NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Dingin

Menikah Dengan Dosen Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / CEO / Nikah Kontrak / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.

Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Pagi menjelang siang ini,aku sudah ditunggu Nia dan Lala di depan kos lama. Tadi pagi aku buru-buru ke sini setelah Reihan pergi ke kantor. Memang sengaja aku minta mereka menjemput di sana agar mereka tidak curiga soal status ku sekarang.

“Huh, akhirnya kamu keluar juga, Ly. Kirain jadi pertapa di kos mulu!” celetuk Lala sambil membuka pintu mobil.

Nia hanya mengangguk sambil menyetir. “Bagus, mumpung masih semangat. Tapi hari ini jangan bahas skripsi ya. Kita refresh otak dulu.”

Alya mengangguk " iya, kalian juga jangan lupa siapin skripsinya, biar kita bisa wisuda bareng-bareng"

" Kalo gue mah tinggal sidang doang, noh si Lala kagak tau kerjaannya apaan, sibuk ngedrakor Mulu"

" Yeeee skripsiku juga udah mau kelar kok"

Mobil melaju ke arah mal terbesar di kota. Begitu sampai, suasana ramai menyambut kami. Weekend memang selalu penuh orang yang datang untuk sekadar belanja, nongkrong, atau sekadar jalan-jalan.

“ kita ke butik dulu ya,” ajak Nia. “Aku lagi pengen cari dress buat acara besok.”

"Gas yok gue juga mau lihat-lihat, mana tau ada yang cocok"

Lala langsung menarik tanganku. “Dan kamu, Ly, harus coba baju yang lebih kece. Jangan polos-polos melulu kayak mahasiswa baru ospek.”

Aku hanya bisa tergelak. “Aku nyaman kok gini.”

“Ya ampun, jangan gitu. Coba dulu. Mana tahu nanti ada yang jatuh cinta,” kata Lala setengah berbisik.

Aku menahan tawa getir. Kalau mereka tahu siapa sebenarnya yang sudah jadi suamiku, mungkin mereka akan kaget bukan main. Tapi perjanjian itu jelas: tidak boleh ada yang tahu. Ahh siapa juga yang mau ngumbar pernikahan ini.

Kami masuk ke butik dan mulai memilih baju. Aku mencoba beberapa blouse warna pastel dan celana kulot. Saat keluar dari ruang ganti, Lala dan Nia langsung bersorak kecil.

“Ya ampun, cantik banget. Cocok banget buat kamu!” kata Nia.

“Fix, kamu harus beli ini,” timpal Lala.

Aku memandangi diriku di cermin. Jujur, aku sendiri sedikit suka. Tapi tetap saja, semua ini terasa aneh.

Setelah puas belanja, kami memutuskan makan di food court.

“Ly, kamu akhir-akhir ini sering ngilang, ya?” tanya Nia sambil menyeruput minumannya. “Kos kamu aja sepi banget waktu aku ke sana kemarin.”

Aku tercekat sebentar, lalu tersenyum tipis. “Hehe… lagi sering pulang ke rumah sekarang. lagi kangen sama papa mama "

“Ohh, pantes,” gumam Lala sambil mengunyah ayam goreng. “Kirain kamu punya pacar baru diam-diam.”

" Ya ngga lah, mana ada yang suka sama gue"

"Terus yang di parkiran waktu itu siapa"

Aku memikirkannya sejenak, 'farel'

" Farel"

" Ngga tau lah siapa namanya itu, kalian akrab banget keliatan" ujar Lala

" Ohh kita ngga ada hubungan apa-apa kok, dia dulu sahabat aku pas SMA "

Selesai makan, kami berjalan menyusuri lorong mal. Aku berjalan paling belakang sambil membawa beberapa kantong belanja. Dan di situlah mataku menangkap sosok yang sangat familiar.

Reihan.

Dia duduk di sebuah café, berjas rapi, bersama tiga pria lain. Laptop terbuka di hadapan mereka, pembicaraan terlihat serius.

Aku langsung panik. Seharusnya aku pura-pura tidak lihat, tapi Lala lebih dulu menoleh.

“Eh! Bukannya itu Pak Reihan?!” bisiknya, tapi cukup keras untuk kudengar jelas.

Aku buru-buru menarik lengannya. “Jangan berisik, La!”

“Serius deh, itu kan dosen killer kita. Ngapain di sini?” Nia ikut penasaran.

Aku tersenyum sekilas. “Ya mungkin ada meeting kerja. Namanya juga dosen, pasti ada urusan lain kan.”

Tapi Lala malah iseng melambaikan tangan. “Halo, Pak Reihan!”

Astaga! Jantungku hampir copot. Reihan sempat menoleh sekilas. Tatapannya bertemu denganku sepersekian detik, lalu ia kembali fokus pada meetingnya.

"Lu ngapain sih la" ucapku sedikit gemes melihatnya

Nia dan Lala tertawa kecil. “Ih, cuek banget. Ya ampun, pantes disebut dosen killer tapi ngga papa kok yang penting ganteng.”

Setelah puas belanja, kami berjalan ke arah parkiran. Nia dan Lala sibuk membicarakan film yang akan mereka tonton minggu depan sesekali aku ikut nimbrung, sementara aku hanya mengikutinya sambil membawa kantong belanjaku.

