NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mandi wangi

Emosiku kembali datang dan tak dapat lagi kubendung.

"Lo menolak gue lagi, Adam! Lo kecewain gue lagi! Lu benar-benar gak ada hati!"

Setelah menghamburkan kata-kata itu, lantas aku bangun, turun dari ranjang. Adam pun turut melakukan hal yang sama dengan wajah panik.

"Winda, saya tidak bermaksud--"

"Jangan sentuh gue!" Aku menjerit kuat saat Adam coba menarik tanganku. Lalu aku berlari kearah kamar mandi, ingin melepaskan tangisku di sana. Namun, belum sempat tanganku meraih gagang pintu, Adam lebih dulu menahan tanganku.

"Sayang, sebentar. Tolong dengar dulu penjelasan saya."

Dia hendak memutar tubuhku agar menghadap padanya, tapi aku meronta, mengeraskan badan menolak keinginannya itu.

Aku tersentak karna tiba-tiba Adam membalikkan tubuhku dengan gerakan cepat, lalu mendorongku ke pintu. Punggungku terhempas ke dinding. Belum sempat aku mengerang kesakitan, Adam sudah merapatkan badannya, pinggulnya di tekan kuat ke perutku.

"Ini. Inikan yang kamu mau? Hmm..."

Adam membisikkan kata-kata itu tepat di sebelah telingaku.

Nafasku semakin tak teratur, lidahku kaku.

Lalu kedua tangannya menyusup ke bawah ketiakku, laku mengangkat sedikit tubuhku. Pinggulnya semakin di tekan kebagian tubuhku yang ternyata menikmatinya.

"Hhh... Adam." Suaraku yang tadi nyaring mengaum, kini malah mendesah merasakan eresksinya yang tepat mengenai titik sensitif.

"Kamu mau saya gosok seperti ini? Hmm?"

Dia mendesis, menyeringai memandang wajahku sambil menggerakkan pinggulnya.

Gairah yang tadinya hilang, kini datang menuntut lebih. Aku turut menggerakkan pinggulku, mencari apa yang di inginkan tubuhku.

Adam mengerang lagi, tapi kali ini dia tidak berhenti.

"Iyaaaa," rengekku sambil mengangguk kecil, lalu kedua tangan kulingkarkan kelehernya sebagai tumpuan. Sungguh saat ini lututku sudah bergetar. Untungnya Adam menopangkan tangannya di bawah ketiakku. Kalau tidak, sudah merosot tubuh ini kebawah.

"Oke, sayang. Saya akan gosok seperti ini. Sampai kamu puas. Setelah itu kamu harus dengar penjelasan saya."

Aku mengangguk lagi. Jika boleh, aku mau lebih dari sekedar di gosok saja.

Yang di lakukan Adam saat ini begitu nikmat, lebih dari segala nikmat yang pernah aku rasa sebelum ini.

"Bagus," bisik Adam, lalu mencium bibirku. Lidahnya menjilat bibirku dan ketika aku buka mulut, dia lansung mendorong lidahnya kedalam, merasai lidahku.

Kedua tanganku yang berada di lehernya kini berpindah memeluk erat kepalanya.

"Adam...." Kupanggil namanya dan dia menyentuhkan keningnya ke keningku. Nafasku semakin memburu, aku tak tahu bagaimana reaksi wajahku saat ini. Tapi uang jelas Adam menyeringai puas melihat kerasaanku seperti ini.

Erangan kuat juga tak dapat kubendung, silih berganti memanggil namanya.

Aku semakin dekat. Dekat dan dekat.

"Winda, sayang.... Come for me."

Pelukannya semakin erat, membakar tubuhku dengan sentuhan yang tak ingin kulepaskan.

Dan seketika, tubuhku kejang bagai terkena sengatan elektrik, jiwaku melayang bersama rasa yang baru saja hadir.

Adam masih bergerak beberapa kali sebelum berhenti dan mengeluarkan sesuatu yang bisa kurasa.

Cukup lama aku pulih dari exstasi yang Adam berikan padaku malam ini. Nikmatnya menjalar keseluruhan tubuh, meski itu bukan sek sungguhan.

