Zian Arsya, seorang laki-laki mandiri dan sukses di usia 29 tahun, telah menjadi tulang punggung keluarga setelah di percaya ayah dan ibunya untuk mengelola usaha Hotel dan Restoran. Namun, di balik kesuksesannya, Zian menyembunyikan masa lalu pahit yang membuatnya menjadi pendiam dan jarang bicara. Dia pernah dikhianati kekasihnya semasa kuliah, yang memilih laki-laki lain, membuatnya kehilangan kepercayaan pada cinta.
Suatu hari, Zian dijodohkan dengan Raya, seorang gadis cantik, ramah, dan pintar yang sangat perhatian. Zian setuju dengan perjodohan itu, tapi dia tidak berani mengungkapkan masa lalunya kepada Raya dan keluarganya. Dia takut kehilangan kesempatan untuk memiliki keluarga dan cinta yang sebenarnya.
Namun, kehadiran Raya membuat Zian perlahan-lahan membuka diri dan menghadapi masa lalunya. Apakah Zian akan mampu mengungkapkan kebenaran kepada Raya dan keluarganya? Atau akankah rahasia itu menjadi beban yang menghancurkan kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ancaman
Perjalanan Menuju Kantor Pusat
Tiga puluh menit kemudian, mobil hitam Zian meluncur keluar dari area parkir hotel. Hujan pagi telah benar-benar reda, digantikan cahaya matahari yang memantul di aspal basah.
Derry duduk di kursi kemudi, bersenandung kecil terlalu kecil untuk disebut profesional, tapi cukup keras untuk mengusik keheningan.
Di kursi belakang, Raya duduk tegak dengan map di pangkuan. Seragam front office-nya rapi, rambutnya terikat sederhana. Ia tampak tenang… setidaknya dari luar.
Zian duduk di sampingnya, menatap lurus ke depan.
Hening.
Hening yang aneh.
Biasanya, Derry akan mengisi mobil dengan ocehan tanpa jeda. Tapi kali ini, bahkan dia bisa merasakan atmosfer berbeda.
“Ehem,” Derry berdehem. “Perjalanan sekitar empat puluh menit, Bos. Lalu makan siang di gedung pusat atau..."
“Makan di sana,” potong Zian singkat.
“Siap.”
Raya melirik sekilas ke arah Zian, lalu kembali menatap mapnya. Ia membuka halaman briefing, membaca ulang SOP yang sudah dihafalnya di luar kepala. Bukan karena lupa tapi karena gugup.
Zian melirik ke samping tanpa sadar.
Ia melihat jari Raya yang memegang map sedikit menegang.
“Kamu gugup?” tanyanya tiba-tiba.
Raya tersentak. “Eh...sedikit, Pak. Tapi saya siap.”
Zian mengangguk. “Anggap saja ini hari biasa. Mereka hanya ingin melihat pelayanan. Bukan menguji kamu.”
“Iya, Pak.”
Nada itu lagi. Tenang. Meyakinkan.
Derry melirik lewat kaca spion, senyum kecil tersungging. Kalau ini masih disebut profesional, aku rela disuruh ngepel satu hotel.
***
Kantor Pusat Siang Hari.
Gedung itu menjulang tinggi, kaca-kacanya memantulkan langit biru. Aura formal langsung terasa sejak mobil memasuki area parkir khusus.
Begitu turun, Raya refleks merapikan seragamnya. Zian berjalan di depan, langkahnya mantap. Aura pemimpin yang dingin dan berwibawa langsung menyelimuti dirinya berbeda jauh dengan pria yang barusan mengingatkan orang makan siang.
Di lobi, beberapa staf pusat langsung menyambut.
“Selamat siang, Pak Zian.”
“Selamat siang.”
Tatapan-tatapan penasaran mengarah ke Raya. Seorang gadis front office ikut mendampingi langsung pemilik hotel—itu bukan pemandangan biasa.
Zian berhenti sejenak. “Ini Raya. Front office terbaik di hotel cabang.”