Saat hampir sampai mobil, mataku menangkap sosok yang sangat familiar di dekat salah satu mobil hitam.

Reihan.

Dia berdiri sambil membuka pintu mobilnya, terlihat baru saja selesai meeting. Aku refleks panik, tapi segera menunduk pura-pura sibuk dengan ponsel agar dia tidak melihatku.

Namun ternyata, langkahku terhenti ketika suara datarnya terdengar.

“Alya.”

Aku mendongak cepat, jantungku langsung berdegup kencang. Nia dan Lala ikut menoleh, wajah mereka jelas kaget.

“Eh… bukannya ini Pak Reihan?” bisik Lala dengan nada girang.

Aku buru-buru menanggapi. “Eh iya, kebetulan ketemu…”

Reihan hanya mengangguk singkat ke arah Nia dan Lala. “Selamat sore.”

“Selamat sore, Pak,” jawab Nia sopan.

Reihan kemudian menoleh ke arahku. “Kamu ada waktu sebentar? Saya perlu bicara beberapa hal."

Aku tercekat, tapi cepat-cepat mengangguk. “I-iya, Pak.”

" Bisakan Alya ikut dengan saya"

Aku bisa merasakan wajahku memanas. Nia dan Lala hanya saling pandang, lalu tersenyum menggoda.

"Ohh bisa banget malah, ya ngga la"

"Iya pak, kita juga udah selesai kok"

“Oke deh, Ly. Hati-hati ya. Jangan lama-lama. Nanti cerita ke kita,” kata Lala sambil berkedip jahil.

Aku hanya bisa menahan napas sambil masuk ke mobil Reihan. Begitu pintu tertutup, aku menoleh dengan kesal. “Mas… gila. Hampir aja mereka curiga.”

Reihan menyalakan mesin tanpa menoleh " kan semalam kamu yang bilang mau belanja bulanan"

"Yaa tapi ngga disini juga, nantikan bisa dirumah"

" Kelamaan, buang-buang waktu saya"

"Terserah" aku mendengus kesas seenaknya saja.

.

.

.

.

.

Kami tiba di supermarket besar tidak lama kemudian. Aku mendorong troli, sementara Reihan berjalan di samping dengan wajah dingin khasnya.

“Apa aja yang perlu dibeli?” tanyanya.

Aku membuka catatan di ponsel. “Beras, minyak, telur, susu, sayuran, buah, bumbu dapur, sama camilan.”

Kami mulai dari bagian sayuran. Aku sibuk memilih tomat, wortel, dan cabai. Reihan hanya mengamati dengan tenang.

“Yang ini bagus kan, Mas?” tanyaku, sekadar basa-basi.

Iya, ambil aja,” jawabnya singkat.

Aku menghela napas. Hening sekali, tapi ngapain juga aku pikirin.

Di bagian camilan, aku tanpa sadar mengambil coklat kesukaanku, lalu buru-buru mengembalikannya lagi.

“Kenapa ditaruh lagi?” tanyanya.

“Bukan kebutuhan pokok, Mas. Nanti aja.”

“Ambil.” Suaranya tegas. “Belanja ini juga buat kamu.”

Dengan wajah senang aku akhirnya memasukkan coklat itu kembali.

Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat kami berbelok ke lorong minuman, aku mendengar sebuah suara yang sangat familiar.

“Eh, Alya?” "

Aku menoleh kaget. Itu Farel.

" Belanja juga Al"

Dia membawa keranjang kecil berisi beberapa minuman. Wajahnya terlihat cerah, tapi kemudian sedikit berubah ketika melihat Reihan di sampingku.

" Ehh iya kebetulan"

" Sama siapa"

" Ohh ini pak Reihan dosen pembimbing aku di kampus, aku lagi bantu buat milihin beberapa bahan makan, soalnya pak Reihan kurang tau"

"Ohh gitu"

Aku terkekeh canggung. “Hehe, ya gitu deh.”

Setelah basa-basi sebentar, Farel pamit. Aku bisa merasakan keringat dingin di telapak tanganku.

Di kasir, Reihan mengeluarkan kartu hitamnya, membuat kasir sempat ternganga. Sombong amat.Aku hanya bisa menunduk, merasa kecil di sampingnya.

1
Nurhikma Arzam
semangat thor next nya. 😁
Nurhikma Arzam
saran aja ini, please thor aku agak bingung povnya yg awalnya sudut pandang orang ketiga jadi sudut pandang orang pertama. kalau bisa kasih peringatan untuk peralihan pov ha
Erwinda: ihh makasih banget kak sarannya 🥰
total 1 replies
Nurhikma Arzam
awas jatuh cinta Al
Nurhikma Arzam
bagus semangat thor semoga kamu bisa menyelesaikan tulisan ini dan jadi penulis yang keren kelak. jangan menyerah
Nurhikma Arzam
Farel calon calon sad boy haha
Nurhikma Arzam
roman-romannya Reihan ini naksir duluan keknya sama Alya hmm
Nurhikma Arzam
semangat, saran aja ya kak ujung percakapannya jangan lupa pakai tanda titik biar lebih enak di baca☺
Nurhikma Arzam
Halo thor semangat upnya ya. jangan lupa mampir di cerita aku juga 😁
Pandaherooes
Ceritanya seru banget, semangat terus thor!
Gấu bông
Gila seru abis!
Arisu75
Alur ceritanya keren banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!