NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Di koridor utama kampus yang ramai, Angela sedang berdiri dikelilingi oleh Jonas dan geng sosialitanya.

Wajahnya tampak memerah menahan sisa malu akibat insiden naik motor matic tadi pagi. Untuk mengalihkan perhatian dan menyelamatkan mukanya, Angela mulai berbicara dengan nada lantang, menyombongkan rencana belanja barang-barang mewah akhir pekan ini seolah uang sakunya tidak sedang dipotong.

"Duh, kalian harus lihat katalog terbaru dari brand favoritku. Akhir pekan ini aku berencana memborong seri tas kulit ular terbaru mereka," ucap Angela manja, mencoba memancing decak kagum teman-temannya.

Namun, belum sempat Jonas menanggapi, perhatian seluruh mahasiswa di koridor dan area halaman depan mendadak teralihkan.

Suara deru mesin yang sangat halus namun berkelas terdengar memasuki gerbang utama.

Sebuah mobil sedan mewah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam mengkilap bergerak perlahan dan berhenti tepat di depan gerbang utama kampus.

Kilau cat mobil seharga belasan miliar rupiah itu langsung memicu kehebohan besar di kalangan mahasiswa.

Beberapa dari mereka yang paham dunia otomotif langsung berbisik histeris begitu mengenali plat nomor eksklusif—kode rahasia yang hanya dimiliki oleh sang konglomerat nomor satu di kota ini.

"Eh, lihat! Itu... itu kan mobilnya Pak Darren Bramantyo?!" pekik salah satu mahasiswa dengan mata membelalak.

"Gila, ngapain CEO Bramantyo Corporation datang ke kampus kita?!"

Sopir pribadi yang mengenakan seragam rapi dengan sigap turun, lalu membukakan pintu belakang dengan takzim.

Darren turun terlebih dahulu. Sosoknya yang gagah dalam balutan jas premium memancarkan aura karisma paruh baya yang luar biasa matang.

Namun, kejutan sesungguhnya baru saja dimulai. Darren tidak langsung berjalan masuk.

Pria paruh baya itu berbalik, lalu dengan gerakan yang sangat lembut dan protektif, ia mengulurkan tangannya untuk menuntun Jihan turun dari mobil mewah tersebut.

Darren bahkan tanpa ragu langsung memeluk pinggang subur Jihan dengan mesra di hadapan ratusan pasang mata yang menonton.

"P-papa kamu dan... perempuan gajah itu?!" bisik Jonas dengan suara tercekat, menunjuk ke arah gerbang dengan jari yang gemetar.

Angela dan teman-teman gengnya yang melihat pemandangan itu langsung syok setengah mati. Rahang Angela serasa jatuh ke lantai; matanya melotot sempurna melihat ibu tiri yang tadi pagi dihina-hina oleh teman-temannya kini keluar dari mobil paling mewah milik ayahnya, diperlakukan layaknya seorang ratu sejagat.

Jonas dan geng sosialitanya mendadak mati kutu, seluruh kesombongan mereka menguap fana saat Darren mengedarkan pandangannya dan menatap mereka dengan tatapan matanya yang sedingin es—sebuah tatapan penuh ancaman dari seorang penguasa yang siap menghancurkan siapa saja yang mengusik ketenangannya.

Di sebelah Darren, Jihan yang menyadari perubahan wajah anak tirinya dan mahasiswa-mahasiswa sombong itu hanya mengulas senyum tipis penuh kemenangan.

Sentuhan lembut jemari Darren di pinggangnya seolah menjadi penegasan mutlak bahwa mulai hari ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa merendahkannya lagi.

Dengan langkah tegap dan berwibawa, Darren menuntun Jihan berjalan membelah kerumunan mahasiswa yang langsung memberi jalan dengan takzim.

Sorot mata Darren yang tajam mengunci sosok Angela yang masih mematung di antara geng sosialitanya.

Begitu tiba di hadapan anak gadisnya, Darren berdiri dengan aura dingin yang begitu pekat.

Ia melirik sekilas ke arah Jonas dan teman-teman Angela yang kini tertunduk dalam-dalam, tidak berani lagi menatap Jihan dengan pandangan meremehkan seperti tadi pagi.

"Ayo pulang sekarang, Angela," perintah Darren pendek. Suaranya rendah, namun sarat akan penekanan yang tidak menerima bantahan.

Mendengar perintah itu di depan teman-temannya, harga diri Angela serasa diinjak-injak.

Rencana yang baru saja ia susun untuk pamer dan menutupi rasa malunya kini berantakan total.