"Winda."

Adam memanggil pelan, badannya sedikit di jarakkan, padahal tubuh masih rindu di dekapnya.

"Hm....." Aku menyahut dengan gumaman. Mata masih terpejam erat, tapi mulutku mengukir senyum. Senyum kepuasan.

Sungguh, saat ini aku merasa berada di taman bunga.

"Saya ingin menurunkan kamu. Kamu bisa berdiri kan?"

Hilang taman bunga tempat kuberada tadi.

Kanapa harus kalimat itu yang dia katakan?

Mengganggu kesenangan orang saja.

Perlahan kubuka mata. Adam sedang tersenyum, lalu aku menurunkan kedua kakiku yang masih melingkar di pinggangnya agar bisa berdiri lagi meski lutut masih bergetar.

"Jahatnya!" Aku menepuk lengannya bersama wajah cemberut cemberut manja dan senyum Adam malah semakin lebar. Matanya masih memandang wajahku, tapi entah kenapa tiba-tiba aku jadi tersipu malu dengan pandangannya itu.

"Sayang." Adam memanggil namaku dan mengangkat daguku keatas. "Sekarang kamu sudah tahu kan, kalau saya hanya sayang kamu seorang saja."

Aku mengangguk pelan dan sunyum Adam semakin mengembang.

"Oke. Kalau begitu, saya mau mandi sebenatar. Setelah itu baru kita bicara," ucapnya sambil mengeluarkan ibu jarinya di pipiku dan aku mengangguk lagi.

"Kamu pun harus mandi juga, biar Subuh nanti tidak perlu mandi lagi."

Aku mengangguk lagi dan Adam tertawa kecil.

"Oke, saya mandi dulu ya?" ucap Adam, lalu mencium dahiku sebelum berlalu kekamar mandi.

Aku kembali keranjang dan terduduk di sana. Beginikah rasanya di sentuh oleh lelaki yang halal untuk kita?

.

.

30 menit berselang, aku dan Adam telah duduk bersama di atas ranjang. Rambut yang basah kukeringkan dengan pengering rambut agar bantal tidak basah selesai mandi.

"Kamu mau menjelaskan apa tadi?" tanyaku memulai percakapan.

Adam menundukkan kepala dan menarik nafas dalam-dalam sebelum memandangku kembali.

"Saya ada ide bagaimana menyelesaikan masalah kita."

Aik, masalah apa yang dia maksud?

Apa karna pertengkaran tadi?

Hatiku mulai tak karuan menanti apa yang dia maksud. Sadar akan perubahan raut wajahku, Adam cepat-cepat melanjelasakan.

"Winda. Kamu istri saya. Tanggung jawab saya bukan hanya sekedar menyediakan makan minum dan tempat yang nyaman saja, tapi kebutuhan batinmu juga. Kasih sayang, perhatian, kebutuhan biologis, semua itu tanggung jawab saya. Lagi pun saya susah berjanji untuk membahagiakan kamu, kan?"

Keningku sedikit berkerut dengan pembukaan kalimatnya yang terlalu panjang.

"Saya tahu, kamu masih belum bisa terima saya dan saya menghormati itu. Tapi, dalam waktu yang sama, saya tidak ingin lagi kita salah paham dan ribut tentang hal ini lagi. Saya tidak ingin keliru dengan apa yang kamu inginkan dari saya. Dan saya juga tidak ingin kamu berpikir bahwa saya tidak inginkan kamu, itu sama sekali tidak benar, Winda. Saya selalu menginginkanmu. Selalu."

Adam meraih tanganku dan menciumnya.

Aku hanya mampu mengigit bibir atas apa yang terjadi sebelum ini. Tapi kenapa dia masih menyangka aku belum juga menerimanya. Haruskan aku jelaskan prasangkanya itu atau membiarkan dulu sampai aku benar-benar yakin jika dia adalah takdirku?

