⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Hari Pertama
"Bun, Hanum berangkat dulu ya," ucap Hanum sembari mencium tangan Bunda. Dia akan pergi ke salah satu kantor yang sudah dia hubungi sejak malam tadi. Sekalian diantar oleh Devan.
"Iya hati-hati, kalau sudah selesai kabarin aja Bunda," kata Bunda lagi.
Mereka berdua pun segera berangkat. Pagi ini begitu cerah, Hanum tampak tersenyum menatap pemandangan yang ada di depannya.
"Kamu ngelamar dimana, Hanum?" tanya Devan padanya.
"Di salah satu butik juga kok, Van," Hanum menjawab.
"Kalau kamu gak jadi di saja tinggal kabarin aku ya, aku cariin posisi yang masih ada di kantor aku," ucap Devan kemudian.
Hanum tersenyum. Dia akan berusaha semampunya untuk mencari pekerjaan yang dia inginkan. "Makasih ya ,Van."
Setibanya di butik tempat Hanum akan diinterview, Devan memberikan lima lembar uang merah dan kartu namanya. Membuat Hanum terkejut dan menggeleng dengan cepat.
"Aduh gapapa, Van. Kamu simpen aja deh," katanya merasa tak enak.
"Sudah kamu ambil aja, nanti boleh kamu ganti kalau udah kerja," kata Devan yang sebenarnya tak berharap agar dia menggantinya.
Hanum terdiam dan akhirnya dia mengambilnya, dia juga sadar kalau dompetnya semakin lama kering merontang. Lama-lama dia kena kanker lagi, alias kantong kering.
"Ya udah deh, makasih ya Van. Hati-hati di jalan!" seru Hanum sambil pergi meninggalkannya.
Devan tersenyum, kemudian dia mengemudikan mobilnya menuju kantornya.
"Selamat pagi, Bu.. Saya mau nanya ruang interview nya di mana ya?" tanya Hanum pada salah satu HRD yang ada di sana.
Sesampainya di ruang interview, dia langsung bertemu dengan pemilik butik itu yang juga seorang perempuan sepertinya.
"Eh, bukannya Mbak juga punya butik ya?" tanya pemilik itu.
Hanum cukup kaget. "Iya, Bu.., saya sebelumnya punya tapi ada permasalahan sedikit. Kalau boleh tau ibunya siapa ya?" tanya Hanum balik.
"Saya Dela, Mbak Hanum. Klien mbak beberapa bulan yang lalu. Waduh, kok bisa?"
Hanum mengingat sejenak, lalu dia tertawa kecil. Benar, empat bulan yang lalu Dela sempat menjadi klien nya. Akhirnya, Hanum pun menceritakan butiknya yang diambil alih oleh suaminya secara paksa, perceraian nya.
"Pantaslah waktu itu saya kesana udah beda. Gak ada sopannya itu Mbak yang baru..Saya kira itu asisten atau adik Mbak Hanum," ucap Dela lagi.
Hanum tersenyum saja. Tanpa banyak interview lagi, dia langsung direkrut menjadi manajer butik Dela.
Hanum diarahkan menuju ruang kerjanya, setelah dia memperhatikan data, dia melihat ada tujuh belas karyawan yang bekerja di butik itu.
"Kalau butuh bantuan hubungi saya saja ya, Mbak," kata Dela sebelum pergi ke ruangannya.
Hanum mengirim pesan kepada Devan.
'Van, aku diterima kerja!!"
Pria itu sedang duduk di ruangannya pun memberikan ponselnya, lalu dia tersenyum.
"Alhamdulillah kalau begitu"
Hanum memberikan emot jempol untuk pesan darinya itu. Sementara Devan yang masih tersenyum pun tiba-tiba sadar sendiri.
"Bapak ngapain senyum-senyum mulu?" tanya Ujang, salah satu karyawan yang kebetulan sedang mengurus berkas di ruangannya.
"Gak ada kok," jawab Devan.
"Wah wah wah.., tampaknya bapak sudah punya gebetan ya. Kapan-kapan bawa ke kantor pak, biar saya gak kepo hehe," katanya mencandai Devan.
Waktu istirahat pada tengah hari tiba, Hanum melaksanakan salat Zuhur bersama beberapa staf yang baru saja dia kenali. Untungnya, mereka pada ramah dan humble. Bahkan, baru saja Hanum mengenalinya langsung diajak bergosip.
