NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Obsesi / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah AllRey..

Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.

Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Penasaran

Raka menatap ke layar ponselnya. Caller ID: Ardian Mahendra.

Melihat siapa yang melakukan panggilan, tanpa pikir panjang Raka segera mengangkatnya.

“Selamat pagi, Tuan...”

“Sudah dapat?”

Singkat, tegas. Langsung pada inti., tanpa ada basa-basi

“Itu tergantung… Anda mau versi singkat atau lengkap?”

Di seberang sana, Ardian terdengar menarik napas pelan.

“Mulai dari yang penting.”

Raka menatap kembali data Joyce beberapa detik sebelum menjawab,

“Dia bukan perempuan biasa.”

Hening sesaat. Tidak terdengar ada respon dari atasannya

“Lanjut.”

“Namanya Joyce Alvaretha. MC profesional. Reputasinya bagus di dunia event. Nggak banyak drama. Nggak punya catatan buruk. Dia termasuk memiliki banyak penggemar, dan tercatat beberapa orang pernah berusaha mendekatinya. Namun semua hasilnya nihil.. karena dia sangat setia dengan kekasihnya”

Ardian diam mendengarkan.

“Tapi…”

Nada suara Raka berubah sedikit hati-hati.

“Lelaki yang semalam bersamanya memang mantan kekasihnya. Mereka sepertinya putus belum lama”

Rahang Ardian perlahan mengeras.

“Sudah tunangan?”

“Iya mantan kekasihnya.”

“Dengan perempuan lain.”

“Iya.”

Suasana di seberang telepon mendadak sunyi beberapa detik. Raka bahkan bisa membayangkan ekspresi CEO-nya saat ini.

Dan benar saja…

suara Ardian berikutnya terdengar jauh lebih dingin.

“Dia pasti hancur.”

Raka terdiam sesaat sebelum menjawab pelan,

“Kalau melihat situasinya… iya.”

Ardian memandang layar laptop di ruang kerjanya tanpa benar-benar fokus membaca apa pun.

Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman membayangkan Joyce mengalami semua itu sendirian.

Perempuan itu tetap tersenyum di atas panggung semalam. Tetap terlihat kuat., benar-benar tegar, dan bad incident tidak sedikitpun mengurangi performanya semalam. Padahal mungkin hatinya sedang benar-benar runtuh.

“Tuan Ardian?”

Suara Raka membuyarkan pikirannya.

“Hmm.”

“Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

Raka menatap data terakhir sebelum berkata,

“Joyce dikenal sebagai orang yang nggak mudah dekat sama siapa pun.”

Ardian sedikit menyipitkan mata.

“Maksudmu?”

“Setelah hubungan itu berakhir… dia cenderung menarik diri.”

Hening kembali. Dan anehnya…, kalimat itu justru membuat Ardian semakin ingin mengenal Joyce lebih jauh. Laki-laki itu melamun, dan mengabaikan laporan Raka.

*******************

Sabtu sore.....

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Ardian tidak berada di kantor. Bukan karena ingin beristirahat. Tetapi karena dipaksa, tanpa bisa menolak. Secara harfiah.

"Nenek tidak menerima penolakan."

Kalimat itu masih terngiang di kepalanya sejak pagi tadi.

Ardian berdiri di depan jendela penthouse sambil menatap langit Jakarta yang mulai berubah jingga. Jas abu-abu gelap yang dikenakannya terlihat sempurna, tetapi ekspresinya jauh dari kata antusias.

Ponselnya bergetar.

Nama yang muncul di layar membuatnya menghela napas.

Nenek... Tidak mau mengecewakan neneknya, Ardian menjawab.

"Ya, Nek."

"Kamu sudah berangkat?"

"Sebentar lagi."

"Jangan kabur seperti terakhir kali."

Ardian memejamkan mata. Dia berpikir sangat sulit mengelabui perempuan tua itu..

"Nenek masih mengingat semua kelakuan burukmu itu?"

"Kamu meninggalkan cucu Pak Santoso setelah lima belas menit. Benar-benar mencoreng wajah nenekmu ini"

"Itu bukan kencan nek... Itu wawancara merger antara dua perusahaan, yang dibumbui pernikahan aliansi." protes Ardian

Nyonya Ratih mendengus di seberang sana.

"Kali ini berbeda. Gadis ini baik, cantik, berpendidikan, keluarganya juga jelas. Kamu pasti akan terpikat dengan kecantikan dan pengetahuannya Ardian"

"Nenek bahkan terdengar seperti sedang menjual aset perusahaan. Jika dia cantik, berpendidikan, pasti dia sudah memiliki pasangan nek. Tidak perlu keluarganya mencarikan"

"Jaga ucapanmu Ardian.. Sekarang apakah kamu juga sudah memiliki pasangan, di usiamu yang sudah tidak muda lagi."