Raya terkejut. “Pak...”
“Dia yang akan menjelaskan standar pelayanan langsung dari lapangan,” lanjut Zian tenang.
Beberapa staf mengangguk, sebagian mencatat.
Raya menarik napas dalam, lalu tersenyum profesional. “Selamat siang. Saya Raya.”
Dan di situlah ia mulai bicara.
Tentang pengalaman tamu. Tentang kesan pertama. Tentang bagaimana front office bukan hanya meja dan senyum, tapi rasa aman.
Zian berdiri sedikit di belakang, mendengarkan, Ia bangga.
Dan perasaan itu… kembali membuatnya tidak nyaman.
Dari Kejauhan
Di lantai lain gedung yang sama, pria bertubuh besar itu berdiri di dekat jendela. Matanya mengikuti pergerakan Zian di bawah.
Di tangannya, sebuah foto lama kusam, sudutnya terlipat.
Foto seorang mahasiswa dengan wajah penuh luka… dan senyum puas setelah perkelahian.
Zian.
“Dunia memang sempit,” gumamnya.
Ia memasukkan foto itu ke saku jasnya, lalu berbalik.
“Siapkan orang-orang,” katanya pada seseorang di belakangnya.
“Belum sekarang. Tapi sebentar lagi.”
...
Senyum tipis terukir di wajahnya.
Kembali ke Ruang Presentasi
Raya menyelesaikan penjelasannya dengan tenang. Ruangan hening sesaat… lalu disusul anggukan puas.
“Penjelasan yang sangat baik,” ujar salah satu petinggi. “Praktis dan nyata.”
Raya tersenyum lega. “Terima kasih, Pak.”
Zian menatapnya. Sekilas saja. Tapi cukup.
“Kita lanjut makan siang,” katanya pada semua orang.
Saat mereka keluar ruangan, Raya berjalan di samping Zian.
“Terima kasih sudah mempercayai saya, Pak.”
Zian mengangguk. “Kamu pantas.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi Raya, entah kenapa… hangat.
Dan bagi Zian, kalimat itu adalah pengakuan kecil bahwa ia mulai melibatkan seseorang ke dalam dunianya.
Sesuatu yang selama ini ia hindari.
Di luar gedung, langit tetap cerah.
Tak ada tanda bahaya.
Padahal, di balik semua ketenangan itu… takdir sedang menyusun langkah berikutnya.
Makan Siang di Kantor Pusat
Restoran eksekutif di lantai atas gedung pusat terasa tenang dan eksklusif. Dinding kaca besar memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian, sementara musik instrumental mengalun pelan.
Raya duduk dengan punggung tegak, tangannya terlipat rapi di atas meja. Ia berusaha terlihat biasa saja, meski ini pertama kalinya ia makan siang bersama jajaran petinggi dan bosnya dalam satu meja.
Zian duduk di ujung meja. Sikapnya kembali formal. Dingin. Terukur. Seolah pagi tadi dan perhatian kecil di lift tidak pernah terjadi.
“Raya,” salah satu direktur membuka suara, “kamu sudah berapa lama di front office?”
“Hampir dua tahun, Pak,” jawab Raya sopan.
“Masih muda. Tapi cara bicaramu matang.”
Raya tersenyum kecil. “Terima kasih, Pak. Saya belajar dari pengalaman langsung menghadapi tamu.”
Zian menyela singkat. “Dia konsisten. Dan bertanggung jawab.”
Beberapa pasang mata melirik Zian terkejut mendengar pujian yang keluar dari mulut pria yang dikenal pelit kata itu.
Raya menunduk, pipinya menghangat.
Makan siang berlangsung lancar. Diskusi ringan, diselingi evaluasi singkat. Saat hidangan hampir selesai, salah satu staf pusat berbisik pada Zian dan menyerahkan ponsel.
Zian membaca pesan itu. Wajahnya menegang sekilas hanya sepersekian detik. Cukup untuk tertangkap mata yang jeli.
“Maaf,” katanya sambil berdiri. “Saya harus menerima telepon.”
