Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dhira dan Elang, Sahabat yang Berbeda Dunia
Nggak banyak orang yang tau.
Bahkan mungkin... nggak ada yang tau.
Kalau Dhira Aksana dan Elang Alfarizi... pernah jadi sahabat.
Sahabat deket.
Dari SD.
Dulu, waktu kelas tiga SD, mereka satu kelas. Duduk sebangku bahkan. Dhira yang ceria, Elang yang pendiam tapi suka ketawa kalau Dhira ngajak becanda.
Mereka sering main bareng sepulang sekolah. Main bola, main layang-layang, kadang cuma duduk di teras rumah Elang sambil makan es lilin yang dibeli dari tukang keliling.
"Lang, lu mau jadi apa kalau gede?" tanya Dhira waktu itu, sambil jilat es lilin rasa melon yang udah meleleh ke tangannya.
"Entah... mungkin... ilmuwan?" jawab Elang sambil baca komik Doraemon yang dipinjam dari perpustakaan sekolah.
"Ilmuwan? Keren! Gue pengen jadi... pemain basket! Kayak yang di teve itu!"
Elang ketawa. "Lu tingginya aja masih pendek, Dhir."
"Tunggu aja. Nanti gue tinggi. Terus gue bakal jadi bintang. Dan lu... lu jadi ilmuwan yang terkenal. Kita berdua bakal terkenal!"
Mereka ketawa bareng.
Waktu itu... semuanya sederhana. Nggak ada hierarki sosial. Nggak ada yang populer atau cupu. Cuma... dua anak cowok yang main bareng, ketawa bareng, mimpi bareng.
Tapi...
Waktu berubah.
SMP dateng.
Dan... semuanya... berubah.
Dhira tumbuh jadi cowok yang... beda.
Tingginya nambah cepet. Wajahnya makin... ganteng, kata cewek-cewek seangkatannya. Atletis. Jago basket. Ramah. Gampang bergaul.
Cowok yang... semua orang suka.
Sementara Elang...
Elang tumbuh jadi cowok yang... nggak terlihat.
Tingginya pas-pasan. Wajahnya biasa aja—mungkin malah di bawah rata-rata, kata cermin yang dia liatin tiap pagi. Kurus. Berkacamata tebal. Culun.
Dan... nggak pede.
Nggak pede banget.
Di SMP, mereka masih satu sekolah. Tapi... udah nggak sebangku lagi. Udah nggak main bareng lagi.
Dhira punya temen baru—temen-temen yang keren, yang rame, yang jago olahraga.
Elang... sendirian.
Dan yang lebih parah...
Adrian.
Adrian dan gengnya mulai... nge-bully Elang.
Bukan bully fisik yang parah. Tapi... bully yang... merendahkan.
"Eh, Elang! Laper gue. Beliin roti di kantin dong. Yang tadi sisa kemarin juga boleh. Gratis kan lu?"
"Elang, bantuin gue angkat tas dong. Lu kan kuat. Kurus tapi kuat kan?"
"Wih, kacamata lu tebal banget. Bisa liat nggak sih?"
Ketawa. Selalu diikuti ketawa.
Dan Elang... cuma bisa... diem.
Cuma bisa terima.
Karena kalau ngelawan... dia takut bakal tambah parah.
Sekarang. SMA.
Mereka masih satu sekolah. Tapi udah beda kelas.
Dhira di kelas sebelas IPA satu. Elang di kelas sebelas IPA dua.
Tapi... mereka masih tegur sapa.
Kadang Dhira masih nyamperin Elang saat istirahat. Duduk di kantin bareng. Ngobrol sebentar.
Kayak hari ini.
Elang duduk di kantin ibunya, di meja pojok, lagi makan nasi goreng sisa pagi yang ibunya masakin buat dia—gratis, untungnya—sambil baca buku.
Terus... Dhira dateng.
Jalan santai, senyum lebar, ransel di satu bahu. "Lang! Udah lama nggak ketemu lu di sini."
Elang menengadah. Senyum tipis. "Dhir... lu... lu lagi nggak sibuk?"
