Novel ini penuh air mata ya say...kalau tidak kuat Melo, tinggalkan saja...!
Penolakan sang suami untuk mengakui keberadaan putranya membuat Adis menyerah. Ia harus membesarkan putra semata wayangnya seorang diri.
Namun penderitaan makin sempurna yang harus ia alami saat putranya di vonis dokter mengalami sakit jantung membuat ia harus berpikir keras untuk mencari uang tambahan.
"Ya Allah. Dari mana aku harus mendapatkan uang 500 juta dalam sebulan?" desis Adis sambil mengelus dadanya yang terasa sangat sesak lagi sakit.
Bagaimana kisah ini selanjutnya antara Adis, suaminya Panji serta putra mereka Rian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Happy
Asisten Andre yang merasa menjadi nyamuk diantara keduanya segera menyingkir dari tempat itu karena rona wajah tampan tuannya terlihat berada di taman bunga.
"Maaf tuan...! Saya permisi keluar sebentar karena ada urusan yang masih tanggung," ucap asisten Andre tak digubris oleh Galih yang sedang menatap Adis tak berkedip.
Seakan begitu takut Adis tiba-tiba lenyap dari hadapannya dan semuanya bagai fatamorgana untuknya. Adis mengigit sudut bibir bawahnya karena tidak sanggup membalas tatapan mata elang galih yang seakan membekukan hatinya.
Melihat tingkah gugup Adis membuat Galih makin merona gemas." Siaalll...! Apakah dia tidak tahu jika bibirnya membuat aku gila?" gumam galih menahan hasrat kerinduannya pada sosok cantik pujaannya itu.
"Maafkan aku jika aku terlambat datang ke sini untuk memenuhi permintaanmu..!" meremas jemarinya yang kini makin dingin sambil menahan tangannya yang gemetar hebat.
Melihat kegugupan Adis membuat hati Galih terenyuh. Ia dengan cepat menghampiri ibu muda itu lalu memeluknya dengan erat.
"Tenanglah...!" aku tidak akan marah padamu. Kedatanganmu merupakan hadiah terindah dari Allah untukku. Jangan takut...! Aku tidak akan menyusahkan mu, hmm?" lirih Galih membuat Adis merasa sangat nyaman dalam dekapan pria tampan itu walaupun ia terlihat sangat segan karena mereka tidak punya ikatan apapun.
"Ya Allah. Kenapa ini terasa nyaman. Tapi tidak...! Aku ...aku sudah bersuami," batin Adis mengingat. Statusnya lalu berucap.
"Maaf....!" satu kata itu menyadarkan Galih yang tidak kuasa menahan rindunya.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku terlalu senang hingga lupa menjaga batasan kita." Mengurai pelukannya lalu mengajak Adis untuk duduk di sofa.
Adis menghempaskan bokongnya di sofa marun lalu berpangku kaki dengan gerakan gesture tubuh begitu elegan. Cara duduknya sudah seperti seorang model. Talentanya sudah terlihat tanpa harus banyak latihan.
Galih mengambil beberapa berkas kontrak kerja untuk Adis. Dengan bayaran yang lumayan tinggi membuat Adis sport jantung ketika membaca nominal angka nol di belakangnya. Adis mengernyitkan keningnya lalu menatap wajah Galih yang sedang ketangkap basah menatap wajahnya. Galih terperangah spontan membuang muka.
"Tuan. Apakah honor ini tidak berlebihan untukku. Satu miliar..? Apakah kamu cukup waras untuk membayar aku sebanyak ini?" tanya Adis memastikan lagi apa yang ia lihat saat ini.
Galih tersenyum melihat wajah cantik menggemaskan Adis. Ia lalu menggeleng pelan.
"Itu masih kecil untuk orang pertama yang baru menapaki dunia model. Jika nanti kamu sudah menggeluti bidang ini, pekerjaanmu lebih berat daripada bayaran yang bakal kamu terima," pukas Galih.
Adis yang polos mendengar itu terperanjat. Pasalnya kalau kerja jadi perawat rumah sakit tidak akan bisa mengumpulkan gajinya sebanyak itu dalam sepuluh tahun. Kelopak matanya melebar. Entah perkataan apa lagi yang akan ia lontarkan kepada CEO perusahaan ini sekaligus fotografer terkenal itu.
"Nanti ada lagi tambahan jika kamu berhasil membintangi beberapa iklan produk dari klien kami," ucap Galih menambahkan mekanisme pembayaran honor seorang model.
"Satu miliar sudah terlalu banyak untukku. Tidak masalah kalau tidak ditambahkan honornya. Itu saja sudah Alhamdulillah. Berasa dapat tiket untuk masuk surga," cetus Adis dengan polosnya.
