NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 — Luka yang Tidak Diucapkan

Malam itu, kamar Airi kembali menjadi satu-satunya tempat yang ia kenal.

Ia menenggelamkan wajahnya ke kasur, menekan bantal seolah benda itu mampu menahan suara yang terus ingin pecah dari dadanya. Tangisnya tidak rapi—datang beruntun, berat, dan tanpa jeda. Bahunya naik turun, napasnya tersendat, seolah setiap tarikan udara adalah perjuangan kecil.

Semua yang ia tahan sepanjang hari runtuh tanpa sisa.

Getar kecil menjalar di jemarinya.

Lalu suara itu datang.

Ponselnya berdering.

Airi membiarkannya. Ia tidak ingin bicara. Tidak ingin mendengar. Tidak ingin dunia masuk ke ruang kecil yang sedang ia kunci rapat-rapat ini. Namun dering itu kembali berbunyi, lebih lama, lebih memaksa, seperti tahu bahwa ia sedang dibutuhkan.

Dengan gerakan lambat, hampir menyerah, Airi meraih ponselnya.

Nama di layar membuat dadanya kembali mengencang.

Hinami.

Ia menelan ludah, lalu mengangkat panggilan itu.

“Airi,” suara Hinami terdengar ringan, hampir ceria.

“Kamu pasti nggak nyangka, aku nemuin manga bagus—”

Kalimat itu terputus.

Di seberang sana, Hinami mendengar sesuatu yang tidak bisa disamarkan. Isak yang patah, napas yang goyah.

“Airi?” Suaranya berubah seketika. Tegas. Waspada.

“Kamu kenapa, Airi?”

Dan saat itu juga, pertahanan Airi runtuh sepenuhnya.

Ia menangis sejadi-jadinya. Tidak ada kata. Tidak ada penjelasan. Hanya suara sesak yang keluar di antara napas yang terputus-putus, seperti anak kecil yang akhirnya kehabisan tenaga untuk menahan.

Hinami terdiam beberapa detik.

Lalu suaranya kembali terdengar—lebih cepat, lebih serius.

“Airi, dengerin aku. Aku lagi di luar. Aku ke rumahmu sekarang.”

Telepon terputus.

Tangis Airi belum berhenti ketika bel rumah berbunyi.

Ibunya yang membukakan pintu. Hinami berdiri di sana, napasnya sedikit tersengal, wajahnya penuh kekhawatiran yang bahkan tidak sempat ia sembunyikan.

“Airi di atas, di kamarnya,” kata ibunya lembut. “Masuk saja.”

Hinami mengangguk cepat, melepas sepatu, lalu menaiki tangga dengan langkah tergesa.

Di depan kamar Airi, ia mengetuk pelan.

“Airi… aku masuk, ya?”

Tidak ada jawaban.

Pintu itu tidak terkunci.

Saat Hinami membukanya, dadanya terasa seperti diremas.

Airi duduk di atas kasur, memeluk lututnya. Matanya merah, wajahnya pucat, dan tatapannya kosong—penuh ketakutan dan kesedihan yang terlalu dalam untuk disembunyikan.

Tas Hinami terlepas dari tangannya.

Ia berlari mendekat dan memeluk Airi erat, tanpa ragu, tanpa kata pengantar.

“Kamu kenapa, Airi?” suaranya bergetar.

“Kenapa kamu seperti ini?”

Airi membalas pelukan itu. Tangisnya pecah lagi, lebih keras, lebih menyakitkan. Seakan semua yang tadi tertahan akhirnya menemukan tempatnya. Beberapa menit berlalu sebelum napasnya perlahan bisa ditenangkan.

Dengan suara yang terputus-putus, Airi menceritakan semuanya.

Tentang rumah Ren.

Tentang Ren yang sakit.

Tentang pelukan dari belakang.

Tentang sentuhan yang membuat tubuhnya membeku seketika.

Hinami mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya semakin mengeras—bukan hanya karena marah, tetapi karena sadar betapa dalam luka itu kembali terbuka.

“Ren,” ucap Hinami akhirnya, pelan namun berat.

“Ren yang selalu menjagamu supaya tidak disentuh siapa pun setelah kejadian itu… memperlakukanmu seperti ini?”

Airi mengangguk kecil.

Hinami terdiam lama, mencoba mencerna semuanya.

“Apa dia nggak bermaksud seperti itu… aku juga nggak tahu,” katanya jujur.

Namun matanya kembali pada Airi.

“Tapi ketakutanmu itu nyata.”

Trauma Airi kambuh—diam-diam. Tanpa teriakan. Tanpa histeria. Dan malam itu, hanya Hinami yang mengetahuinya.

Hinami meminta izin untuk menginap. Ia menemani Airi, menunjukkan komik yang tadi ia beli, bercerita tentang hal-hal sepele, tentang dunia yang tetap berjalan meski seseorang di dalamnya sedang runtuh.