"Jadi saya punya ide begini. Saya akan memenuhi kebutuhan biologis kamu, jika kamu menginginkannya. HANYA JIKA KAMU MENGINGINKAN. Saya tidak akan minta dan saya juga tidak akan memaksa. Semua harus terjadi atas kerelaan dan keinginan kamu. Tapi, untuk itu saya perlu tahu apa saja batas-batasnya. Saya perlu tahu apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan  Jadi saya bisa memberikan apa yang kamu mau, tanpa membuat kamu marah seperti kemarin. Kamu paham kan?"

Mataku berkedip cepat mencerna apa yang di terangkannya. "Jadi, artinya ada yang batasan?" tanyaku setelah cukup lama berpikir keras.

"Ya, tentu ada. Hm... Hubungan sepenuhnya, misalnya? Saya tahu, kamu masih belum siap, jadi tentunya ada batasan ketika kita melakukan itu. Tapi, yang batasan ini kamu yang menentukan, berdasarkan sejauh mana yang kamu mau." Adam menjelaskan lebih detail.

Aku tatap matanya, coba memahami apa tujuannya mengatakan ini. Padahal aku rasa tidak akan ada yang terlarang, jika aku sudah ON dengan sentuhan dan belaiannya. Ya, walaupun sejujurnya sampai saat ini aku belum tahu bagaimana perasaanku terhadapnya, tapi jika dia menginginkan lebih, aku tidak masalah memberikan padanya. Bukankah itu haknya juga sebagai suami? Tapi kenapa dia malah ingin membatasi?

"Oke. Saya tahu mungkin itu ide gila. Tapi coba kamu pikir, kita sudah melakukan ini dua kali, bahkan tanpa melepas pakaian. Jadi, saya rasa tidak ada salahnya kita coba ide cara ini. Saya juga tidak bisa jika tidak menyentuh kamu, Winda. Karna saya sayang kamu. Teramat sayang. Dan saya ingin menyenangkan kamu. Saya rasa adil saja jika kita melakukan ini atas kemauan kamu." Adam semakin mendekat, mengambil sebelah tanganku lagi dan menggenggam erat.

"Jadi, gak sampai sepenuhnya?" tanyaku pelan seolah kecewa dengan ide gilanya itu.

Adakah suami yang punya ide lebih gila dari Adam ini?

"Adam menggeleng pelan. "Tidak, tanpa persetujuanmu."

"Kamu serius gak akan mlakukan itu sepenuhnya?" tanyaku lagi.

Adam menarik nafas dalam-dalam. Dia seperti salah tingkah. Kemudian menggeleng tanpa bicara sepatah kata.

"Jadi kalau aku menginginkan hubungan sepenuhnya, aku harus minta?" tanyaku lagi. Sebenarnya aku agak kikuk menanyakan hal itu, tapi aku juga perlu pahami maksud dia yang sebenarnya.

Adam mengangguk dengan kening berkerut.

Aku coba membayangkan meminta dia melakukan hubungan sepenuhnya.

Oh, tidak!

"Ini gak adil, Adam! Aku tau kamu memberikan aku waktu untuk meyakini perasaanku padamu. Tapi gak perlu sampai gini juga kali! Kesannya kayak aku ini istri kegatalan yang meminta di setubuhi! Lagian kamu itu suami aku, hal ini gak hanya menyangkut kesenangan aku saja, tapi juga kesenangan kamu!"

Setelah mengucapkan itu, aku memalingkan wajah darinya. Bukan karna marah, tapi karna malu. Sebenarnya tidak ada niatku untuk mengucapkan kalimat terakhir itu, tapi aku terpaksa meluapkannya.

"Oke. Begini saja. Mungkin saya akan mencoba memulai lebih dulu, maksud saya secara bertahap, bukan drastis. Saya akan melakukan segala sesuatunya perlahan, bahkan mungkin saya akan meminta izinmu terlebih dahulu. Dan jika kamu meminta lebih, baru saya lanjutkan."

Adam membelai rambutku yang masih lembab.

Oke. Aku rasa itu cukup adil. Jadi dia tidak perlu menuruti semua keinginanku dan aku juga tidak perlu bermuka tembok meminta dan memberi arahan agar di sentuh olehnya.

Masa iya aku yang ngasih tutor?

"Oke." Aku mengangguk tanda setuju.

Adam mengerutkan kening seolah tidak paham dengan kalimat oke dan anggukan kepalaku.

