“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manja Banget Sih, Pak Arga!
...****************...
Begitu pintu ruangan Arga tertutup di belakangnya, Rhea langsung mengembuskan napas panjang yang sejak tadi seperti tertahan di dadanya. Tangannya naik memegang kening sendiri pelan sambil terus berjalan menyusuri lorong fakultas yang mulai kembali ramai oleh suara mahasiswa.
Ia mengeratkan genggaman pada ponselnya sambil menggigit bibir bawah kecil. Langkahnya tidak terlalu cepat, tapi pikirannya benar-benar berisik.
"Ck, sial. Kenapa juga aku merengek kayak anak kecil di depan Pak Arga."
Rhea menghela nafas panjang, seolah baru menyadari tindakannya tadi ruangan Arga.
"Ya tuhan. Memalukan.."
Rhea langsung memejamkan mata frustrasi sesaat. Ia mengusap wajahnya kasar sekali lalu menuruni tangga dengan langkah cepat, seolah semakin jauh dari ruangan Arga akan membuat rasa canggungnya ikut hilang.
Begitu sampai di lantai dasar, langkah Rhea mendadak melambat.
Tatapannya tertahan pada seseorang yang berdiri santai di dekat mading fakultas sambil memasukkan satu tangan ke saku celana jeansnya. Jaket hitam yang dipakai pria itu tampak sedikit terbuka, memperlihatkan kaos gelap di dalamnya, sementara beberapa mahasiswa di sekitar sempat melirik ke arahnya sebelum kembali berjalan.
Rhea langsung mengenali sosok itu.
“Mas Dito…”
Pria itu menoleh cepat begitu mendengar suaranya. Sesaat kemudian sudut bibirnya terangkat tipis.
“Ya?” jawabnya ringan, lalu ekspresinya berubah sedikit lebih hidup saat melihat siapa yang datang.
“Eh, Rhea. Kebetulan ketemu kamu di sini. Aku dari tadi nyari kamu.”
Rhea berjalan mendekat sambil masih memegangi ponselnya. “Kenapa Mas Dito cari aku?”
Dito memutar tubuhnya menghadap Rhea sepenuhnya lalu menyandarkan bahu santai ke sisi dinding dekat mading. “Aku mau minta tolong kamu buat jadi partner aku ngurus event kampus.”
“Partner?” alis Rhea langsung naik kecil. “Aku bagian apa memangnya?”
“Administrasi.” Jawaban Dito cepat, seolah memang sudah memikirkan itu dari awal. “Proposal, data peserta, surat-surat… pokoknya yang rapi-rapi. Aku agak gak percaya anak lain.”
Rhea langsung mengembuskan napas kecil sambil mengalihkan pandangan sebentar, berpikir.
“Ehmm…” gumamnya pelan. “Boleh sih, Mas. Tapi aku bisanya pagi atau siang. Di sela-sela jam kuliah gitu…”
Ia menggigit bibir bawah kecil sebelum melanjutkan, “Soalnya kalau sore aku bantu Pak Arga.”
“Oh…” Dito mengangguk pelan sambil menatap Rhea beberapa detik lebih lama. “Iya juga. Kamu asdos nya Pak Arga ya.”
“Iya, Mas,” jawab Rhea santai sambil memainkan ujung ponselnya sendiri. “Gimana? Kalau gak bisa juga gak apa-apa kok.”
Dito langsung terkekeh pelan lalu menggeleng. “Kayaknya aman sih.”
Tatapannya jatuh lagi ke wajah Rhea sebelum ia menambahkan dengan nada lebih rendah, “Aku butuh kamu banget soalnya, Rhe.”
Rhea langsung mendecih kecil sambil memutar mata malas, meski sudut bibirnya sempat bergerak tipis menahan senyum.
“Iya deh, iya…” jawabnya akhirnya pasrah.
“Nice.” Dito langsung berdiri tegak lagi sambil mengacak rambutnya asal. “Nanti aku kabarin di grup sama jadwal rapatnya.”
“Iya, Mas.”
Rhea mengangguk kecil sebelum akhirnya pamit berjalan lebih dulu meninggalkan area mading, sementara Dito masih berdiri di tempatnya sambil memperhatikan punggung gadis itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
...****************...
Waktu terus berjalan sejak hari itu. Dan siang itu, setelah jam kuliah terakhir selesai, Rhea masih duduk di dalam kelas bersama Lusi.
