NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:986
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 : Rintihan tengah malam

Langit yang sebelumnya tenang berubah menjadi gulita, hitam pekat membungkus malam, hanya menyisakan bulan pucat yang menggantung redup di angkasa. Cahayanya menembus kaca jendela, jatuh ke dalam ruangan dengan bias dingin, menambah kesan sunyi yang menekan.

Lampu meja yang remang-remang di sudut ruangan memberi penerangan samar, cahaya kuningnya seperti berjuang melawan kegelapan yang mendominasi.

Di balik meja kerja, sosok pria itu masih terlelap. Tubuhnya tertunduk, wajah separuh tertutup rambut yang jatuh berantakan. Bahunya kini diselimuti kain berbulu, entah siapa yang meletakkannya di sana. Keheningan benar-benar mendominasi, membuat detik jam di dinding terdengar begitu jelas, seperti palu kecil yang terus memukul udara kosong.

Jarum jam perlahan bergerak, hingga akhirnya menunjuk angka 00:20 tengah malam.

Tepat saat itu, suara nyaring logam jatuh menggema, bergulir di lantai dingin rumah sakit yang lengang. Dentumannya menusuk keheningan, merambat ke setiap lorong. Alexander terperanjat, kepalanya terangkat dari meja, mata yang masih berat berusaha fokus.

Ia mengerjapkan kelopak, menggoyangkan kepala seolah mengusir sisa kantuk. Pandangannya mengitari ruangan yang kini kosong, tak ada siapapun di sekitarnya.

“D… di mana semua orang?” suaranya pecah pelan, terdengar serak. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, jari-jarinya menyisir rambut hitam yang kusut. Bangkit perlahan dari kursinya, ia berdiri tegak dengan tubuh masih terasa berat.

“Rico?... Victoria?..” panggilnya lagi, mencoba menembus kesunyian. Namun yang kembali hanya gema suaranya sendiri, memantul dingin dari dinding ke dinding.

Dengan langkah hati-hati, ia mendekati pintu. Tangan kanannya meraih kenop, memutarnya perlahan. Suara engsel pintu yang berderit menambah ketegangan saat koridor terbuka di hadapannya. Lampu-lampu di sepanjang lorong hampir semua padam, menyisakan kegelapan pekat. Hanya sinar bulan yang masuk melalui kaca-kaca besar di dinding, menorehkan cahaya putih yang terpecah menjadi bayangan panjang.

Alexander menatap hening lorong itu, dahinya mengerut. “Sejak kapan lampu koridor rumah sakit dimatikan?” gumamnya nyaris tak terdengar.

Langkahnya ragu, tapi ia tetap maju, menelusuri jalur sepi itu dengan hati-hati. Suara sepatunya yang menyentuh lantai menjadi satu-satunya irama yang menemani.

Tiba-tiba, sebuah suara pecah dari kejauhan. “Ahggggrrr….” Jeritan itu kasar, parau, seolah keluar dari tenggorokan seseorang yang tengah dicekik rasa sakit. Nada putus asa bercampur dalam pekikannya, menggema melalui lorong panjang yang gelap.

Alexander terhenti di tempat, matanya melebar. Ia memutar kepala cepat, mencari arah datangnya suara, namun bayangan yang menunggu hanya sunyi dan temaram cahaya bulan yang memantul dingin di dinding kaca.

“Kau mengambil apa yang seharusnya jadi milikku!!” Suara berat itu memecah kesunyian, membungkam rintihan yang sempat terdengar sebelumnya.

“Kembalikan…” bisikan penuh tekanan itu menyusul, bergema di lorong gelap seakan datang dari segala arah.

Alexander menoleh cepat ke arah koridor menuju tangga darurat, nafasnya tertahan. “Suaranya… dari sana?” gumamnya dalam hati, sebelum ia langsung melesat. Langkah panjangnya menghantam lantai dingin, terburu-buru menuju sumber suara yang membuat bulu kuduknya berdiri.

“Kembalikan… apa yang jadi milikku…” suara itu menggaung lagi, semakin menusuk, seakan menuntut dengan penuh amarah.

Tak ada jawaban. Hanya rintihan samar dari seseorang yang gemetar, tercekik ketakutan. Alexander merasakan dadanya menghangat, amarah menyusup perlahan, memaksa dirinya bertindak lebih cepat. Ia meraih ponsel di saku jas, segera menghubungi Rico yang saat ini seharusnya sedang di kantor kepolisian.

Nada sambung terdengar berulang, membuat kesabarannya terkikis. “Sialan! Di mana dia!” geramnya tajam, sebelum menutup ponsel dan menjejalkannya kembali ke saku. Ia tak punya pilihan lain, selain turun tangan sendiri.

Langkahnya dipercepat, detakan sepatunya menggema keras di sepanjang koridor yang gelap. Suara rintihan itu kembali terdengar, lirih, penuh ketakutan.

“T-tidak… kumohon jangan bunuh aku…”

Alexander merasakan tubuhnya tegang. Itu bukan sekadar permohonan biasa, melainkan suara yang terdengar seperti sisa harapan terakhir seseorang.

Lalu balasan itu datang, dingin dan tanpa ampun. “Bagaimana jika tidak? Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”

Hening. Setelah kalimat itu, tak ada lagi suara, hanya gema samar yang perlahan lenyap. Alexander berhenti sejenak, keningnya berkerut. “Tidak mungkin…” bisiknya pelan, sulit mempercayai bahwa percakapan tadi hilang begitu saja.

Ia berbelok cepat ke arah tangga darurat. Dari kejauhan, matanya menangkap siluet samar seseorang, tubuh tegap yang membungkuk, menumpahkan cairan entah apa di samping sosok lain yang sudah tergeletak tak bergerak.

“Sialan, kau!!” pekiknya penuh amarah.

Tangannya menyambar ke saku jas hitam, mengeluarkan pistol yang selalu ia bawa sebagai perlindungan. Ia angkat senjata itu, mengarahkan moncongnya tepat ke punggung pelaku. Namun sosok itu lebih dulu bergerak, melangkah ringan menuruni anak tangga, menghilang ke lantai 8.

Alexander menggertakkan gigi, mempercepat langkahnya. Sesaat ia sempat melirik tubuh korban yang terbujur kaku di lantai. Seorang perawat, seragamnya ternoda cairan, tanpa tanda pengenal di lehernya.

“Perawat lagi?” bisiknya, dada terasa panas menahan campuran amarah dan rasa muak.

Ia menuruni tangga dengan hati-hati. Permukaan licin, basah oleh cairan aneh yang disiram pelaku sebelumnya. Kakinya tetap melangkah, meski setiap injakan bisa saja membuatnya tergelincir.

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!