Hingga akhirnya, kelelahan mengalahkan segalanya.

Airi tertidur.

Hinami menyusul tak lama kemudian, tetap memeluknya.

Pagi datang pelan.

Airi terbangun dengan mata sembab dan kepala berat. Hinami sudah bersiap, jam menunjukkan hampir pukul sepuluh.

“Aku ada kelas,” kata Hinami lembut.

“Kamu mau masuk atau istirahat dulu?”

Airi menggeleng pelan.

Hinami tidak memaksa.

Ia berpamitan pada ibu Airi, lalu melangkah keluar rumah.

Dan di depan gerbang, ia melihat Ren berdiri.

Darah Hinami mendidih.

Ia melangkah cepat mendekat.

“Ren,” suaranya tajam. “Apa yang kamu lakukan ke Airi sampai dia jadi seperti itu?”

Ren terkejut, lalu refleks mengangkat tangan di depan dadanya, memberi isyarat agar tidak ribut.

“Jangan di sini,” katanya pelan. “Nanti di kampus aku jelaskan.”

Hinami menahan amarahnya dengan susah payah.

Siang itu, mereka bertemu di kafetaria.

Ren membuka mulut untuk bicara, namun Hinami menyela lebih dulu.

“Aku sudah tahu semuanya dari Airi.”

Ren terdiam.

“Kamu gila apa gimana?” lanjut Hinami, suaranya bergetar karena marah yang ditahan terlalu lama.

“Kamu tahu traumanya. Tapi kamu tetap bertindak ceroboh, Ren.”

“Aku cuma—” Ren mengepalkan tangan.

“Aku nggak mau kehilangan Airi.”

“Kamu akan kehilangan dia,” potong Hinami, nadanya rendah namun menghantam tepat ke dada.

“Kamu membuka kembali trauma di dalam hatinya.”

Di belakang mereka, seseorang mendengar.

“Trauma Airi?”

Mei berdiri tak jauh dari sana, wajahnya dipenuhi kebingungan.

“Ada apa ini? Dia hari ini nggak masuk. Kalian bicara apa? Kenapa sejak SMA aku nggak tahu hal ini, Hinami?”

Hinami mematung.

Mei menggenggam tangannya. Sentuhan itu membuat Hinami tersentak dari lamunan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Hinami menarik Mei pergi, meninggalkan Ren sendirian di kafetaria.

Ren duduk diam.

Kata-kata Hinami terus bergaung di kepalanya.

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti—

bahwa kehilangan Airi bukan lagi ketakutan yang jauh.

Ia sudah berdiri tepat di ambang pintu itu.

Di kejauhan, Hinami dan Mei berhenti.

“Hinami,” kata Mei pelan.

“Aku tahu mungkin aku baru mengenal Airi sejak SMA… tapi aku nggak tahu soal traumanya. Kenapa dia bisa sampai seperti itu?”

Hinami terdiam.

Kalau Airi yang bicara, dia pasti belum sanggup, pikirnya.

Dan kalau aku tidak menjelaskan sekarang, Mei akan terus bertanya.

“Nami?” Mei menyentuh bahunya. “Kenapa kamu diam?”

Hinami menarik napas panjang.

“Asal kamu bisa jaga rahasia ini,” katanya tegas.

“Cuma antara aku, kamu, dan Airi.”

Mei mengangguk tanpa ragu.

Dan Hinami pun menceritakan semuanya—tentang masa SMP, tentang kejadian yang membuat Airi trauma pada kedekatan, pada sentuhan, pada cinta itu sendiri.

Mei menangis.

“Kalau begitu… aku mau ke rumah Airi nanti sore,” katanya terisak.

“Jangan,” Hinami menahan.

“Dia lagi nggak baik-baik saja. Biar aku dulu.”

Mei mengangguk, menahan keinginannya.

Sejak hari itu, Airi tidak masuk kuliah selama seminggu.

Ren tidak berani datang ke rumah Airi. Ia takut—takut kehadirannya justru akan merusak segalanya lebih dalam. Hampir setiap malam, ia berada di studio kecil di rumahnya, mencoba menciptakan lagu untuk Airi.

Namun tidak ada satu pun nada yang terasa tepat.

Ia frustrasi.

“Aaagh…” Ren mengacak rambutnya sendiri.

“Aku nggak mau kehilanganmu, Airi. Tapi ternyata aku malah menyakitimu… bahkan lebih dari sensei itu.”

Tangannya gemetar.

Dan di tengah kesunyian itu, Ren akhirnya menyadari satu hal yang terlambat ia pahami—

Bahwa Airi jauh lebih berharga daripada egonya sendiri.

Dan bahwa satu tindakan gegabah bisa melukai seseorang yang paling ingin ia lindungi.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!