Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.
Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindari
“Sudah satu minggu ini Mbak Arelia kok nggak kelihatan ya…” gumam Dhea yang sedang melamun di meja kasir.
Sudah satu minggu sejak kejadian saat bertemu Reno. Dan sejak hari itu, Arelia tidak pernah datang lagi ke toko bunga milik Dhea.
Hal itu membuat Dhea merasa sedih sekaligus khawatir.
Karena ia benar-benar tidak tahu bagaimana keadaan Arelia sekarang. Dhea menopang dagunya pelan sambil menatap pintu toko yang sesekali terbuka karena angin.
Entah kenapa, ia selalu berharap sosok wanita itu tiba-tiba datang sambil membawa senyum kecilnya. Namun harapan itu tidak pernah terjadi.
“Kenapa malah menghindar sih…” lirih Dhea pelan.
Padahal menurutnya, tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Bahkan setelah mendengar nama “Aren” dari Reno sekalipun
Dhea tetap tidak memikirkan hal buruk tentang Arelia. Yang ia pikirkan justru wajah wanita itu sebelum pergi. Takut. Dan terluka. Seketika Dhea menghela napas pelan.
“Mbak sekarang lagi apa ya…” gumamnya lagi.
Dan tanpa sadar, Dhea ternyata mulai merindukan kehadiran Arelia.
Kring!
Suara pintu terbuka terdengar membuat Dhea langsung menoleh dengan penuh harap. Ia berpikir orang yang datang adalah sosok yang selama ini ia tunggu-tunggu.
Namun saat pandangannya benar-benar mengarah ke depan, ternyata seorang pria tampan berdiri di sana dengan pakaian santainya.
Pria itu tersenyum kecil saat menatap Dhea.
Aren.
Orang di depan Dhea adalah Aren, sosok asli di balik Arelia.
Namun Dhea tidak mengetahui hal itu. Saat ini, Aren kembali menjadi dirinya sendiri.
“O-oh, maaf. Apa tokonya sudah tutup?” tanya Aren pelan.
“E-eh tidak, Mas. Masih buka kok,” jawab Dhea gugup.
Karena terlalu berharap Arelia datang, Dhea sampai merasa sedikit kecewa saat menyadari pria di depannya hanyalah seorang pelanggan.
“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” tanya Dhea dengan lembut.
Aren menatap gadis itu beberapa detik. Jantungnya langsung terasa sesak. Karena Dhea sama sekali tidak mengenalinya. Padahal selama ini, ia selalu berada di dekat gadis itu.
“Saya cuma mau beli bunga,” jawab Aren pelan sambil tetap memperhatikan wajah Dhea.
Namun tatapannya terlihat berbeda. Seolah sedang menahan sesuatu di dalam dirinya sendiri.
“Bunga apa yang Mas inginkan?” tanya Dhea kepada Aren dengan ramah.
Aren langsung tersadar dari lamunannya. Ia sempat terdiam beberapa detik karena sebenarnya tidak tahu harus membeli bunga apa.
Tujuannya datang ke sana bukan benar-benar untuk membeli bunga. Melainkan, ingin melihat Dhea lagi.
“Apa ada rekomendasi dari kamu?” tanya Aren akhirnya.
Dhea langsung berpikir sejenak sebelum berjalan mendekati beberapa bunga yang tersusun rapi.
“Kalau untuk hadiah, biasanya bunga ini bagus, Mas,” ucap
Dhea sambil menunjuk bunga berwarna putih lembut. Aren memperhatikan Dhea diam-diam. Cara gadis itu berbicara. Senyumnya.
Dan tatapan tulusnya. Semuanya masih sama seperti biasanya. Hanya saja sekarang, Dhea memperlakukannya seperti orang asing.
“Mas?” panggil Dhea membuat Aren kembali tersadar.
“Iya?”
“Masnya malah melamun,” ucap Dhea kecil sambil tersenyum.
Deg.
Senyum sederhana itu kembali membuat hati Aren terasa hangat sekaligus sakit dalam waktu bersamaan.
Karena ia sadar, Dhea bahkan tidak mengetahui bahwa orang yang sedang berdiri di depannya adalah Arelia yang selama ini ia cari.
“O-oh maaf, karena terlalu bingung jadi saya malah melamun. Maaf ya,” ucap Aren dengan gugup.
Entah kenapa, Aren merasa jauh lebih gugup dari biasanya.
Padahal awalnya ia sangat ingin bertemu Dhea. Namun sekarang, setelah benar-benar berada di depan gadis itu sebagai dirinya sendiri, ia justru merasa canggung dan takut.
“Iya, Mas, nggak apa-apa kok. Saya sudah biasa ketemu pelanggan yang begitu,” jawab Dhea dengan senyum ramahnya. “Karena pilihannya banyak, jadi biasanya mereka sambil mikir sampai melamun.”
Aren langsung tersenyum kecil mendengar penjelasan polos itu.
“Begitu ya…”
“Iya,” jawab Dhea sambil mengangguk kecil.
Lalu gadis itu kembali sibuk merapikan beberapa bunga di depannya.
