, menatap Ani dengan pandangan tegas.

"Sudah cukup. Permainan ini sudah berlangsung terlalu lama. Sekarang saatnya kita buka kedok mereka di depan semua orang. Aku akan panggil rapat darurat seluruh staf inti dan pengurus proyek. Di sana, kamu akan paparkan semua bukti ini. Aku ingin Dimas dan Rina ada di situ juga. Aku ingin melihat bagaimana wajah mereka saat kedok kebohongan mereka dibongkar habis-habisan."

 Siang itu, ruang rapat besar penuh sesak. Kabar mengenai rapat mendadak ini sudah menyebar, dan semua orang tahu ini berkaitan dengan kasus selisih dana yang melibatkan Ani. Suasana tegang dan penuh rasa penasaran.

bersambung ,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!