Ruangan yang tadinya penuh sesak mahasiswa kini perlahan mulai lengang, menyisakan suara gesekan kursi dan obrolan samar yang makin menjauh dari lorong luar.
Rhea sibuk merapikan buku catatannya di atas meja, sesekali mengembuskan napas kecil pertanda lelah. Rambut panjangnya yang tergerai mulai terasa mengganggu, hingga akhirnya ia mengikatnya asal-asalan ke belakang leher agar lebih lega.
"Kamu sibuk banget sekarang, Rhe," keluh Lusi sambil menopang dagu di meja, menatap sahabatnya itu dengan cibir manja. "Jadi nggak ada waktu sama aku lagi."
Rhea terkekeh kecil tanpa mengangkat kepala, tangannya masih sibuk memasukkan pulpen ke dalam kotak.
"Mau gimana lagi, Lus..." jawabnya santai namun bernada pasrah. "Kamu tau sendiri kan siapa yang aku hadepin belakangan ini."
"Iya juga sih," sahut Lusi sambil mengangguk paham. "Mana sekarang pakai acara jadi panitia acara lagi. Tambah sibuk urusannya."
Rhea mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya sebentar ke sandaran kursi untuk meregangkan otot.
"Mau nolak tuh juga gak enak, Lus. Mas Dito sendiri yang minta tolong langsung tadi. Mana mungkin aku tolak mentah-mentah."
"Ck.." Lusi langsung menyipitkan mata, menatap Rhea penuh arti. "Mas Dito itu mah jelas-jelas lagi nyari kesempatan, tau."
Rhea spontan menoleh, dahinya berkerut bingung.
"Kesempatan apaan sih?"
"Ya biar bisa makin deket sama kamu lah, Rhe..." jawab Lusi yakin sambil mengangkat alis berkali-kali.
"Yeee... ngaco banget kamu," balas Rhea cepat sambil memutar bola matanya malas.
"Beneran tau." Lusi malah makin semangat membenarkan ucapannya. "Kan Mas Dito itu udah naksir kamu dari zaman kita masih mahasiswa baru dulu, Rhe. Emangnya kamu nggak pernah ngerasa?"
Rhea langsung tertawa kecil tak percaya, kembali menunduk merapikan tumpukan bukunya.
"Katanya siapa coba? Dasar, suka banget ngarang cerita."
"Katanya perasaan dan insting aku yang paling jitu," jawab Lusi santai sambil mengangkat kedua bahunya tak bersalah.
Rhea cuma menggeleng kecil sambil tersenyum. Ia memasukkan buku terakhir ke dalam totebagnya, lalu meraih ponsel yang tergeletak di sisi meja.
"Mau ke mana sekarang?" tanya Lusi lagi, penasaran melihat gerak-gerik Rhea yang bersiap pergi.
Rhea langsung mengangkat ponselnya, lalu mendekatkan layar itu tepat di depan wajah Lusi.
"Nih," katanya datar dan pasrah. "Disuruh fotokopi sama Pak Arga."
Lusi melirik sekilas pesan di layar itu, sebelum matanya langsung terbelalak tak percaya.
"Astaga... manja banget sih Pak Arga! Fotokopi doang pake acara nyuruh orang segala!"
Rhea langsung tertawa kecil sambil buru-buru menurunkan ponselnya lagi.
"Coba kamu ngomong begitu pas lagi di depan orangnya," tantangnya sambil menaikkan satu alis.
"Gak deh makasih." Lusi langsung menggeleng cepat, bahkan mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Daripada nanti aku mati berdiri."
"Hahahaha..." tawa Rhea pecah mendengar respon sahabatnya itu.
Rhea akhirnya berdiri, merapikan tali tas yang tersampir di bahu.
"Ya udah, aku pergi dulu ya. Nanti keburu dimarahin lagi kalau kelamaan."
"Iya deh sana," jawab Lusi, lalu menambahkan cepat.
"Eh, nanti aku ngomong ke Mas Dito ya, suruh ngajak kamu sekalian biar ikut juga, jadi aku ada temennya."
Lusi langsung menunjuk wajah Rhea dengan jari telunjuknya cepat.
"Jangan aneh-aneh ya, Rhe. Aku nggak mau mikirin hal-hal yang berat-berat lagi tau. Pusing!"
"Bodo amat ah, urus belakangan kalau itu."
"Ck, dasar nggak bisa diem..." gerutu Lusi pelan sambil menggelengkan kepala sambil memperhatikan Rhea keluar dari ruang kelas yang mulai sepi.