NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: BATUK DI TENGAH MALAM

Bab 12: Batuk di Tengah Malam

Jarum jam dinding di kamar Revan sudah menunjuk ke angka dua dini hari. Suasana di luar jendela begitu pekat, hanya menyisakan suara jangkrik malam dan deru angin yang sesekali menggoyang dedaunan pohon mangga di halaman samping. Di dalam kamarnya yang gelap gulita tanpa penerangan lampu, Revan masih telentang menatap langit-langit plafon. Matanya terasa berat dan perih karena kurang tidur, namun otaknya menolak untuk beristirahat. Kalimat-kalimat tajam Ayah dari ruang makan sore tadi masih berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang terus-menerus menyayat harga dirinya.

Fisik segar bugar, kerjaannya cuma kelayapan, berantem, dan bawa pulang sampah ke rumah! Kamu gak malu sama Abangmu?!

Revan memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram bantal di bawah kepalanya dengan erat untuk menyalurkan rasa sesak yang menghimpit dadanya. "Gue juga mau dibanggain, Yah, Bu..." bisiknya lirih pada kegelapan, sebuah pengakuan jujur yang hanya berani ia ucapkan saat tidak ada satu pun orang yang mendengar. "Tapi sesempurna apa pun gue usaha, di mata kalian gue tetep bakal kalah sama Arka."

Tepat di saat keheningan malam mulai menidurkan pikirannya, sebuah suara dari balik dinding sebelah kamarnya tiba-tiba memecah kesunyian.

Uhuk! Uhuk... Hakh... Uhuk!

Revan tersentak, matanya kembali terbuka lebar. Itu suara batuk Arka.

Awalnya, Revan mencoba mengabaikannya. Ia menarik selimut garis-garis miliknya hingga menutupi seluruh kepala, mencoba meredam gelombang suara yang mengganggu itu. Namun, bukannya mereda, suara batuk dari kamar sebelah justru terdengar semakin intens dan tidak wajar.

Uhuk! Uhuk... Khh... Uhuk! Uhuk!

Suara itu terdengar sangat berat, kering, dan dipenuhi oleh bunyi tarikan napas yang sangat pendek serta tersedat-sedat. Seolah-olah, saluran pernapasan orang di sebelah sana sedang dicekik oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Suara gesekan sprei tempat tidur dan derit ranjang besi Arka yang terguncang pelan ikut terdengar, menandakan kalau si pemilik kamar sedang berjuang mengubah posisi tubuhnya demi mencari oksigen.

Revan membuka selimutnya dengan sentakan kasar, lalu duduk di tepi kasur. Napasnya memburu kencang, bukan karena khawatir, melainkan karena rasa jengkel yang mendadak meluap ke ubun-ubunnya. Ego remajanya yang terluka membuat Revan langsung menyimpulkan hal yang buruk.

Sengaja banget lo, Bang, batin Revan, giginya bergemelatuk menahan amarah. Tengah malam begini sengaja batuk sekeras itu biar Ibu sama Ayah bangun dan lari ke kamar lo? Belum puas lo monopoli perhatian mereka pas makan sore tadi? Sekarang waktu tidur gue pun harus lo rusak pake drama lo ini?!

Revan tidak pernah tahu—dan dinding pembatas kamar mereka menjadi saksi bisu yang teramat kejam—bahwa di balik tembok itu, Arka sedang mengalami masa-masa paling kritis di hidupnya. Racun urea di dalam darah Arka yang gagal disaring oleh ginjalnya yang sudah rusak parah kini telah menumpuk dan mulai menjalar ke paru-parunya, memicu penumpukan cairan yang membuat dadanya terasa seperti dihantam oleh gada besi yang sangat berat.

Arka sedang tidak berakting. Cowok itu kini sedang berlutut di lantai kamarnya yang dingin, kedua tangannya mencengkeram erat pinggiran kasur hingga kuku-kukunya memutih. Wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi kebiruan karena kekurangan oksigen. Setiap kali batuk itu keluar, rasa sakit yang teramat panas menghantam pinggang belakangnya, membuat air mata Arka menetes tanpa bisa ia tahan. Arka memejamkan mata, mati-matian menekan mulutnya menggunakan bantal agar suaranya tidak mengganggu Revan di kamar sebelah, namun fisiknya yang sudah di ambang batas total menolak untuk berkompromi.

Uhuk! Hakh... Uhuk!

"BAJINGAN! BISA DIAM GAK LO?!"

Revan akhirnya kehilangan seluruh kesabarannya. Dengan kemarahan yang meluap-luap, ia berdiri dari kasur, melangkah cepat menuju dinding pembatas kamar, lalu menggedor permukaan dinding semen itu dengan kepalan tangannya yang keras secara bertubi-tubi.

DUG! DUG! DUG!

"Woi, Arka! Kalau mau drama sakit gak usah tengah malam begini! Gue mau tidur, bangsat! Berisik tahu gak?!" teriak Revan lantang, suaranya yang penuh dengan nada kebencian menggema membelah keheningan rumah berlantai dua tersebut.

Gedoran keras dan teriakan kasar Revan itu seketika membuat suara batuk di kamar sebelah terhenti. Sunyi senyap mendadak kembali menguasai koridor lantai dua.

Di balik dinding, Arka membeku. Kata-kata kasar adiknya terasa jauh lebih menyakitkan dibandingkan rasa perih yang sedang menggerogoti organ dalam tubuhnya. Arka menggigit bibir bawahnya rapat-rapat hingga berdarah, menahan erangan sakit dan isak tangis yang hendak lolos dari tenggorokannya. Dada Arka naik-turun dengan sangat cepat, ia memeluk lututnya sendiri di atas lantai yang dingin, merasa menjadi beban yang teramat sangat besar bagi adiknya sendiri.

Maaf... Maaf, Revan... Gue gak maksud buat ganggu tidur lo... bisik Arka di dalam hatinya yang hancur, air matanya luruh membasahi ubin kamar yang gelap.

Sementara itu, Revan yang mengira gedorannya berhasil membuat Arka "takut dan menghentikan aksinya", kembali melangkah menuju kasur dengan senyum sinis yang penuh kemenangan. Ia mengempaskan tubuhnya ke kasur, menarik selimutnya kembali, dan memejamkan mata dengan perasaan puas.

"Dasar manja. Digituin aja langsung diem. Emang bener-bener cuma cari perhatian," gumam Revan pelan sebelum akhirnya ia perlahan-lahan terlelap ke dalam mimpi.

Revan tidur dengan sangat nyenyak malam itu, diliputi oleh rasa puas karena merasa telah berhasil melawan "dominasi" sang anak emas. Ia sama sekali tidak pernah menyadari, bahwa di kamar sebelah, kakaknya menghabiskan sisa malam itu dengan duduk terjaga di sudut ruangan, memeluk dadanya yang sesak dalam keheningan yang menyiksa, berteman dengan rasa sakit yang perlahan-lahan sedang merayap naik untuk merenggut paksa seluruh sisa masa depannya.

Bersambung.....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!