"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Diturunkan di tengah jalan
Bab 12 — Diturunkan di tengah jalan
•••
Zayn terbangun di pagi harinya. Ia mendapati Varisha yang masih tertidur nyenyak dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja. Selimut wanita itu sudah tersibak hingga ke pinggang.
"Cih! Dia pikir aku akan tergoda apa?" ujar Zayn sambil memalingkan wajahnya dengan kesal.
Ia duduk di pinggir ranjang, lalu mencoba membangunkan Varisha menggunakan ujung kakinya. Ia bisa merasakan kulit halus yang bersentuhan dengan ujung kakinya.
Buru-buru ia menepis pikirannya.
"Heh, bangun!" ucap Zayn dingin.
Tidak ada respon.
"Hey, bangun!" serunya lagi sambil kembali menyentuh tubuh Varisha dengan ujung kaki.
Varisha perlahan membuka mata. Ia langsung terkejut saat melihat Zayn sedang menatap dirinya dengan wajah malas dan tatapan tajam.
Seketika Varisha menarik selimut hingga menutupi lehernya.
Zayn kan benci melihat dirinya seperti ini.
Zayn menyipitkan matanya dengan senyum sinis.
"Kau pikir aku akan tergoda dengan tubuh jelekmu itu, hah?!" ejeknya sebelum turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Varisha hanya terdiam dengan wajah sedih.
"Maaf..." lirihnya pelan.
•••
Di meja makan.
Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul.
"Kenapa tidak istirahat saja? Kamu pasti masih sakit." ujar Lestari khawatir melihat wajah Varisha yang masih pucat.
"Kata ibumu benar, Varisha. Hari ini cuti saja. Biar Zayn menemanimu di rumah." sambung Faruq.
Zayn langsung tersentak mendengar namanya disebut.
Varisha dapat melihat jelas perubahan ekspresi pria itu.
"Tidak perlu, Ayah. Aku sudah lebih baik. Lagi pula aku harus bekerja hari ini. Minggu depan murid-murid akan ujian, jadi para guru harus menyusun soal." jelas Varisha lembut.
"Tapi kamu masih sakit, Nak." ujar Lestari lagi.
Varisha tersenyum tipis.
"Aku baik-baik saja, Bu."
"Kalau begitu, nanti biar Zayn yang mengantarmu ke sekolah. Iya kan, Zayn?" tanya Lestari.
"Iya, Bu." jawab Zayn singkat.
Tiba-tiba Varisha meringis kecil.
"Akh!"
Ternyata kaki kanannya diinjak sengaja oleh Zayn di bawah meja.
"Kenapa, Varisha?" tanya Faruq dan Lestari bersamaan.
Varisha menahan sakit sambil memaksakan senyum.
"Tidak apa-apa, Ayah, Ibu. Tadi aku tergigit lidah sendiri..." ujarnya pelan.
"Ya ampun, hati-hati dong, Nak." kata Lestari.
"Iya sayang, makan pelan-pelan." ujar Zayn sambil tersenyum manis pura-pura di depan kedua orangtuanya.
Varisha hanya diam.
'Pandai sekali dia berakting.' batinnya sedih.
"Andai saja ini bukan sandiwara."
"Begini dong, jadi suami istri harus akur." ujar Faruq senang melihat mereka.
"Dan kamu, Zayn. Jadilah suami yang baik untuk Varisha."
"Tentu saja, Ayah." jawab Zayn sambil melirik tajam ke arah Varisha.
Varisha buru-buru menundukkan kepala.
"Ibu jadi ingat masa muda kita ya, Sayang." ujar Lestari pada suaminya sambil tersenyum.
Faruq membalas senyum istrinya hangat.
"Minggu depan Ayah akan membuka cabang baru perusahaan. Ayah ingin kamu yang memimpinnya, Zayn." ucap Faruq mantap.
"Aku? Ayah serius?" Zayn terlihat terkejut sekaligus senang.
"Ayah sangat yakin."
Wajah Zayn langsung berbinar bahagia.