"Isshh... menyebalkan! Padahal aku mau belanja dengan mereka, Pa!" keluh Angela dengan nada manja yang dipaksakan, mencoba merengek sambil menghentakkan kakinya ke lantai koridor.

Ia berharap ayahnya akan luluh dan memberinya muka di depan Jonas.

Namun, Darren sama sekali tidak bergeming. Alih-alih membela, Darren justru semakin mengerutkan keningnya, kecewa melihat tabiat putrinya yang belum juga berubah setelah semua ketegasan yang mereka berikan sejak semalam.

Melihat situasi yang mulai memanas, Jihan maju satu langkah.

Ia berdiri di samping Darren, melipat kedua tangannya di bawah dada, lalu menatap Angela dengan sorot mata keibuan yang sangat tegas.

Luka di lututnya sama sekali tidak mengurangi wibawa wanita bertubuh subur itu.

"Angela, masuk ke mobil sekarang," ucap Jihan, memotong semua rengekan anak tirinya.

Suaranya tidak membentak, namun begitu menusuk dan penuh penekanan, menandakan bahwa batas kesabaran mereka hari ini sudah habis.

Kata-kata Jihan bak sebuah palu hakim yang mengetok keputusan mutlak.

Angela melirik ke arah Jonas dan teman-temannya yang kini justru membuang muka, pura-pura tidak melihat nasib tragisnya hari ini.

Sadar bahwa ia telah kalah telak dan tidak memiliki pembelaan lagi, Angela akhirnya menyambar tasnya dengan kasar.

Sambil menggerutu tanpa suara dan memasang wajah cemberut maksimal, ia melangkah cepat mendahului kedua orang tuanya menuju mobil Rolls-Royce yang sudah menunggu di depan gerbang.

Jihan dan Darren saling berpandangan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan arti, lalu berjalan beriringan menyusul anak gadis mereka untuk pulang ke rumah.

Sidang keluarga babak baru tampaknya akan segera dimulai.

Sementara itu di tempat lain, atmosfer di area parkir kantor cabang tempat Andre dan Riko bekerja terasa sangat mencekik.

Jika biasanya kedua putra konglomerat itu datang dengan deru mesin mobil sport mewah yang memekakkan telinga, hari ini mereka harus menelan pil pahit.

Mereka datang dengan saling berboncengan menggunakan sepeda motor matic tua yang knalpotnya sesekali mengeluarkan suara batuk.

Pemandangan kontras itu tak pelak langsung menjadi tontonan gratis.

Teman-teman kerja mereka, yang biasanya tunduk dan selalu menjilat karena kesombongan Andre dan Riko selama ini, langsung saling berbisik dan tertawa terbahak-bahak di balik kubikel masing-masing.

Harga diri dua pria muda itu seketika runtuh dan diinjak-injak di tempat kerja mereka sendiri.

Saat jam makan siang tiba, Andre dan Riko memilih memisahkan diri dari karyawan lain.

Mereka duduk di sudut kantin yang paling sepi untuk menghindari tatapan mengejek dan sindiran halus yang terus mengarah kepada mereka sejak pagi.

Riko menatap kotak bekal berwarna hijau cerah di atas meja dengan pandangan benci sekaligus frustrasi.

"Ini semua salah mama, Dre. Kita harus beri pelajaran pada si gajah itu," desis Riko dengan rahang mengeras, meremas saputangan di dekatnya.

Ia benar-benar tidak terima posisinya sebagai anak bos besar kini menjadi bahan lelucon satu kantor.

"Aku setuju, Mas," ucap Andre pelan.

Sembari menyusun rencana di dalam kepalanya, Andre membuka kotak bekalnya dan mulai menikmati sandwich buatan Jihan.

Meskipun hatinya dipenuhi rasa jengkel yang luar biasa, Andre tidak bisa berbohong pada lidahnya sendiri bahwa sandwich tebal dengan isian daging dan sayur segar itu terasa sangat lezat di mulutnya yang kelaparan.

Untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering akibat menahan emosi sejak subuh, Andre merogoh beberapa lembar uang kertas dari kantongnya untuk membeli segelas es jeruk segar.

Ia memandangi sisa uang di tangannya dengan miris—sadar bahwa ia harus sangat berhemat memutar otak dengan uang saku dua juta rupiah untuk bertahan hidup selama satu bulan penuh ke depan.

Di sudut kantin yang sepi itu, api balas dendam dua bersaudara tersebut resmi menyala untuk menyingkirkan ibu tiri baru mereka.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!