Sedangkan Aren diam-diam terus memperhatikan Dhea. Dan semakin lama melihatnya, perasaan aneh di dalam dirinya semakin terasa jelas.
Nyaman. Tenang. Namun sekaligus takut. Takut jika suatu hari nanti Dhea mengetahui semuanya dan mulai menjauh darinya.
“Masnya mau bunga untuk siapa?” tanya Dhea tiba-tiba.
Pertanyaan itu langsung membuat Aren tersentak kecil.
“Hah?”
“Biasanya orang beli bunga kan buat seseorang,” ucap Dhea polos.
Aren langsung terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan.
“Untuk seseorang yang… sangat berarti.”
“Wah, iri ya. Berarti orang itu sangat penting untuk Mas,” ucap Dhea sambil tersenyum kecil.
Deg.
Ucapan sederhana itu langsung membuat Aren terdiam. Tatapannya perlahan tertuju pada Dhea. Karena tanpa disadari, orang yang sedang dibicarakan itu adalah dirinya sendiri.
“Iya,” jawab Aren pelan. “Sangat penting.”
Dhea langsung tersenyum hangat.
“Pasti orangnya baik banget sampai Mas bisa sesayang itu.”
Aren terkekeh kecil mendengar ucapan polos tersebut.
“Orangnya memang baik.”
“Berarti Mas harus menjaga dia baik-baik.”
Kalimat itu langsung membuat senyum Aren perlahan memudar. Karena justru dirinya sendiri yang sedang takut kehilangan orang itu.
“Aku bahkan nggak tahu dia bakal tetap dekat sama aku atau nggak nanti…” gumam Aren pelan tanpa sadar.
“Hah?” Dhea bingung karena tidak terlalu mendengar jelas.
Namun Aren langsung menggeleng kecil.
“Tidak apa-apa.”
Dhea pun tidak bertanya lagi. Ia justru mulai memilih beberapa bunga dengan serius.
“Kalau begitu, Dhea pilihkan bunga yang paling bagus buat Mas ya.”
Melihat semangat kecil di wajah Dhea. Aren kembali tersenyum tipis. Dan lagi-lagi, hatinya terasa nyaman hanya karena berada di dekat gadis itu.
“Eh, Mas tahu nama saya?” tanya Dhea dengan wajah terkejut.
Seketika Aren langsung membeku. Jantungnya terasa berhenti sesaat. Ia baru sadar kalau dirinya tadi keceplosan memanggil nama Dhea. Sedangkan Dhea kini menatapnya penuh bingung.
“E-eh…” Aren langsung salah tingkah.
Otaknya mendadak kosong karena panik.
“A-ah, tadi saya dengar ada orang manggil nama kamu di luar,” bohongnya cepat.
“Jadi saya ikut tahu.”
“Oh…” Dhea mengangguk pelan meski masih sedikit bingung.
Namun untungnya, gadis itu tidak terlalu curiga. Aren langsung mengembuskan napas lega dalam hati. Hampir saja semuanya terbongkar.
“Mas bikin saya kaget,” ucap Dhea kecil sambil tertawa pelan.
Aren hanya bisa tersenyum canggung. Sedangkan di dalam hatinya, ia semakin sadar kalau dirinya benar-benar tidak pandai berbohong di depan Dhea.
“Kalau begitu, bunga ini cocok untuk Mas.”
Dhea akhirnya mengambil satu rangkaian bunga kecil dengan perpaduan warna putih dan biru muda.
Aren langsung memperhatikan bunga itu pelan.
“Kenapa pilih yang itu?” tanyanya.
Dhea tersenyum kecil sambil merapikan pita di bunganya.
“Karena menurut Dhea, bunga ini kelihatannya tenang dan hangat.”
Deg.
Entah kenapa, jawaban itu membuat Aren kembali menatap Dhea lebih lama.
“Dan lagi…” lanjut Dhea polos. “Kalau orang yang Mas maksud memang penting banget, pasti bunga yang sederhana tapi tulus lebih cocok.”
Aren terkekeh kecil pelan.
“Kamu selalu bicara seperti orang yang sudah paham semuanya.”
Dhea langsung menggeleng cepat.
“Tidak kok, Mas. Dhea cuma asal ngomong saja.”
“Kalau asal, kenapa selalu kena di hati ya?” gumam Aren tanpa sadar.
“Hah?” Dhea kembali bingung.
Namun Aren langsung mengalihkan pembicaraan.
“Berapa semuanya?”
Dhea langsung menyebutkan harga bunga itu. Aren kemudian mengambil dompetnya dan memberikan uang kepada Dhea. Namun saat Dhea ingin memberikan kembaliannya—
“Tidak usah,” ucap Aren cepat.
“Loh? Tapi kelebihan, Mas.”
“Anggap saja buat tambahan beli camilan.”
Dhea langsung menatap Aren terkejut.
“Mas baik banget…”
Aren hanya tersenyum tipis. Padahal sebenarnya, ia hanya ingin melihat Dhea tersenyum sedikit lebih lama.