Heist, dia ini benar-benar lugu atau pura-pura lugu sih?

"Ya, aku setuju dengan ide kamu."

"Jadi, kamu benar-benar setuju?" tanya Adam memastikan.

"Apa salahnya di coba," jawabku enteng. Tidak ingin terlihat begitu menggebu. Yang ada, nanti dia berpikir aku ini maniak.

"Terimakasih, Winda," balas Adam dengan senyum lebar. Kepalaku di tarik dan dahiku di kecupnya lama.

"Jadi, batasan itu harus aku tulis dalam aturan kita gak?" tanyaku dan kecupan di dahiku di lepaskannya.

"Apa kamu menulis itu untuk menyalahkan saya kalau saya terlanjur melakukannya?"

Aku tertawa tertawa mendengar pertanyaannya itu. Apalagi melihat riak wajahnya yang lugu. Rasanya mau aku terkam lagi. Tapi untungnya otakku masih waras.

"Saya janji, Winda. Saya akan berhenti kalau kamu merasa  yang saya lakukan di luar batas. Tapi kamu harus memberitahukan saya. Saya tidak mau, kamu biarkan saya melakukan, tapi setelah itu kamu marah karna saya melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan," ucap Adam bersungguh-sungguh.

"Iya iya. Terserahmu aja lah. Aku ngantuk, mau tidur," balasku merubah topik. Aku malu mengakui kalau aku suka dengan semua sentuhan dan belaiannya. Aku juga rela, andai dia melakukan lebih jauh lagi dan aku tidak akan menyalahkan atau pun menuntutnya.

Kulerai tangannya yang masih menangkup pipiku, lalu selimut  kutarik selimut dan berbaring.

Adam masih tersenyum saat dia melabuhkan kepalanya di bantal sebelahku.

Satu pertanyaan tiba-tiba muncul di benakku.

"Adam. Bagaimana denganmu. Hmm.... Maksudku bagaimana dengan batasanmu?" tanyaku sambil memiringkan badan menghadapnya yang juga sedang berbaring menghadap padaku.

"Saya tidak ada batasan, Winda. Aku milikmu dan untuk kamu miliki," jawabnya sambil tersenyum, lalu keningku di cium lagi dan mengucapkan selamat malam sebelum menutup matanya.

***

"Winda, bangun sayang. Ayo, Subuh dulu."

Aku menggeliat saat suara itu berbisik di telingaku. Perlahan mata kubuka, wajah Adam berada tepat di hadapanku. Dia tersenyum sambil membelai rambutku. Beberapa saat memandangnya, aku tersenyum dan mengangguk.

20 menit kemudian, dalam posisi duduk bersimpuh aku mengaminkan doa yang di bacanya dan seperti kebiasaan, dia menarik kepalaku dan mencium dahiku lama setelah kucium tangannya.

Setelah dia selesai dengan ritualnya, aku pun berdiri. Mukena kubuka dan kugantung di lemari.

"Jam berapa kita berangkat ke Pakualaman?"

Adam yang baru selesai melipat sajadah dan membuka pecinya menoleh kearahku. "Mungkin Setalah makan siang."

Aku mengangguk dan duduk di tepi ranjang. Kepalaku tiba-tiba pusing dan Adam yang menyadari perubahan riak wajahku mendekat dan duduk di sebelahku.

Tanganku diambil dan di genggamnya. "Kenapa? Kamu tidak suka pulang kampung?"

Aku menggeleng, "bukan. Aku cuma merasa pusing. Mungkin karna belum sembuh betul,," terangku, tak ingin membuka cerita tentang kampung oma. Tujuanku mau pulang kampung, hanya ingin bertemu oma, meski nantinya bertemu Sarah juga.

"Sini, saya pijit."

Adam menarikku berbaring di pangkuannya. Sungguh, aku suka dengan perhatiannya ini. Pijatannya begitu lembut membuatku semakin nyaman, hingga tak sadar aku kembali terlelap.

Ketika bangun, jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Adam tidak ada di kamar, entah kemana perginya. Aku turun kebawah. Di meja makan mama sedang sarapan bersama papa. Mereka sedang asyik mengobrol dan tertawa kecil, pemandangan seperti ini sangat jarang kulihat.

Menyadari kehadiranku, tawa mereka hilang. Wajah mereka juga berubah.

Apakah mereka mendengar keributanku dengan Adam tadi malam?

Semoga saja tidak.

"Winda, sini sarapan sama-sama."

Papa memanggilku, sedang mama masih diam, wajahnya terlihat kikuk dengan kehadiranku.

Ada apa dengan mereka?

"Nanti ajalah, Pa. Winda baru bangun, belum selera. Ohya, Papa ada lihat Adam gak?"

Mama dan papa saling berpandangan. Hm...makin mencurigakan.

"Kalau gak salah, tadi Mama lihat, Adam pergi jogging." Mama yang menjawab. Bersamaan dengan itu, aku mendengar bunyi pintu depan di buka, disusul dengan munculnya sosok tubuh bermandikan keringat. Dia sedang sibuk menekan Ipod dan tiba-tiba langkahnya terhenti melihat keberadaanku.

"Sudah bangun? Masih pusing?" tanya Adam sambil mengeluarkan earphone yang terpasang di telinganya, lalu dia mendekat dan mengusap kepalaku, keningku tak luput di ciumnya.

Aku hanya menggeleng, lidahku mendadak kaku melihat tubuhnya keringatan seperti ini.

"Ya udah, saya kekamar dulu-"

"Adam, nanti ajak Winda sarapan di rumah ya? Masih banyak nih makanannya." Mama tiba-tiba teriak dan reaksi Adam seakan kaget, lalu dia menoleh kesumber suara.

"Eh, Ma, Pa, maaf ya, Adam tidak tahu ada Mama Papa," Adam menyeringai kuda sambil menggaruk kepala. "Iya, sebentara lagi Adam ajak Winda makan, Adam mau mandi dulu." Wajahnya sedikit merona, mungkin segan papa dan mama melihat dia mencium keningku tadi.

"Winda juga mau mandi dulu, nanti Winda sarapan dengan Adam." Aku pun ikutan bersuara, lalu menarik tangan Adam mendaki tangga.

"Untung saja tadi saya tidak cium bibir kamu," ucap Adam setelah berada di kamar.

"Kenapa? Kamu mau cium bibirku?" tanyaku enteng. Koper kosong yang terletak di sudut lemari kubawa keranjang. Aku mau mengemaskan baju untuk di bawa ke kampung oma sambil menunggu Adam selesai mandi.

"Saya rasa pertanyaanmu itu, sama seperti kamu menanyakan; burung bisa terbang atau tidak?"

Keningku berkerut mendengar kata-katanya itu, lantas berbalik sambil nercakak pinggang. "Maksudmu apa?" sengitku memasang wajah galak.

Adam malah tersenyum, lalu membuka bajunya yang basah oleh keringat seraya mendekatiku.

Tubuhnya yang mengkilat dengan keringat cukup membuat nafasku tersangkut di tenggorokan.

Tepat di depanku, langkahnya terhenti. Tapak tangannya yang lebar menangkup kedua pipiku, lalu bibirnya yang merah di tempelkan ke bibirku. Tanpa menunggu komando, lansung kubuka mulut, menyambut ciumannya. Ciuman ini tidak semata,-mata melibatkan nafsu. Bibirnya hanya mengurut bibirku lembut dan aku memejamkan mata menikmati semua itu.

Kalau bukan karna drama tadi malam, pasti aku akan menuntutnya melakukan lebih, tapi begini-begini aku punya malu juga dengan sikapku yang kayak haus belaian lelaki.

"Saya bilang, untung saja tadi saya tidak cium bibir kamu di depan Mama dan Papa. Coba tadi kalau saya cium bibir kamu yang menggairahkan ini di depan mereka?" desis Adam setelah menyudahi ciuman.

"Sana sana, mandi! Masih pagi mau main-main!" kataku sambil mendorong tubuhnya sebelum gairahku terbakar.

"Oke. Saya mandi dulu." Adam tersenyum tipis. Kakinya pun belum beranjak. "Ohya, Winda. Saya rasa kamar mandi, cukup luas untuk kita berdua." Adam menambahkan sambil menarik turunkan alis.

Kuraup nafas besar dan membuang kasar. Menahan diri agar tidak terpancing dengan godaannya. "Iiiih, Adam! Buruan mandi sana!" dengusku sambil mendorongnya ke kamar mandi.

Adam malah tertawa sambil memperhatikan raut wajahku, tapi kakinya tetap melangkah ke kamar mandi.

Kulanjutkan memasukkan pakaian yang akan kubawa kedalam koper, tapi benakku malah kepikiran sedang mandi berdua dengan Adam di bawah guyuran shower dan saling menyambuni.

Lantas kugelengkan kepala dan menepuk kening agar pikiran itu pergi.

Hampir pukul 9, kami baru turun untuk sarapan, Papa dan mama masih setia duduk di meja makan.

Aku rasa mama dan papa memperhatikan kami yang sedang makan. Adam malah cuek menyantap sarapan seolah tidak mempersalahkan mata papa dan mama yang seakan membaca gerik-gerik kami. Tapi aku senang juga karna Adam tidak kikuk di depan papa mama.

.

.

.

Seperti yang kami rencanakan, selesai makan siang dengan papa dan mama di restoran kami lansung berangkat ke Pakualaman--kampung Oma.

Selama dalam perjalanan, aku terus-terusan merasa mual dan terkadang meminta Adam berhenti jika ingin muntah.

"Winda, saya benar-benar khawatir dengan keadaanmu. Dari Minggu lalu kamu seperti ini. Nanti, sampai di Pakualaman, kita singgah dulu di klinik ya?" ucap Adam sambil menggenggam tanganku.

Jujur, saat ini aku sendiri benar-benar merasa lemah, karrna semua makanan yang aku makan tadi telah aku muntahkan.

"Gak usah. Dari dulu aku memang begini, suka mabuk perjalanan," jawabku berbohong. Sengaja memberikan alasan itu karna tidak mau ke klinik. Aku tidak ingin. dengar lagi kemungkinan yang akan di sampaikan dokter untuk kedua kali.

Biarlah kemungkinan akan terus jadi kemungkinan.

"Tapi-"

"Tapi apa lagi? Aku gak mau ke klinik, Adam. Kamu paham gak sih? Udahlah, aku mau tidur sebentar. Kepalaku pusing," pintasku. Lalu merubah posisi duduk senyamanku dan mulai memejamkan mata.

.

.

.

Aku bangun, setelah mobil yang di kemudikan Adam keluar dari tol. Adam terus melajukan mobil hingga sampai di Pakualaman. Memasuki kawasan kampung Oma, barulah aku memberi arahan, hingga sampai di depan rumah Oma.

Baru saja mobil berhenti, Oma sudah muncul di pintu dengan wajah ceria menyambut kedatangan kami. Aku pun turun dan berlari mendekati Oma.

"Kangennya Oma sama kamu Nduk." Oma memelukku dan menciumi wajahku. Ada air mata mengalir di pipinya.

Terakhir kali aku bertemu Oma, sebelum aku di berangkatkan ke London.

"Winda juga kangen Om. Oma sehat kan?" balasku sambil menyeka pipi Oma yang basah.

"Oma yang lebih kangen. Sudah lama Oma saki, menahan rindu pada cucu Oma yang satu ini. Winda sih, ndak mau kesini jenguk Oma. Tapi sekarang Oma sudah sehat karna sudah ketemu cucu kesayangan Oma." Oma kembali menciumi pipiku sebelum pandangannya beralih kebelakang.

Winda, iIni kah cucu menantu Oma?" tanya Oma dengan wajah ceria. Pulkan di lerainya. Pandangannyo fokus pada Adam.

Aku turut menoleh kebelakang dan, disana Adam tersenyum sambil menyeret koper kami.

"Iya, Oma. Namanya Adam," sahutku yang kini berdiri di sebalah Oma.

Adam melepaskan koper, lalu mendekati kami dan menyalami Oma. Sama yang di lakukan padaku, Oma juga mencium kedua pipi Adam.