Ia seperti memperlihatkan tampang bodohnya di depan Galih. Justru hatinya yang jujur membuat Galih tahu Adis bukan wanita yang bakal memanipulasi keadaan. Itu yang sulit Galih dapatkan di tengah model-model berbakat yang menjamur saat ini.
"Apakah kamu setuju dengan perjanjian kontrak kerjasama ini?" tanya Galih.
"Insya Allah. Baiklah aku terima asalkan putraku tidak kehilangan waktu bersamaku," ucap Adis.
"Tapi masalahnya, kamu mungkin bisa berhenti dari pekerjaanmu sebagai perawat," imbuh Galih.
"Apaaaaa....? Tidak. Bagaimana mungkin aku meninggalkan pekerjaanku itu?" elak Adis sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Waktumu akan banyak tersita di dunia modeling. Bukan hanya bekerja di dalam negeri. Kita bahkan keliling dunia untuk melakukan show, iklan produk dari negara lain dan juga pemotretan di setiap tempat yang menarik obyek kita sesuai dengan tema yang kita usung," ujar Galih lagi memaparkan kepada Adis tentang resiko dari karir yang akan ditempuh oleh Adis.
Adis kembali merenung. Tidak mungkin ia langsung resend dari karir sebelumnya secepat itu. Semuanya butuh proses.
"Apakah ada yang menganggu pikiranmu? Apakah kamu keberatan meninggalkan pekerjaanmu sebelumnya? Apakah kamu masih ingin nego honornya?" cecar Galih yang tidak sabar menunggu jawaban dari Adis.
Adis menatap dalam wajah Galih. Mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan bagaimana karirnya sebagai perawat sangat berharga untuknya.
"Pekerjaanku sebagai perawat mungkin tidak bisa menjanjikan aku banyak hal untuk diraih. Ini bukan masalah besarnya nilai uang untuk menjadi pembeda yang terlihat menggiurkan. Ini lebih kepada perasaan terpuaskan bisa merawat orang sakit.
Nilai pahala yang aku dapatkan sebagai bekalku di Yaumil akhir. Sesuatu yang tidak bisa disandingkan dengan besarnya nilai uang yang kamu tawarkan," jelas Adis begitu dalam dan membekas.
Kalimat sederhana yang mampu menundukkan kepalanya Galih yang selama ini tidak terlalu memikirkan nilai ibadahnya sebuah pekerjaan yang orang lain geluti. Yang penting berpenghasilan.
Ucapan Adis barusan seakan menampar dirinya untuk tidak terlalu silau pada dunia yang sementara. Keduanya nampak terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Tapi kalau kamu mau...-"
"Aku akan memikirkan...-"
Ucapan mereka bersamaan secara dadakan jadi terlihat lucu. Keduanya terkekeh dan saling memalingkan wajah. Adis menutup mulutnya menahan tawa. Galih mempersilakan Adis bicara lebih dulu dengan gerakan tangan sebagai isyarat. Adis akhirnya bicara terlebih dahulu.
"Aku akan mengajukan pengunduran diri demi proyek ini. Aku akan mencoba dunia baru yang mungkin akan menambah pengalaman baru bagiku," ucap Adis dan Galih mengangguk senang.
"Terimakasih suster Adis. Kami tidak akan mengecewakanmu. Mulai besok kalian bertiga harus pindah di apartemen yang sudah aku siapkan. Unitnya ada di sebelah unit kamarku. Dengan begitu kita lebih mudah melakukan komunikasi secara dekat tanpa benda pipih ini," ucap Galih.
"Aku tinggal di apartemen? Anakku dan sahabatku juga?" sentak Adis seakan sedang ketiban durian.
"Tentu saja karena agensi model kami melindungi dan memfasilitasi semua kebutuhan model kami," ucap Galih.
"Masya Allah. Mimpi apa aku selama ini. Aku minta saja Allah hanya sedikit kebahagiaan. Tapi Allah memberikan aku kenikmatan melebihi harapanku," jujur Adis lagi-lagi membuat Galih begitu kagum pada Adis.
"Kalau kamu sudah tandatangani kontrak kerja sama kita, ayo ...! Aku antarkan kamu melihat apartemen untuk kalian," ucap Galih ingin sekali berduaan dengan Adis.
"Jangan sekarang...! Biar aku bicara dulu dengan sahabatku. Ijinkan aku membawa keluargaku serta untuk melihat apartemen itu."
"Baiklah. Terserah kamu saja...! Kapan kalian mau lihat apartemennya?" tanya Galih.
"Nanti sore saja."
"Kalau begitu biar aku yang jemput kalian," tawar Galih.
"Bukankah tuan punya asisten Andre yang akan mengurus segalanya untukku?" heran Adis.
Deggggg...
"Ahh...itu...-" gugup Galih.
"