"Sibuk apaan? Gue kan lagi istirahat." Dhira duduk di depan Elang tanpa izin—tapi Elang nggak keberatan. "Eh, udah lama nggak main basket bareng. Lu kapan main lagi?"
Basket.
Kata itu... nyelekit.
Elang dulu jago basket. Nggak sejago Dhira, tapi lumayan. Mereka pernah satu tim waktu SD.
Tapi sekarang...
Sekarang Elang udah nggak main lagi. Udah lama. Karena... karena dia ngerasa... dia nggak sebagus dulu. Nggak se... cakep dulu.
"Gue udah nggak secakep dulu, Dhir," jawab Elang sambil nunduk, main-main sendok di piringnya. "Lu main aja sama yang lain."
"Ngomong apa sih lu." Dhira melotot. "Gue nggak peduli lu jelek atau ganteng. Lu kan sahabat gue."
Sahabat.
Kata itu... hangat.
Tapi juga... sakit.
Karena Elang tau.
Dunia mereka udah beda.
Dhira ada di puncak hierarki sosial sekolah—cowok populer, yang semua orang kenal, yang cewek-cewek suka.
Sementara Elang... dia ada di dasar. Bahkan mungkin... nggak terlihat sama sekali.
"Iya... iya, Dhir. Kapan-kapan gue main lagi deh," jawab Elang cepet, cuma buat mengakhiri topik ini.
Dhira senyum lebar. "Oke! Gue tunggu."
Mereka ngobrol lagi. Ngobrol hal-hal ringan. Pelajaran. Guru yang nyebelin. Tugas yang numpuk.
Sampai...
"Eh, Lang," Dhira nunduk dikit, suaranya pelan tapi... ada sesuatu di nada suaranya. Sesuatu yang... beda. "Gue lagi deket sama temen sekelas nih."
Elang menengadah. "Oh? Siapa?"
"Namanya Aruna. Aruna Pratama." Dhira senyum kecil—senyum yang... lembut. Senyum yang jarang Elang liat. "Dia... beda gitu, Lang. Pendiem, tapi ada sesuatu yang bikin gue pengen deketin terus."
Deg.
Elang... nyaris tersedak.
Minumannya nyangkut di tenggorokan. Dia batuk—uhuk uhuk—keras, sampai matanya berkaca-kaca.
"Lang, lu oke?" Dhira khawatir, menggosok punggung Elang.
"I-iya... iya gue oke... cuma... ketelan air doang..." Elang ngelap matanya cepet, napasnya masih ngos-ngosan.
"Lu yakin?"
"Iya. Gue yakin." Elang minum lagi, pelan kali ini. Tangannya... gemetar dikit, tapi dia sembunyiin di bawah meja. "A-Aruna? Aruna Pratama lu bilang?"
"Iya. Lu kenal?"
Kenal.
Kenal banget.
Kenal dari jauh. Kenal tanpa pernah ngomong. Kenal dalam diam yang... nyesek.
Tapi Elang... geleng cepet. "Nggak... cuma pernah denger namanya aja."
"Oh." Dhira ngangguk. "Dia tuh... nggak kayak cewek-cewek lain, Lang. Dia polos. Jujur. Nggak pura-pura. Gue... gue ngerasa... nyaman gitu kalau deket dia."
Elang diem.
Cuma... dengerin.
Dengerin sahabatnya cerita tentang gadis yang... yang Elang cintai diam-diam selama ini.
Dengerin sahabatnya bilang dia "nyaman" sama gadis itu.
Dan dadanya...
Dadanya kayak diremas. Pelan-pelan. Sampai nggak bisa napas.
"Gue... gue nggak tau ini perasaan apa sih, Lang," lanjut Dhira sambil mengelus tengkuknya, senyumnya jadi... malu. "Tapi kayaknya... kayaknya gue mulai... suka sama dia."
Suka.
Kata itu keluar dari mulut Dhira.
Dan sesuatu... patah.
Di dalam dada Elang.
Patah kayak kaca yang dijatuhkan dari lantai dua. Hancur. Remuk. Nggak bisa disusun lagi.