"Pintar cucu Oma memilih suami ya? Sudahlah tampan, santun lagi."

Adam tersenyum, sedikitpun ia tidak merasa kikuk dengan perlakuan Oma. Malah dia tampak senang.

"Oma kenapa?" tanyaku melihat Oma yang sedang memperhatikan wajah Adam sambil menekuk ke kiri dan ke kanan.

"Wajahnya kok ndak mirip orang kita ya, Nduk? Lebih mirip bule Oma lihat. Kayak Cina pun ada."

Aku tertawa mendengar jawaban Oma yang begitu tepat.

"Eh, mas Adam sudah sampai?"

Suara yang sangat aku kenali itu tiba-tiba masuk ke kendang telinga. Bersamaan dengan itu Sarah muncul di pintu, lalu mendekati kami dan mengulurkan tangan pada Adam.

"Yang ini namanya Sarah. Cucu Oma juga, anak Ria--adik dari Papanya Winda. Jadi Sarah ini sepupu kamu dan Winda juga." Oma mengenalkan Sarah pada Adam dan Adam mengangguk.

Kemudian Sarah mengulurkan tangan padaku, tapi hanya kusambuy dengan menyentuh ujung jari saja.

"Mari masuk. Oma lagi masak makan malam dengan bibi kalian. Oma sengaja masak menu kesukaan Winda," ajak Oma.

Mataku menangkap Sarah yang  ingin membantu Adam membawa koper, tapi Adam menolaknya dengan cara halus. Kami pun sama-sama masuk ke dalam rumah.

Setelah meletakkan koper ke dalam kamar yang memang sudah menjadi kamarku di rumah Oma, aku mengajak Adam kedapur untuk bertegur sapa dengan bibi Ria.

Dulu bibi Ria tinggal di kota, ikut suaminya yang merupakan prajurit TNI, tapi setelah suaminya meninggal bibi Ria memilih menetao di kampung ini. Tinggalmy di sebelah rumah Oma.

Sama seperti Oma, bibi Ria juga memuji rupa Adam. "Ternyata benar yang Sarah bilang, suami Winda ganteng. Waktu pulang dari nikahan Winda, Sarah begitu antusias menceritakan suami Winda."

What? Sarah hadir juga ke acara pernikahanku? Tapi kok aku gak melihat dia.

Kumandang azan Maghrib menghentikan obrolan kami. Bibi Ria kembali melanjutkan. Memasak. Sedang Sarah duduk di meja makan sambil memperhatikan Adam yang berdiri membelakanginya.

"Winda, Adam, kalian mandi dan sholat Maghrib lah dulu. Setelah itu, baru kita makan sama-sama."

Oma menepuk lengan kami dan aku mengangguk

"Baiklah, Oma. Kami kekamar dulu," ucap Adam berbasa-basi, lalu menggandengku ke kamar.

"Mandi yang wangi ya?"

Hatiku panas mendengar suara Sarah yang tiba-tiba seperti sengaja tebar pesona pada Adam.

Sampai di kamar, wajah kutekuk karna kesal. Dari dulu aku tidak suka Sarah dan sekarang aku bertambah tidak padanya.

"Wind, kenapa sayang? Pusing lagi?" tanya Adam yang menyadari perubahan wajahku.

"Aku gak suka sama si Sarah itu. Masa di depan aku dia berani menggoda kamu. Dasar gadis kegatalan," gerutuku.

"Kapan dia menggoda saya?" tanya Adam, keningnya berkerut melihatku.

Adam ini jenis lelaki specialist apa sih? Gak mungkin dia gak paham dengan wanita yang sedang tebar pesona padanya.

"Dia suruh kamu mandi wangi-wangi. Apa itu, kalau bukan ingin menggoda kamu," balasku sengit.

Adam malah tertawa kecil. Lalu dia mendekatkan bibirnya keteingaku. "Kalau saya mandi wangi pun, yang tidur dan peluk saya kan kamu." Setelah membisikkan itu, Adam menggit pelan daun telingaku. Lalu mengeluarkan handuk dari dalam kepor dan pergi keluar untuk mandi.

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!