"Lalu dunia balapku bagaimana?" tanyanya.
"Tak masalah. Saat kamu balapan, akan ada orang kepercayaanmu yang menjaga perusahaan."
Zayn mengangguk puas.
"Terima kasih, Ayah. Aku tidak akan mengecewakan Ayah."
Varisha diam-diam ikut tersenyum melihat kebahagiaan Zayn.
"Aku bersiap dulu." ujar Varisha sambil bangkit dari kursi.
•••
Varisha duduk di depan meja rias sambil merapikan sedikit make up di wajahnya.
Hari ini ia mengenakan celana panjang hitam dan kemeja putih kotak-kotak sederhana khas seorang guru.
Tak lama, bayangan Zayn muncul di cermin.
Varisha mencoba tersenyum.
Namun Zayn justru membalas dengan tatapan dingin penuh kebencian.
"Cepat! Aku tidak punya banyak waktu!" ketusnya.
"Iya, sebentar lagi selesai..." jawab Varisha pelan.
Penampilan Varisha sebenarnya terlihat cantik dan anggun pagi itu. Tubuhnya terlihat proporsional meski berpakaian sederhana.
Zayn menatapnya beberapa detik.
'Kenapa dia terlihat cantik sekali pagi ini?' pikirnya tanpa sadar.
Namun sedetik kemudian ia langsung menggeleng cepat.
'Apa yang kupikirkan sih?!'
•••
Di dalam mobil.
Varisha duduk diam sambil memainkan jemarinya sendiri. Jantungnya berdebar-debar berada dekat Zayn seperti ini.
"Zayn..." panggilnya lembut.
Pria itu tidak menjawab.
"Zayn..." panggilnya lagi.
"APA?!" bentak Zayn tiba-tiba sambil menatap tajam.
Varisha langsung terkejut.
"T-tidak apa-apa..." jawabnya sedih.
Padahal tadi ia ingin mengatakan sesuatu.
Ia ingin jujur tentang perasaannya.
"Turun!" perintah Zayn tiba-tiba.
Varisha melihat ke luar jendela.
Ini bahkan masih jauh dari sekolah.
"Sekolah masih jauh, Zayn."
"Aku tidak peduli. Cepat turun!"
"Tapi—"
"AKU BILANG TURUN SEKARANG!"
Varisha menahan sedih.
"Baiklah..."
Ia turun perlahan dari mobil.
Tak lama mobil hitam itu langsung melaju pergi meninggalkannya sendiri di tepi jalan.
Varisha hanya bisa menatap nanar.
Tempat ini masih jauh sekali dari sekolah.
"Varisha!" sapa seseorang dari atas motor.
Varisha menoleh.
"Brian!" serunya lega.
Brian membuka helmnya.
"Kenapa kamu di sini?"
Varisha buru-buru mencari alasan.
"Motorku mogok di sana. Jadi aku jalan kaki sambil nunggu taksi."
"Naik saja denganku."
Varisha tampak ragu.
"Sudahlah. Kita kan teman."
Varisha akhirnya tersenyum kecil.
"Baiklah."
"Sini tongkatmu biar aku pegang."
Brian membantu Varisha naik ke motor dengan hati-hati.
"Hati-hati ya."
Varisha merasa beruntung masih punya teman sebaik Brian.
Motor pun melaju.
"Pegangan yang kuat. Kita hampir terlambat." ujar Brian.
Varisha memegang jaket kulit Brian perlahan.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata penuh amarah memperhatikan dari dalam mobil.
Zayn.
"Baru ditinggal sebentar saja sudah berani jalan sama pria lain." geramnya.
Matanya fokus pada tangan Varisha yang memegang erat jaket Brian.
Varisha tak sengaja melihat mobil Zayn masih berhenti di pinggir jalan.
"Dia masih di sini..." lirihnya.
"Tapi dia tega meninggalkanku."
Air matanya kembali menggenang.
Namun Varisha buru-buru menghapusnya.
"Bersabarlah, Varisha. Suatu hari nanti... Zayn pasti akan menerimamu."
To be continue...
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya