NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Cinta Seiring Waktu / Disfungsi Ereksi
Popularitas:170.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Santi Suki

Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya

Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".

Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.

"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-

"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-

"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai besar di ruang rawat pribadi Kastil Serigala Hitam. Suasana siang itu hening. Hanya terdengar bunyi mesin monitor yang berdetak pelan dan suara napas teratur seseorang yang masih lemah.

Alecio perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berat. Bahunya perih dan dadanya seperti ditimpa batu. Beberapa detik ia menatap langit-langit putih dengan ekspresi kosong sampai akhirnya ia menyadari sesuatu yang ganjil. Ada suara dengkuran kecil.

Alecio mengerutkan kening. Ia menoleh pelan ke samping ranjang. Dan di situlah ia melihat pemandangan yang membuatnya terdiam cukup lama.

Sandrina tertidur sambil duduk di kursi, kepalanya sedikit miring, jilbabnya masih rapi, tangannya terlipat di atas dadanya. Mulutnya sedikit terbuka, dan ia mendengkur halus.

Alecio berkedip dua kali. “Kenapa dia di sini?” gumamnya pelan.

Alexio mencoba mengangkat tangannya yang masih dibalut perban. Dengan gerakan pelan, ia menyentuh bagian atas kepala Sandrina tepat di atas jilbabnya.

Sandrina langsung bergerak. Matanya terbuka setengah. Ia mengerjap, masih linglung. Lalu, ia menyadari sesuatu menyentuh kepalanya.

Refleks, Sandrina menepis tangan itu. “Eh! Jangan pegang-pegang kepala orang!” gerutunya setengah sadar.

Alecio menatapnya datar. “Itu tanganku.”

Sandrina membeku. Ia menatap Alecio. Lalu, menatap lagi. Matanya membelalak.

“KAMU HIDUP?!”

Alecio menghela napas pelan. “Sepertinya begitu.”

Sandrina langsung berdiri tergesa, hampir menjatuhkan kursinya sendiri.

“Astaghfirullah! Kamu bikin kaget! Aku kira kamu mati—” Ia berhenti mendadak, lalu mengalihkan wajah. “Ya, sudah lah. Hidup, ya, hidup. Berarti masih diberi kesempatan sama Tuhan.”

Padahal dalam hatinya, Sandrina merasa lega luar biasa.

Alecio memperhatikannya dengan tatapan aneh. “Kenapa kau di sini?”

Sandrina mendengus. “Ya, masa aku di dapur? Kamu kan luka parah. Masa aku tinggal saja? Aku bukan orang jahat, tahu!”

Alecio mengangkat satu alis. “Kau selalu menganggapku jahat.”

“Ya, memang!” balas Sandrina spontan. “Siapa suruh kamu culik-culik orang?!”

Alecio hampir tersenyum. Namun, kemudian ia berkata datar, “Kau mendengkur. Suaranya mengganggu waktu istirahat aku.”

Sandrina terdiam. Wajahnya memerah. “Aku tidak mendengkur!”

“Kau mendengkur.”

“Itu suara kipas angin!”

“Tidak ada kipas angin di sini.”

Sandrina langsung memalingkan wajah. “Sudah, jangan bahas itu!”

Tak lama kemudian, Francisco masuk bersama Patrick membawa obat dan air.

Francisco menatap Alecio tajam. “Bagus. Kau sudah sadar.”

Patrick berdiri di belakangnya, menyeringai kecil. “Selamat datang kembali dari dunia arwah, Bos.”

Alecio menggeram pelan.

Francisco menyerahkan beberapa pil kepada Sandrina. “Waktunya obat.”

Sandrina langsung berubah mode. Mode ... ibu galak. Ia menatap Alecio dengan tatapan penuh perintah.

“Oke. Duduk yang benar. Makan dulu, baru minum obat.”

Alecio menyandarkan tubuhnya. “Aku tidak lapar.”

Sandrina langsung berkacak pinggang. “Tidak lapar?!” Suaranya naik satu oktaf. “Ini badan bolong-bolong kena tembak, kamu bilang tidak lapar?!”

Patrick menahan tawa di pojok ruangan. Francisco pura-pura membaca catatan medis.

Sandrina memanggil pelayan. “Tolong! Bawakan pisang yang kemarin! Yang matang!”

Alecio mengerutkan kening. “Kenapa pisang? Untuk apa?”

Sandrina menatapnya serius. “Biar enggak pahit dan obat mudah ketelan dengan mudah. Di kampungku orang sakit makan pisang biar cepat sembuh.”

Alecio memandangnya dengan wajah tak percaya.

Beberapa menit kemudian, sepiring buah datang. Sandrina mengupas pisang dengan gerakan tegas, lalu menyodorkannya.

“Makan.”

Alecio menatap pisang itu. Lalu, menatap Sandrina. Sebuah ide jahil muncul di kepalanya. Ia memalingkan wajah.

“Aku tidak mau.”

Ruangan mendadak hening. Patrick menggigit bibirnya menahan tawa. Francisco sudah tahu, ini akan jadi pertunjukan.