"Bagus... bagus dong kalau lu suka sama dia..." kata Elang pelan, suaranya... datar. Kosong. "Lu... lu harusnya bilang ke dia."
"Belum berani, Lang. Takut dia nolak."
"Nggak mungkin. Lu kan... lu kan Dhira. Semua cewek suka sama lu."
"Nggak semua, kali. Aruna tuh... dia beda."
Beda.
Iya. Aruna memang beda.
Dan itu yang bikin Elang juga... suka dia.
Tapi sekarang...
Sekarang sahabatnya—sahabat satu-satunya yang masih peduli sama dia—juga suka sama gadis yang sama.
"Gue... gue harus balik ke kelas, Dhir. Ada tugas yang belum selesai," kata Elang tiba-tiba berdiri, ambil tasnya cepet.
"Lho? Sekarang? Istirahat masih lama—"
"Iya. Gue buru-buru. Sampai jumpa."
Elang jalan cepet keluar kantin. Nggak noleh lagi.
Dhira diem di situ, bingung. "Kenapa dia... kok kayak... buru-buru banget ya..."
Elang lari.
Lari ke toilet. Masuk ke bilik paling pojok. Kunci pintunya.
Duduk di lantai toilet yang dingin, punggung bersandar ke pintu, kepala di lutut.
Napasnya... nggak bisa tenang.
Dadanya... sakit.
Sakit banget.
Tangannya... gemetar. Mengepal erat. Erat banget sampai kuku-kukunya menancap ke telapak tangan.
*Kenapa... kenapa harus Dhira...*
*Kenapa harus sahabatku...*
*Kenapa...*
Air mata jatuh.
Satu tetes. Dua tetes.
Terus... makin banyak.
Elang nangis.
Nangis keras. Nggak peduli kalau ada orang denger dari luar.
Dia nangis sambil mukul-mukul lantai—pelan, tapi frustasi—mukul beton dingin itu sampai tangannya sakit.
"Kenapa gue harus secupu ini..." bisiknya di sela-sela tangisan, suaranya serak. "Kenapa gue nggak bisa berani kayak Dhira... kenapa... kenapa gue harus suka sama dia..."
Tapi nggak ada jawaban.
Cuma... gema tangisannya sendiri di bilik toilet yang sempit itu.
Cuma... rasa sakit yang nggak akan pernah hilang.
Karena cintanya...
Cintanya adalah cinta yang terkubur dalam.
Cinta yang nggak pernah disuarakan.
Cinta yang nggak pernah diberi kesempatan.
Cinta yang... mustahil.
Karena gimana dia bisa bersaing...
Sama sahabatnya sendiri?
Sama cowok yang punya segalanya?
Sama Dhira... yang selalu menang?
Malamnya.
Elang di kamarnya.
Kamar kecil dengan dinding retak. Kasur tipis. Bantal yang udah kempes.
Dia rebahan. Ngeliat langit-langit yang bocor.
Tangannya... masih sakit. Memar dikit karena tadi mukul lantai.
Matanya... sembab. Merah.
Hapenya bunyi. Notifikasi.
Pesan dari Dhira.
Dhira: Lang, lu oke tadi? Kok kayak buru-buru banget? Ada masalah?
Elang baca pesan itu.
Tangannya gemetar.
Dia ketik balesan.
Elang: Aku oke. Cuma banyak tugas aja. Maaf ya tadi langsung pergi.
Dhira: Oke deh. Jaga kesehatan ya, Lang. Lu sahabat gue. Gue nggak mau lu sakit.
Sahabat.
Kata itu... hangat tapi nyelekit.
Elang nggak bales lagi. Dia matiin hapenya. Taruh di meja.
Terus... peluk bantal.
Erat.
Dan bisik pelan:
"Ya Allah... kenapa... kenapa cinta ini sakit banget..."
"Kenapa aku... kenapa aku nggak bisa... nggak bisa berhenti..."
"Meskipun aku tau... dia... dia nggak akan pernah... pernah liat aku..."
Hujan mulai turun di luar.
Rintik pelan yang makin deres.
Suara hujan... nutupin suara tangisan Elang yang... nggak berhenti sampai pagi.