Ia melangkah menjauh, menuju sudut restoran.
Raya memperhatikannya tanpa sadar.
Ada sesuatu… berbeda.
Panggilan Tak Dikenal
Zian menatap layar ponsel.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkatnya.
“Halo.”
Suara di seberang terdengar berat, serak, dan penuh ejekan.
“Masih ingat aku, Zian Arsya?”
Jantung Zian berdetak satu kali keras.
“Siapa ini.”
Tawa rendah terdengar. “Wah… cepat sekali lupa. Padahal dulu kamu begitu bersemangat menghajarku sampai aku tak sadar.”
Urat di rahang Zian menegang.
“Kamu salah sambung,” jawabnya dingin.
“Singapore. Kampus lama. Lorong belakang asrama,” suara itu semakin dekat, semakin jelas. “Foto-foto Yulia. Darah di wajahmu. Sel penjara yang dingin.”
Zian memejam mata.
Masa lalu yang ia kubur… dibuka paksa.
“Aku dengar kamu mau menikah,” lanjut suara itu santai. “Atau setidaknya… sudah punya seseorang yang kamu lindungi sekarang?”
Zian membuka mata, tajam. “Jangan bawa-bawa orang lain.”
“Hahaha… tenang. Belum sekarang.” Nada itu mengeras. “Aku cuma mau bilang utang lama itu belum lunas.”
Telepon terputus.
Zian berdiri kaku beberapa detik. Tangannya mengepal, napasnya ditahan.
Balas dendam itu soal waktu.
Kalimat itu terngiang.
Ia memasukkan ponsel ke saku jas, memaksa ekspresinya kembali datar, lalu berjalan kembali ke meja.
Kembali ke Meja Makan
“Semua baik-baik saja, Pak?” tanya Raya pelan saat Zian duduk kembali.
Zian menatapnya sekilas.
Terlalu lama.
Lalu ia mengangguk. “Ya.”
Jawaban singkat. Terlalu singkat.
Raya menangkap perubahan itu. Aura Zian kembali dingin lebih dingin dari sebelumnya. Seperti tembok tinggi yang tiba-tiba berdiri lagi.
Makan siang diselesaikan tanpa banyak percakapan.
Perjalanan Pulang
Mobil kembali melaju meninggalkan gedung pusat. Kali ini, heningnya berbeda.
Derry yang biasanya cerewet, memilih diam. Ia bisa merasakan ketegangan yang tak terlihat.
Raya melirik Zian beberapa kali. Pria itu menatap keluar jendela, rahangnya mengeras, pikirannya jelas bukan di dalam mobil.
“Pak Zian…” Raya memberanikan diri. “Kalau… saya melakukan kesalahan tadi...”
“Tidak,” potong Zian cepat. Lalu ia menarik napas, menurunkan nadanya. “Kamu baik. Sangat baik.”
Raya terdiam.
Zian menutup mata sejenak. “Maaf kalau saya jadi tidak fokus.”
“Itu tidak apa-apa, Pak,” jawab Raya tulus. “Terima kasih sudah membawa saya hari ini.”
Zian membuka mata, menatapnya. Ada sesuatu di sana keinginan untuk berkata jujur… dan ketakutan yang lebih besar.
“Aku yang seharusnya berterima kasih,” gumamnya pelan. Hampir tak terdengar.
Malam Menjelang
Mobil berhenti di depan hotel. Raya turun lebih dulu.
“Sampai besok, Pak,” katanya sambil membungkuk sopan.
Zian mengangguk. “Hati-hati pulang.”
Raya melangkah pergi, tak menyadari tatapan Zian yang mengikutinya hingga ia menghilang di pintu karyawan.
Derry menatap bosnya lewat kaca spion. “Bos… kalau ada masalah...”
“Tidak ada,” potong Zian tegas.
Tapi setelah mobil kembali melaju, Zian menutup wajahnya dengan satu tangan.
Masa lalu telah menemukan jalannya kembali.
Dan kini… ada Raya.
Seseorang yang tanpa sadar mulai ia lindungi.
Seseorang yang bisa menjadi sandera paling mudah bagi balas dendam lama.
“Maafkan aku…” bisiknya pelan. “Kalau nanti aku harus menjauh.”
Di luar, lampu-lampu kota menyala satu per satu.
Indah, dan berbahaya.
duhh Derry jahil mulu suka godain Zian 😄😄
di tunggu updatenya ya Sayyy quuu Author kesayangan🥰🤗 semangat terus Sayyy🤗
duhh Derry godain Raya dan Zian mulu bikin ngakak 😆😆😆
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
jangan² Raya juga jatuh cinta sama Zian 😄😄
bener kata Zian ada seseorang yang harus dia jaga yaitu Raya..
perhatian nya ma Raya,
Zian sepertinya emang jatuh cinta sama Raya 😅😅
duhh Zian minta Derry antar Raya plg gk tuh 😅😅
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu 🥰 semangat terus Sayyy 🤗💪
tapi bnr kok Zian emng sepertinya jatuh cinta sama Raya 😅😅😅
tapi Zian gk mengakuinya 😅😅😅
ledekin terus Zian ya Derry lucu soalnya 😅😅😅
untungnya Zian baik baik Saja...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy makin seru cerita nya🥰🤗
Derry ada² saja blg nnt juga bakal tau
tau apa yaa kira² apakah Zian dan Raya akan menikah? 😄😄
bener banget Raya hrs mengenal Zian lagi...
tinggal di tunggu kapan nikah nya😄😄
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
jgn dong Zian harus menjauh dari Raya 🥲..
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
duhh gmn yaa klo Raya dan Zian tau soal perjodohan 😌😌
Ya ampuun Derry usil banget suka jailin Raya sampai malu malu dong 😆😆😆
. penasaran dg lanjutannya, di tunggu kekocakan Derry Sayyy quuu Author kesayangan tetap semangat ya Sayyy 🤗quuu🤗 🥰💪
Zain minta Derry antar Raya plg buat mastiin Raya aman gk tuh 😄😄
ciieee Raya dahh nyaman tuh dg Zain 😄😄
namun gmn dg perasaan Zain? mungkin Zain juga sama😄😄
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy quu🤗🥰💪
siapa tuhhh yg menghubungi Raya?? jgn² masa lalu Zian duhh Raya dalam bahaya dong 😌😌
yg menghubungi Raya cowok yaa, ada hubungan apa Raya dg cowok itu?
l
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🤗🥰💪
Duhh Raya merasa ada yg mengikutinya... 😄😄
Derry blg ke Zian lapor polisi dong... 😁😁
Siapa yaa yg mengikuti Raya 🤔🤔
Derry menggaruk kepala gk tuh 😆😆
Derry bingung dong menatap bos nya 😄😄
Zian blg Raya harus mendapatkan pengawasan khusus gk tuh 😆😆
Bener tuh Derry sejak kapan Raya sepenting itu buat bos 😄😄
Duhhh siapa sihh pria bertato leher itu... 😌😌
Waduhh Derry ngomong Bos yang dulu belain cewek waktu itu, berani nyaa Derry 😆😆
Derry di suruh diam gk tuh 😆😆
Derry nanya mulu 😆😆
Penasaran dg lanjut nya.
Di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu
Tetap semangat Sayyy 🥰🤗💪
Zian pasti nya akan cari tau siapa mereka 🥲🥲
duhhh Zian blg ke Raya klo ada apa-apa ksh tau dong 😄😄
mengapa tuh Raya berdebar debar jgn² Raya bnran suka sama Zain 😄😄
duhh siapa yaa Pria yg mengintai Raya??
penasaran dg lanjut nyaa...
Di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu
Tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
duhhh Zian tiba ingat masaalu nya 🥲
ada seseorang yg mengancam Zian dongg...
kasihan Zian🥲🥲
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy 🤗🥰💪
duhhh seperti nya Zian bakal suka sama Raya😄😄