Sandrina membeku selama dua detik. Lalu—

“ALECIO!” Suara itu menggema di ruangan.

“Kamu ini umur berapa sih?! Lima tahun?! Sudah besar, badan segede lemari, tapi disuruh makan saja banyak drama!”

Alecio menatapnya datar.

Sandrina makin menjadi. “Kalau kamu tidak makan, obatnya tidak bisa kerja! Nanti infeksi! Nanti demam! Nanti mati! Terus aku yang repot!”

Patrick sampai harus menutup mulutnya dengan tangan.

Alecio berusaha tetap serius, tapi sudut bibirnya bergetar.

Sandrina mulai berceloteh campur bahasa. “Kamu ini keras kepala sekali! Ndableg! Susah banget diatur! I’m not your maid, okay? Tapi kalau pasien bandel begini, siapa yang tahan?!”

Alecio menatapnya, menikmati setiap ocehannya meski tidak sepenuhnya paham. “Ndableg itu apa?” tanyanya pelan.

“Itu artinya … kepala batu! Very batu! Very stone!” jawab Sandrina penuh percaya diri.

Patrick hampir tersedak. Francisco pura-pura batuk untuk menutupi tawanya.

Alecio akhirnya membuka mulutnya hendak bicara. Sandrina langsung memasukan potongan pisang ke mulut pria itu dengan ekspresi menang.

“Good boy.”

Alecio terdiam beberapa saat.

“Jangan panggil aku begitu.”

“Kalau tidak mau dipanggil begitu ya jangan kayak anak kecil!”

Alecio akhirnya memakan pisang itu perlahan.

Anehnya dia menikmati momen ini. Ocehan Sandrina, wajah kesalnya, campuran bahasa yang tidak masuk akal. Semuanya terasa hangat.

Setelah pisang habis, Sandrina menyodorkan obat. “Sekarang minum. Jangan drama lagi.”

Alecio menatapnya beberapa detik, lalu menelan obat itu tanpa protes.

Patrick berbisik pada Francisco, “Bos kita berubah.”

Francisco mengangguk pelan. “Bukan berubah. Dia hanya menemukan lawan yang seimbang.”

Sandrina tidak menyadari dua pria itu sedang mengamati mereka. Ia hanya mengomel kecil, merapikan selimut Alecio.

“Dasar mafia keras kepala. Kalau bukan karena kasihan, sudah aku tinggal tidur di kandang kuda.”

Alecio menatapnya lama. “Kenapa kau peduli padaku?”

Sandrina berhenti sejenak. Ia mengangkat bahu.

“Karena aku bukan kamu.”

Jawaban itu membuat ruangan mendadak hening. Alecio menatapnya lebih dalam. Untuk pertama kali sejak semalam yang berdarah itu dia tersenyum. Benar-benar tersenyum.

Sementara di pojok ruangan, Patrick berbisik, “Ini lebih seru dari pertempuran di pantai.”

Francisco mengangguk pelan. “Ya. Dan yang ini, jauh lebih berbahaya.”

Karena tanpa mereka sadari, bukan peluru yang mulai menembus pertahanan Alecio. Melainkan ocehan seorang wanita bernama Sandrina.

***

Jangan lupa tinggalkan jejak. Semoga karya ini retensi tidak hancur seperti cerita Kayla dan Ashabi. Jumlah Viewer ribuan, love ratusan, dan like cuma puluhan terlalu jomplang.

1
Nar Sih
pasti kali ini jack habis oleh alecio ,dan ngk ada ampun
Wiwi Sukaesih
hdeuhh Thor ketar ketir ...tkut triplet knapa knapa... huft trik napas dlu .....
Ita rahmawati
bacanya sambil bayangin kejadian itu
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
tegang,takut debay nya kenapa kenapa..
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪
Aditya hp/ bunda Lia
disana yang perang disini aku yang tegaaangngng ...
Mardiana
duh tegang.....hati hati alecio 🤭
vania larasati
lanjut
Soraya
lanjut thor
SasSya
💪💪💪💪💪💪
ratakan!
SasSya
semoga juara kak 🤲🤲🤲
🌸Santi Suki🌸: aamiin 🤲
total 1 replies
SasSya
asli!!!
rasanya deg degan
ngilu2 gimana dgn pergerakan sandrina
Nar Sih
siap,,kmu hancur jack,alecio sgra dtg 🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
InsyaAllah menang
🌸Santi Suki🌸: 🤲🤲🤲🤲🤲
total 1 replies
Nar Sih
semagatt kak santi moga sandrina alecio menang💪
🌸Santi Suki🌸: aamiin yaa rabbal alamiin 🤲
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
Alecio yang mau perang tapi aku yang deg degan yah ...
Ita rahmawati
jgn terlalu serius alecio,,istrimu aja santai bgt tuh 😂
Vie
wah... badai yang sebenarnya baru akan datang menyelamatkan bumil.... 👍👍👍👍
Lilis Yuanita
sabar kang alecio datanv🤣🤣
Aditya hp/ bunda Lia
Aamiin 🤲
semoga menang Thor aku doakan
🌸Santi Suki🌸: 🤲🤲🤲🤲🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!