"Mbak Hanum ini masih belum expert (mahir) ya kalo gosip-gosipan kayak kita. Sini mbak, nimbrung kita bahas mulai dari yang ringan dulu. Sembilan belas juta lapangan pekerjaan misalnya," ucap Nining mengajak Hanum untuk gabung.
Hanum tersenyum. Ada-ada saja.
Tanpa terasa hari mulai petang, Hanum bersiap untuk pulang. Tak banyak yang dia lakukan selain memantau jadwal permintaan temu klien, akumulasi distribusi barang dan pemasukan modal yang ada di butik itu. Semuanya itu pernah dia lakukan dan kuasai. Jadi, dia tak begitu pusing dalam menghadapi nya.
"Gimana? Hari pertama nya aman?" tanya Dela yang kebetulan hendak pulang juga.
Hanum mengangguk. "Aman kok, Bu. Makasih ya," katanya.
"Eh gak usah panggil Ibu gitu dong, kita kan cuma beda tiga tahun. Panggil kakak aja ya hehe," katanya lagi.
Hanum mengangguk mengiyakan. "Ya sudah, Kak. Saya duluan dulu ya," ucap Hanum.
Dia berjalan di sepanjang trotoar sore itu, butik ini cukup dekat dengan pantai tepi kota. Dia pun menyempatkan diri untuk berjualan sepanjang trotoar tepi pantai. Alangkah indahnya pemandangan sunset sore itu, juga banyaknya pengunjung yang datang untuk refreshing setelah mumet bekerja seharian.
"Hanum?"
Suara yang amat dikenalinya itu memanggilnya dari belakang.
"Eh, Devan?"
"Kamu ngapain di sini?" tanyanya. Tampak raut wajah pria itu yang menghiraukannya.
"Oh, aku cuman jalan-jalan sebentar kok. Habis pulang dari kantor ini," kata Hanum.
"Jangan sampai kayak kemarin ya," ucap Devan mengungkapkan kekhawatirannya.
Hanum jadi merasa bersalah lagi. "Iya iya aku paham, Van. Lagi pula ini juga udah berakhir, aku akan memulai hariku yang baru, something like day one. Kayak hari pertama gitu," Hanum kini berjalan bersama pria itu.
"Van, kamu kapan sih punya gebetan? Umur segini masak cowok kayak kamu belum punya," canda nya lagi, tapi di balik itu Hanum juga merasa heran dengan Devan.
"Aku? Tinggal nunggu waktu pasti aku akan nikah, Hanum," ucap Devan. Dia cukup kaget dengan pertanyaan itu. "Memangnya kenapa?" tanya Devan balik.
"Ya.., kamu itu kan cowok yang kayaknya mudah banget deh luluhin perempuan gitu," kata Hanum.
"Terus?"
"Ya itu sih, intinya kamu itu cakep gitu. Masak belum punya gebetan sih?"
Devan tersenyum. Justru aku menyukai kamu, Hanum. Ucapnya dalam hati.
"Kamu gak mau nikah lagi, Hanum?" Devan ingin memastikan lebih lanjut.
"Hm.., gimana ya? Sebenarnya aku udah capek sama pernikahan pertama ku dan pastinya perempuan kayak aku mana mungkin disukai orang lagi. Apalagi aku udah bekas orang lain," ujar Hanum. "Jadi, kesimpulannya aku gak nikah lagi, Van. Menjanda haha," katanya sambil tertawa kecil.
Devan tersenyum kecut. Ada rasa kecewa yang terselip di pikirannya.
"Oh ya, kita beli sate yuk! Sekalian bawa ke rumah buat kita makan," ajak Hanum, dia langsung memesan lima bungkus sate dan membawanya pulang.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Devan hanya diam saja. Sedangkan Hanum yang tak pandai berbasa-basi cukup menatap ke depan saja. Sesekali dia bertanya-tanya dalam pikirannya karena kecanggungan yang dia rasakan.
"Kalau suatu hari nanti ada yang ingin melamar kamu, apa kamu mau, Hanum?"
Hanum cukup kaget mendengarnya. "Aku.., pertimbangkan lagi, Van."
"Maaf kalau aku berlebihan."
"Gapapa kok..,"