"Dan kamu terdengar seperti pria yang akan melajang sampai usia lima puluh."

Sambungan telepon berakhir sebelum Ardian sempat membalas. Laki-laki itu hanya tersenyum masam.

********************

Satu jam kemudian. Setelah memarkirkan mobil, Ardian memasuki sebuah kafe premium yang sedang sangat populer di kawasan Senopati.

Interior cafe itu sangat elegan dengan nuansa modern klasik. Aroma kopi dan pastry memenuhi ruangan. Hampir seluruh meja terisi oleh para profesional muda, sosialita, dan beberapa figur publik yang memilih tempat itu untuk pertemuan pribadi.

Begitu masuk, terlihat waiters menyambutnya, namun ia menolak dengan mengisyaratkan tangannya. Sejenak laki-laki itu mengedarkan pandangan, dan Ardian langsung mengenali perempuan yang dimaksud neneknya.

Meja nomor dua belas. Gaun putih. Tas branded. Benar-benar penampilan sosialita yang terlihat tidak ada cacat sedikitpun. Ardian segera melangkahkan kaki menuju meja nomor dua belas.

Senyum yang terlalu sempurna. Dan perempuan itu berdiri begitu melihatnya, seperti sudah pernah mengenal Ardian sebelumnya..

"Ardian?"

Ardian mengangguk sopan, namun tetap terlihat dingin.

"Jessica?" gadis itu mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan, dan dengan malas Ardian menyambut uluran tangan.

"Finally... Ardian.. duduklah."

Jessica tertawa kecil, dan mempersilakan Ardian duduk.

"Nenekmu dan mamaku sudah bicara tentang ini selama berminggu-minggu."

Ardian diam tidak memberikan tanggapan. Mereka duduk berhadapan.

Pelayan datang membawa menu.

Percakapan dimulai, namun lebih banyak Jessica yang mendominasi. Lalu lima belas menit berlalu.

Dua puluh menit. Tiga puluh menit. Dan Ardian semakin yakin bahwa dirinya tidak ingin berada di sana.

Bukan karena Jessica buruk. Justru sebaliknya. Perempuan itu cantik. Cerdas. Lulusan luar negeri. Anak pengusaha besar. Persis tipe perempuan yang diinginkan semua keluarga konglomerat.

Tetapi... tidak ada apa-apa yang membekas pada diri Ardian. Tidak ada rasa ingin tahu. Tidak ada ketertarikan.

Tidak ada percikan kecil yang membuat seseorang ingin mengenal lebih jauh. Sampai tiba-tiba...

sebuah suara yang sangat familiar terdengar dari arah pintu masuk kafe.

"Selamat sore, Kak. Reservasi atas nama EO Stellar Event."

Ardian spontan menoleh. Dan dunia terasa berhenti sesaat.

Joyce.

Perempuan itu baru saja masuk ke dalam kafe bersama seorang wanita lain yang tampaknya rekan kerjanya.

Mereka membawa laptop dan beberapa map. Kemungkinan sedang melakukan meeting dengan klien.

Joyce mengenakan blouse krem sederhana dan celana bahan hitam. Tidak semewah tamu lain di kafe itu.

Tetapi entah mengapa... sulit untuk tidak memperhatikannya. Ardian tanpa sadar terus melihat ke arah sana, dan hal itu tidak luput dari perhatian Jessica.

Sampai suara Jessica tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

"Ardian?"

"Hmmmph?"

"Kamu sedang melihat siapa?"

Pertanyaan itu membuat Ardian langsung mengalihkan pandangan. Ada rasa tidak suka dengan pertanyaan itu.

"Tidak ada." sahutnya cepat, dengan ekspresi dingin

"Ingat Ardian... maksud kita dipaksa bertemu itu agar kita bisa saling mengenal. Saling menyamakan tentang diri kita.. Tapi.. sejak tadi kamu sedikitpun tidak ada mencari tahu tentangku.."

"Memang itu penting untukmu ya... bagiku tidak ada pentingnya."

"Dan yang perlu anda pahami.. Kedatanganku kemari, hanya untuk menyenangkan hati nenek. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan nenek, jika aku tidak mengindahkan perintahnya."

Jessica kaget dengan keterus terangan Ardian, dan tampak kekecewaan membias di matanya. Gadis itu menyandarkan punggungnya, dan tampak mengatur dirinya.

1
Mundri Astuti
Adrian kebangetan lembek, berarti sama" cucunya Oma Ratih kah ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!